Temu Daerah
Cirebon Banjir Peserta Temu Daerah IDXC
Bertemu dengan sahabat atau kawan memang sangat mengasyikkan. Maka tidak mengherankan kalau pertemuan sangat ditunggu-tunggu oleh siapa pun, termasuk oleh mereka yang tergabung dalam Indonesian DX Club. Rasa rindu akan bertemu, setelah sekian lama hanya saling kontak lewat surat, maupun sarana komunikasi lain. Sarana tersebut belum memuaskan, terutama karena keterbatasannya. Mereka tidak bisa saling tatap muka, yang ada terkadang hanya bayangan semu. Terlebih-lebih bagi mereka yang tanpa modal foto akan lebih seru lagi. Terkadang apa yang menjadi imajinasi mereka tak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Untuk itulah, Indonesian DX Club menjembatani kebutuhan mereka dengan kegiatan pertemuan. Tanggal 5 Desember 1993 dan 1 Januari 1994, Indonesian DX Club wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur sukses menyelenggarakan Temu Daerah untuk pertama kalinya. Terlepas dari kekurangan yang ada di sana-sini, kedua kegiatan yang berlainan tempat tersebut, boleh dikatakan sukses. Temu Daerah Jawa Barat, dengan mengambil lokasi di Taman Wisata Goa Sunyaragi, Cirebon, Jawa Barat, IDXCer memulai langkahnya untuk Temu Daerah berikutnya.
Lokasi yang relatif mudah dicapai oleh transportasi darat, menimbulkan minat para peserta hadir dalam pertemuan tersebut. "Sengaja kami pilih lokasi Goa Sunyaragi karena letaknya yang mudah dicapai," ujar Soekirno IDXC-0020/INS, Koordinator Indonesian DX Club wilayah Jawa Barat. "Di samping itu, kami ingin mengenalkan peserta dengan salah satu obyek pariwisata Cirebon," lanjutnya. Memang, Taman Wisata Goa Sunyaragi yang merupakan peninggalan raja-raja Kesultanan Cirebon tersebut belum banyak dikenal. Goa karang buatan yang konon merupakan tempat peristirahatam keluarga kerajaan tersebut mempunyai potensi untuk dikembangkan.
Hanya sayang, karena kurang perawatan, nampak sekali kekurangan di sana-sini. Namun demikian, tidak mengurangi minat peserta untuk datang dan melihat lebih dekat. Pertemuan diselenggarakan di balairung secara lesehan dengan latar belakang kolam tamansari. Hadir kurang lebih 60 orang, dari berbagai kota di Pulau Jawa.
Pertemuan ini memang mampu menghadirkan peserta yang di luar perkiraan sebelumnya. "Undangan yang kami sebar sekitar 36 untuk IDXCer dan non-IDXCer, di sekitar Cirebon, termasuk Jakarta, dan Jawa Tengah. Dari jumlah tersebut, kami hanya mengharapkan sekitar 75%-nya atau sekitar 30.
"Lha ini yang datang membludak," tutur Soekirno bangga. Tidak bisa dipungkiri, ini juga berkat bantuan dari Siz Iskandar dan Eddie Setiawan di Jakarta, juga rekan-rekan monitor RRI Cirebon di bawah koordinasi rekan Ani Jumhani, dan Eha Zulaeha, tambahnya. Untuk memberikan bobot pertemuan, Panitia pelaksana menghadirkan tokoh yang berkompeten di bidang keradioan. Dari amatir radio, dalam hal ini adalah Orari Lokal Cirebon, Bapak Edi Johana, yang didampingi Kepala Bagian Teknik Orari Lokal Cirebon, H. Tadjudin Saleh. Hadir pula Dicky Sophiana, reporter RRI Regional II Cirebon, mewakili kepala stasiunnya.
Hanya sayangnya seperti pertemuan yang lainnya kesempatan tersebut belum dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh peserta. Hal tersebut nampak dalam sesi diskusi atau tanya jawab, di mana peserta masih saja seperti pertemuan yang dahulu, pasif. Bahkan sebagian peserta tidak tertarik dengan masalah-masalah yang dikemukakan.
