Temu Pendengar RRI-RLN
Temu Remaja dan Jumpa Pendengar Anggota Sanggar RRI Pontianak dan Pendengar RLN
Dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI yang ke-48 serta memasyarakatkan UU No.14 / 1992, anggota Sanggar Angkasa Remaja (AR) yang lebih beken dengan "The Best of Alfa Romeo" RRI Pontianak, pada tanggal 15 Agustus 1993 lalu telah mengadakan Temu Remaja dan Jumpa Pendengar. Acara yang diadakan bekerja sama dengan Kanwil Kehakiman, Kadit Lantas Polda Kalbar, PPKBI Kodya Pontianak, dan Yamaha Music sebagai sponsor utama tersebut.
Dihadiri sekitar 90 orang remaja, yang terdiri dari anggota sanggar, wakil dari SLTA dan mahasiswa yang ada di Pontianak. Pokok pembahasan adalah Masalah Lalu Lintas di Jalan Raya Ditinjau dari Segi Hukum. Dalam penyampaiannya, Bapak Kapten Polisi Akhdiat, menghimbau seluruh masyarakat, agar selalu menaati peraturan berlalu lintas, terutama dalam mengemudi.
Hendaknya jangan lupa membawa SIM dan STNK, menggunakan jalur zebra cross jika hendak menyebrang jalan, dan menaati rambu-rambu lalu lintas yang ada. Sebab bila pelanggaran terjadi, tidak akan terjadi lagi "salam tempel" seperti selama ini sering dilakukan antara pelanggar dan petugas, yang disambut dengan tawa oleh para remaja yang hadir.
Oleh sebab itulah, sekarang ini sedang 'digodok' atau diberi latihan khusus untuk petugas-petugas yang akan turun ke jalan raya. Demikian sedikit cuplikan sambutan Kadit Lantas. Dari Kanwil Kehakiman membahas sanksi-sanksi yang akan dikenakan kepada pelanggar. Sedangkan dari PPKBI, yang diwakili oleh Bapak Drs. Mulyadi, menyampaikan masalah penundaan usia kawin, bahaya kawin muda, serta pentingnya kematangan jiwa seseorang dalam mendirikan rumah tangga. Setelah ketiga nara sumber menyampaikan permasalahan, para remaja diberi kesempatan memberi tanggapan atau sanggahan terhadap tiga masalah tersebut.
Suasana menjadi sedikit hangat ketika seorang remaja menanyakan "Bagaimana jika dalam pembuatan SIM tanpa melalui prosedur yang resmi. Apakah dalam UU No.14 / 1992, hal itu bisa dihalalkan?", yang disambut dengan geeeer oleh remaja lainnya. Kemudian, masalah KB juga mendapat sambutan hangat dari peserta yang hadir. Acara yang dimulai pukul 09.30 WIB tersebut berakhir pukul 12.30 WIB, untuk istirahat makan bersama. Setelah itu, pukul 13.00 WIB acara dilanjutkan lagi dengan jumpa pendengar dan bagi-bagi souvenir. Acara kedua dimulai dengan sambutan wakil dari Pendengar Radio Luar Negeri, yang saya sampaikan sendiri.
Dalam sambutan tersebut, saya uraikan manfaat dan pentingnya mendengarkan radio, khususnya stasiun radio luar negeri yang berbahasa Indonesia. "Manfaat dari kita mendengarkan radio, bukan semata-mata untuk mendapatkan hiburan atau kirim kartu pos, minta putar lagu kemudian nama menjadi terkenal atau beken, tetapi yang lebih penting dari itu adalah kita akan mendapatkan informasi, yang lebih cepat dari pada kita mendapatkannya dari media lain seperti TVRI, surat kabar, atau majalah". Apalagi sumber itu kita dapatkan dari radio luar negeri yang mungkin baru keesokan harinya dapat kita baca di surat kabar.
