Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 2 No 6 Jan-Feb 1993
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Berita TP 1993
Laporan Berita
Profil Stasiun
Sosok
DX Mania
Antena
Dunia DX
Sejarah Radio
Review Top 50
Redaksi

Volume 2
  Seputar Dunia DX

Mungkin Anda termasuh salah seorang penggemar siaran FM, baik lokal maupun siaran dari luar kota. Seperti kita ketahui, akhir-akhir ini, radio FM merupakan satu sarana hiburan yang sedang mewabah. Siarannya memang menjanjikan keunggulan suara, yang jernih, hingga lebih nikmat dibandingkan dengan gelombang pendek, misalnya. Di kota kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, sudah banyak kita jumpai radio radio FM. Bisnis radio FM memang sangat menggiurkan kalangan usahawan di bidang keradioan.

Maka, tidaklah mengherankan, kalau banyak sekali radio FM yang muncul, di kota kecil sekalipun. Ada yang langsung muncul di FM, ada pula yang pindahan dari AM. Dengan investasi yang tinggi, namun karena menjanjikan keuntungan, tidak menyurutkan minat usahawan tersebut untuk merambahnya. Mungkin Anda pernah membayangkan atau memikirkan, bagaimana jadinya kalau semua radio pindah ke FM ? Tentunya akan berdesakan sementara alokasi jalur di FM saat ini masih terbatas.

Di samping itu, band gelombangnya tidaklah selebar gelombang pendek (SW). Pada saat ini pun pesawat penerima FM belumlah secara khusus dirancang seperti halnya untuk siaran gelombang pendek. Tapi siapa tahu, kelak akan diciptakan satu pesawat penerima khusus FM, dengan band gelombang yang lebih lebar. Kalau dalam gelombang pendek, short wave atau SW, kita mengenal SW1, SW2, SW3, SW4, dan seterusnya, bisa saja nanti ada istilah FM1, FM2, FM3, dan seterusnya.

Tujuannya adalah untuk memperlebar jarak antara satu stasiun dengan stasiun lainnya. Untuk mencegah adanya gangguan tersebut, sebenarnya saat ini pun sudah ditempuh dengan memberikan alokasi frekuensi dan jatah. Pemerintah telah memberi aturan untuk itu, dengan jalan memberi alokasi frekuensi dan ketentuan lain : 1. Alokasi yang bisa digunakan oleh radio swasta adalah 100,2 MHz - 107,9 MHz. 2. Kekuatan pemancar maksimal 100 watt. 3. Jarak antara satu stasiun dengan stasiun lainnya untuk lokal adalah 0,35 MHz.

Dengan demikian, frekuensi yang bisa digunakan : 100,2 - 100,55 - 100,9 - 101,25 - 101,6 - 101,95 - 102,3 - 102,65 - 103 - 103,35 - 103,7 - 104,05 - 104,4 - 104,75 - 105,1 - 105,45 - 105,8 - 106,15 - 106,5 - 106,85 - 107,2 - 107,55 - 107,9 MHz.

Ada 23 alokasi frekuensi. Namun untuk kota besar seperti DKI Jakarta, sudah dibuka alokasi lain, di bawah itu. Kalau Anda menjumpai frekuensi RRI tidak tepat pada alokasi di atas, memang itu pengecualian. Konon, frekuensi itu memang sudah milik RRI. Dari aturan tersebut di atas, maka dimungkinkan satu frekuensi digunakan oleh beberapa stasiun. Misalkan 100,2 MHz, di Jakarta ada Female FM, di Bali ada CDBS FM, di Solo ada PTPN FM, di Malang ada Kalimaya Bhaskara, dan sebagainya.

