Sejarah Radio
Sejarah Radio Clandestine
Siaran radio clandestine pertama di Spanyol dimulai pada awal 1941, dan mulai menginjak bukan ke tujuh, radio ini mulai banyak dikenal, dengan diberi nama Radio Espana Independiente. Setelah itu, muncul Stasiun PCE (Partai Komunis Spanyol), yang kemudian terkenal dengan pelayanan stasiun clandestine untuk kepentingan rezim Franco. Di tahun pertama, pemancarnya berlokasi di Uni Soviet, tapi kemudian berpindah ke Rumania, tepatnya pada tanggal 5 Januari 1955, dan kemudian siaran ini berakhir pada tanggal 14 Juli 1977.
Stasiun lain yang juga tak kalah termasyhurnya yaitu Radio Euzkadi (The Voice of the Basque Resistance), yang memulai programnya pada tanggal 3 Maret 1947, berlokasi di Perancis, dan seluruh kegiatan programnya dihentikan pada bulan Agustus 1954. Kemudian pada 1965 memulai kembali siarannya dengan mengambil lokasi di Venezuela, di mana transmisi ini berakhir pada tanggal 30 April 1977, sejak runtuhnya rezim Franco, karena stasiun ini mengalami kerusakan.
Belakangan ini, Radio Euzkadi mengudara secara legal melalui jaringan FM, yang terletak di kota San Sebastian, Bilbao, dan Victoria. Selain itu pula, di tahun 1959, muncul siaran radio clandestine melalui gelombang pendek, yang terang terangan anti rezim Franco, dengan identifikasinya Radio Claridad, yang berkedudukan di Venezuela. The Voice of the Free Canaries mulai muncul pada tanggal 3 Desember 1975.
Dan siaran ini hanya mengudara sampai Januari 1978, yang merupakan siaran yang berasosiasi dengan pergerakan menentukan pemerintahan sendiri di Kepulauan Canary (MPAIAC), yang berlokasi di Aljazair. Stasiun ini beroperasi secara misterius, dan juga muncul radio clandestine yang merupakan suatu kelompok organisasi dari wilayah Spanyol, yang jaringannya merupakan anti Hitler, yaitu Deutscher Freineits Sender. (Radio Magazine / Soekirno)
Radio Clandestine
Radio clandestine merupakan suatu stasiun radio perjuangan yang diudarakan oleh golongan oposisi tertentu, yang dipancarkan dari luar negaranya. Biasanya, membeberkan garis garis kebijakan golongannya melalui corong radio yang mereka punyai. Biasanya, radio clandestine akan ada di suatu negara, apabila ada golongan tertentu yang tidak puas dan tersingkir dari negaranya. Dari sinilah, golongan tersebut mengadakan perjuangan lewat jalur frekuensi.
Seperti halnya di Indonesia, pernah muncul radio sejenis sewaktu revolusi dahulu. Banyak pejuang kita yang mendirikan radio perjuangan, dengan tujuan untuk membangkitkan semangat para pejuang muda kita dalam memanggul senjata. Di Bandung pun pernah ada radio clandestine yang dibuat oleh mahasiswa pada waktu itu, untuk menentang kebijakan Orde Lama. Begitu pula, belum lama ini, di Cina.
Akibat tragedi di Lapangan Tian An Men, sekelompok mahasiswa di pengasingan mendirikan radio dari sebuah kapal laut untuk melawan pemerintah. Memang tak dapat dipungkiri, kadang sifat radio clandestine (radio bawah tanah) menyuarakan nada-nada yang sifatnya propaganda. (Radio Magazine/Soekirno)
Pirate Station !
Mendengar nama pirate station, kemungkinan terbayang oleh kita bahwa stasiun ini merupakan radio perompak yang bikin kekacauan melalui jalur frekuensi. Atau merupakan stasiun yang dikhususkan untuk men-jamm stasiun radio lain, seperti yang pernah dipraktekkan oleh RRC untuk men-jamm BBC hingga tak pelak Margareth Tatcher mencak mencak.
Atau siaran Suara Amerika diganggu oleh siaran radio dari Uni Soviet kala itu. Akan tetapi, sebenarnya pirate station tak ubahnya siaran radio clandestine, dan merupakan siaran bawah tanah yang sulit dilacak oleh DXer pemula. Pirate station ini dapat digolongkan menjadi 2 kelompok, yaitu :
1. Kelompok stasiun ini seperti layaknya radio komersial yang memutarkan musik rock dan iklan. Sifat radio ini biasanya mengudara secara ilegal, tetapi selalu memberi dukungan pada negaranya.
2. Stasiun kelompok ini program programnya terkadang berbau agitasi, karena mereka pada umumnya menata programnya dibuat dalam ukuran politik yang ia kehendaki. Dan pemutaran musiknya sangat sedikit, di samping kerap kali menyerukan anti kebijakan negaranya, bahkan selalu menghembuskan politik oposisi, yaitu dengan memanfaatkan kepandaian lidah mereka, untuk memperoleh dukungan dari rakyat di negaranya. Bahkan, sewaktu waktu mereka membentuk organisasi tentara bawah tanah. (RBSWC DX News / Soekirno)