Dengan mendengarkan radio luar negeri, misalnya : Radio Australia, Radio Nederland, BBC, atau stasiun yang lain, kita bisa mendapatkan berita dengan lebih cepat. Dan jika mau jujur, kejelekan aparat-aparat kita, justru dapat kita ketahui dari sumber yang berasal dari luar, bukan dari dalam negeri. Sebelumnya saya minta maaf dulu kepada bapak-bapak yang hadir. Dari itulah, sebagai remaja penerus bangsa, perkembangan dunia ini janganlah sampai ketinggalan. Walaupun kita ada di desa, tetapi apabila selalu mendengarkan berita melalui radio, Insya Allah, kita tak akan tertinggal jauh dengan mereka yang tinggal di kota.
Kemudian, bagaimana cara mengoperasikan sebuah radio, eh... mencari gelombang radio luar negeri yang menyiarkan berita-berita, seperti Radio Australia, Radio Nederland, BBC, Suara Jerman, Radio Jepang, atau yang lain ? Nah, untuk itu kita harus tahu gelombang atau frekuensi, serta jam siarannya. Sebab RLN tidak setiap waktu mengudara dalam bahasa Indonesia, tetapi mempunyai jam-jam tertentu, saya ambil contoh Radio Australia yang ada pedoman acaranya.
Tanggal 5-9 Juli 1993, saya mendapat informasi, Ibu Hanny Zein, Perwakilan RASI di Jakarta, akan datang ke Pontianak, dan ingin berjumpa dengan anggota RLC / IDXC yang ada di Kalbar. Namun, saat itu saya ada tugas ikut Pelatihan ST 93, sehingga dengan sangat menyesal tidak bisa bertemu. Saya hanya sempat menitipkan surat ke Wisma Nusantara, tempat Ibu Hanny Zein menginap selama di Pontianak. Dari itulah dua set buku English From Radio Australia, Pedoman Acara, Foto Penyiar, dan Sticker dititipkan ke rumah saya.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Pengasuh Angkasa Remaja, Filar Mustika. Dalam sambutannya ia menyatakan sangat gembira dengan perkembangan AR, yang sejak beroperasinya gelombang 30.9 meter / frek. 9708 kHz, pendengarnya tidak saja dari Kalbar, tetapi juga tersebar di seluruh Nusantara, bahkan sampai ke Sabah dan Malaysia, serta Brunei Darussalam. Acara diakhiri dengan pembagian hadiah bagi pemenang kuis Tebak Suara Penyiar.
Saya putarkan kaset rekaman suara penyiar RASI yaitu Istas Pratomo dengan burung Beo-nya, yang akan dikawinkan dengan harimau (rekaman Pagi Gembira Selasa 9 Agustus 1993). Namun ternyata tidak ada satupun yang menebak dengan benar, kecuali lima orang pendengar RLN yang saat itu hadir. Dua set buku English From Radio Australia akhirnya dihadiahkan kepada peserta yang berhasil menebak suara penyiar RRI Pontianak dan penyiar dari salah satu radio swasta di Pontianak. Untuk diketahui, souvenir yang kami bagi-bagikan dengan cara undian adalah :
- Dua set buku English From Radio Australia
- 20 lembar foto Penyiar RASI
- 20 lembar Pedoman Acara
- Sepuluh lembar stiker RASI
- Lima buah India Calling
- Satu gantungan kunci VOA dan lima stiker DW dari rekan Hamida
- Satu buah buku Pelajaran Bahasa Korea
- Sepuluh brosur Radio Korea
- Tiga stiker Radio Korea dan beberapa lembar stiker RLN yang lain
Kemudian dari pihak Sanggar Angkasa Remaja dan Yamaha Music masing-masing disediakan 6 lembar T-shirt. Setelah acara demi acara dilalui, dapat saya simpulkan bahwa di antara pendengar atau remaja yang hadir ternyata keberadaan RLN masih sedikit asing bagi mereka. Kehadiran mereka dalam acara Jumpa Pendengar tersebut sedikitnya ingin mengetahui bagaimana cara mendengarkan RLN (sebelumnya telah saya promosikan juga lewat acara AR RRI Pontianak).
Hal ini saya ketahui setelah penyampaian pesan dan kesan dari seorang peserta. Acara yang diakhiri pukul 15.00 WIB ini cukup semarak, meriah, dan keinginan peserta Jumpa Pendengar diadakan setiap 6 bulan atau setahun sekali. Dalam hal ini, saya dan Pengasuh Acara AR hanya berucap Insya Allah !! (Adnan Saputra / gun)