Laporan dan Berita
ABC Ramaikan Australia Today
Anda penggemar siaran Radio Australia ? Ataukah mungkin Anda pemirsa AUS-TV (Australian Television atau Televisi Australia) ? Inginkah Anda menjumpai awak siar mereka, AUS-TV dan Radio Australia ? Bila Anda mengiyakan, silakan Anda hadir dalam PRJ 1994, tanggal 18 Juni hingga 2 Juli 1994. Dalam rangka meningkatkan hubungan antara Australia dan Indonesia, terutama hubungan dagang antar kedua negara tersebut, akan digelar pameran dagang "Australia Today".
Dalam kesempatan Pekan Raya Jakarta (PRJ) tersebut, Dinas Siaran Luar Negeri Australian Broadcasting Corporation (ABC) ikut mengambil bagian. Tidak tanggung-tanggung, ABC akan menurunkan sekaligus divisi radio dan televisinya. Radio Australia dan Televisi Australia mempunyai misi yang sama, yaitu membina pengertian dan kesadaran internasional terhadap Australia melalui siaran.
Dengan warta berita dan ulasan yang obyektif dan dapat diandalkan, yang meliputi peristiwa peristiwa global dan regional itulah, setiap harinya Radio Australia dan Televisi Australia menemui audiensnya di wilayah sasaran. Dengan menitikberatkan sasarannya pada kawasan Asia Pasifik, Radio Australia mengemas beritanya yang independen hasil liputan wartawan ABC yang tersebar di luar negeri, termasuk di antaranya di Jakarta, Michel Maher, juga dibantu koresponden Linawati Sudarto.
Dua penyiar kondang dari Radio Australia, Nuim Khaiyath serta Oska Leon Setyana ditugaskan dalam kegiatan tersebut. Mereka akan didampingi Rosemary Church, pembaca Warta Berita TV Australia yang terkenal. Mereka akan mengadakan siaran langsung dari lokasi selama kurang lebih satu jam, dengan materi berupa wawancara, laporan pandangan mata dari berbagai lokasi Australia Today, yang mencakup juga pameran dagang.
Dalam suratnya kepada Indonesian DX Club, Sadaruddin Munir, Kepala Seksi Bahasa Indonesia Radio Australia mengharapkan para pendengar, khususnya anggota Indonesian DX Club bersedia hadir diwawancarai. Suatu kesempatan yang jarang terjadi dan Anda temui. Australia Today memang suatu sarana yang cocok bagi promosi Radio Australia dan Televisi Australia. Karena dalam kesempatan tersebut digelar apa dan bagaimana ABC memproduksi siarannya.
Anda akan tahu lebih jelas dari eksposisi tersebut. Radio Australia yang pendengarnya tercatat jutaan, menduduki posisi kelompok atas dalam jumlah pendengar. Bahkan mungkin paling banyak dari sekian banyak stasiun luar negeri lainnya. "Radio Australia didengar oleh lebih dari 50 juta orang. Siaran Bahasa Indonesia merupakan yang paling populer, dengan 18 juta pendengar di kawasan Nusantara saja," ujar Bung Rudy, sapaan akrabnya di udara, melansir hasil surveinya baru-baru ini.
Survei tersebut menunjukkan bahwa 20% orang Indonesia mengenal Radio Australia, dan 10% mendengarkan siarannya, tambahnya. Perdana Menteri Australia Paul Keating sampai terkesan akan hal tersebut, "Sungguh mengagumkan, Siaran Bahasa Indonesia Radio Australia diikuti oleh kurang lebih 18 juta pendengar, hampir sama banyak dengan jumlah seluruh penduduk Australia," tulis Bung Rudy memperkuat pernyataannya.
