Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 3 No 2 Mei-Jun 1993
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
DX Mania
Antena
Bengkel DXer
Dunia DX
Profil Receiver
Telekomunikasi
Catatan Pinggir
Review Top 50
Redaksi

Volume 3
  Profil Stasiun
GKL FM Memburu Profesional di Kota Harapan (Magelang)

Bersaing, itu perlu. Persaingan, itu wajar dan perlu. Demikian halnya dengan radio-radio swasta nasional, yang semakin hari, semakin ketat persaingannya, sejalan dengan makin banyaknya stasiun radio baru yang muncul. Magelang, kota relatif kecil, ternyata tak luput dari persaingan tersebut. Di kota "gethuk" hadir radio FM baru, Gema Kyai Langgeng, atau yang lebih dikenal sebagai GKL FM 106.15 MHz.

Dirgantara berhasil mengorek sedikit banyak tentang GKL. R. Doddy Subandrio, Asisten Manager Programer GKL menjelaskan lebih lanjut mengapa dan pertimbangan apa yang mendasari berdirinya GKL. "Kami ingin memberikan wawasan pengetahuan kepada masyarakat Magelang. Kebetulan pula kami mendapat dukungan dari Bapak Bagus Panuntun, walikota Magelang sebelum Bapak Rudi Soekarno, yang memberi nama Gema Kyai Langgeng atau disingkat GKL."

Apakah mereka yakin bahwa saat itu masyarakat Magelang sudah mampu menerima teknologi FM ?
+ Menurut kami, memang belum bisa dikatakan seperti itu. Tetapi kami mencoba mengarahkan bagaimana pendengar mengetahui mana yang lebih baik dan mana yang kurang. Kita harus mendidik, kita memberikan informasi yang aktual, yang bisa memberikan satu dorongan kreativitas. Ibaratnya, kita "mendulang" bayi, semakin lama akan tumbuh menjadi besar, dan pada akhirnya betul-betul dibutuhkan masyarakat, khususnya masyarakat kami di kota Magelang.

Segmen yang mana yang GKL bidik ?
+ Menengah ke atas, dari golongan muda, yang kreatif, yang masih sekolah atau kuliah, dengan usia 15-40 tahun.

Titik beratnya di mana ?
+ Kita nggak pandang itu. Kita sapaannya "mitra muda". Jadi, kita nggak membeda-bedakan, apa dia sudah kerja di kantor, seorang mahasiswa, ataupun bisnisman. Dan kita juga tidak memilih mitra muda yang kaya, ganteng, yang jelas mereka punya potensi.

Bagaimana dengan hasil riset SRI ?
+ Kita belum mengambil itu, kita masih memusatkan bagaimana cara kita bisa diakui dulu oleh masyarakat. Jadi klien kami pun bisa yakin bahwa GKL radio yang terbaik di Magelang. Bahkan tidak hanya di Magelang, tapi juga Yogyakarta, dan kota-kota di Jawa Tengah lainnya.

Setahu kami, radio swasta itu hanya untuk lokal saja, dengan radius jangkau kurang lebih 60 kilometer. Ternyata GKL juga mengarah ke Yogyakarta, bagaimana ini ?
+ Memang Magelang kota kecil, tapi tidak menutup kemungkinan yang di luar kota pun tahu akan GKL.

Aturan pemerintah sendiri bagaimana ?
+ Radio setempat atau radio daerah bisa mempunyai pendengar di sekitar daerah itu sendiri. Jadi bukannya kita meninggikan voltase atau watt-nya, tidak. Kalau toh dari luar kota bisa menangkap siaran kami, kenapa mesti kita sia-siakan. Kita hormati mereka yang telah memberi kritik, saran.

Dampak apa yang bisa diambil dengan peluberan tersebut ?
+ Jelas, pendengar kami pun akan lebih banyak, karena bukan hanya Magelang, tapi juga di Yogyakarta.

Hubungannya dengan klien ?
+ Ada pengaruhnya, misalnya, klien tidak semata-mata hanya tahu kalau radio itu "besar", atau radio itu sudah cukup lama berdiri, tidak begitu. Kalau biro iklan bener-bener tahu tentang pendengar radio, khususnya GKL, mereka tahu bahwa GKL lebih segalanya. Memang fakta bicara, ada semacam orientasi yang lebih mantap. Untuk mempercayakan diri kepada klien (pemasang iklan, red.) itu harus bisa survei sendiri.