Mereka lebih suka jalan-jalan di sekitar Taman Gua Sunyaragi. Memang, dugaan latar belakang yang berbeda, kesempatan seperti itu bukan jaminan bahwa satu acara diskusi bisa berjalan. Mungkin karena budaya masyarakat kita yang ketimuran, sehingga mengemukakan pendapat pun mesti pikir-pikir dahulu. Ironisnya, justru setelah bubaran muncul pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya muncul dalam forum. Ini merupakan satu pekerjaan rumah bagi kita semua. Bagaimana agar kita bisa mengubah budaya "malu bertanya" tersebut itulah masalahnya. Bagaimana caranya ? Itu berawal dari diri kita.
Temu Daerah Indonesian DX Club wilayah Jawa Barat ternyata tidak luput dari pengamatan beberapa stasiun radio luar negeri. Radio Australia, lewat Bung Tony Matupongoh dan Istanto Sarjono, yang mengasuh Pagi Gembira Good Morning Lover, menyempatkan diri mengadakan wawancara langsung per-telepon (Diudarakan tanggal 13 dan 20 Desember 1993, red.). Pada kesempatan tersebut, wawancara dilakukan dengan Aries Subagyo, mewakili Pengurus Indonesian DX Club, Soekirno selaku Koordinator Indonesian DX Club Wilayah Jawa Barat. Dari peserta, terpilih Soetjipto, Titin Kurniatin, Dicky Sophiana, dan Edi Setiawan.
Seperti pertemuan lainnya, dimeriahkan pula oleh souvenir dari stasiun radio, antara lain ABC, BBC, DW, NHK, VOA, CRI, WCSN, RVA, dan Radio Mandalika. Sempat foto bersama di lokasi wisata, serta makan di Pujagalana (Pusat Jajan Segala Ada), sebelum bubaran. Wajah kusut terhapus oleh senyum ceria setelah bertemu. Sampai ketemu lagi, Sobat ! (SKN / po / ASB)
IDXCer Jatim Unjuk Gigi Berbeda dari Pertemuan yang Lain
Berlainan dengan pertemuan Temu Daerah Jawa Barat, bahkan dengan pertemuan sebelumnya, Temu Daerah Jawa Timur mengambil lokasi di salah satu studio radio di Jawa Timur. Kali ini, mengambil lokasi di Radio Panorama 102.3 FM Family Radio yang berlokasi di kawasan wisata Tretes-Pandaan, Jawa Timur, tepatnya di Jalan Malabar 36, Tretes Pandaan, Pasuruan 67157, Jawa Timur.
"Ide memindah lokasi pertemuan, yang semula di rumah rekan Dewi Ratnasari dan Nur Habibah, memang terlahir setelah melihat rekan IDXCer Jawa Barat yang mengambil lokasi di tempat wisata Goa Sunyaragi," jelas Soehartono Ashar, IDXC-0153/INS, Koordinator Indonesian DX Club wilayah Jawa Timur. Kami pun tidak ingin kalah dengan mereka. Di samping itu ada beberapa pertimbangan lain, di antaranya prestasi Radio Panorama mudah tidaknya mencapai lokasi.
"Maka setelah kami pertimbangkan dengan masak-masak, kami pilih Radio Panorama 102.3 FM Family Radio, yang memang sudah tidak asing lagi bagi pengindra (sebutan pendengar Radio Panorama, red) di Jawa Timur," lanjutnya kepada Dirgantara. Ternyata memang rekan rekan Jawa Timur tidak salah pilih. Pertemuan Jawa Timur kali ini terasa lain dari pada yang lain. Keakraban antara peserta dan para pewara (penyiar, red) Radio Panorama terasa sekali. Apalagi, dengan hadirnya bintang tamu Tomoko Yoshimura, Produser Radio Japan NHK yang sedang bertugas di Indonesia.
Tomoko-san jauh-jauh terbang ke Surabaya hanya untuk bertemu dengan peserta Temu Daerah Indonesian DX Club. Terlambat 15 menit dari rencana, karena kemacetan lalu lintas Gempol - Pandaan, pertemuan dimulai pukul 10.45 WIB, dipimpin langsung oleh Koordinator Indonesian DX Club wilayah Jawa Timur. Pertemuan berjalan sesuai dengan rencana. Kami harapkan Anda semua bisa mengambil manfaat dari pertemuan kali ini. Bukan sekedar bertemu dan berkumpul saja, tetapi ada yang bisa Anda petik dari pertemuan ini.