Bung Rudy di dalam suratnya juga menceritakan pengalamannya saat berziarah ke kampungnya di Sumatra Utara. Kendaraannya yang mogok memaksa ia meminta bantuan pada pekerja kebun di sekitarnya. Dalam perkenalan tersebut, ada suatu hal yang sungguh di luar dugaan. "Kami sudah kenal suara Bapak lewat Radio Australia, Bapak kan guru bahasa Inggris kami di radio."
Acara di Radio Australia sendiri dikemas oleh suatu tim yang mencakup wartawan, penyiar, serta teknisi dari markas besarnya di Melbourne. "Kami ingin memberikan hiburan dan informasi yang terbaik," ujar Oska Leon Setyana kepada Dirgantara beberapa waktu lalu. "Memang, kami banyak siaran musiknya apabila dibandingkan broadcaster lainnya. Tetapi bukan berarti tidak ada informasi," tambahnya.
Televisi Australia (AUS-TV)
AUS-TV lahir pada bulan Februari 1993. Siaran televisi internasional yang pertama dari Australia ini dipancarkan melalui Satelit Palapa B2P, dengan dana dari sponsor, bukan dari pungutan atau iuran dari pemirsa sebagaimana layaknya TVRI di Indonesia. Enam belas jam setiap hari mengudara, AUS Televisi menyajikan aneka mata acara bermutu yang bernafaskan Australia dan Asia, antara lain warta berita, ulasan, drama, hiburan, informasi, dan olah raga.
Tidak kurang dari lima belas negara terjangkau oleh AUS-TV, termasuk Indonesia, Philippines, Muangthai, Vietnam, Papua Nugini, Kamboja, Malaysia, Taiwan, Singapura, Brunei Darussalam, Hong Kong, dan RRC bagian selatan. Menurut angka paling akhir terbitan PA Consulting bulan April 1994, di Indonesia saja, lebih dari 6,9 juta pemirsa televisi dapat menikmati seluruh acara AUS TV melalui pancaran langsung Satelit Palapa B2P.
Belum termasuk 24 juta pemirsa lain, yang tersebar di berbagai pelosok kawasan setempat. Lebih dari 7.700 kamar di berbagai hotel mewah di Indonesia menyajikan siaran Televisi Australia. Dari hasil penelitian TV Australia sendiri, 5% pemuka masyarakat di Indonesia ikut menonton siaran TV Australia. Nah, bila Anda berminat hadir dalam PRJ tanggal 18 Juni-2 Juli 1994 untuk menjumpai mereka, silakan.
Anda dapat menjumpai mereka, serta menyaksikan secara langsung bagaimana cara kerja ABC, Radio Australia, dan Televisi Australia. Bagi mereka yang tak bisa hadir, Anda dapat memantaunya dari siaran Radio Australia Bahasa Indonesia, selama kurang lebih satu jam. (Sadaruddin Munir / bo)
Ranesi Tutup Siarannya
Pendengar adalah bagian integral dari satu stasiun radio. Tanpa adanya pendengar, radio tidak ada artinya sama sekali. Bagaimana mungkin akan tercipta adanya komunikasi, tanpa ada aksi maupun reaksi. Apa yang disajikan akan sia-sia tanpa pendengar sama sekali. Di sini diperlukan adanya satu-kesatuan antara stasiun dan pendengar. Saling mendukung satu sama lain.
Stasiun memberikan hidangan atau sajian, sedangkan pendengarlah yang menikmati. Sehingga akan terjadi satu simbiosa saling menguntungkan, mutualisma. Bagaimana dalam kenyataannya ? Satu contoh yang konkret bisa Anda temui. Anda pasti sudah mendengarnya, baik secara langsung, maupun dari rekan, ataupun dari media. Beberapa media di Indonesia, baik elektronik maupun cetak telah memberitakannya dengan "gencar", karena memang, peristiwa itu boleh dikata sangat menyedihkan.
