Profil Stasiun
Q 101.6 MHz Paduka Dirgantara Raja Udara Purwokerto
Berbeda halnya dengan radio swasta lainnya, Radio Paduka Dirgantara berangkat dengan modal nol sama sekali di bidang keradioan. Berawal dari sekumpulan orang yang suka ngomong serta dengar musik. Atas gagasan dan persetujuan pihak penyandang dana, Abi Danang Sudiro, Paduka Dirgantara mengudara. Melihat latar belakang mereka, memang sangsi akan profesionalisme mereka yang mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Namun, benarkah mereka terjun ke dunia bisnis penyiaran ini tanpa modal sama sekali ? Nama Dirgantara di sini tidak ada sangkut pautnya dengan buletinnya Indonesian DX Club, Dirgantara. "Paduka Dirgantara" mempunyai arti begini, Paduka itu adalah seorang pemimpin, sedangkan Dirgantara itu kata lain dari ruangan di mana biasa dipergunakan untuk komunikasi, katakanlah udara. Arti sederhananya, raja di udara. Tetapi dengan makna lain, kami ingin menjadi pemimpin, sebagai alat pemersatu dari semua pendengar kami, ujar Fitri Marjuki optimis.
Karena para pendukungnya anak muda, apakah dengan demikian segmen para pendengar Paduka Dirgantara sesuai dengan mereka, dalam hal ini kalangan anak-anak muda Purwokerto ?
+ Kalau segmen, tidak ada batasan secara khusus. Kami rasa setiap orang punya antusiasme yang sama untuk mendapatkan hiburan. Tapi kalau misalnya mau dibatasi, kita mengincar di 15-35 tahun. Dengan status sosial ekonomi menengah ke bawah. Bukan berarti itu membatasi mereka yang di luar itu untuk mendengarkan. Siapa pun boleh, yang jelas kami punya sasaran umur 15-35 tahun, yang punya semangat atau gairah untuk hidup, bukan secara gaya anak muda, tapi punya pemikiran kreatif.
Bagaimana dengan format acara Paduka Dirgantara itu sendiri ?
+ Maksudnya gimana ?
Ada Hits Radio, Easy Listening, MOR, atau Middle of the Road ?
+ Bicara soal format, kami hanya ingin Paduka setidak tidaknya dapat dinikmati oleh siapapun. Hits menurut kami tak mesti selalu yang terbaik, tetapi selalu menumbuhkan kreasi yang baru-baru. Di situlah, radio kita diadu. Sejauh ini, kami memang belum tertata. Mengingat perjalanan waktu yang baru kami mulai.
Berarti formatnya masih umum, belum mengarah format spesialisasi atau khusus ?
+ Kami tetap punya rasa optimis, bahwa kalau kita sudah meraih minat pendengar, secara perlahan-lahan akan kami arahkan sesuai dengan format yang kita inginkan. Tapi kami punya prinsip, jangan sampai kita mengikuti keinginan pendengar, tapi bagaimana caranya agar pendengar itu mengikuti cara kita. Kami hanya menawarkan, kami adanya begini, ya silakan dengar saja apa adanya.
Bagaimana reaksi pendengar ?
+ Rata-rata pendengar kami menilai dari segi musiknya, dan kami memang dominan musiknya. Tetapi mengingat kami sendiri baru berjalan. Kami masih mempelajari hasil-hasil yang sudah ada, dan kami akan mengarah ke format yang tadi, the Radio Hits.
Bagaimana dengan lagu-lagunya, cenderung ke arah mana ?
+ Kami banyak musik luar, barat, tapi di sini bukan berarti kita mematikan pasaran musik kita sendiri. Kalau kita ke toko kaset, yang paling banyak kita temui kaset luar. Itu kondisi teknis yang kurang menguntungkan.
Menurut Anda sendiri, apakah masyarakat Purwokerto sudah bisa menerima format yang demikian ?
+ Perlahan-lahan pola pikir mereka harus dapat diarahkan. Masalah siap atau belum, tergantung pada masyarakat.