Soalnya apa ? Kita bukti ada, tetapi kalau tanpa didasari dengan bukti yang otentik, nggak bisa. Atau mungkin dengan pertimbangan, wah, radio itu sudah lama berdiri, dan saya mesti pasang iklan di sana. Aaa... itu kurang tepat. Radio baru juga bisa, kalau misalnya orang lain bisa mengetrapkan, bahwa radio itu dikelola secara profesional.

Apa dengan meluberkan siaran tersebut menaikkan rite iklan ?
+ Bener sekali, klien kami semakin yakin, klien-klien itu sendiri sekarang semakin kritis. Tidak cuman percaya dengan info orang lain, ini ini ini... Jadi semacam boikot tidak perlu terjadi. Sekali lagi, bukti yang bicara. Klien atau biro iklan pun akan semakin yakin, mau dinyatakan apapun, silakan. Tapi ternyata benar apa yang kami katakan. Ow... ternyata betul, GKL itu hebat, top.

Mungkin ada riset tersendiri yang pernah dilakukan GKL ?
+ Hanya sebatas dari surat-surat atau telepon yang sempat kami catat. Ada dari Yogyakarta, Semarang, serta kota-kota di Jawa Tengah lainnya. Memang dasarnya baru itu.

Bagaimana hasilnya ?
+ Sangat memuaskan. Karena apa ? Kita radio baru, akan tetapi bisa menunjukkan eksistensi kita sebagai radio yang profesional.

Format acaranya sendiri, apa yang digunakan ?
+ Kita punya "hits radio", jadi format GKL adalah format lagu-lagu yang masuk Billboard Magazine, dengan lagu barat dan Indonesia kreatif.

Barangkali punya stasiun panutan ?
+ Kami menjadikan Prambors, Jakarta sebagai panutan, juga Unisi dan Geronimo, Yogyakarta.

Luar negerinya ?
+ Radio KISS FM.

Bagaimana dengan prosentase acaranya. Meski pemerintah telah menggariskan aturan, dalam kenyataannya, semua itu tergantung pada radio itu sendiri. Bagaimana dengan GKL ?
+ GKL sudah menerapkan apa yang sudah dicanangkan oleh pemerintah. Pemberitaan memperoleh porsi 28%, pendidikan 6.37%, hiburan 44%, iklan 20%. Tapi untuk iklan, kami malang kurang, sebaliknya pendidikan lebih dari 6%. Berita, kita mengikuti dari Semarang juga. Harga sayur mayur di Jawa Tengah juga masuk, lebih kurang menjadi 30%.

Bagaimana tarif iklannya, apakah ada perbedaannya antara pagi dan malam misalnya ?
+ Saya pikir itu tergantung pada kebijaksanaan masing-masing perusahaan, bagian marketing.

Berapa tarif iklannya ?
+ Sekitar Rp 15.000 per spot-nya. Untuk waktu setengah jam acara, Rp 50.000. Satu jam atau 60 menit, ya Rp 100.000.

Acara apa yang menjadi andalan GKL ?
+ Banyak. Saya katakan banyak, karena di sini menyangkut kredibilitas perusahaan. Sebagai pemancar kami mempunyai acara-acara yang bener bener disuka oleh pendengar, seperti Susunya, Surat-surat Nyasar Tiap Minggu Malam, Rumours, Jawaban Surat-surat, seminggu empat kali, Senin, Rabu, Jum'at, dan Minggu.

Ada GKL Top 15 yang menampilkan lagu-lagu barat yang nge-top, yang sudah masuk dalam jenjang Billboard Magazine Top 40, atau Hot R&B Single, ada GKL Sensasi Musik Persada, tangga lagu-lagu Indonesia, ada Hot Black Music, musik Jazz, yah... Kaki Sama, Teka-teki Konyol Selasa Malam, dan tentu saja, Quiz.

Pastinya, berdasarkan surat atau telepon yang masuk, acara apa yang paling banyak digemari ?
+ Acara berbau humor, seperti Susunya, Rumours, Kuis, dan Kami Sama.