Radio Nederland Wereldomroep, atau yang dulu dikenal sebagai Radio Hilversum, akan menutup siaran bahasa Indonesianya. Berita ini sudah diketahui sekitar 8 bulan yang lalu. Hal itu diperkuat oleh penjelasan Ed Slinger, Manager Press Officer Radio Nederland, dalam siaran persnya, 26 April 1994 lalu. Siaran bahasa Indonesia, yang mengudara sejak 1947, selama ini, dikenal dengan informasinya yang cukup "tajam".
Terutama yang menyoroti kebijaksanaan pemerintah Indonesia. Informasi yang disajikan digali dari berbagai sumber, termasuk di luar pernyataan pemerintah. Karena reputasinya, Radio Nederland pantas disejajarkan dengan siaran luar negeri lain, seperti BBC World Service dari London, serta ABC (Radio Australia) dari Melbourne. Penutupan siaran bahasa Indonesia dilakukan mengingat dana yang sangat terbatas.
Isu penutupannya sendiri sudah diluncurkan setahun yang lalu oleh salah satu media di negeri Belanda. Isu tersebut dilansir oleh DX Komunikasi, salah satu acara Radio Nederland, yang mengupas dunia komunikasi. Menurut Asbari Nurpatria Krisna, pengasuhnya, "Isu tersebut sebenarnya diperoleh bukan dari sumber yang resmi." Maka, tak heranlah kalau wartawannya mendapat teguran, ujar mantan pemimpin redaksi Aktuil.
Ternyata, isu tersebut mendapat reaksi dari pendengarnya di Indonesia. Di Jakarta dan kota-kota lain, bermunculan surat pernyataan keberatan ditanda tangani ribuan pendengar dari berbagai kalangan, mahasiswa, wartawan, atau praktisi radio. Mereka sangat keberatan, apalagi kalau mengingat acara DX Komunikasi, yang merupakan acara keradioan satu-satunya di siaran luar negeri berbahasa Indonesia.
Namun, keberatan tersebut tak cukup untuk mempengaruhi manajemen Radio Nederland untuk menutup siaran bahasa Indonesia. Penutupan tidak hanya terjadi pada seksi Indonesia, tetapi juga pada seksi bahasa Perancis untuk wilayah Afrika, Arab untuk wilayah Timur Tengah, dan Portugis untuk wilayah Brazil. Membengkaknya anggaran itu membuat manajemen Radio Nederland harus memilih keputusan tersebut.
"Berat memang, dalam situasi kondisi anggaran yang tak memungkinkan mau tidak mau, harus diambil keputusan," jelas Joe Comman, Kepala Region Asia, dalam siarannya beberapa waktu lalu. Untuk memperkuat eksistensinya, terutama untuk persaingan dengan pemancar lain, Radio Nederland akan berkonsentrasi penuh terhadap layanan bahasa Inggris, Belanda, dan Spanyol. Siaran akan lebih diutamakan ke Eropa Timur dalam bahasa Inggris dan Belanda.
Untuk menunjang hal tersebut, Radio Nederland akan bekerja sama dengan radio-radio lokal setempat. Gagasan itu merupakan penindak lanjutan dari kerjasama Radio Nederland dengan radio lokal di wilayah Amerika Latin, Karibia. Sukses stasiun pancar ulang, re-broadcasting, Radio Nederland dalam bahasa Belanda dan Spanyol untuk Amerika Latin akan diteruskan. Dan, stasiun pancar ulang di wilayah Eropa akan dimulai dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Perancis.
Bahasa Jerman menyusul kemudian, setelah dilakukan studi kelayakan. Proyek stasiun pancar ulang untuk wilayah Asia, Australia, Amerika Utara, dan Karibia, akan ditanda tangani dalam waktu dekat. Nantinya, siaran Radio Nederland akan dipancarkan dari Hilversum melalui satelit yang akan dipancar ulang, re-broadcasting, oleh radio lokal, baik di gelombang menengah, MW, maupun FM.