Apakah ini hanya karena alasan gengsi ?
+ Lagu-lagu Indonesia pun cukup bagus, dan tidak kalah gengsinya. Untuk momen tertentu, lagu Indonesia kami butuhkan.
Acara apa yang menjadi unggulan ?
+ Acara yang paling banyak melibatkan pendengar ? Ada satu acara yang kami beri nama Club Time, acara khusus untuk kirim-kiriman. Kadang kadang dalam satu setengah jam sampai 200 pengirim. Sebenarnya, ini bukan unggulan. Tetapi tanpa diduga, ternyata antusiasme pendengar mengarah ke situ.
Itu belum target kami, yang kami unggulkan adalah acara yang dapat dinikmati dalam suasana aktivitas. Ada dua, yaitu Morning Beat, pukul 07.00-10.00 WIB, Music Point pukul 09.00-21.00 WIB. Itu andalan kami. Kami harap ada pemasang iklan yang mau masang di situ. Jam yang paling enak, saat mana banyak pendengar.
Hasilnya di lapangan, mungkin Paduka sendiri pernah melakukan riset untuk itu ?
+ Jauh sebelum pendirian, kami sudah melakukan survey. Dari survey tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa pendengar radio itu kebanyakan adalah pendengar yang pasif. Mereka hanya mendengarkan, tanpa mau ikut berperan serta. Dari situlah, kami memacu mereka, tanpa perlu tanggapan mereka. Bukannya kami anggap nggak perlu, tetapi karena suasana sibuk pada masing-masing pendengar.
Bagaimana dengan hasil Survei Riset Indonesia ?
+ Sampai saat ini kami belum yah. Kami juga ingin Paduka diikutkan untuk bahan evaluasi kami.
Mengapa belum ikut ?
+ Selama ini, kami hanya menerima dari pendengar yang aktif, dan kami memfokuskan pada target selama satu tahun, itu harus begini. Kalau toh nanti ada SRI (Survey Research of Indonesia), ya kita pakai SRI aja. Yang jelas, SRI lebih qualified, sedangkan misalkan kami sendiri yang melakukan cenderung subyektif. Kita pasti inginnya radio kita yang nomor satu. Maka kami lebih percaya sama SRI. Kalau toh nanti SRI menawarkan, ya kami ikut.
Apakah Paduka punya fans klub ?
+ Ada, dan ini masih dalam rintisan. Kita punya Paduka Listeners Club. Mereka adalah yang dengan secara sukarela mengajukan permohonan untuk menjadi kelompok pendengar kami, dan kami sediakan wadahnya, Paduka Listeners Club.
Sejauh mana peranan mereka terhadap Radio Paduka Dirgantara sendiri ?
+ Jelas, peranannya sangat-sangat erat dan besar. Selain bisa menunjukkan keberadaan radio, di sisi lain, kegiatan off air dapat juga dipergunakan sebagai standar kualitas, bisa menunjukkan gengsi radio itu sendiri.
Sebagai stasiun radio baru, apakah Paduka Dirgantara mempunyai stasiun panutan ?
+ Kita belajar sendiri, artinya kami-kami yang ada di sini, paling tidak pernah mendengar satu bentuk radio. Kalau misal ada keterpengaruhan, mungkin sedikit-sedikit itu ada. Tetapi kalau mengacu ke sana, nggak, karena kita sendiri datang dari daerah yang berbeda-beda. Mungkin saya yang dari Bogor suka dengar radio Jakarta ngomongnya begini. Lantas Mas Arman (Rachman Gunawan, red.) yang dari Bandung, ngomongnya terpengaruh radio dari Bandung.
Nggak ada trend setter-nya ?
+ Nggak. Justru dalam hal bahasa, kita sesuaikan dengan orang sini.
Ngapak-ngapak ?
+ Kadang-kadang kami lakukan itu, misalkan lagi iseng, itu ada. Biar lebih akrab dengan pendengar.
