Sejarah Radio
Jazz FM
Radio ternyata mampu menumbuhkan apresiasi jazz, di antaranya baru baru ini sebuah radio di London mulai menyiarkan jazz selama 24 jam, tepatnya pada awal Maret 1990 yang lalu. Kejadian ini merupakan yang pertama kali di London, Inggris, di mana sebuah stasiun radio berani memutuskan untuk menggelar musik jazz pada dini hari. Inggris bukanlah Amerika Serikat. Di negeri ibunya kehadiran jazz di radio memang bukan hal yang baru.
Namun, di negara yang letaknya jauh sekali dari Amerika, kehadiran jazz justru semakin mendobrak kelanggengan lagu-lagu populer di negara itu. Jonathan Abbot, salah seorang anggota tim Jazz FM mengemukakan pada sebuah majalah jazz baru-baru ini, bahwa kehadiran mereka pada mulanya banyak mengundang reaksi. Menurutnya, hal itu dikelompokkan pada tiga besar. Pertama, yang menerima, kedua menerima, tetapi malu malu, ketiga menolak.
"Selamat Jazz FM, namun saya kok kepengen dengar Zutti Zingleton dan Joe Zawinul". Kalimat ini keluar dari mereka yang menyukai Jazz FM. "Saya sebenarnya tidak menyukai jazz, tapi saya menyukai ketika lagu lagu Duke Ellington Anda putar," komentar salah seorang pendengar lain yang masih malu-malu. Kehadiran jazz yang 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, menurut Abbot untuk lebih memberikan ruang bagi lagu-lagu jazz jenis lain untuk dapat terputar.
Sebelum Jazz FM lahir, Radio 3 di London memang telah menyiarkan beberapa nomor jazz secara berkala. Menu Jazz 625 digelar berkala di sana, namun untuk kesempatan berkembang dengan penyajian malu-malu seperti itu sangat kecil untuk merebut hati pendengar. Setelah berjalan beberapa bulan, Abbot memberikan kuisioner pada pendengar. Hasilnya memang luar biasa, 33 persen menginginkan Jazz FM memperbanyak menu blues, 23 persen menginginkan Jazz FM memperbanyak modern jazz, kemudian 22 persen berharap untuk memperbanyak R&B.
Dan yang berharap banyak mendengar mainstream 19%, jazz tradisional 18 persen, jazz rock 9 persen, dan swing 8 persen. Dari riset ini, menurut Abbot, pendengar Jazz sebanyak 14 persen tiap minggunya dari seluruh pendengar radio di London. Artinya lebih dari satu juta orang mendengar jazz setiap minggu, ditambahkan juga, diperkirakan sekitar 1,25 juta pendengar menyimak siaran Jazz FM ini di luar area London.
Sebuah bisnis yang menguntungkan di mana stasiun tersebut berkembang pesat, hingga saat ini, mereka sudah duduk di jajaran tiga besar stasiun radio komersial di London, bahkan lebih besar dari LBC Crown atau LBC Talkback. Ini artinya Jazz FM dapat menjungkalkan suara suara sumbang tentang musik, yang katanya sulit didengar ini.
Dalam kurun waktu lima puluh tahun, perkembangan musik jazz masih dipandang dengan sebelah mata. Apakah ini berarti era musik semakin berkembang lebih apresiatif, atau hanya sekedar mode ? Bila Jazz FM bisa melibatkan 1 sampai 2,5 juta pendengar setiap minggunya, ini berarti apresiasi masyarakat penggemar musik jazz semakin bertambah, dengan kehadiran sebuah radio yang mempunyai menu khusus jazz.
Jazz FM di Indonesia
Kota Bandung bukan saja disebut sebagai barometer musik di Indonesia, akan tetapi kini ada radio khusus jazz yang hanya menyodorkan musik jazz. Era perkembangan itu semakin semarak setelah KLCBS dari Bandung pada 1982 mulai memilih jalur jazz sebagai menu utama dalam program siarannya. "Pada mulanya, warna yang kami tawarkan cukup mengagetkan beberapa stasiun radio di Indonesia," kata Nazar A.T. Noekman, penanggung jawab KLCBS.
Dengan warna tersebut, diperkirakan 30 ribu pasang telinga dapat ditarik oleh KLCBS, untuk menyantap menu yang mereka suguhkan. Bukan saja di Bandung, namun daerah Puncak, Cianjur, juga seakan dibuatnya terhenyak. Dengan warna ini, KLCBS bisa dikatakan satu satunya radio di Indonesia yang menyiarkan menu jazz selama 18,5 jam siarannya. Sebagai bagian dari sarana hiburan, sudah barang tentu keberadaan stasiun yang full jazz ini sangat riskan.
Namun dengan kepadatan program bagi mereka merupakan sebuah kiat yang harus dijaga untuk kelanggengan mutu siaran, karenanya program tahunan pun dibuat dan revisi program dilakukan tiap tiga bulan, tiga orang anggota tim sebagai koki untuk meramu program siaran, untuk menghasilkan mata acara yang mengalun selama 18,5 jam yang full jazz. Hanya saja, stasiun ini ditujukan untuk golongan muda dari menengah ke atas, untuk itu, arahan dari programnya condong ke jazz modern.
Fussion atau pop yang harmoni dasarnya jazz merupakan menu yang layak, sedangkan untuk menu jazz yang keriting lebih diletakkan pada waktu tertentu, dan untuk life performance justru merupakan warna khas musik jazz jarang digelar, karena dari pihak KLCBS masih ada sedikit keraguan menggelar musisi jazz dalam negeri, karena hanya musisi sekelas Buby Chen-lah yang akan banyak diminati oleh pendengar. Lain KLCBS, lain pula apa yang dilakukan oleh Suara Surabaya FM, yang bercokol di kota pahlawan ini.
Walaupun Suara Surabaya bukanlah murni stasiun jazz, mereka selalu menggelar acara apresiasi musik jazz yang dikomandani Buby Chen setiap minggu. Bukan saja mengulas sebuah album di dalamnya, namun ia juga memainkan instrumennya secara langsung, live, dari studio, padahal dia bukan radio jazz. Hal semacam itu juga terdapat pada Radio Ramako di Jakarta, tiap Sabtu siang menggelar acara langsung jazz yang dipandu oleh Bill Saragih.
Begitu juga Radio Trijaya menggelar acara jazz langsung setiap akhir pekan, dan acara ini dipandu oleh mantan penyiar Radio Australia, yaitu Ebet Kadarusman. Akan tetapi, belum ada satu radio pun di Indonesia seberani KLCBS, begitu intens menggelar jazz. (BB, Soekirno / na)