Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 4 No 1 Agustus 1994
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
TP 2 Kopeng
Laporan Berita
Profil Stasiun
Bengkel DXer
Sosok
DX Mania
Antena
Telekomunikasi
Dunia DX
Catatan Pinggir
Redaksi

Volume 4 - 5 - 6
  Sapa Redaksi

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai informasi. Benarkah demikian ? Nampaknya memang kita harus meng-IYA-kannya. Kita ambil satu contoh, Jepang misalnya. Globalisasi informasi di Jepang memang telah lebih dulu dari kita. Maka, tidak heran kalau bangsa Jepang pun lebih maju dari kita. Bahkan, kita ketinggalan beberapa langkah di belakangnya. Dengan kemajuan teknologi, Jepang mampu mengantar dirinya lebih cepat dari bangsa-bangsa lainnya.

Amerika Serikat sekalipun, yang konon paling super, harus mengakuinya. Jangankan Indonesia, yang dikalangan ASEAN masih dipertanyakan. Teknologi komunikasi di Jepang menurut satu sumber memang paling modern. Pertelevisian, teknologi Jepang yang paling mengglobal. Radio ? Jepang paling banyak radio amatirnya. Media cetak ? Media Jepang pula yang konon paling tinggi oplahnya di dunia ini. Tak heranlah, kalau Tomoko Yoshimura merasa heran dengan suasana di Indonesia. Di Jepang, di tengah keterbatasan waktu, orang Jepang menyempatkan diri untuk membaca.

Tidak perduli di kereta bawah tanah, bus, atau pesawat terbang. Ini berbeda dengan di Indonesia, dimana orang orang memilih tidur atau melamun dari pada membaca surat kabar di bus atau kereta. Kenapa demikian ? Mungkin karena minat baca yang rendah, atau minat baca tinggi, tapi daya beli rendah ? Ah, tidak juga. Buktinya, Anda bisa menemukan pengasong koran / tabloid yang menjual dengan "obral" pun tak laku. Jangankan dengan harga bandrol, dengan harga Rp 100 saja, mereka tidak bergeming untuk membelinya.

Minat baca orang Indonesia memang boleh dikatakan masih rendah, bahkan sangat rendah. Bagaimana dengan Anda ? Tentu saja Anda sendiri yang tahu jawabannya. Tetapi yang pasti, kalau dikaitkan dengan Dirgantara, jumlah pendengar yang memerlukan/berniat membaca masih jauh sekali dari harapan. Barangkali alasan utama adalah mahalnya harga langganan. Karena itu, kami pun mencoba tampil dengan Suplemen Dirgantara, yang terbit 3 bulan sekali, dengan harga yang murah, tapi relatif mahal.

Kenapa demikian ? Dengan sedikitnya jumlah halaman buletin, memaksa kita harus menanggung biaya fix / tetap. Biaya tetap semacam lay out, biaya pos, meski secara kuantitas berbeda, tetapi sebenarnya relatif sama. Biaya pos yang dibagi menjadi 0 - 20 gram, atau 21 - 100 gram, menjadikan harga Suplemen Dirgantara relatif mahal. Katakanlah, Dirgantara yang 48 halaman hanya Rp 1500, yang berarti rata-rata Rp 31,25 per lembarnya, sedangkan Suplemen Dirgantara rata-rata Rp 100.

Memang, masih banyak kendala yang kami hadapi, namun usaha kami tersebut, tak lain adalah demi kepuasan kita bersama, Anda dan kami. Anda terpuaskan, karena kebutuhan Anda terpenuhi, kami puas bisa melayani Anda. Tanpa kerja sama yang baik, tak mungkin hal itu bisa terlaksana, maka mari kita saling membantu. Kalau Anda menemukan tulisan pada edisi ini yang sudah "basi", memang itu tulisan tercetak sudah lama. Ini juga menjadi satu kelemahan Dirgantara.

Tetapi dengan Suplemen Dirgantara, Anda akan memperoleh informasi terbaru dari kami. Kami juga mendapat tambahan tenaga baru, Soehartono Ashar, mulai edisi mendatang akan menangani rubrik World News, hingga diharapkan akan menambah ringan kerja kami. Tentu saja, kami tak menutup kemungkinan masukan tenaga baru lainnya. Siapa menyusul ? Buat penggemar IDXC Top 50, kami mohon maaf, pengasuhnya, Soekirno, terlalu sibuk saat ini. Tunggu saja edisi mendatang. Selamat menikmati sajian kami.

 
Dirgantara Online - Vol 4 No 1 Agustus 1994
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space