Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 3 No 5 Jan-Feb 1994
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
TP RRI-RLN
Temu Daerah
Laporan Berita
Profil Stasiun
Antena
Bengkel DXer
Sosok
Dunia DX
Kontes DX
Catatan Pinggir
Review Top 50
Redaksi

Volume 3
  Seputar Dunia DX
DX Club

Keberadaan suatu klub DX dapat digolongkan menjadi 2 jenis, pertama ada yang dikelola oleh radio itu sendiri, kalau di Indonesia semacam fans club, dan kelompok yang kedua dikelola sekumpulan pendengar radio, yang sifatnya tak berafiliasi pada satu radio, seperti halnya IDXC. Melalui daftar klub DX di bawah ini, saya akan mencoba memaparkan keberadaan suatu klub DX yang dikelola oleh satu radio. Dan bila rekan rekan DXer ingin bergabung dengan beberapa klub DX tersebut, silakan ikuti persyaratannya, semoga wawasan keradioan Anda akan bertambah. Good DXing.

1. Radio Polskie DX Club
Kirimkan sepuluh laporan dalam satu tahun, setelah itu, cukup hanya mengirimkan satu laporan dalam satu bulan. Kalau ingin memiliki tanda kecakapan kelas III (3rd class qualification), laporan harus berjumlah 25 buah, dan kecakapan kelas II (2nd class qualification) berjumlah 50 buah, serta kecakapan kelas I (1st class qualification) berjumlah 100 laporan, dengan 10 laporan pertama dihitung pula.

2. Radio Praha Monitor Club
Kirimkan 15 laporan dalam satu tahun, kemudian setelah itu Anda akan memperoleh satu sertifikat plus nomor keanggotaan RPMC. Akan tetapi, saya sendiri sampai saat ini kurang tahu apakah klub DX ini masih ada atau tidak, seiring terpecahnya negara ini menjadi dua. Saya kurang mengikuti perkembangannya.

3. Radio Budapest Short Wave Club
Kirimkan empat buah laporan dalam satu bulan, bila Anda telah menjadi anggota RBSWC, tiap 3 bulan sekali akan memperoleh Buletin RBSWC DX News secara berkala.

4. Radio Moscow International DX Club
Kirim 12 laporan dalam jangka waktu tiga bulan, dan tiap laporan beri nomor satu sampai dua belas.

5. Radio Tashkent DX Club
Kirim sepuluh laporan, dan kemudian akan memperoleh sertifikat mungil plus nomor keanggotaan.

6. WYFR Family Station
Kirim satu laporan, dan ajukan untuk menjadi anggota.

7. Brussels Radio International - International Listeners Club
Kirim dua laporan, setelah itu Anda akan memperoleh kartu anggota, dan setiap waktu akan dikirim Buletin Club Echo secara berkala.

8. Radio Sofia
Bila Anda mengirim 10 laporan dengan QSL sebanyak enam buah, maka akan memperoleh sebuah Diploma Perunggu, 20 laporan dengan jumlah QSL sebanyak enam buah maka akan memperoleh Diploma Perak, 30 laporan dengan jumlah enam buah akan memperoleh Diploma Emas.

9. Radio Bucharest Listeners Club
Kirim laporan selama lima tahun secara kontinyu, maka pada tahun yang pertama, ketiga, dan kelima akan diberi diploma. (Soekirno)

Film Indonesia Bisa Diprogram ke Televisi Kabel

Rencana masuknya jaringan televisi kabel HBO, Home Box Office, dari Amerika Serikat ke Indonesia, tidak perlu dikhawatirkan sebagai sebuah ancaman atas keberadaan perfilman nasional. "Sebaliknya, film-film kita bisa saja dikonsep dalam program tayangan televisi kabel," komentar Hari Tjahyadi, Ketua Jurusan Film Institut Kesenian Jakarta.

Meski demikian, nilai Hari, bisa tidaknya film Indonesia dimasukkan ke program itu, tergantung dari para pelaksana televisi kabel tersebut. "Saya sendiri belum tahu persis tentang HBO itu, namun saran saya ini bisa saja dijadikan masukan bagi pihak pengelola televisi kabel tersebut," katanya. Tayangan dari HBO, sementara ini, baru akan ditujukan bagi hotel-hotel berbintang lima di Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Pada tahap selanjutnya, HBO bisa dinikmati di rumah-rumah. HBO, yang bernaung di bawah Warner Bros. Company di Amerika Serikat, hanya bisa diterima oleh pemilik televisi yang berlangganan dengan dekoder. Yang selanjutnya, menyambungkan perangkat ini ke kabel telepon. Di Indonesia, HBO diageni P.T. Melicak. Tayangan TV kabel ini di Indonesia disebut-sebut sebagai ancaman atas keberadaan perfilman nasional.

Juga bagi TVRI maupun televisi swasta yang ada di Indonesia. Apalagi, dalam 16 jam siarannya, HBO akan menayangkan film-film gress. Film film Hollywood yang baru sepekan diputar di Amerika Serikat misalnya, bisa dinikmati pelanggan HBO di Indonesia. Menurut Hari, bisa tidaknya film Indonesia masuk dalam jadwal HBO tergantung dari bagaimana lobi dari P.T. Melicak dan pihak HBO. "Di Belanda, ada sebuah stasiun TV kabel pada waktu tertentu menayangkan film Eropa," katanya.

Jadi, "Stasiun televisi kabel itu tidak melulu hanya menayangkan film-film Amerika. Karena itu, masuknya HBO bisa memacu semangat kita untuk membuat film yang berkualitas baik. Jadi kita tidak perlu untuk selalu memandang suatu era baru dengan negatif. Bisa ambil hal-hal positifnya," lanjut Pimpinan P.T. Indo Films ini.

Hari, yang perusahaannya banyak menekuni film-film dokumenter ini lebih lanjut mengatakan, "Tentu tidak semua film Indonesia layak diputar di jaringan televisi kabel tersebut. Masalahnya, masih sedikit film kita yang berkualitas baik, dari segi akting, dan teknisnya. Namun, pihak pengelola televisi kabel itu bisa saja memutar film-film karya sutradara ternama kita. Seperti, menjadwal program Pekan Film Indonesia Retrospeksi Teguh Karya, atau bisa juga yang disutradarai Arifin C. Noer, Slamet Rahardjo, dan mendiang Syuman Djaya."

Bagaimana pun, katanya, "Pemutaran film-film Indonesia di TV kabel ini tergantung dari bagaimana keputusan pelaksananya saja, namun harus saya akui, pihak-pihak yang akan menerapkan sistem televisi kabel di Indonesia ini harus pula memikirkan banyak aspek. Seperti, apakah mereka sudah siap menggunakan jasa telepon milik Telkom yang sering macet." Kualitas film-film Indonesia, lanjut Hari, sebenarnya sudah layak go international, meski untuk di pasaran tertentu saja.

"Misalnya, film berjudul Peluru dan Wanita, yang diproduksi Parkit Film bersama salah satu produser di Amerika Serikat. Meski pemutarannya ditolak di bioskop-bioskop AS karena alasan kualitasnya kurang, namun film ini ternyata dibeli dan diputar oleh salah satu jaringan televisi kabel di AS. Jadi, film-film kita sebenarnya bisa juga dikonsep ke televisi kabel, terutama yang tayangannya bisa diterima di Indonesia," jelasnya. (Jawa Pos, IDXC / gun)

 
Dirgantara Online - Vol 3 No 5 Jan-Feb 1994
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space