Negosiasi kerja sama tersebut telah dilakukan dengan beberapa stasiun radio lokal di Eropa Timur maupun wilayah sasaran lainnya. Runtuhnya komunisme di Eropa Timur mengundang beberapa pemancar menujukan siarannya ke sana. Apalagi, dengan dicabutnya stasiun Radio Mayak milik Uni Soviet, sejalan runtuhnya komunis, pecahnya Uni Soviet.
Radio Mayak adalah stasiun yang khusus mengganggu, jamming, stasiun dari manca negara, yang menujukan siarannya ke Uni Soviet, seperti Radio Free Europe, Radio Liberty, Suara Amerika, BBC World Service. Jamming tidak hanya dilakukan oleh Uni Soviet, tetapi juga oleh negara Eropa Timur lainnya, terutama yang berideologi komunis. Anda mungkin pernah mendengar suara asing saat memonitor radio, misal seperti burung pelatuk, itulah jammer.
Dengan penutupan beberapa seksi tersebut, maka Radio Nederland Wereldomroep hanya mengudara dalam tiga bahasa, Inggris, Belanda, dan Spanyol. Meski tidak mengudara dalam bahasa Indonesia, Radio Nederland tetap mengarahkan siarannya ke wilayah Indonesia, atau Asia Tenggara, Australia, Amerika Utara, dan Karibia, dalam bahasa Inggris, Belanda, dan Spanyol. Prioritas tersebut diambil dengan maksud :
a. Melayani pendengar yang mampu berbahasa Belanda di luar negeri
b. Membentuk "gambaran" masyarakat pendengar yang mempergunakan bahasa lain untuk mengenal jati diri Belanda sebagai bangsa Eropa
c. Meningkatkan pelayanan informasi regional untuk negara-negara yang media informasinya sedang berkembang.
Reorganisasi tersebut menyebabkan 89 dari total 450 tenaga kerjanya kehilangan pekerjaan. Namun 19 diantaranya telah ditempatkan dalam posisinya yang baru, dan manajemen akan menjamin semua usaha untuk memperoleh pekerjaan di luar perusahaan, Radio Nederland. Keputusan yang sangat berat telah diambil manajemen Radio Nederland.
Apa boleh buat, Anda terpaksa harus menguasai bahasa Inggris atau Belanda, bila ingin menikmati informasi dari Hilversum. Keputusan yang diharapkan bisa meningkatkan eksistensi Radio Nederland sebagai siaran dunia, dengan jutaan pendengar. (bo)
Menyiasati Bisnis Radio
Bersaingan antar radio, baik di dalam negeri dan luar negeri, ternyata semakin seru. Apalagi, dengan munculnya televisi swasta. Dalam kondisi semacam ini, banyak radio swasta yang sempoyongan dan tidak sehat. Dampaknya bisa berbagai macam. Untuk tahap awal, radio itu tidak bisa mengikat pendengarnya, alias mulai ditinggalkan. Tahap menengah, radio itu tak mampu menanggung biaya kelangsungan hidupnya.
Tingkat persaingan yang semakin tajam menyebabkan tak sedikit radio yang "kalah". Ada yang kalah dalam hal penyajian acara, dan ada yang kalah dalam manajemen. Melihat ini, para broadcaster dan enterpreneur sangat diperlukan mencetuskan ide untuk merintis lahirnya network atau jaringan kerja stasiun radio. Maka, meriahlah bisnis radio di dalam dan luar negeri, seperti Uni Star, Westwood One, NBC, CBS, NAB.
Sekedar catatan, Radio RCT FM, Semarang, sudah tercantum dalam NAB, National Association of Broadcasters, Amerika Serikat. Jaringan kerja antar radio sendiri di Indonesia sudah saatnya dilahirkan saat TV swasta menyedot banyak anggaran iklan. Tercatat, ada beberapa radio yang sudah melahirkan jaringan kerja, antara lain : DMC (Dutamuda Media Citra) Radio Action, Jakarta, dengan CDBS (Citra Dharma Bali Satya) Radio Action, Denpasar.