Adakah trik-trik untuk menarik pendengar di samping dari program siarannya ?
+ Triknya, yaa cuman You and Me. Kita sifatnya informatif, semata-mata bukan untuk kepentingan sendiri, tapi untuk masyarakat, misalnya ada pendengar yang minta lagu yang di segmen kita nggak masuk, kita berikan arahan dengan baik. Jadi tidak kaku, jangan sampai pendengar mengatakan, waduh, jahat !! Jangan sampai itu, dan ternyata pendengar kami bisa menerima.

Informasi adalah salah satu bahan siarannya GKL. Bagaimana mekanisme berita hingga sampai ke telinga pendengar ?
+ Kita merelai dari televisi, dengan parabola, itu untuk berita yang dari luar negeri. Kita rekam, pelajari, dan pemerintah sendiri sudah mengatakan bahwa informasi yang nyata serta ada sumbernya bisa diteruskan ke masyarakat. Misalkan itu terjadi malam hari, paginya sudah keluar.

Berita yang seperti apa yang bisa lolos diudarakan ? Apakah ini juga melihat segmen pendengarnya ?
+ Kami memilih berita yang paling akurat dan benar. Tetapi tidak semata mata kami anggap benar, kami juga harus hati-hati, karena informasi itu menyangkut politik, yang bisa saja menjerumuskan radio itu sendiri. Bisa menimbulkan gejolak yang meresahkan masyarakat.

Apakah hanya dari satu sumber ?
+ Ya tidak, ada beberapa sumber, semua kita rangkum, dan kemudian kita saring, perlu nggak berita-berita seperti ini.

Di samping itu dari televisi, untuk radio bagaimana ?
+ Kami lebih cenderung ke informasi-informasi dari RRI.

Apakah GKL punya network atau kerja sama dengan stasiun lain ?
+ Kami bekerja sama dalam masalah penyiaran dengan Suara Kejayaan, Jakarta, kita ada acara dari sana.

Dari luar negerinya ?
+ Suara Amerika.

Bentuknya ?
+ Kiriman paket acara dari sana. Semuanya kita padukan, tidak secara langsung disiarkan. Tapi yang jelas, kami melihat bahwa info itu akurat.

GKL merupakan stasiun baru, tetapi mereka yang ada di belakang layar bukan orang baru di dunia siaran. Mengapa demikian ?
+ Memang kami memadukan dari beberapa orang. Kalau tidak, kita akan kembali ke nol lagi, dan mereka punya kemauan sendiri untuk bekerja sama dengan GKL. Ada dari Semarang, Magelang, Yogyakarta. Kita berkumpul di sini, serasi, dengan makna Bhinneka Tunggal Ika.

Bagaimana tingkat persaingan radio swasta di Magelang ?
+ Kalau menurut saya, cukup baik. Cuman, karena mungkin kami masih baru, kami nggak tahu, apakah diakui atau tidak. Tetapi kami punya kemampuan besar, karena kami punya penyiar-penyiar yang sudah lama menekuni bidang radio. Dan kami juga selalu memberikan masukan masukan pada klien, bahwa kami tak mau bersaing secara tak sehat.

Yang jelas, kami memandang Magelang ini baik semua, sedangkan untuk masalah iklan, tergantung dari posisi mereka. Kalau nggak pasang, yaa terserah, karena kami nggak maksa harus pasang iklan di GKL. Terserah biro iklan menentukan mau pasang di radio mana. Masalah selisih kualitas memang terjadi di mana-mana, jadi kita nggak bisa menutup diri, bahwa "perselisihan" antar radio satu dengan lainnya dikarenakan pengaruh pendengar, pengaruh segmen.

Memang, persaingan itu wajar, namun terkadang ada pihak-pihak yang, mungkin, takut disaingi, mengeluarkan jurus-jurus yang terkadang kurang sportif. Sebagai pendengar, kita hanya bisa melihat sepintas saja. Bagi kita, yang penting bisa memperoleh hiburan, perkara bagaimana mereka menghidupi dirinya, itu urusan mereka. Hanya, kalau bisa sih, bersaing secara sehat, dan jangan sampai pendengarnya ikut-ikut bersaing secara tidak sehat pula. Kita cukup menjadi pengamat, dengan sesekali, kalau mau, melempar usul, saran, demi persatuan. Bukan begitu ? (bo)

P.T. Radio Gema Kyai Langgeng, FM 106.15 MHz, Jalan Singosari 7A, Magelang 56124, Jawa Tengah, Indonesia.

 
Dirgantara Online - Vol 3 No 2 Mei-Jun 1993
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space