Catatan Pinggir
Sepertinya sudah menjadi hegemoni, film terbaik versi FFI kurang laku di pasaran. Pilihan film terbaik versi juri belumlah tentu sama dengan pilihan penonton. Juri menentukan pilihan dengan kriteria-kriteria tersendiri, yang konon lebih "apresiatif", sebaliknya, penonton menentukan pilihan berdasarkan "suka tidaknya" akan apa yang dilihat. Kalau dia suka, tentu saja bilang bagus... sebaliknya kalau tidak, ya... bilang jelek dan tak bermutu. Jadi yang namanya apresiasi masih jauh dalam hal ini.
Hal macam ini sering kita temui dalam suatu poling, misal jajak pendapat yang diselenggarakan salah satu stasiun radio siaran bahasa Indonesia. Ada beberapa mata acara yang diprakirakan bakal merebut jumlah pendengar cukup banyak, ternyata menduduki ranking di luar prakiraan. Dalam hal ini pendengar bertindak sebagai juri dan mempergunakan, mungkin, kriteria "sederhana".
Kami pikir, orang awam pun bisa dan tidak harus berpikir terlalu jauh, jawaban sudah tersedia, tinggal pilih. Apa susahnya ? Di sini responden, mungkin, pendengar baru, dan mungkin juga, hanya sempat memantau acara tertentu, tidak secara keseluruhan dari acara yang disajikan, hingga bahan acuan sebagai pembanding kurang. Kami tak ingin memasalahkan hal ini, toh hasil angket sudah diumumkan.
Hasil yang ada janganlah dianggap merupakan suatu hasil yang "mutlak". Jajak pendapat hanyalah satu acuan, kalau mungkin untuk introspeksi, sekaligus motivasi meningkatkan acara. Bukan sebagai patokan mutlak. Acara yang tidak disuka, bukan berarti harus dihapus atau dihilangkan sama sekali. Memang, cukup sulit untuk memenuhi permintaan pendengar dengan selera yang beragam. Di sinilah pendengar lebih leluasa dalam menentukan pilihan, yang tentu, tidak sama satu dengan lainnya.
Dengan demikian, sulit juga untuk menentukan apakah pendengar itu fanatik atau tidak. Seperti yang banyak kita temui tentang film Indonesia, alur ceritanya mudah ditebak. Kapan akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri ? Rasanya hal ini cukup klise, bagaimana bisa menjadi tuan rumah, kalau kita sendiri pun tidak pernah menontonnya ? Mudah ditebak alur ceritanya, karena kita mengerti dan tahu persis bahasa yang digunakan.
Ironisnya, kita membandingkan dengan film barat yang bukan bandingannya. Tentu saja, kalau kita mau jujur, dalam menilai atau berpendapat, sebaiknya tahu dan mengerti masalahnya. Kembali pada hasil angket, semua itu sekedar mengisi dan berpartisipasi, tetapi tidak tahu persis akan apa yang diisikannya. Apalagi dijelaskan pula kalau isian tidak mempengaruhi kesempatan meraih hadiah. Terus terang, kami tidak tahu dan tak pernah menerima angket jajak pendapat tersebut.
Paling tidak, tulisan ini bisa menjadi satu gambaran bagi para pembaca Dirgantara untuk bisa menempatkan diri kita lebih arif dalam menilai hasil jajak pendapat. Kiranya tidak perlu mengganti acara yang sudah ada, apalagi menghapusnya, karena kami yakin setiap acara punya pendengar tersendiri. Sebagai pengasuh acara, tentunya, harus jeli akan selera pendengarnya, dan tidak perlu mengeluh, apalagi patah semangat. Maju terus, pantang mundur. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Bukan begitu ? (ASK)