Catatan Pinggir
IDENTITAS sering diartikan sebagai tanda pengenal. Macam macam bentuknya, baik itu nyata, ataupun abstrak. Misal saja nama. Mungkin Anda pernah menemui, atau mungkin Anda sendiri, DXer yang dengan tekunnya menunggui radionya, hanya untuk mendengar nama stasiun yang didengarkan. Dengan penuh konsentrasi, didengarnya terus, didekatkan ke telinganya, untuk bisa mendengar dengan jelas.
Apalagi kalau bukan sekedar mencari, mendengar pengumuman nama stasiun. Di dunia DX, jati diri atau identitas ini dikenal sebagai identitas stasiun, atau ID's. Bentuknya hanyalah sekedar pengumuman. Misalnya, "Inilah Radio Dirgantara." Kalau Anda sering otak atik pesawat radio Anda, pasti akan kenal dengan "...Inilah Radio..." atau "...This is Radio..." yang biasanya disertai dengan musik atau suara yang khas.
Radio Australia misalnya, dengan suara tawa burung Kookabura, BBC dengan dentang lonceng Big Ben, Suara Indonesia dengan lagu Jali-jali. Kesemua itu hanya untuk menunjukkan jati diri mereka. Bahkan sampai ke stasiun relai pun kadang disebutkan. Kalau Anda memantau siaran BBC atau Deutsche Welle, sekitar 2-3 menit sebelum mengudara, silakan Anda tune in di frekuensinya, niscaya Anda dengar pengumuman tentang itu. Identitas stasiun juga sering ditampilkan di tengah siaran.
Lain lagi ceritanya dengan stasiun radio dalam negeri kita sendiri, atau yang Anda kenal sebagai radio swasta nasional. Radio swasta nasional di Indonesia lebih kreatif dalam membuat ID's ini, yang sering dikenal sebagai jingle. Bahkan tidak hanya satu jingle, saat pembukaan ada jingle, di tengah siaran ada jingle juga, demikian pula di saat turun siaran ada jingle juga. Dan masing masing dikemas khusus sesuai dengan situasi.
Ada juga programer yang menganjurkan para penyiarnya agar sesering mungkin menyebutkan ID's, dengan maksud pendengarnya, atau yang baru mendengar cepat kenal, dan kalau bisa dikenang. Mereka diuji, bagaimana agar jingle mereka bisa mengena. Dari kasus tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa jingle bukan lagi masalah sepele. Lihat saja di lapangan, beberapa stasiun menggunakan jingle "pesanan" luar negeri. Dan entah, apa alasan mereka menggunakan jingle dari luar negeri.
Padahal, koreografer kita pun tidak kalah dengan mereka. Banyak juga jingle yang "made in" kita sendiri yang menarik. Apakah karena gengsi dan persepsi mereka, bahwa pendengar "luar negeri minded" ? Dengan harapan di mata pendengarnya lebih tinggi gengsinya. Tidak usah heran, kalau menemukan jingle yang mirip satu sama lain. Semua karena pesan dari tempat yang sama, hanya dimodifikasi.
Misalnya, untuk stasiun radio FM yang mengudara di 104 MHz, yang mencakup 104.05-104.75 MHz. Di Amerika Serikat tidak digunakan angka di belakang koma, sehingga 104 MHz di bahasa Inggriskan "One O Four". Kadang call sign mereka ikut masuk, misal "KISS" atau "Kei Ai Double Es" atau "...Good Morning Texas..." Lucu kan ? Stasiun radio di Amerika Serikat lebih dikenal dari call sign dari pada nama.
Misalnya, ada KISS FM, WWCR, WHRI, KHBI, KFBS, dan KSDA. Stasiun di kawasan timur menggunakan inisial W, di barat huruf K. Jadi, kalau Anda mendengar K... atau W... itu adalah call sign mereka. Entah, apakah mereka benar benar pesan atau sekedar "nyontek", dengan jalan merekam, saat jalan di Amerika Serikat. Dan bagaimana kode etiknya, serta adakah royalti bagi mereka ? Yang pasti, kita cinta produksi dalam negeri, bukan begitu ? (Aries Subagyo)
Redaksi
Pemimpin Redaksi / Penanggung Jawab
Aries Subagyo
Wakil Pemimpin Redaksi
Drs. Herbert Sunu Budihardjo
Redaktur
- Gunarto
- Aji Soekardy
- Dwi Budhi Rahardjo
- Florentina Ina Rimawati
- Soekirno
- Supriyadi A.G.
- Akbar Indra Gunawan
- Ahmad Kadafi
- Kustiyono