Telekomunikasi
Star TV Siap Kuasai Asia
Tidak mau kalah dengan stasiun televisi dunia yang sudah ada, misalnya CNN, maka Star TV pun ikut memancang strategi "penguasaan" jutaan penonton di wilayah Asia, khususnya di Asia Tenggara, ASEAN. Di Indonesia, lewat antena parabola, siaran Star Television dengan mudah ditangkap. Walaupun broadcast station-nya sendiri sama seperti CNN, berada di Singapura. Karena berada di wilayah strategis itulah, Star TV bisa leluasa menjangkau sasaran penonton yang ada di ASEAN.
Namun berbeda dengan di Indonesia yang sudah menerapkan "open sky policy" (kebijakan siaran terbuka) sejak 1986, negara seperti Brunei atau Malaysia sampai saat ini masih "menutup diri". Ketika berada di Brunei, seperti yang diberitakan oleh AFP, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad mewanti-wanti tentang pengaruh kuat siaran televisi dunia itu. "Jika bukannya mau mengontrol berita yang datang dan bisa diterima, mau apa lagi ?" tanya Mahathir.
"Di sana banyak tempat di mana mereka dengan leluasa mencetak uang yang banyak. Tetapi, membelanjakan uang dengan harga fantastis untuk sebuah network yang tidak pernah ditunjukkan banyak keuntungannya, Anda ingin tahu kenapa ?" Komentar Mahathir itu muncul ketika para wartawan memintanya mengomentari soal "Raja Media" Rupert Murdoch yang berambisi "menguasai" Star TV.
Lewat Murdoch News Corporation, telah disetujui pembayaran USD 525 juta untuk 63,6 persen saham di Star TV, dengan "Raja Properti" Hutchison Whampoa dan Li Ka Shing, yang berpusat di Hong Kong. "Sekarang Murdoch sudah membeli atau mengambil alih Star TV," kata Mahathir, "Anda dapat bayangkan, Star TV tentunya akan beroperasi sepanjang siarannya menggunakan beberapa saluran programnya."
Menurut Mahathir, beberapa koran dan majalah yang ada di Asia juga sudah mulai dikontrol oleh pihak di luar Asia. Dan hal itu sebuah prestasi tersendiri bagi pihak yang memang berambisi mengontrol dan menguasai informasi di Asia. Mencontohkan kembali Star TV, sejak dibangun pada April 1991, dan telah memiliki lima saluran siaran utama.
Antara lain BBC World Service dan MTV, telah berhasil mengestimasi sasaran penonton sejumlah 45 juta orang, yang tersebar di 38 negara, dari Jepang sampai Timur Tengah. Atau, Mahathir mencontohkannya dengan sebuah koran raksasa di Asia yang pemilik modalnya justru orang Barat. "Sesungguhnya itu bukan koran Asia yang diperuntukkan di Asia, tetapi koran barat yang dipublikasikan dengan mengatas namakan Asia," katanya.
Seperti yang pernah dikatakan Kepala Stasiun TVRI Yogyakarta, Drs. Suryanto sebelum Indonesia menerapkan kebijakan siaran udara terbuka gelombang globalisasi informasi itu memang sudah lama diramalkan bakal "menerjang". "Suatu saat, tidak mustahil negara ASEAN pun menerapkan kebijakan itu," kata Suryanto, "Hanya saja, sebagai konsekuensinya, ya kita harus siap menerima pengaruh globalisasi itu secara luas, menyeluruh, dan terpadu." (tag / Jawa Pos / gun)