Pesan yang sama disampaikan oleh koordinator Indonesian DX Club, ketua Indonesian DX Club, dan Billy Prasetyo, manajer stasiun Radio Panorama 102.3 FM Family Radio dalam sambutannya. Ternyata gayung pun bersambut. Tidak seperti halnya Temu Daerah Jawa Barat, peserta Temu Daerah Jawa Timur tak segan dan malu untuk bertanya.
Ini terasa saat memasuki sesi diskusi atau dialog, antara Radio Panorama 102.3 FM Family Radio dengan peserta. Didahului dengan perkenalan dari masing-masing pihak, pewara Radio Panorama dan peserta diskusi pun berjalan seru. Peserta tidak segan-segan untuk bertanya perihal dunia radio siaran.
Perlu diketahui, Radio Panorama sudah mencanangkan dirinya sebagai kampusnya radio siaran di Jawa Timur. "Saya dan teman-teman memang sudah sepakat bahwa diri kami ini sebagai kampus radio siaran di Jawa Timur. Ini terbukti dengan teman-teman kami yang jebolan Panorama, yang menduduki kursi yang penting di beberapa radio," papar Billy Prasetyo, dalam menanggapi pertanyaan IDXCer. Tidak salah memang kalau Radio Panorama disebut kampusnya radio siaran di Jawa Timur, dengan ciri khasnya sebagai radio wira-wiri wisata Panorama memang memperoleh tempat tersendiri.
Untuk mencapai prestasi tersebut, dengan pewara (penyiar, red) yang konon saat masuk tanpa pengalaman sama sekali, tentunya ada kiat-kiat tersendiri. Inilah yang ingin diketahui para peserta. Bagaimana sebenarnya mereka meraih prestasi tersebut ? Dari pertemuan tersebut paling tidak IDXCer Jawa Timur bisa mengetahuinya. Lebih jelasnya, bisa Anda ikuti dalam rubrik Profil Stasiun edisi mendatang. Sebaliknya, para pewara Radio Panorama pun ingin tahu dengan dunia DX yang ditekuni IDXCer. Memang, dunia gelombang pendek (SW), yang banyak ditekuni IDXCer punya sifat yang berbeda.
Dari segi kualitas audionya saja jelas SW tidak sequalified FM Stereo. Tetapi kenapa menarik ? Dari sisi mana menariknya ? Bagi kita, IDXCer yang sudah menjalaninya tentu sudah tahu. Di sini terjadi adu argumen, antara Radio Panorama yang mewakili radio siaran, dengan IDXCer yang memang banyak menekuni dunia gelombang pendek. Dalam perkenalannya ketua Indonesian DX Club juga sempat menceritakan tentang apa dan bagaimana IDXC terlahir. Dijelaskan pula bahwa memantau siaran radio FM termasuk di dalamnya disamping SW, MW. Ini sesuai maksud DX, yang berarti komunikasi jarak jauh.
"Untuk menunjang eksistensi organisasi, kami menerbitkan Buletin Dirgantara. Salah satu rubriknya adalah Profil Stasiun, yang banyak menyoroti radio-radio FM di Indonesia," ujar Aries Subagyo. Di tengah tengah makin serunya diskusi, hadir Tomoko Yoshimura, Produser Radio Japan NHK. Kehadirannya semakin menambah maraknya suasana pertemuan. Bukan hanya IDXCer saja, tetapi rekan-rekan Pewara Radio Panorama pun ikut senang. Bukan begitu, Mas Billy ? Momo-san, begitu panggilan akrabnya, terbang langsung dari Jakarta, untuk bertemu IDXCer Jawa Timur.
Sempat mampir ke RRI Surabaya, Momo-san kecele ketika datang ke Ngagel Tirto. Untunglah, panitia sudah mengantisipasi hal tersebut, sehingga Momo-san sampai di Tretes, meski terlambat karena macetnya lalu lintas Gempol - Pandaan di Tahun Baru 1994. Sorry for that traffic jam, Momo-san, I hope you will enjoy Indonesia as it is. Tak terasa waktu pun makin bergeser peserta sempat dibuat bingung. Bagaimana tidak, di satu sisi, waktu sudah saatnya bersantap bersama. Sementara, di sisi lain, masih banyak yang didiskusikan, sempat tawar-menawar.