Barangkali Paduka sendiri punya network ?
+ Untuk saat ini belum ada, tetapi mungkin untuk jangka panjangnya itu memang kita perlukan.
Jadi Paduka Dirgantara berjalan sendirian ?
+ Ya, kita jalan sama-sama pendengar, bersama mereka kami belajar.
Jadi bentuk kerjasama dengan stasiun lain nggak ada sama sekali ?
+ Di dalam bentuk yang formal seperti pelatihan penyiar ataupun bentuk perjanjian dengan radio lain, kami belum, tapi kalau sekedar tukar pikiran, itu pernah kami lakukan.
Membuat paket acara secara bersama ?
+ Kami masih baru, ya ... tetapi kalau mau maju, ya ... kerjasama dong. Jangan mau dikucilkan.
Dengan radio luar negeri bagaimana ?
+ Untuk buletin, kami ada, mengenai manajemen penyiaran. Tapi bukan dari radio.
Di kota Purwokerto, ada 4 stasiun radio swasta, tiga di antaranya adalah stasiun FM, seperti halnya Paduka. Bagaimana persaingan di sini ?
+ Masih sehat. Sebagai orang baru, kita ya nuwun sewu (permisi, red). Kami datang bukan untuk bersaing dengan mereka, kami ingin sama sama mengajak masyarakat Banyumas maju, itu misi kami. Bisnis bagi kami nomor dua. Kalau bicara soal persaingan, itu soal bisnis. Mana ada suatu bisnis yang mau ngaku kalah. Yang kami hindari adalah jangan sampai pendengar mereka diadu atau ikut bersaing.
Lantas, bagaimana di lapangan ?
+ Kalau merasa disaingi, kami rasa nggak ada, hanya sense. Toh tanpa itu pun kalau pemerintah sudah ACC, ya sudah ... Paduka berdiri. Apa problemnya ? Kalau misalkan ada kue segitu, ya kita bagi tiga. Terserah bagaimana mereka membuat kue yang segitu bisa terasa enak.
Berapa persen iklan Paduka ?
+ Lima belas persen, artinya begini, selain iklan pun, kita menyiarkan untuk layanan sosial. Sebetulnya kami tidak mutlak mengejar bisnisnya. Di situ ada layanan sosial, masa iya sih, misalkan anak-anak SMA mengadakan kegiatan, kita pungut duitnya. Itu kategorinya masuk layanan sosial. Jadi 15% itu sudah termasuk layanan sosial, dan kalau dihitung secara analisis keuangan, cukuplah untuk hidup kami.
Sudah ideal ?
+ Ini baru perhitungan. Kalau mau ideal, orang mestinya mengejar yang setinggi mungkin. Dan berdasarkan masukan dari rekan-rekan radio lain, mereka bilang 15% ideal, tapi kami anggap sudah optimal. Jangan sampai pendengar kami lari gara-gara kebanyakan iklan.
Berapa tarif iklannya ?
+ Wah, saya bukan orang bagian promosi, nanti saya salah omong lagi.
Kalau nggak mau menyebutkan tarif, kami ingin tahu perbedaan tarif untuk prime time dan reguler time ?
+ Biasanya memang untuk acara di prime time, ada yang mensponsori. Kita tawarkan pada calon pemasang iklan, silakan, sedangkan reguler time biasa saja. Berapa tenggang harganya, saya kurang tahu pasti.
Apakah setiap jam ada iklannya ?
+ Kita melepas jam 06.00 hingga jam 21.00 malam. Tetapi tergantung permintaan juga. Masa sih, ada iklan obat tidur diputar pagi hari, tapi kalau toh pihak pemasang iklan mau pilih, itu juga bisa negoisasi dengan kami. Kami nggak mutlak, tapi yang pasti, jam siarnya hanya sampai jam 09.00 malam.
Berapa kekuatan pemancarnya ?
+ Saya bilang 100 watt, percaya nggak ?
Sampai sejauh mana bisa diterima ?
