Telekomunikasi
Satelit di Masa Damai
Sebenarnya, kita beruntung, Indonesia sudah terjun langsung di dalam perlombaan teknologi dirgantara, satelit. Terakhir kali, Satelit Palapa B4, dengan Roket Delta, menuju orbit GSO (Geo Synchronous Orbit), yaitu orbit lingkaran yang tingginya 36.000 km di atas permukaan air laut. Pada orbit ini, satelit bergerak serempak dengan putaran poros bumi, sehingga relatif terhadap bumi, satelit tidak bergerak.
Ibarat bintang yang tidak pernah terbenam, selalu berada di atas kita. Bila waktu tiba kelak, kita akan menguburkan satelit yang digantikan Satelit Palapa B4. Caranya dengan menyalakan jetnya, serta mengarahkannya, sehingga dia naik menjauhi bumi ke orbit sekitar 300 km di atas orbit GSO. Di sana dibiarkan sebagai barang rongsokan. Cara ini yang sering dipakai dan yang selama ini dilakukan para petugas pengendali Satelit Palapa di Cibinong, dan masyarakat internasional.
Cara lain ialah dengan menyalakan jetnya agar mendorong ke arah bumi, sehingga terbakar habis karena gesekan dengan atmosfer. Namun, bila kondisi satelit dirasa masih baik, maka sementara sebelum dikuburkan, satelit dapat digunakan. Hanya dengan jaminan keandalan yang relatif lebih rendah, dan bila disewakan, harga sewanya lebih murah dibanding bila satelit masih pada umur pakainya.
Kelebihan dan Kekurangan
Salah satu keunggulan sistem komunikasi satelit adalah "kemampuannya menyelenggarakan telekomunikasi yang meliputi wilayah yang lebih luas, dengan waktu yang relatif pendek". Sistem komunikasi Satelit Palapa misalnya, digelar hanya dalam waktu sekitar dua tahun, langsung mampu meliput kawasan Nusantara dan Asia Tenggara. Sebaliknya, kelemahan sistem komunikasi satelit, yang pernah kita alami, antara lain peluncuran tidak mencapai orbitnya.
Tanpa diperintah, satelit meninggalkan kavlingnya, dan gangguan rutin dari matahari, sun outage. Gangguan yang terakhir ini terjadi lamanya hanya beberapa menit, terjadinya beberapa kali setiap tahun, sifatnya lokal, dan waktu kedatangannya dapat diramalkan dengan perhitungan komputer. Prinsip gangguan ini sangat sederhana, terjadi bila matahari, satelit, dan sorot antena parabola pada garis lurus.
Maka operator stasiun bumi Satelit Palapa segera mematikan perangkat penjejak satelit otomatis, auto track-nya, agar antena parabolanya tidak mencari cari satelitnya, karena pada saat terjadi gangguan sinyal dari satelit tersembunyi di balik derau yang besar dari matahari.
Satelit LEO
Jenis satelit komunikasi lain yang kini sedang naik daun adalah yang termasuk kelas orbit rendah, Low Earth Orbit disingkat LEO. Satelit LEO mengorbit bumi dengan ketinggian orbit hanya sekitar 2.500 km. Dengan demikian, ia berada di atas kita, dari terbit sampai terbenamnya, selama sekitar dua jam saja. Selama itu pula, ia dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi untuk kawasan tertentu di bumi.
Orbit yang relatif rendah ini menguntungkan dibandingkan dengan orbit GSO. Dalam hal hanya diperlukan daya yang kecil untuk mengirimkan sinyal, dengan kualitas sama dibandingkan dengan satelit GSO. Lebih dari itu, orbit rendah ini memungkinkan para astronot mengunjunginya bila satelit itu rusak. Orbit LEO juga dipakai untuk pesawat ulang alik, ketika mengorbit bumi untuk menjalankan misinya.
Apabila suatu satelit yang sedang digunakan di daerah tertentu terbenam, maka jalur komunikasi secara otomatis akan dipindahkan ke satelit yang sedang terbit, hand over. Demikian prosesnya, persis seperti proses yang terjadi pada telepon mobil, selular. Dalam hal ini, yang bergerak justru satelitnya, sedangkan penelepon relatif diam. Untuk itulah, setiap satelit LEO ini diperlengkapi dengan kemampuan berkomunikasi dengan satelit LEO yang lainnya.
Suatu kemampuan baru yang hanya dimiliki oleh satelit paling mutakhir. Tahun ini, Motorola akan meluncurkan dua dari sejumlah 77 satelit LEO yang dinamai Iridium, yang akan meliput seluruh permukaan bumi. Pita frekuensi telah disetujui rapat WARC 1992, World Administrative Radio Conference, di Spanyol. Tiap Satelit Iridium beratnya hanya 300 kg menyorotkan 37 sel ke arah bumi. Nama Iridium diambil dalam Susunan Berkala Borh yang punya 77 elektron.
Dengan komunikasi teknologi satelit LEO yang cerdik, serta teknologi radio selular, maka kita ramalkan sekitar dekade yang akan datang, arloji kita dapat kita gunakan untuk bertelepon ke mana saja di seluruh dunia. Hal semacam ini yang disebut sebagai Global Personal Communications. Satelit LEO seperti inilah yang mungkin cocok dibuat dan diluncurkan oleh roket IPTN, Industri Pesawat Terbang Nusantara, karena jumlah ukuran satelit dan roketnya relatif kecil.
Satelit Komunikasi untuk Masa Damai
Satelit komunikasi untuk keperluan damai misalnya : Satelit Anik yang dioperasikan oleh Telesat Canada. Anik di dalam bahasa Eskimo artinya saudara (brothers). Melalui Satelit Anik ini, orang Eskimo di Kutub Utara dapat berkomunikasi ke seluruh dunia. Satelit Palapa juga merupakan jawaban jitu bagi kebutuhan informasi negara lautan dengan 13 ribu pulau, seperti Indonesia. Itulah sebabnya kebijakan pemerintah Indonesia selalu dikutip tiap buku mengenai komunikasi satelit di seluruh dunia.
Pada waktu Satelit Palapa yang pertama diluncurkan, suasana bisnis satelit di kawasan Asia Pasifik belum ramai seperti sekarang. Persaingan bisnis Satelit Palapa mulai sangat terasa sejak diluncurkannya Satelit AsiaSat, yang sebagian sorotnya tumpang tindih dengan Satelit Palapa. Dengan demikian, negara-negara ASEAN yang tadinya pelanggan tetap Satelit Palapa kini mempunyai pilihan. Sementara itu, Kerajaan Tonga dan Thailand merencanakan meluncurkan TongaSat dan ThaiSat.
Dengan majunya teknologi serat optik, beberapa saluran satelit berjalur padat jarak pendek mulai digantikan serat optik. Walaupun satelit komunikasi akan mendapat porsi tertentu untuk beberapa kegunaan, utamanya penyiaran, para pakar pun harus berpikir cerdik, agar satelit komunikasi tetap kompetitif. Di lain pihak, satelit dapat dirancang agar mengemban berbagai misi, selain penyelenggaraan telekomunikasi.
Misalnya penginderaan jarak jauh, peramalan cuaca, dan sebagainya. Berbagai misi yang terakhir ini akan makin bervariasi dan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Dengan demikian, bisnis satelit tidak akan surut sampai pada generasi yang akan datang. (Bambang Dewandaru / Kompas, Maulana / IDXC / bo)