Profil Stasiun
Radio Giri Swara Indah Sakti FM 104.05 MHz
Radio harus punya ciri khas tersendiri. Di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat, memang diperlukan suatu spesialisasi apabila ingin tetap bertahan. Hal ini tidak lepas dari pengamatan Radio Giri Swara Indah Sakti, yang mengudara dari kota pudak, Gresik. Menggunakan frekuensi 104.05 MHz FM Stereo, Giri Swara membidik pangsa pasar dengan sajian yang khas, musik dangdut.
Dirgantara berhasil menemui Radio Giri Swara programmer, Drs. Harry Santosa, yang juga anggota Indonesian DX Club, IDXC-0173/INS. Apa dan bagaimana dia mengelola radionya, ikuti wawancara Dirgantara berikut. "Kita nggak akan mencampuradukkan beberapa jenis musik di dalam satu siaran, kita ingin mencari segmen yang khusus yaitu dangdut," ujar Harry Sakti, nama udaranya.
Seandainya dangdut tidak sepopuler sekarang ini. Apakah Giri Swara akan tetap bertahan dengan format dangdut ?
+ Kita sudah sepakat bahwa musik kita adalah non-stop dangdut. Jadi, biarpun nanti popularitas dangdut merosot, kita tetap non-stop dangdut. Ini memang menuntut kejelian orang-orang Giri Swara sendiri untuk bisa menarik perhatian pendengar dangdut, hingga dangdut tetap eksis.
Kalau toh nanti dangdut tidak populer lagi, kita bisa ganti formatnya, tetapi bentuknya tetaplah musik dangdut. Sekarang kan yang populer disko dangdut, lha mungkin nanti setelah melihat disko dangdut itu memudar, kita kembali ke lagu-lagu dangdut yang asli, yang nostalgia.
Apakah lagu-lagunya benar-benar full dangdut, tidak ada sama sekali lagu di luar dangdut ?
+ Dulu memang kita musiknya bermacam-macam, ada musik keroncong, daerah, dan sebagainya. Sekarang, keroncong meskipun ada, formatnya diperkecil seminggu sekali, sedangkan lagu-lagu dangdut boleh dikatakan kita 95%, yang 5% itu terdiri dari lagu-lagu qosidah, lagu-lagu daerah, keroncong, dan lain sebagainya.
Segmen pendengar yang dibidik sebenarnya yang mana ?
+ Kita memang sudah mencanangkan sebagai radio FM non-stop dangdut, jadi boleh dikatakan bahwa pendengar kami adalah kalangan menengah ke bawah. Kita sebenarnya bisa juga ke segmen yang lebih atas lagi, tapi hanya beberapa persen. Jadi kita juga menjangkau yang ke atas, dan menengah lebih banyak, yang ke bawah juga, sisanya. Jadi, misalnya segmen menengah ke bawah 60%, nah yang bawah itu 20%, yang ke atas 10%, yang lain-lainnya itu kadang mendengarkan, kadang juga tidak. Jadi boleh dikatakan segmennya menengah ke bawah.
Anda juga seorang penggemar siaran radio gelombang pendek, khususnya radio luar negeri. Apa sebenarnya yang menarik dari kegiatan atau hobi tersebut ?
+ Bisa dikatakan bahwa radio luar negeri itu memiliki ciri khas yang tidak bisa atau jarang kita dapatkan dari radio-radio dalam negeri. Jadi dengan cara mendengarkan siaran radio luar negeri berbahasa Indonesia, kita bisa menjadikannya sebagai studi banding, apakah cara yang mereka terapkan sebagai radio yang banyak menurunkan informasi daripada musiknya itu bisa diterapkan di radio siaran swasta di Indonesia.
Di Giri Swara sendiri, kami sudah mencoba, meskipun baru beberapa bulan terakhir, yaitu dengan memasukkan informasi yang sekiranya bersifat human interest, yang berkaitan langsung dengan manusia, atau yang menyentuh hati nurani manusia. Itu ada dalam setiap acara, jadi kita tidak mempunyai acara yang khusus untuk itu.
Di setiap jam, kalau memang ada atau informasi itu perlu disampaikan langsung, pada saat itu juga bagian redaksi menyusun naskah, kemudian disiarkan penyiarnya. Jadi manfaatnya banyak sekali sebagai pendengar radio luar negeri. Terus saya sendiri berprofesi sebagai programer di Radio Giri Swara ini, saya merasakan bahwa hal itu sangat bermanfaat dan positif sifatnya.