+ Berdasarkan pengamatan, sampai ke Banjarnegara, Cilacap, Wonosobo, mendekati kota Semarang, Purbalingga. Yang lebih dekat, justru kadang-kadang menghilang. Ke timur, sampai ke Purworejo.
Sebagai radio swasta, Paduka tergabung di PRSSNI. Bagaimana peran PRSSNI selaku pembina radio swasta di sini, khususnya bagi Paduka ?
+ Idealnya memang begitu, dan itu harapan kami. Mereka, kami harapkan sebagai sumber informasi untuk perkembangan radio lain. Hanya kadang yang perlu disesalkan, namanya orang, kalau sudah masuk organisasi, mereka bawa bendera, kan ? Nah, bendera itu yang berkibar.
Bendera mana dulu ?
+ Ya, bendera radio paling kuat. Sebagai radio baru, kami mengharapkan PRSSNI bisa membantu Paduka eksis dulu, menunjukkan wujud diri.
Kendala apa yang dihadapi Paduka Dirgantara saat ini ?
+ Peralatan pemancar, sinyal diterima masih naik-turun. Kemudian masalah sumber informasi, untuk Jawa Tengah, boleh dikata lebih banyak datang dari arah timur. Padahal, informasi yang aktual datangnya dari barat. Yah, pintar-pintarnya kami aja.
Bagaimana dengan saingan media audio visual ?
+ Ini sebetulnya bukan hanya kecemasan kami, semua radio begitu juga, terutama televisi swasta. Tetapi begini, bagus tidaknya radio terlihat dari programnya. Sedangkan televisi, bagus kelihatan, jelek pun kelihatan. Kita belum terlalu mencemaskan.
Soal peraturan pemerintah bagaimana ?
+ Kalau mau hidup, ya, taatilah segala sesuatunya. Bicara soal pemerintah, jangan bicara soal bisnis. (bo)
P.T. Radio Paduka Dirgantara 101.6 MHz, Jalan Dr. Soeparno 65A, Karangwangkal, Telp. (0281) 81692, Purwokerto 53123.
Unisi FM 104.7 MHz Media Informasi Eksekutif Intelektual Muda Yogyakarta
Di era globalisasi informasi sekarang ini, mulai banyak media audio yang melirik untuk mengambil lahan informasi sebagai garapannya. Kalau Anda cermat mengamati perkembangan beberapa radio swasta, mulai banyak yang mengambil format informatif. Salah satunya ada di Yogyakarta, Radio Prima Unisi, mengudara pada 104.75 MHz, dari pangkalannya di Jalan Pasar Kembang 41, Yogyakarta, setiap hari meluncurkan informasi, baik lokal maupun internasional.
Kalau Anda pernah berdomisili di Yogyakarta, atau pernah memantau siaran Radio Unisi AM 648 kHz sebelum tahun 1989, pastilah tahu bagaimana format siarannya. Dan Anda mungkin kaget dan heran dengan perubahan yang telah terjadi. Bisa dikata 180º. Kalau dulu, formatnya anak muda yang identik dengan hura-hura serta glamour, sekarang formatnya lebih spesifik, yaitu kalangan yang mereka namakan sebagai eksekutif dan intelektual muda.
Mengapa Unisi mengalami perubahan total, Drs. Kecuk Suhana, Manajer Siaran Radio Unisi menjelaskan kepada Dirgantara. "Kita melihat pasar. Yogya kan sudah padat, dan kalau kita tetap pegang itu, nampaknya pasarnya akan makin sempit. Kami punya pandangan lain, di Yogya ini kan banyak mahasiswa, banyak pegawai, banyak dosen, banyak kaum intelektual, dan orang-orang eksekutif.
Radio lain belum ada yang pegang ini, maka inilah yang kita pegang. Sebelum kami pindah ke FM pun, kami sudah punya format tertentu, yang kita sebut sebagai eksekutif dan intelektual muda. Ini sudah kami rintis sejak dulu. Misalnya ada wawancara, kita tingkatkan dan kita uji efektivitasnya."