Tentu saja, tidak ada satu radio pun yang menginginkan frekuensinya terganggu oleh radio lainnya, makanya kalau kita lihat, untuk satu wilayah, radio radio FM mengudara pada frekuensi yang berbeda. Kalau bisa, tidak terkena gangguan, interferensi, dari stasiun lain. Misalkan, mereka yang berdomisili di DI Yogyakarta, Anda bisa memantau siaran dari berbagai arah, Purworejo dan Purwokerto (barat), Semarang, Magelang (utara), Solo (timur). Banyak pilihan yang bisa Anda pantau :

91,2 MHz : RRI Yogyakarta. 100,2 MHz : PTPN Rasitania, Surakarta. 100,55 MHz : Retjo Buntung Yogyakarta. 100,9 MHz : RCT Semarang; Sonora, Jakarta. 101,00 MHz : RRI Yogyakarta. 101,25 MHz : EBS, Surabaya; dan Megantara, Bandung. 101,6 MHz : Paduka Dirgantara, Purwokerto. 101,95 MHz : KBDJ Surabaya. 102,3 MHz : Dian Swara, Purwokerto; Prambors, Jakarta; Wijaya Kusuma, Klaten; Tiara Rase, Bandung. 102,65 MHz : Gadjah Mada, Semarang.

102,7 MHz : RRI Yogyakarta. 103 MHz : Jatayu, Semarang; Maritim, Cirebon; Oz, Bandung. 103,35 MHz : SAS, Surakarta. 103,70 MHz : Suara Pekalongan, Pekalongan; Pesona, Jakarta. 104,05 MHz : GCD, Gunungkidul; POP, Semarang. 104,40 MHz : Imelda, Semarang; GMR, Bandung. 104,75 MHz : Unisi, Yogyakarta. 105 MHz : RRI Surakarta. 105,10 MHz : Mandala, Magelang; Suara Sakti, Semarang.

105,45 MHz : Polaris, Magelang; dan RGM, Purwokerto. 105,80 MHz : Geronimo, Yogyakarta. 106,15 MHz : Gema Kyai Langgeng (GKL), Magelang. 106,50 MHz : Rakosa, Yogyakarta; Antassalam, Bandung. 106,85 MHz : Amatron, Purworejo; PASS, Jakarta; dan Jaya Pemuda Indonesia (JPI), Surakarta. 107,20 MHz : Candi Sewu; Kis, Jakarta; Continental, Bandung. 107,50 MHz : RRI Yogyakarta. 107,55 MHz : Chakti Buddhi Bhakti (CBB), Jakarta. 107,90 MHz : Dutamuda Media Citra (DMC), Jakarta.

Tentu saja, untuk bisa memantau siaran dari luar kota diperlukan satu perangkat tambahan, berupa antena dan booster FM. Tanpa peralatan tambahan, rasanya sulit untuk bisa memantau siaran FM dari luar kota. Dirgantara pada ruang Antena telah beberap kali membahas perangkat tersebut, terutama antenanya. Meskipun dengan mutu sinyal yang kurang bagus, bisa memantau siaran FM dari luar kota adalah satu kebanggaan tersendiri. Good Hunting !!! (HSB)

DXing di Pasifik ?

Sinyal radio gelombang pendek yang datang dari kawasan Pasifik dapat dipantau dari daratan Eropa sebelum datangnya musim dingin, karena propagasi waktu tersebut sangat memungkinkan. Pada umumnya, siaran radio di kawasan Pasifik hanya ditujukan untuk kawasan Asia. Lebih dari 10.000 kepulauan tersebar di Lautan Pasifik, dengan luas total 78 km2. Sarana telekomunikasi sangatlah vital, karena dengan sarana tersebutlah dimungkinkan hubungan dengan dunia luar.

Penyiaran keagamaan yang ditujukan untuk kawasan Amerika juga dapat ditemukan dari kepulauan di Pasifik tersebut, yang dipancarkan dengan kekuatan tenaga 100 kW. Makanya sering juga frekuensinya keluar jalur band, karenanya dapat dengan mudah ditangkap di tiap daerah. Masalah lokal yang dihadapi sekarang oleh penerimaan siaran gelombang pendek untuk negara negara itu sendiri, terutama di Australia, Papua Nugini, dan negara negara di kepulauan Pasifik lainnya.

