Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 2 No 6 Jan-Feb 1993
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Berita TP 1993
Laporan Berita
Profil Stasiun
Sosok
DX Mania
Antena
Dunia DX
Sejarah Radio
Review Top 50
Redaksi

Volume 2
  DX Mania
Radio Luar Negeri Punya Sifat yang Khas

Hobi memantau siaran radio luar negeri memang tidak mengenal usia, tua, muda, bisa dan boleh boleh saja melakukannya, karena memang di sini tidak mengenal batasan. Tak kenal batasan wilayah, aliran, suku, ras, dan sebagainya. Semuanya bisa. Lebih unik lagi, hobi DXing ini susah untuk dilupakan. Tentunya, ada alasan alasan yang mungkin hanya bisa diterima oleh mereka yang telah menjalaninya.

Demikian halnya dengan salah seorang pendengar yang namanya sudah tak asing, Nyonya CHRISTINA MARIA. Secara panjang lebar, menuturkan kepada Dirgantara, dan ditulis ulang dengan gaya bertutur. Saya mulai mendengarkan siaran radio luar negeri sekitar tahun 1969. Saat itu, saya mendapatkan hadiah di ulang tahun saya berupa pesawat radio. Rasa ingin tahu saya yang tinggi mencoba untuk mengotak atik tombol, dan ketemu Radio Australia.

Saya dengar suaranya Mang Ebet Kadarusman, dan Pak Peter. Setelah tahu alamatnya, saya menulis surat ke sana. Tak lama kemudian, saya mendapatkan balasan, yang berupa brosur, leaflet, pedoman acara, serta kartu pos bergambar. Dari situlah, saya tahu wajah Mang Ebet dan Pak Peter, beserta keluarganya. Tidak lupa pula, saya ikut kursus bahasa Inggris lewat radio. Saya dapat bukunya, waktu itu masih gratis. Itu terjadi hingga tahun 1970, kemudian saya absen marathon. Tahun 1991, berarti 21 tahun kemudian, saya mulai lagi.

Saya menerima siaran Radio Beijing (China Radio International), Radio Moskow, Suara Amerika, Deutsche Welle, Radio Nederland, BBC, dan Radio Australia, tentunya. Dan ada satu yang sangat menarik, yaitu siaran pelayanan rohani oleh KTWR di Pulau Guam. Saya juga ikut kursus Alkitab yang diselenggarakannya. Saya tidak bisa fanatik hanya pada satu stasiun radio. Andaikata stasiun radio A menggelar acara tertentu, kemudian saya coba coba memantau, dan ternyata bagus, maka saya ikuti. Itulah sebabnya, saya memantau semuanya secara bergilir.

Bahkan, boleh dibilang rutin, meski saya sebenarnya banyak di Radio Australia. Bagi saya, mendengar siaran radio dari luar negeri merupakan kebanggaan tersendiri, punya sifat yang khas, khususnya bagi saya yang sehari hari hanya di rumah. Untuk itulah, saya pun ingin ikut aktif juga di acara acara yang saya pantau. Saya sering kirim kartu, tetapi sama sekali bukan untuk terkenal, sekedar untuk berpartisipasi saja. Memang, saya akui, ada pendengar yang punya motivasi untuk terkenal.

Lantas, dengan rajinnya dia berkirim kartu, meski dia mendengarkan atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting namanya terkenal. Bagi saya, ini adalah suatu resiko bagi mereka. Seharusnya, kalau mau jujur, yaa ... didengar. Apalagi, yang mengikuti acara ini sebagian besar adalah orang orang yang sudah dewasa. Kita berharap juga dewasa karakternya. Selain bermanfaat bagi diri saya sendiri, saya juga mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari hari.

Terkadang, ada satu materi yang sangat bermanfaat bagi saya, yang merupakan ibu dari anak anak saya, saya ambil hikmahnya, baik yang positif maupun yang negatif. Sebagai ibu dari anak anak saya, tentu saja, materi di sekitar dunia wanita yang saya sukai. Namun tidak menutup kemungkinan untuk materi yang lainnya. Misalnya, warta berita. Bahkan bagi saya, saya merasa wajib mengikuti warta berita, yang setiap saat selalu berubah.

Apalagi, masa sekarang kan masa informasi (globalisasi informasi, red). Di samping itu, sifat rasa ingin tahu yang manusiawi, terutama untuk berita luar negeri. Kita tahu, pers kita agak dikungkung, sehingga berita yang disampaikan kadang kurang benar, hanya karena situasi dan kondisi yang dikendalikan sedemikian rupa. Dan sebagai orang timur, yang bertata krama tinggi, kita tidak bisa bilang bahwa A itu A. Bisa saja, kita bilang B. Lain halnya dengan di barat, demokrasinya sudah memasyarakat. A ya bilang A, bukan A kuadrat.

Mungkin itu salah satu faktor rasa ketidak puasan kita terhadap pers kita, yang katanya, pers Pancasila. Saya menggunakan pesawat penerima Sony. Dengan adanya perkumpulan pendengar, semacam Rafans Club, dan Indonesian DX Club, yang mana saya tergabung di dalamnya, saya bisa mengatasi beberapa masalah dengan cara berkonsultasi dengan mereka yang tergabung di dalamnya.

Memang, siaran radio luar negeri banyak memberikan manfaat, tidak hanya sekedar hiburan yang bisa kita petik dari sini, tetapi lebih dari itu. Apalagi kalau berbicara soal informasi, sudah bisa dipastikan, kalau siaran radio luar negeri berada di baris terdepan dalam hal kecepatan, aktualitas, dibandingkan dengan media elektronik manapun juga. Jadi, berbahagialah Anda yang memang sudah lama menekuni hobby DXing dalam kurun waktu yang lama. (bo)

 
Dirgantara Online - Vol 2 No 6 Jan-Feb 1993
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2010 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space