Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 3 No 2 Mei-Jun 1993
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
DX Mania
Antena
Bengkel DXer
Dunia DX
Profil Receiver
Telekomunikasi
Catatan Pinggir
Review Top 50
Redaksi

Volume 3
  Seputar Dunia DX
Omong-omong dengan Pak Eswe

Pengantar : Sebagian terbesar siaran radio luar negeri dalam berbagai bahasa senantiasa mempergunakan gelombang pendek (SW). Sehingga ada anggapan bahwa menangkap siaran gelombang pendek cenderung lebih sulit dibanding dengan menangkap siaran gelombang MW maupun FM. Kenyataannya tidaklah demikian adanya. Berikut wawancara antara Dirgantara dengan Pak Eswe, seorang pakar gelombang pendek.

Dirgantara (Dhgtr) : Pak Eswe, banyak pembaca Dirgantara ingin mengetahui lebih dalam tentang dunia pendengar radio, khususnya gelombang pendek. Sebagai seorang pakar gelombang pendek tentu Bapak tak keberatan membagi pengalaman Bapak selama ini ?

Pak Eswe (SW) : Untuk pembaca Dirgantara dan anggota IDXC, tentu saja, saya akan membantu dengan senang hati.

Dhgtr : Baiklah Pak, kita mulai. Radio bagaimanakah yang baik untuk mendengarkan siaran gelombang pendek ?

SW : Sebenarnya, asal radio dilengkapi dengan gelombang pendek sudah cukup. Kalau pada tempat gelombangnya tercantum tanda SW, artinya radio tersebut dapat menerima gelombang pendek, meskipun ada juga, radio yang mempergunakan tanda OC. Radio yang dapat menangkap gelombang dari 1,6 MHz sampai 30 MHz adalah radio yang baik. Akhir akhir ini, ada pula radio yang menggunakan angka-angka digital untuk menunjukkan gelombangnya.

Kalau Anda memilih radio dengan sistem analog, carilah yang skalanya terbagi secara sangat besar, dan perputarannya mulus. Karena untuk mencari gelombang pendek perlu ketelitian. Sehingga kalau tombolnya kecil, maka gerakan sedikit saja bisa mengubah gelombang.

Dhgtr : Bagaimana dengan antenanya ?

SW : Sebenarnya, dengan antena batang (telescopics, rod antenna) yang terdapat pada radio saja cukup untuk menangkap siaran dari pemancar pemancar utama, dan dari pemancar yang mereka pakai.

Dhgtr : Tentang pesawat penerima radionya, saya sudah mengerti sekarang, selanjutnya bolehkan saya ajukan pertanyaan pertanyaan sambil mencoba mempraktekkannya ?

SW : Kalau begitu, hidupkanlah radio Anda. Memutar gelombang harus dilakukan secara perlahan lahan.

Dhgtr : Lho, ada berbagai macam siaran yang kedengaran, tapi bagaimana kita bisa mengetahui dari stasiun mana ?

SW : Memang, pada mulanya mungkin sulit, tapi nanti, setelah biasa, kita akan gampang membeda bedakannya. Pertama tama, kita coba tangkap awal siarannya.

Dhgtr : Saya akan coba mulai dengan menangkap siaran bahasa Indonesia dari Radio Jepang, yang bulan Juni ini genap 40 tahun. Siaran malamnya dimulai pukul 17.30 WIB, bukan ?

SW : Ya, betul, getarannya 11.875 kHz, tapi kalau Anda mulai mencari cari dari pukul 17.30 WIB, itu sudah terlambat. Kita harus mulai setel gelombang beberapa menit sebelum siaran dimulai, kalau tidak, mungkin kita akan ketinggalan berita yang penting. Mula-mula, setel gelombang pada angka 12, kemudian gerakkanlah lambat lambat. Beberapa menit sebelum memulai siarannya, setiap pemancar membunyikan sinyal khas sendiri, yang disebut Identification Signal atau Interval Signal.

Radio Jepang empat menit sebelum memulai siarannya memperdengarkan irama lagu "Kazoe Uta" yang dimainkan dengan orgel, diselingi dengan station call dalam bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Jadi, pertama tama inilah yang harus dicari, yang berdekatan. Tetapi kalau ingin menangkap dengan lebih baik, sebaiknya dipakai pula antenna luar. Pada bagian belakang radio Anda, biasanya ada tempat menghubungkan antena yang ditandai dengan huruf-huruf "Ant" atau dengan lambang.