Waktu memang tidak kenal kompromi. Pertemuan terpaksa ditutup pukul 16.00 WIB. Hal ini, mengingat jarak antara Tretes dan tempat domisili peserta yang jauh. Memang, ada yang sedikit kecewa, seperti halnya Momo-san. "Sebenarnya saya ingin berdialog dengan mereka tentang siaran Radio Jepang, tapi karena waktu yang tidak ada, yah, apa boleh buat," ujarnya kepada Dirgantara dalam bahasa Indonesia yang fasih. Sorry, Momo-san. Masih ada kesempatan yang lainnya.
Sebelum berpisah, sempat dibagikan souvenir dari beberapa stasiun radio, antara lain : Radio Jepang NHK, BBC, Radio Australia, Suara Jerman DW, Radio Korea KBS, Suara Amerika, Adventist World Radio Asia, The World Service of the Christian Science Monitor, Cina Radio Internasional, Radio Pyongyang, produk Indonesian DX Club.
Momo-san tak ketinggalan dengan stiker Radio Jepang NHK yang terbaru. Radio Panorama 102.3 Family Radio pun tidak mau ketinggalan dengan souvenir kejutannya, T-shirt serta stiker. Meskipun produk lama, namun tetap menarik. "Justru itu barang langka, dan itu tidak mudah mencarinya," ujar salah seorang peserta (dasar "mata souveniran", red.).
"Mengingat barang tersebut stok lama, dan sisa tahun lalu, 1993, mungkin tidak mencukupi untuk satu-persatu. Namun kami akan mengirimkan ke Anda yang hadir di sini, lewat Pak Hartono, setelah kami cetak yang baru," ujar Mas Billy yang disambut dengan gembira para peserta. Nah, rugi to kamu yang nggak ikutan. Secara kuantitas, memang pertemuan ini, yang dihadiri 23 orang, kalah dengan pertemuan lain.
"Memang, kami tidak mengundang banyak peserta, hal ini mengingat sempitnya tempat pertemuan. Kami khawatir jumlah yang akan meledak, dan tidak bisa tertampung," ujar Pak Hartono kepada Dirgantara. Dari undangan yang kami sebar, hadir 15 peserta, tidak termasuk simpatisan dan dari pihak Panorama sendiri. Tak bisa dipungkiri, peranan IDXC pusat, rekan Eddy Setiawan dengan BP-nya, rekan Siz Iskandar yang membantu kami dalam penyebaran informasi, tambahnya.
Kekecewaan melihat jumlah yang hadir terobati dengan keakraban dari Mas Billy Prasetyo beserta segenap awak siar Panorama (pewara). "Entah apa yang harus kami katakan, atau kami berikan sebagai rasa ucapan terima kasih kami," ujar Pak Hartono terharu. Awal yang sukses, sekarang tinggal bagaimana kita mempergunakan jembatan persahabatan yang sudah terbina ini dengan sebaik-baiknya. Dengan segepok souvenir di tangan, senyum menghiasi bibir mereka. Cepat sekali rasanya waktu bergulir, berat sekali rasanya untuk berpisah. Namun ada daya ada pertemuan ada pula perpisahan. Mereka pun berucap, "Sampai jumpa lagi, Sobat !" (SAS)
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada : Radio Panorama, Radio Australia, Radio Jepang, Radio Korea, Deutsche Welle, Radio Veritas Asia, WCSN, Radio Nederland, RRI Cirebon, BBC World Service, China Radio Internasional, Suara Amerika, ORARI Cirebon, Mr. Asbari NK, Tony WP, Istanto S, Miss Tomoko Y, Mrs. Hanny Z, Wartel Pujangga, serta beberapa pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung atas partisipasinya dalam Temu Daerah Indonesian DX Club Jawa Barat dan Jawa Timur. Semoga kerjasama yang baik ini tetap berlangsung pada kegiatan kami di masa mendatang. Koordinator IDXC Jabar dan Jatim, Pengurus Pusat IDXC.