Apakah pindahnya Unisi ke FM juga untuk merebut pasar itu ?
+ Salah satunya, ya !! Yang terpenting adalah teknologi. Kita mengetahui teknologi itu berkembang terus, kalau kita tidak mencoba, kita akan ketinggalan terus. Meski demikian, bukan berarti AM itu teknologi yang terbelakang, tidak !! Yang kedua, karena pasar kita pendengarnya orang orang yang punya kualitas lebih.
Pastinya, siapa yang menjadi sasaran ?
+ Ya itu tadi, yang kita sebut eksekutif dan intelektual muda.
Demografi umurnya ?
+ Sekitar 20 tahun hingga 39 tahun, bahkan bisa naik sampai ke sekitar 45 tahun. Jadi, usia mahasiswa tingkat dua sampai mereka yang menjadi manajer di kantor, misalnya di bank, atau para dosen muda 45 tahun.
Apakah sasaran tersebut sudah tercapai ?
+ Tepat sih, belum, kita mencoba memberi tambahan sesuatu bagi segmen kita tadi. Nah, segmen itu tadi kesukaannya apa sih ? Biasanya, orang orang pinter itu di samping butuh hiburan, juga butuh informasi yang baru. Sehingga kita memberikan program-program yang nampaknya tidak ada di radio lain, akan tetapi dibutuhkan oleh kalangan pendengar kami, di antaranya kami sajikan dengan warta-warta, dengan dialog-dialog, dan diskusi-diskusi di udara.
Bagaimana hasil Survei Riset Indonesia ?
+ SRI, kita memang tidak besar, dalam artian jumlah pendengarnya. Tapi jumlah yang kami raih tepat pada sasaran yang kami tuju. Jumlahnya memang tidaklah banyak, karena memang pasar kita yang sempit. Jumlah mahasiswa itu berapa sih ? Terus keluar Yogya itu berapa sih ? Tapi dari jumlah yang sedikit itu, tercakup orang-orang yang kita tuju.
Barangkali Unisi sendiri pernah mengadakan survei ?
+ Survei yang kami lakukan terbatas pada keinginan pendengar itu apa sih, akhirnya kami wujudkan dalam bentuk siaran sehari-hari.
Survei lapangan langsung atau melalui angket ?
+ Angket biasa, angket kecil. Kita tekankan pada kesenangan mereka, pada musik apa kesenangannya. Pada siaran kata, apa kesenangannya. Musiknya kita ngambil format Middle of the Road. Ini sebetulnya format barat, Amerika, tapi ini sudah internasional, dan kita coba di Indonesia, termasuk di antaranya Yogyakarta, kami sendiri, Radio Unisi. Ternyata pendengar kami bisa menerima dengan baik.
Bagaimana kalau dibandingkan dengan hasil SRI, karena biasanya angket semacam Unisi adakan, biasanya yang kembali adalah dari kalangan anak muda, sedangkan Unisi membidik di luar itu ?
+ Ya, itu memang suatu kendala. Kita nggak ngerti tentang itu. Jadi, ya kami tetap pakai itu sebagai tolak ukur, di mana itu adalah hasil kami. Di mana kekurangannya, atau di mana sih kelebihan rekan-rekan radio lain ? Jadi dua-duanya kita padukan, mana yang kelihatan bisa dipakai.
Acara apa yang diunggulkan ?
+ Diunggulkan semuanya, kita anggap tidak ada. Kita menganggap sebagai special program, yaitu dialog dengan tokoh-tokoh masyarakat, baik itu tokoh tingkatan menteri, tingkatan rektor, ilmuwan, dan sebagainya. Kita punya itu, kemudian ada acara yang namanya Fokus. Itu membicarakan masalah yang hangat atau baru. Kita bikin rujukan dengan para ahlinya. Misalnya, kasus Pertamina. Kita lihat dari segi hukumnya bagaimana, dari segi administrasinya bagaimana, dari segi politiknya bagaimana.
