Sosok
Park Youn Kyung : "Saya Senang dan Kagum dengan Indonesia"
Kalau Anda pendengar siaran Radio Korea dalam Bahasa Indonesia, pasti tidak asing lagi dengan nama PARK YOUN KYUNG. Beberapa waktu yang lalu, Nona Manis Park Youn Kyung, begitu sapaan akrabnya, mengunjungi Indonesia untuk belajar. Selama kurang lebih tiga bulan, Nona Park belajar di Radio Republik Indonesia Stasiun Pusat Jakarta. Sebagai seorang penyiar yang mengudarakan berbagai materi untuk para pendengarnya di Indonesia, tentunya dituntut satu pengetahuan tentang siapa pendengarnya, dan juga latar belakang pendengarnya.
Misalnya saja, bagaimana situasi dan kondisi Indonesia itu, hingga penyiar pun punya pedoman yang pasti, bukan sekedar imajinasi atau khayalan belaka. "Saya sangat senang dan kagum dengan Indonesia, dalam hal ini, kota Jakarta, yang telah menjadi kota internasional. Di samping itu, saya melihat Indonesia sudah begitu pesat perkembangannya di wilayah Asia Tenggara." Modal pengetahuan tentang Indonesia belum cukup, bahasa merupakan salah satu sarana untuk mengetahui sesuatu yang asing.
Termasuk bahasa Indonesia, bagi Nona Park, harus dikuasai. Paling tidak, dimengerti, meski masih belum begitu mendalam. "Saya belajar bahasa Indonesia di Universitas Hanguk, pada bagian pengkajian bahasa Indonesia. Tapi saya sulit untuk mengetahui akan adat istiadat Indonesia, karena memang susah untuk menemui orang Indonesia di Korea. Jadi, sulit berkomunikasi dengan orang Indonesia sendiri," kenang Nona Manis yang kesulitan dalam mencari pekerjaan dengan bekal sarjana bahasa Indonesia.
"Dengan adanya kerja sama antara Korea dengan Indonesia, banyak perusahaan Korea membuka cabang di Indonesia. Dengan demikian, prospeknya (sarjana bahasa Indonesia, red.) cerah dan bisa menambah semangat untuk belajar bahasa Indonesia, dan bekerja di Indonesia," ujar Nona Park, menjawab pertanyaan Siz Iskandar dan Herman Hakim Galut, yang menemuinya beberapa waktu yang lalu.
"Begitu tiba di Bandara Soekarno Hatta, saya bisa merasakan bahwa Indonesia sudah tak asing bagi saya, mungkin karena sudah lama dengar cerita tentang Indonesia. Saya merasa bisa akrab dengan suasana dan adat istiadat di Indonesia." Nona Park mengawali karir di Radio Korea KBS tahun 1985, saat mana Negeri Pagi Hari yang Tenang disibukkan dengan Asian Games, dan Olimpiade 1988. Pada kesempatan tersebut, Radio Korea pun tak mau ketinggalan untuk menyukseskan kegiatan dunia tersebut, dengan melakukan liputan.
"Waktu itu, Radio Korea KBS membutuhkan pekerja sekitar 400 orang untuk meliput peristiwa akbar tersebut. Dan saya masuk ke bagian siaran bahasa Indonesia." Sebagai orang baru yang terjun di dunia penyiaran, tentunya, banyak yang harus diketahui. Banyak pengalaman mengawali dan sekaligus memicu untuk bisa lebih baik lagi dari semula.
"Saya sering kesulitan dalam menyusun naskah, sebab perbendaharaan kata saya sangat minim. Tetapi dengan dikirimkannya saya ke Radio Republik Indonesia, saya bisa memperoleh banyak masukan. Menurut mereka, saya sudah baik dan bagus," akunya. Kita tahu, siaran Radio Korea tidaklah sebagus siaran radio radio yang lain, tentunya karena keterbatasan kekuatan pemancar.
"Kadang kadang saya berpikir bahwasannya pendengar kami pun cukup banyak. Seksi bahasa Indonesia sendiri menempati urutan ketiga dalam jumlah surat yang masuk ke redaksi kami, setelah seksi Jepang dan Inggris. Dan jangan lupa, sering seringlah kirim laporan penerimaan Radio Korea KBS," tambah Nona Park, yang katanya sering juga mendengar siaran Radio Moskwa dalam bahasa Indonesia. Siaran bahasa Indonesia lainnya, jarang. Kondisi penerimaan yang kurang bagus, alasannya.
Dengan demikian, Nona Park bisa kita sebut sebagai DXer, tapi maukah Nona Park gabung di sini ? Di IDXC ? Paling tidak, ya beritanya. Tentu saja, jawabnya hanya Nona Park yang tahu. Bagaimana Nona Park ? Kami tunggu selalu. (Siz/HHG, IDXC/bo/ir)