Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 3 No 5 Jan-Feb 1994
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
TP RRI-RLN
Temu Daerah
Laporan Berita
Profil Stasiun
Antena
Bengkel DXer
Sosok
Dunia DX
Kontes DX
Catatan Pinggir
Review Top 50
Redaksi

Volume 3
  Laporan dan Berita
Deutsche Welle Adakan Perampingan

Anda mungkin sudah tahu, bahwa banyak broadcaster atau stasiun penyiaran yang melakukan penyusutan bahasa yang disiarkan. Apalagi, kalau bukan alasan finansial alias dana. Di tengah-tengah lesunya perekonomian dunia, perampingan merupakan satu langkah yang bisa dianggap terbaik. Tidak terkecuali oleh Deutsche Welle, stasiun penyiaran internasional dari Jerman. "Memang di Deutsche Welle juga sedang berlangsung rembukan, karena mau tak mau harus dikurangi", ungkap Elizabeth Soeprapto Hastrich, mantan Kepala Seksi Indonesia Suara Jerman Deustche Welle, menanggapi pertanyaan Dirgantara dan BP.

Tapi, saya dengar ada 4 model pengurangan itu, dan bahasa Indonesia ada pada model ke empat. Saya kira model ke empat tersebut tidak akan diterima. Dikatakan bahwa ada 8 bahasa dari 40 bahasa yang ada, yang akan mengalami pengurangan, termasuk bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, dan Mandarin. Siz Iskandar dan Aries Subagyo berhasil mewawancarai Bu Liza di tengah-tengah acara 40 Tahun Deutsche Welle, tanggal 3 Oktober 1993 lalu. Berikut, petikan wawancara tersebut.

Sebenarnya apa misi Suara Jerman Deutsche Welle ?
+ Tugas utamanya, adalah memberi keterangan seobyektif mungkin, mengenai perkembangan di Jerman dan Eropa. Serta pendapat Jerman mengenai peristiwa dunia yang sedang aktual.

Kalau dibandingkan dengan broadcaster lain, apa yang menarik dari Deustche Welle ?
+ Mungkin, boleh dikatakan bahwa Deutsche Welle lebih berusaha melibatkan pendengar dalam siarannya. Misalnya disamping acara Pilihan Anda, yang memang ada juga pada stasiun lain, juga ada acara yang menyiarkan sumbangan pikiran atau karangan dari pendengar sendiri, dan ini saya rasa itu hal yang istimewa.

Deutsche Welle sekarang banyak menyoroti tentang Indonesia. Kalau di BBC atau ABC, mereka menempatkan korespondennya di Indonesia. Bagaimana dengan DW ?
+ Mungkin bagi ABC (Radio Australia, red.), sebagai radio dari negara tetangga lebih berkepentingan dalam hubungan jauh lebih erat. Secara prinsip memang DW tak mempunyai koresponden di luar negeri. Untuk berita, DW menggantungkan diri dari laporan-laporan radio Jerman lainnya, yang mempunyai koresponden di luar negeri, yang kemudian diolah oleh redaktur di DW. Itu juga soal biaya, sangat mahal memelihara seorang koresponden di luar negeri.

Hanya, yang patut disayangkan, kumpulan radio atau gabungan radio Jerman, yang menempatkan korespondennya di luar negeri, untuk Asia Tenggara, ditempatkan di Singapura. Kami selalu menyarankan agar ditempatkan di Indonesia. Supaya lebih memfokuskan pada Indonesia. Bagaimanapun juga Indonesia negara penting di Asia Tenggara. Tapi sampai sekarang mereka mungkin, karena fasilitas masih di Singapura, meski secara tetap berkunjung ke Indonesia.

Lantas selama ini bagaimana cara kerjanya ?
+ Ya selain melalui koresponden tadi juga dari kantor berita, tapi kadang-kadang memang ada yang ditugaskan secara khusus, untuk membuat semacam riset di sini (Indonesia, red). Tetapi secara insidentil. Misalnya kerjasama dengan RRI tentang kesehatan masyarakat.

Bentuk kerjasama lainnya dengan RRI ?
+ Kerjasama ini sudah berlangsung sejak 1968, berupa pertukaran bahan siaran. Juga pertukaran tenaga penyiar, yang sudah 6 atau 7 orang RRI yang pernah bertugas di DW. Meski, dari DW sendiri tidak ada. Tetapi saya pernah membantu saat Suara Indonesia membuka siaran bahasa Jerman, saya ikut menanganinya.

Tugas Ibu sendiri di Indonesia sebagai apa ?
+ Ada dua, pertama, karena latar belakang saya sebagai rekanan dari seksi siaran bahasa Indonesia. Jadi, sewaktu-waktu saya menyumbang untuk siaran DW. Tapi secara tetap, saya ditugaskan sebagai wakil atau representatif dari Divisi Distribusi Bahan Siaran. Jadi, baik siaran untuk radio maupun TV, yang disediakan untuk bahan siaran di luar negeri, dalam hal ini Indonesia.

Apakah kehadiran stasiun televisi swasta di Indonesia akan banyak pengaruhnya bagi Deutsche Welle ?
+ Memang hal itu terasa tetapi di lain pihak karena radio selalu lebih aktual, lebih dekat ke peristiwa walaupun dalam hal DW menyiar dua kali sehari, toh banyak orang merasa perlu mendengarkan radio, apalagi radio luar negeri. Karena beberapa berita atau laporan kurang lengkap diperoleh di Indonesia sendiri. Ini karena setiap negara mempunyai kebijakan dalam siaran resmi, dan ada saja peristiwa atau perkembangan tertentu yang tidak atau kurang disorot oleh siaran tersebut.

Bagaimana sistem rekrut penyiar di DW, selain dari RRI apakah lewat iklan di media cetak atau mungkin ada cara tertentu ?
+ Kalau dari RRI memang pemilihannya tergantung dari RRI sendiri. Siklusnya, biasanya dua tahun sekali, dan itu bagi DW sebenarnya agak susah karena orang RRI hanya boleh diperbantukan dua tahun saja. Sehingga mereka yang baru, agak biasa dengan keadaan di sana, sudah mulai mempersiapkan kembali untuk pulang. Yang lainnya, biasanya itu dengan rekomendasi.

Misalnya, dari Kedubes. Atau kadang-kadang, juga saya diminta untuk mencari atau memberi informasi mengenai orang-orang yang kira-kira bisa. Soalnya menurut peraturan di Jerman, orang yang ditugaskan di sana dapat kontrak untuk jangka waktu tertentu. Tapi ada jaminan setelah jangka waktu tertentu dapat bekerja kembali di tempat semula, misalnya wartawan. (bo)

 
Dirgantara Online - Vol 3 No 5 Jan-Feb 1994
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2010 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space