Kita juga punya acara Kampus, biasanya mengangkat permasalahan seputar kampus, tentang ilmu pengetahuan, misalnya ada doktor baru. Kita ngomong-ngomong dengan mereka, bagaimana dengan disertasinya. Kita ngomong dengan mahasiswanya. Nah, pendapat mereka kita adu di situ. Kemudian, acara Intermezo, suatu acara tentang kesukaan orang yang memelihara satwa langka.
Misal, kita ngomong dengan orang kehutanan, tentang sukses seseorang, tentang kesukaan, atau hobi seseorang. Ada juga acara Internasional, mengupas mengenai dunia internasional, kewanitaan, dan sebagainya. Semuanya dalam bentuk wawancara. Di samping juga warta-warta, yang memang rutin setiap hari.
Bagaimana suatu berita atau informasi, khususnya dari luar negeri bisa lolos, dalam artian bisa diudarakan ?
+ Biasanya tidak menyangkut stabilitas nasional Indonesia. Aktualitas bagi masyarakat, tertarik nggak.
Bagaimana tanggapan pendengar terhadap informasi tersebut ?
+ Kita belum menjajaki keseluruhannya ke sana, karena segmen yang mahasiswa itu orangnya pasif. Jadi kalau dulu orang bisa telepon, atau menulis surat, ini tidak. Tetapi bisa kita deteksi dengan cara kita, kita punya yang namanya intelijen atau spionase, yang mendatangi mereka, untuk menanyakan apakah suka atau tidak terhadap sajian kami.
Sebenarnya, bagaimana aturan dari pemerintah untuk masalah informasi ?
+ Radio swasta tidak boleh membuat berita. Titik. Tetapi, di situ kan, kita boleh membuat informasi, ya kita ambil saja. Jadi, kita anggap bukan hard news, istilah kami feature, yang kaya akan informasi-informasi. Jadi kemasannya agak soft, tidak vulgar.
Unisi punya fans klub ?
+ Selama ini nggak ada. Dulu, memang orangnya berjubel, kita akan bentuk menjadi kelompok-kelompok kecil. Mungkin kelompok diskusi atau penggemar musik. Itu sudah kita jajaki.
Berarti sudah nggak ada lagi kegiatan off air-nya ?
+ Ada, kegiatan off air masih ada, biasanya sifatnya masih kecil-kecilan. Misalnya, bekerja sama dengan sponsor menyelenggarakan lomba lukis anak-anak, lomba komputer, mungkin nanti ada lomba apresiasi jazz.
Sejauh mana peranannya bagi kegiatan on air-nya ?
+ Itu hanya untuk memikat saja, sekedar mengingatkan pada nama Unisi. Kalau dulu, memang untuk merebut massa yang sebanyak-banyaknya. Sekarang ini, kita mencoba mengingatkan mereka akan nama Unisi.
Unisi punya stasiun panutan ?
+ Nggak, kita nggak punya. Justru kita pakai format luar negeri. Jakarta itu pakainya Amerika, lho. Sekarang sudah mulai. Ada yang namanya easy listening, jazz format, ada MOR, ada yang klasik format. Di Yogyakarta belum banyak, mungkin masih satu-satunya (GCD sudah menggunakan easy listening, red.), kita coba pakai Middle of the Road atau MOR.
Kerja sama dengan radio luar negeri, ada ?
+ Kerja sama langsung nggak ada, cuman memang ada kiriman-kiriman. Sifatnya hanya pelengkap saja, enggak mutlak kita siarkan.
Terhadap rekan stasiun-stasiun radio lainnya, bagaimana Anda memandang mereka ?
+ Yogyakarta kan masih tidur, manajemen mereka masih klasik. Coba Anda lihat, dari tahun ke tahun cuma begitu saja, slow... Mereka akan tergilas kalau tidak segera bangkit, karena munculnya televisi swasta atau masuknya radio-radio luar ke Yogyakarta. Munculnya konglomerat yang membeli radio di Yogyakarta. Ini harus disadari oleh rekan-rekan kita, khususnya di Yogyakarta.