Sejak kapan Anda menjadi programer, penyiar di Giri Swara ?
+ Kalau penyiar sejak bulan Oktober 1991, sedangkan programer sendiri bulan Januari 1992 yang lalu.
Anda menjadi penyiar karena hobi mendengar radio luar negeri ?
+ Yang pertama memang begitu, dari hobi saya tersebut, mendengarkan siaran radio luar negeri dan dalam negeri, saya kok tertarik dengan cara penyampaian penyiar. Padahal dari segi jaraknya, dia tidak langsung berhadapan dengan pendengarnya, hanya berhadapan dengan perangkat siar, kok bisanya mereka seolah-olah akrab dengan pendengarnya. Itulah yang membuat saya ingin terjun ke dunia radio.
Beberapa stasiun radio luar negeri menyediakan bahan siaran yang disalurkan ke beberapa stasiun radio swasta di Indonesia. Sebagai seorang penggemar siaran radio luar negeri, apakah Anda pernah memanfaatkan hal tersebut ?
+ Untuk siaran dari luar negeri, selama ini belum pernah, tapi dari badan-badan internasional, seperti WWF, badan tentang lingkungan hidup, tiap kali mereka menerbitkan brosur, secara otomatis, kita mendapatkan kiriman. Boleh dikatakan sudah ada hubungan dengan sana. Di samping itu, juga dari USIS, hanya saja tidak semuanya kita pakai. Yang kami anggap perlu saja, yang sesuai dengan masyarakat pendengar, kalau istilahnya di sini "mitra dengar" Radio Giri Swara.
Pokoknya yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya, kalau mereka ingin tahu Presiden Amerika yang baru, Clinton itu siapa sih, kita bisa langsung membuat redaksinya, meski pendek, tapi singkat jelas. Paling tidak pendengar tahu, oh Giri Swara juga punya informasi yang demikian. Kalau gitu, di samping kita mendengar lagu-lagu dangdut, kita bisa memperoleh informasi, kita nggak perlu baca dari koran, kita nggak perlu langganan koran, tapi cukup dengarkan Giri Swara.
Di samping informasi yang sifatnya human interest, barangkali ada informasi yang aktual lain, politik, olah raga, dan sebagainya ?
+ Itu jarang sekali kita masukkan, kecuali yang berkaitan langsung dengan kota Gresik. Kita kerja sama dengan bagian humas, kita mendapatkan press release-nya, tentang kegiatan di pemda, dan juga perkembangan kota sekitar Gresik.
Apakah ada tim lapangan, reporter ?
+ Sementara ini belum, kecuali kalau mereka ada keperluan, misalnya untuk meliput ini, kita pertimbangkan dulu, apakah itu laik untuk disiarkan. Kalau layak, langsung kita datang ke lokasi.
Bisa Anda ceritakan bagaimana proses lahirnya suatu acara ?
+ Munculnya sebuah acara bukan sekedar mempertimbangkan usul dari pendengar, tapi biasanya di sini kita punya ide. Begitu muncul, langsung kita bicarakan dengan programer, kepala studio, dengan pertimbangan Bapak Direktur. Terus penyiar kita tunjuk, yang mampu membawakan acara tersebut. Jadi kita tidak sembarangan membuat suatu acara, ada pertimbangan khusus.
Bila ada stasiun radio FM dangdut lain kebetulan mengudarakan acara yang menarik banyak pendengar, langkah apa yang Anda tempuh ?
+ Ya, kita tahu mereka membuat acara baru, tetapi kan belum tentu sukses. Tapi kita punya pendengar atau segmen sendiri, misalnya bisa kita lihat antara Radio Wijaya, Surabaya (FM 104.4 MHz, red.) dan Giri Swara, dari segi penyajiannya kita lain dengan Wijaya. Demikian juga dengan pendengarnya, kita di Gresik, mereka di Surabaya.
Yang Anda lakukan selama ini, memodifikasi atau menciptakan acara sendiri ?
