DX Mania
Meski Sedikit Mahal di Kamar Mandi pun OK Lah Ya
Ternyata ruangan SOSOK IDXCers atau DXers ini banyak peminatnya. Terbukti, dengan adanya permintaan akan tampilnya sosok DXer yang menurut mereka berkaliber internasional. Kami maklum akan itu semua. Namun, bukanlah semudah itu untuk mengorek informasi dari mereka. Kebanyakan mereka tak mau menonjolkan dirinya, sehingga kami harus "pintar-pintar" mengorek dari mereka, baik itu wawancara langsung, maupun tidak.
Ada juga yang meminta akan tampilnya sosok pengurus IDXC. Untuk sekedar sosok, ini pernah kami tampilkan. Misalnya, rekan Florentina Ina Rimawati Hp. pada edisi 1 (3). Kami pun pernah memuat sosok secara sepintas tentang mereka yang ada di redaksi Dirgantara. Kali ini, kami ketengahkan sosok rekan SOEKIRNO, IDXC-0020/INS, yang juga turut membantu Dirgantara di dalam ruangan Top 50. Ikuti pengalamannya, seperti yang dituturkan kepada Aries Subagyo. (Redaksi)
Kalau kita ketemu langsung, Anda akan mengira orang ini pendiam, tapi wow... kalau sudah ngoceh, jangan kaget kalau Anda keder. Hobi DXing rupanya telah membekali dirinya dengan pengalaman dan pengetahuan yang tidak ternilai. Dan jangan sangka kalau dia pun tidak bisa diajak senda gurau. Pokoknya, kalau sudah ketemu dan ngobrol langsung, silakan, Anda mau diskusi apa saja, dia akan layani. Cerita soal "mangga" Indramayu pun oke. Ikuti saja cerita dia.
"Kalau saja ada orang yang "Radio Mania", mungkin saya termasuk di dalamnya, karena sampai ke kamar mandi pun selalu ditemani radio. Makanya, tetangga sudah cukup mafhum, kalau saja ada orang yang bertamu dan mencari saya, tinggal mendengarkan suara radio saja. Kalau ada suara radio, pasti mereka bilang, ada. Memang tidak bisa dipungkiri, radio merupakan salah satu sarana hiburan dan informasi yang aktual dan gampang, kapan kita butuhkan.
Walaupun, tentu saja, mendengarkan radio merupakan suatu hobi yang sedikit mahal, terutama bagi mereka yang menerjuni dunia DXing ini. Karena, tanpa ditunjang dengan pesawat penerima yang sedikit OK punya, niscaya siaran radio luar negeri yang kita inginkan akan sulit dilacak. Di samping itu, kocek kita juga tak segan-segan dirogoh agak dalam untuk biaya pengiriman laporan penerimaan.
Memang, bagi sementara orang, mendengarkan radio merupakan sarana hiburan yang murah, tapi untuk seorang DXer, anggapan itu sangat keliru, bahkan sebaliknya. Sebenarnya, di dalam menggeluti keradioan, saya mengalami perjalanan yang panjang. Tepatnya sejak saya masih duduk di kelas III SD. Dalam arti, sudah berani kirim surat permintaan lagu pada radio siaran swasta nasional yang ada di daerah kami. Walau kala itu, tulisan saya diledek kayak cacing kepanasan.
Namun, nama Panji Laras, nama udara saya, menempati ranking utama. Rupanya, setelah saya menjejaki bangku kelas I SMA, mulai terasa jenuh menggeluti siaran radio swasta yang dari tahun ke tahun hanya itu ke itu. Maka, mulailah saya melirik siaran radio luar negeri, yang kala itu, saya kira hanya siaran BBC London, Suara Amerika, Radio Australia, Radio Nederland, dan Suara Jerman.
Selang dua tahun kemudian, saya mulai berpetualang memasuki klub-klub pendengar siaran gelombang pendek, baik di Indonesia sendiri, maupun yang ada di luar negeri. Di antaranya : Radio Listeners Club Indonesia R-1107, Club Pendengar Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia (CP Rasbi) 1322, Radio Australia Fans Club (RAFC), Voice of Free China (VOFC) 0176, Radio Korea Listeners 100358, FEBC 6490.
Voice of Asia 003 S04, Radio Prague Monitor Club 9103/85, Radio Berlin International (RBI) DX Club 5792, Radio Budapest Short Wave Club YB 1513/RB, BRT International Listener Club 4064, HCJB Andes DXers International (ANDEX) 6953, Radio Tashkent Salom Aleikum Listeners Club 3429, dan Indonesian DX Club, IDXC 0020/INS.
Sampai saat ini, telah saya dapatkan delapan buah sertifikat, di antaranya dari Fleurimounth Canada satu buah, Radio Budapest dua buah, Radio Berlin International sebuah, Danish Short Wave Club International satu buah, HCJB 1 buah, Radio Prague 1 buah, dan Radio Tashkent 1 buah. Kartu QSL sebanyak 212 buah dari 40 negara telah saya koleksi, dan vandel 31 buah.
Dan saya pernah memperoleh dua award, yaitu berupa plakat dari Radio Korea KBS, merupakan hasil penulisan essay Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan. Juga menjadi juara dua dalam kontes desain kartu QSL, yang diselenggarakan Adventist World Radio Asia di Guam. Juara pertama kala itu adalah seorang pendengar dari Philipina. Sedangkan ketiganya dari Jepang. Saya pikir, hasil yang saya peroleh ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan DXer yang lain.
Karena betapapun, hasil yang saya peroleh selama ini tidak terlepas dari petunjuk petunjuk rekan DXers. Sebab, tanpa mereka, mungkin saya tidak akan tahu banyak tentang dunia DXing. Bagi yang ingin bertukar pengalaman DXing, atau memesan "pelem" Indramayu, bisa kontak ke : IDXC 0020/INS, Soekirno, Sukaperna Timur 39, RT.1/1, Indramayu 45272, Jawa Barat, Indonesia.