Mengenai acara, mungkin saling melirik ?
+ Itu biasa, saya pikir kita tetap harus mengamati segmen kita sendiri. Tapi bagi kita, kita mantap dengan format kita. Radio mempunyai kecepatan dalam menyampaikan informasi, ini harus kita manfaatkan.
Kalau diperhatikan, di Yogyakarta ini, banyak acara yang mirip, misalnya kuis. Bagaimana komentar Anda ?
+ Maksudnya bagaimana ?
Misalnya kuis, bisa dikatakan pada sekitar jam-jam itu juga.
+ Kalau kami memandang secara segmentif. Misalnya acara remaja ya, kita letakkan di mana yang potensial. Nah, kemungkinan mereka mempunyai pikiran yang sama. Tapi kalau saya, di samping itu, kami punya pikiran, seberapa banyak media yang mengudarakan itu.
Misalnya, pas hari Minggu. Semuanya tangga lagu teruuus. Apa iya sih, pendengar lain kita tinggalkan. Misalnya bapak-bapak, nanti kalau yang lainnya lepas dari itu, baru kami masuk. Jadi kita hindari, jangan sampai tumpang tindih. Kuis misalnya, radio ini kuis, sana juga kuis. Kenapa tidak kita letakkan di lain tempat.
Dengan demikian, Unisi punya prinsip dalam mengudarakan siaran, acara saya gini, perkara mau didengarkan atau tidak, silakan.
+ Ya tidak, nggak bisa, nanti kembali berapa jumlahnya, efisien nggak ? Kami bikin acara kan mengeluarkan dana juga. Kalau kita letakkan di situ, berapa sih pendengarnya. Kalau radio lain sudah mengambil yang itu, kenapa kami mesti ramai-ramai ngambil yang itu juga. Mungkin waktu yang lain ada yang kosong, dan banyak juga pendengarnya.
Sebagai badan usaha, bagaimana prinsip Unisi dalam hal ini ?
+ Kami nggak idealis, tujuan pendirian radio itu kan, pertama, sebagai pengembangan pendidikan, kedua, mengembangkan kebudayaan, ketiga, mengembangkan agama. Kita mengacu ke sana, kalau yang lain, hanya menunjang tujuan utama itu tadi.
Bagaimana dengan bisnisnya ?
+ Kami anggap sebagai penunjang yang utama, toh misal, bisnisnya yang sekarang besar, sementara yang lainnya belum memenuhi, juga timpang. Kami ingin adanya keseimbangan. Memang itu idealis, karena bagaimana pun juga kami nggak bisa lepas dari menghidupi radio itu sendiri.
Dulu mengudara di AM 648 kHz, bagaimana perbedaannya dengan di FM ?
+ Yang pasti, terjadi lonjakan, biayanya tinggi. Dulu pemancarnya nggak pakai AC, sekarang harus pakai.
Bagaimana mengantisipasinya ?
+ Kami menaikkan tarif iklannya. Kalau dulu, banyak iklannya, sekarang dengan pendengar selektif, kami mesti mengurangi frekuensi iklan.
Berapa persen iklan Unisi ?
+ 10-12%, kita nggak seperti di AM, kalau seperti mereka, pendengar kami lari.
Berapa tarif iklannya ?
+ Baru Rp 12.000,00 per spot, kami termasuk tertinggi dari radio yang lain.
Berapa penyiarnya ?
+ Sebelas orang, prianya empat, lainnya wanita, reporternya ada tujuh.
Apakah reporter kerja merangkap ?
+ Ya, ada yang di Tempo, Jakarta-Jakarta, Surya.
Berapa gaji mereka ?
+ Tiga kali lipat pegawai negeri golongan 3A, untuk reporternya, kurang lebih Rp 120 ribu. Memang baru segitu. (bo)