Radio Trijaya Shakti, Jakarta, dan SCFM Surya Caraka milik SCTV, Surabaya, Anggit Nusantara atau Radio PTDI yang sudah tersebar di Indonesia. Trijaya dan SCFM melangkah maju, tidak tanggung tanggung, mereka memanfaatkan jasa Satelit Palapa, untuk menunjang siarannya. Saat mana, Trijaya menyiarkan acara Carlo Carlos dengan musikus Dave Koz, pendengar di Surabaya pun bisa menikmatinya lewat SCFM.
Menilik sistem yang dipergunakannya, jelas keduanya sudah menerapkan teknologi canggih, yang sampai saat ini, belum dilakukan stasiun lainnya. Siaran yang dipancarkan dari studio Trijaya di Jakarta untuk masyarakat Jakarta juga dipancarkan (uplinked) ke Palapa B2P, mempergunakan Transponder Horizontal Nomor 3, TPR-3H, untuk kemudian diterima (downlinked) SCFM, Surabaya, dengan menggunakan penerima satelit, seperti menerima siaran dari parabola, pada frekuensi 7,9 MHz.
Dalam keseharian, 7,9 MHz digunakan oleh RCTI untuk mengirimkan pesan-pesan ke SCTV. Apa susahnya menyambungkan kabel antara Trijaya dan RCTI yang masih satu atap. Menurut sumber yang layak dipercaya, Trijaya sudah memesan transponder pada Satelit DBS Indo Star, yang akan diluncurkan pada Agustus 1995. Dengan format yang sama, MOR (Middle of the Road), dan frekuensi yang sama pula, 104,75 MHz, maka lengkap dan sempurnalah jaringan kerja tersebut.
Sebagaimana diketahui, selain dengan SCFM, Trijaya FM juga menjalin jaringan kerja dengan stasiun lain di dua kota lainnya, yaitu Unisi FM, Yogyakarta, dan Kiss FM, Medan. Di samping itu, ada juga jaringan kerja yang bergerak secara frontal dalam menangani sales trap program dan rumah produksi. CPP (Cipta Prima Pariwara), misalnya, jaringan yang dipimpin oleh RCT FM dan Polaris FM ini mempunyai jaringan di kota-kota Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Anda tentu kenal dengan Radio POP, Ungaran, Radio Zenith, Salatiga, Radio SAS, Solo, Radio Yasika, Yogyakarta, dan Radio Candi Sewu, Klaten, itulah diantaranya. Sinergi, sinkronisasi energi, yang diciptakan ternyata luar biasa. Beberapa stasiun yang tadinya masuk dalam kelas "bawah", dalam waktu relatif singkat, bisa sejajar dengan yang di papan atas. Bahkan, ada yang langsung menduduki posisi puncak.
Tidak tertutup kemungkinan untuk menduduki posisi nomor wahid bagi mereka, yang saat ini ada di bawah puncak pimpinan. Secara teknis dan administratif, memang efisien. Dengan "satu tangan" bisa memperoleh kue yang besar. Demikian pula bagi pihak biro iklan, misalnya, tanpa susah payah harus menemui banyak stasiun, cukup lewat satu stasiun saja, materi mereka bisa dipariwarakan melalui banyak stasiun.
Tetapi apa semudah itu ? Tentu saja tidak, sebab masing-masing radio mempunyai karakteristik pendengar berbeda. Di sinilah, peran programer yang akan menentukan. Siapa yang jeli akan keluar sebagai pemenang. CPP Radio Net yang dikelola oleh T&K (Tommy and Kussen) Clinic mencoba mengelola stasiun radio di wilayah Jawa Tengah dengan D.I. Yogyakarta. Hasilnya ? Anda bisa bandingkan siaran radionya dengan stasiun lainnya. (Sakroni)