+ Kebanyakan begitu, biasanya malah kita dijadikan sebagai tolok ukur mereka (pendengar, red.), apalagi sekarang pemancar kita agak bisa didengar oleh mereka di Surabaya. Jadi mereka juga harus pikir-pikir lagi, kalau dulu mereka mendengar Wijaya, karena daya pancarnya yang kuat, sedangkan kita di Gresik, daya pancarnya lemah. Kalau dilihat dari kualitas penyiar, bukan kita menilai anak buah sendiri, kita lebih baik.
Hanya karena mereka diterima lebih kuat, di manapun, mendengarkan radio itu lebih suka yang bisa diterima dengan jelas. Jadi mereka pilih Radio Wijaya. Kalau malam hari, mereka kan jam 19.00 sudah selesai dangdutnya, kita terus sampai jam 24.00, itu kita menangnya di situ. Kita ambil di situ.
Barangkali Anda punya prinsip tersendiri dalam hal ini ?
+ Kita kalau menyampaikan informasi lebih bagus. Menurut pandangan saya, mereka jarang sekali mengemukakan profil artis itu sendiri. Kalau di sini, kita lain, bahkan sampai mereka penasaran, dari mana kita bisa dapat informasi itu.
Bila di stasiun lain, ada acara yang bagus, banyak pendengarnya, untuk mengalahkan mereka, langkah apa yang Anda tempuh ?
+ Kami punya pertimbangan begini, misalnya kami punya beberapa penyiar yang potensial di bidang itu. Kami lihat penyiar tersebut, mampu nggak bersaing dengan penyiar radio lain, itu sudah kami terapkan pada masa akhir ini. Pada jam-jam tertentu, saat mana radio lain yang sebagai kompetitor mengudarakan acara bagus, kita tempatkan penyiar yang handal di situ.
Di acara yang sama ?
+ Ya nggak begitu mirip, justru kita menonjolkan yang saya maksudkan tadi. Jadi kalau mereka penonjolannya di lagu, kita juga bisa di sana, tapi kita tambah dengan berita artis.
Mengara Giri Swara memilih tempat di perbukitan ?
+ Dulu waktu kita mengajukan izin di Surabaya, itu sepertinya sudah tidak mungkin lagi adanya radio baru, jadi harus di daerah pinggiran, Gresik bisa, Sidoarjo bisa. Kita pilih yang Gresik.
Apakah siaran Giri Swara juga diarahkan ke Surabaya ?
+ Ya. Salah satu caranya dengan memperkuat daya pancarnya. Dengan pemancar baru, dengan peralatan yang lebih canggih.
Apakah bukan karena alasan izin lokasi yang lebih mudah daripada Surabaya ?
+ Betul, untuk mempercepat prosesnya.
Alasan mereka menolak apa ?
+ Kita sendiri kurang tahu yah, mungkin hanya masalah birokrasi. Yang kita herankan, malah muncul radio baru, itu di luar kemampuan kita. Istilahnya top secret, ha... ha... ha... Bisa dikatakan mungkin lobi kita kurang. Mereka bisa memasukkan radio baru ke Surabaya, mungkin karena mereka punya dukungan yang kuat, kita nggak tahu.
Sampai berapa jauh Giri Swara bisa diterima siarannya ?
+ Sejak beroperasinya pemancar baru, kita banyak menerima surat dari daerah yang dulu tidak pernah kita menjangkaunya. Yang terakhir, kita pernah menerima surat-surat dari Blora, Jawa Tengah, terus juga dari Ponorogo, Bondowoso, Negara, Bali.
Anda alumnus komunikasi, seberapa jauh manfaat ilmu yang Anda peroleh dan yang sudah Anda terapkan di Radio Giri Swara ?
+ Komunikasi merupakan satu disiplin ilmu sosial, kemudian komunikasi sendiri dibagi menjadi komunikasi untuk media cetak, elektronik, radio, televisi. Kita di sana dulu juga pernah diajari program siaran radio, juga televisi, tapi hanya sekilas. Waktu saya kerja di sini, baru terasa, bahwa di samping kita sudah berpendidikan akademis, komunikasi, pengetahuan kita tentang spesialisasi keradioan ternyata masih kurang.
Saya bener-bener nggak ngerti apa-apa. Oleh PD PRSSNI Jawa Timur pernah diadakan diklat kepenyiaran di Batu, Malang. Kebetulan, sayalah sendiri yang dikirim ke sana, dari situlah baru saya tahu bahwa dunia radio itu memang luas. (bo)