Ke bagian ini cukup kita sambung kabel listrik berlapis plastik sepanjang 10 meter, kita ulurkan saja keluar jendela. Tentu saja, kalau keadaannya memungkinkan, yang paling ideal ialah menggunakan antena yang sungguh sungguh, dalam hal ini pasanglah di tempat yang setinggi mungkin.

Harus pula diperhatikan supaya memasang antena radio jauh dari antena televisi dan kawat listrik. Ada macam-macam cara memasang antena, tapi yang paling umum adalah antena tunggal yang menggunakan pohon, tiang. (Pak Eswe lantas mempersilahkan pembaca Dirgantara menyimak terus Rubrik Antena setiap edisi yang diasuh rekan Ahmad Kadafi).

Dhgtr : Lalu bagaimana dengan "arde" ?

SW : Pada dasarnya tidak perlu, radio zaman sekarang sudah cukup baik, sehingga tidak perlu lagi kita ardekan. Pemasangan arde yang salah malahan bisa berakibat buruknya penangkapan siaran.

Dhgtr : Adakah hal-hal lainnya yang perlu diperhatikan mengenai pesawat radio ?

SW : Sebaiknya pilihlah radio yang gelombangnya stabil. Ada kalanya setelah beberapa lama kita setel pada pemancar tertentu, gelombang radio lambat laun bergeser dengan sendirinya. Kalau begini, sebentar sebentar kita harus membetulkan lagi gelombangnya, dan menyusahkan bukan ? Tapi untunglah radio sekarang lebih baik kestabilannya.

Selain itu, harus diperhatikan pula baik buruknya sebuah radio dapat ditentukan dari apakah radio itu dapat mencegah jamming dari pemancar yang berdekatan gelombangnya. Untuk mengetahui kesanggupan ini, kita dapat membandingkan data yang terdapat pada brosur-brosur. Namun pada radio portabel umumnya hal ini tak dicantumkan, karena itu kita harus coba sendiri, tanya pada anggota IDXC lain mengenai radio.

Dhgtr : Jadi pada pukul 17.25 WIB terdengar irama "Kazoe Uta" ?

SW : Betul !! Nah cobalah cari gelombangnya. Perlahan lahan, ya.

Dhgtr : Oh, begitu, ternyata tidak susah untuk mencari gelombang. Sekarang baru jelas bagi saya pentingnya sinyal identifikasi. Apa pemancar pemancar yang lain juga memperdengarkan sinyalnya masing masing ? Bagaimana bunyi sinyal sinyal yang lain ?

SW : Yang banyak dikenal antara lain adalah : Yankee Doodle dari Suara Amerika, Merck Toch Hoestreck dari Radio Nederland, Waltzing Matilda Radio Australia, dan sebagainya. Siaran RRI memperdengarkan Rayuan Pulau Kelapa di dalam irama keroncong. Menyenangkan juga mendengarkan aneka ragam irama sinyal berbagai macam stasiun.

Nah, sambil menyelam minum air, kita bisa mengingat sinyal identifikasi berbagai pemancar. Dengan begini, Anda sudah mengayunkan langkah pertama untuk menjadi seorang DXer. Begitu penting sinyal identifikasi, sehingga stasiun radio memeras otak untuk membuat yang menarik.

Dhgtr : Wah, ternyata menarik sekali, ya. Kalau begitu bagaimana mencari stasiun pemancar jika waktu siarannya sudah dimulai ?

SW : Stasiun pemancar manapun, di tengah-tengah siarannya akan selalu mengumumkan nama stasiunnya, identification announcement atau ID, misalnya "Inilah Radio Jepang Siaran Internasional dari NHK di Tokyo". Jadi waktu mencari, nantikanlah munculnya ID ini sambil mengira-ngira dari warta berita atau isi acaranya. ID adalah salah satu cara yang penting untuk menegaskan nama stasiun pemancar.

Dhgtr : Terima kasih Pak Eswe, Bapak telah banyak membantu kami anggota IDXC maupun pembaca Dirgantara.

SW : Terima kasih kembali. (Radio Jepang / HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 3 No 2 Mei-Jun 1993
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space