Laporan dan Berita
Yang Tertinggal dari Kamar No.49
Sehari sebelum hari H Temu Pendengar 1993, panitia sudah stand by di Hotel Dirgahayu. Hotel yang cukup sederhana, dengan kekhasannya, membuat suasana begitu indah, yang berlokasi di Jalan K.H. Achmad Dahlan 123 ini, letaknya tak jauh dari Jalan Malioboro yang tak pernah sepi. Malioboro yang cukup asri, yang selalu dikunjungi para wisatawan, dan entah apa lagi. Jum'at 12 Februari 1993, kami, panitia kedatangan tamu yang memang kami tunggu-tunggu kedatangannya.
Pengasuh Acara DX Komunikasi Radio Nederland, tak lain dan tak bukan, Asbari Nurpatria Krisna. Kedatangannya merupakan suatu kehormatan bagi kami dan seluruh peserta Temu Pendengar 1993. Sejak kedatangannya di Kota Gudeg, Mas Asbari menemui kami dan sekaligus berbincang-bincang dengan beberapa panitia dan peserta, bertempat di ruang lobi hotel. Mas Asbari tiba di hotel selepas Isya'. Setibanya di hotel, kami ngobrol panjang lebar, dari seputar Acara DX Komunikasi yang ia asuh, sampai suasana sehari-hari Radio Nederland.
Berbicara dan berdiskusi apa saja, dari suasana dan pengalaman di negeri Belanda, sampai situasi Eropa bersatu. Dari sekedar kehidupan sosial masyarakat Belanda, sampai pengalamannya di bidang jurnalistik, semua diceritakannya. Tentunya, dari hal ini, kami bisa mengambil hikmah dari orang lain. Dan sekaligus membandingkan, bagaimana kehidupan masyarakat Eropa, dengan segala yang ada, dengan kehidupan dan suasana di negeri yang kita cintai ini. Tak terasa, dari obrolan itu, sampai larut malam, bahkan memasuki dini hari, Sabtu 13 Februari 1993.
Seusai ngobrol di lobi hotel, masih dilanjutkan dengan berdiskusi soal keradioan, tetapi kali ini, kita-kita yang diwawancarai oleh Mas Asbari. Pertanyaan yang diajukan sekitar acara-acara yang Radio Nederland sajikan setiap hari. Sejauh mana tanggapan pendengar selama mendengar Radio Nederland, terutama Siaran Indonesia. Rasanya memang lebih hidup dan cukup berjalan baik.
Semula berkutat di acara DX Komunikasi, lama-kelamaan berkembang menjadi diskusi yang cukup 'gayeng', dari sekedar tukang copet Pasar Turi, sampai masalah pornografi film. Dari musik Jazz sampai dangdut. Bahkan sejauh mana pengaruh gelombang siaran-siaran radio terhadap kehidupan ikan di laut, sampai sejauh mana dampak dari siaran televisi terhadap produktivitas kerja.
Memang, secara spontan, kami menanggapi apa yang diajukan Mas Asbari tanpa skenario, apalagi dibuat-buat, sehingga keakraban di antara kami menambah suasana menjadi kian larut, kian terbuai oleh topik pembicaraan. Dan tertawa lepas tanpa dipaksakan, sesekali menyelingi pembicaraan, bahkan memperdebatkan pendapat masing-masing, tanpa mengurangi bobot pembicaraannya.
Tak terasa, putaran kaset C90 dari sebuah tape recorder habis, yang akhirnya menutup diskusi di kamar nomor 49 menjelang fajar. Kemudian kami keluar kamar untuk menghela nafas, terasa plong, disertai suara kokok ayam jago. Dan kami pun berucap Selamat Pagi Yogya. Selamat pagi untuk menjelang, dan sekaligus menyongsong acara selanjutnya. Ada beberapa hal yang cukup berkesan bagi kami, keakraban di antara kami rasanya tak bisa kami ungkapkan di sini secara gamblang.
Paling tidak, seandainya Anda ada di antara kami, tentu saja Anda akan punya kesan yang sama dengan kami. Dan misi kami mengajak serius tanpa terasa serius, rasanya memang tidak sekedar motto yang tanpa makna, tetapi sesuatu yang bisa dikenang untuk hari-hari mendatang. Yogyakarta memang punya nilai istimewa, dan bukankah Indonesian DX Club juga istimewa ?
Keistimewaannya di mana, kami serahkan pada penilaian Anda masing masing. Anda bisa menceritakan pengalaman dan kesan kepada anggota lain, dan ajaklah mereka pada pertemuan yang akan datang. Karena kami tidak akan berhenti sampai di sini, kami punya rencana untuk bisa bertemu kembali pada acara yang lain, dengan suasana yang lain pula. Jumpa lagi di Temu Pendengar mendatang. (ASK)