Di mana output pemancarnya sangat lemah, dan yang menjadi masalah yaitu karakter antena dan pemakaian frekuensi, karena hampir seluruhnya mempergunakan frekuensi rendah. Siaran radio dari kawasan Pasifik bisa dipantau dari Eropa jika rute perubahan terdapat kegelapan. Dan itu pun hanya akan tertangkap pada sebelum musim dingin, terutama pada sore dan siang hari.

Karena targetnya untuk pelayaran internasional yang melintasi kawasan Pasifik, karena itu mayoritas programnya disiarkan dalam bahasa Cina, Vietnam, Inggris, dan Rusia. Sedangkan untuk penyiaran dalam negerinya mempergunakan bahasa Inggris, Perancis, dan beberapa bahasa lokal. Laporan penerimaan dapat ditulis dalam bahasa Inggris atau Perancis.

Australia

Radio Australia menyiarkan dalam bahasa Inggris, Perancis, Mandarin, Kanton, Indonesia, Thai, Vietnam, Arab, Khmer, dan lain lain. Radio Australia mengudara selama 24 jam dalam bahasa Inggris, dan beritanya selalu direlai oleh tiap tiap seksi luar negeri.

Walaupun Eropa tak termasuk target Radio Australia, akan tetapi siaran dalam bahasa Inggris yang diarahkan ke Asia pada 100 kW dan 250 kW untuk penerimaan di kawasan Eropa kualitasnya dapat dipantau dengan baik. Radio Australia dengan pemancar 10 kW penyiarannya disiarkan dari Brandon ke Papua Nugini, pukul 08.00 - 18.00 dan 20.00 - 21.00 UTC. Laporan ditujukan ke : G.P.O. Box 428G, Melbourne 3001.

Australia, dengan luas 7,5 juta km, siaran gelombang pendek menempati peranan penting dalam penyiaran domestik. Penyiaran domestik dapat ditangkap pukul 19.00 - 20.15 UTC, atau pukul 06.00 - 09.00 UTC. Untuk laporan dapat ditujukan pada : Australian Domestic Short Wave Services, ABC Brisbane, G.P.O. Box 9994, Brisbane 4001.

Australia's Shortwave Radio menggunakan sinyal dari radio Angkatan Laut Australia, dengan mempergunakan pemancar berkekuatan 10 kW. Kondisi yang paling baik yaitu pada pukul 14.00 - 18.00 UTC, dengan alamat : National Standards Commission, Dr. Graham Harvey, P.O. Box 282, North Ride, New South Wales 2113, Australia.

Selandia Baru

Selandia Baru tidak mempunyai siaran luar negeri, hanya acara lokal yang direlai ke luar negeri. Sedangkan pemancar berkekuatan 100 kW saja, karenanya mungkin penerimaan diharapkan dapat terpantau dengan baik pukul 22.45 UTC. Alamat : Box 2092 Wellington, New Zealand.

Papua Nugini

National Broadcasting Commission pada band tropis hanya ada pada pukul 19.30 atau 19.45 UTC setiap hari. Alamat : National Broadcasting Commission Moresby, Box 1359 Baroko, NCD, Papua New Guinea.

Guam dan Saipan

Trans World Radio, TWR, merupakan suatu asosiasi stasiun keagamaan internasional yang mempunyai pemancar 100 kW di Pulau Guam, yang mana program penyiarannya ditujukan untuk kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, dan program program penyiarannya dapat dipantau dari Eropa, dan dari pemancar yang berada di India. Mengudara selama 15 jam. Alamat KTWR : P.O. Box CC, Agana, Guam 96910, U.S.A.

Stasiun keagamaan lainnya yaitu Adventist World Radio, AWR Asia. Stasiun ini sangat jelek atau sulit diterima di Eropa, kecuali untuk siaran yang berbahasa Cina selama sembilan jam, Korea 13 jam, dan Jepang 14 jam, yang keseluruhannya mempergunakan satu frekuensi. Alamat : Box 310 Hong Kong, dan Box 7500 Agat, Guam 96928, U.S.A.

Radio KYOI, acara-acaranya direlai dari jaringan The Christian Science Broadcasting Network, yang dapat dipantau dari Eropa pada dini hari. Laporan bisa ditujukan ke alamat : P.O. Box 860 Boston, Massachusetts 02123, U.S.A. (RBSWC/Soekirno)

Angket Terbaik 1992

Kembali, Indonesian DX Club bekerja sama dengan stasiun radio luar negeri siaran berbahasa Indonesia menyelenggarakan "Angket Terbaik", menyusul tahun 1991 lalu. Angket ini memang menjadi tradisi Indonesian DX Club setiap tahunnya. Memang, angket tersebut belum menunjukkan obyektivitas hasilnya, karena lingkupnya hanya Indonesian DX Club dan simpatisan. Tahun 1991 yang lalu, terpilih sebagai yang terbaik adalah Suara Jerman Deutsche Welle, Nu'im Khaiyath, dan DX Komunikasi untuk kategori Stasiun, Penyiar, dan Acara Terbaik.

Bagaimana dengan tahun 1992, tentu Anda yang menentukan. Ketentuan angket :

1. Angket Terbaik 1992 ini bisa diikuti oleh siapa saja.

2. Peserta diwajibkan memilih dua pilihan menurut urutannya, untuk :
a. Stasiun radio terbaik, b. Penyiar radio terbaik, c. Acara warta berita terbaik, d. Acara non warta berita terbaik, e. Pelayanan atau balasan surat terbaik, f. Stasiun radio yang paling sering Anda dengarkan.

3. Pilihan hanya untuk stasiun radio luar negeri berbahasa Indonesia.

4. Tuliskan juga pesawat penerima yang Anda gunakan, beserta perangkat antenanya.

5. Tuliskan pada kartu pos, dan kirimkan ke Indonesian DX Club, PO Box 50, Kutoarjo 54201, Jawa Tengah. Tuliskan pada bagian kiri atas "Angket Terbaik 1992". Kami tunggu sampai akhir Mei 1993.

6. Angket yang masuk akan kami undi, untuk memenangkan hadiah berupa t-shirt, vandel, stiker Indonesian DX Club, serta barang cetakan mitra kerja Indonesian DX Club. Jawaban atau pilihan tak mempengaruhi kesempatan memperoleh hadiah.

7. Tolong, sampaikan juga angket ini kepada rekan rekan lainnya. Bagi Anda yang bisa menjaring lima orang atau lebih, tersedia souvenir khusus. Untuk itu, tolong sebutkan nama dan alamat rekan rekan Anda yang dimaksud.

Kalau nama dan alamat tersebut masuk sebagai peserta, maka kami akan menghitungnya. Demi obyektivitas angket ini terjamin, mohon angket ini Anda sebarkan kepada rekan rekan Anda yang benar benar punya hobi memantau siaran radio, bukan sekedar teman atau nama fiktif.

Pojok Dirga

(-) Menurut Pak Bharoto, SWLer hanya meninggikan beban QSLing para amatir radio
(+) Apa Mas Wien mau kalau kita ini ramai ramai jadi amatir radio, agar memperoleh perhatian ?

(-) BBM dan listrik naik drastis
(+) Gimana nih, apa kita mau ketinggalan kereta ?

(-) Temu Pendengar 1993 berlangsung sukses
(+) Pertemuan mendatang harus lebih sukses lagi.

(Bung Dirga - Bisanya cuma ngomong)

 
Dirgantara Online - Vol 2 No 6 Jan-Feb 1993
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space