Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 2 No 6 Jan-Feb 1993
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Berita TP 1993
Laporan Berita
Profil Stasiun
Sosok
DX Mania
Antena
Dunia DX
Sejarah Radio
Review Top 50
Redaksi

Volume 2
  Profil Stasiun
Q 100.2 FM PTPN Rasitania Alihkan Target Audience Karena Pangsa

Di dalam suatu kehidupan bisnis, sebagai pengusaha, kita haruslah peka terhadap kebutuhan dan permintaan masyarakat. Mungkin kalau Anda mau jujur, Anda pun mempunyai keinginan seperti itu. Anda sudah punya kendaraan roda dua, masih kepengin roda empat. Demikian juga dengan kami," ujar Ignatius Hananto Sumarno, Manajer Siaran PTPN Rasitania 100.2 FM, Solo, kepada Aries Subagyo dan S. Sundari, yang menemui di ruang kerjanya.

"Dari mono, kami pengin pindah ke stereo. Karena teknologi, kita harus berkembang, maka kami putuskan untuk pindah ke jalur FM," lanjut dia. Secara panjang lebar dan berterus terang, Mas Ige, sapaan akrabnya di PTPN, menuturkan kepada Dirgantara, "Kami muncul di FM untuk yang pertama kalinya di Solo. Waktu Pak Subrata (mantan Dirjen Radio, TV, dan Film, red.) meresmikan purna pugar gedung kami, iseng-iseng kami menanyakan, Apa kiranya di Solo dimungkinkan berdiri radio FM ?

Lho, kenapa tidak ? Kalau toh masyarakat Solo sudah mampu menerima kehadiran FM, silakan saja. Nah, ini green light (lampu hijau, red.) bagi kami. Maka kami pun langsung urus segala macamnya, dan sejak tanggal 12 Januari 1989, kami mulai mengudara di jalur FM."

Apakah masyarakat kota Solo memang sudah siap untuk menerima teknologi FM ?
+ Pertama kalinya, memang kami, teman-teman direksi, khawatir akan itu. Tetapi saya waktu itu yang paling ngeyel. Kita harus berani, kapan lagi kalau bukan sekarang ini ? Dan ternyata, setelah kami berjalan di FM, nggak menyombongkan diri ya, ternyata mereka mengejar kita. Mereka beramai-ramai membeli pesawat penerima radio FM. Nah, itu buktinya bahwa masyarakat Solo pun sudah siap menerima teknologi FM.

Adakah usaha dari PTPN sendiri untuk hal itu ?
+ Itu taktik penjualan kami, pertama kami muncul, kami sediakan hadiah berupa radio di kuis-kuis kami.

Sebelum di jalur FM, PTPN mengudara di AM. Sejak kapan PTPN mengudara ?
+ Tanggal 12 Maret 1968. Kami, mahasiswa Fakultas Kedokteran PTPN, ingin mengembangkan ilmu medis lewat radio, dan juga ingin menghibur masyarakat. Maka, ketika itu, terlahirlah badan radio yang dinamakan Radio Riset Fakultas Kedokteran PTPN Veteran Cabang Surakarta, atau disingkat RRFK PTPN UPN, dengan call sign YDA7E5, muncul di gelombang 68 meter, jadi masuk gelombang pendek, dan sifatnya sama dengan teman-teman lain, masih amatiran.

Dengan dikeluarkannnya PP No. 55 Tahun 1970, kami pun berbenah, kami dirikan PTPN Rasitania. PT-nya sendiri bernama PT Pembangunan Nasional disingkat PTPN, kami lahir dari Perguruan Tinggi Pembangunan Nasional (sekarang UPN, red.) yang pusatnya di Yogyakarta. Karena PT itu suatu badan usaha, nggak boleh dong kalau di bawah fakultas. Kami kembangkan menjadi PTPN Rasitania, sebuah radio siaran swasta niaga Indonesia.

Siapa yang dibidik PTPN Rasitania ?
+ Karena kami merupakan yang pertama kalinya yang mengudara di jalur FM. Maka, kami ketika itu, harus menyelenggarakan radio posisioning, mengalihkan target audience kami. Mengapa demikian ? Karena kami melihat pangsa pasar, berapa banyak dan siapa yang kira-kira memiliki pesawat penerima radio FM ketika itu ? Berdasarkan pengamatan kami, mereka adalah kelas menengah ke atas.

Karena pada saat itu, tidak atau belum semua rumah memiliki pesawat penerima radio FM. Kita juga melihat bahwa mereka yang senang dan aktif adalah anak muda. Maka, kami tentukan demografinya, sasaran kita adalah anak muda. Kita buat acara yang sesuai dengan target audience kita. Kalau dulu di AM, kita ambil semuanya, kami harus memencilkan diri pada saat itu.

Hasil Survei Riset Indonesia (SRI) bagaimana ?
+ Kami memimpin untuk FM-nya, tetapi untuk umumnya, kami nomor dua. Memang, sewaktu di AM-nya, kami nomor satu. Tetapi begitu di FM, tergeser ke nomor dua. Tapi ini masih hebat menurut pakar radio, karena biasanya, radio AM yang nge-top, di FM-nya langsung drop sampai ke urutan tengah.

Iklan merupakan bagian integral dari satu radio swasta, bagaimana dengan PTPN sendiri ?
+ Kalau di AM, kami berani di 25%, tapi di FM, paling sampai 20%. Ini pun sebenarnya sudah terlalu banyak, kami main di sekitar 15-16%.

Apakah jumlah tersebut sudah ideal bagi PTPN Rasitania ?
+ Setelah kami praktekkan, memang idealnya di sekitar itu. Seperti yang dikatakan teman-teman Prambors, Jakarta. Mereka menaruh di sekitar 12-13%. Tapi, kalau di daerah, masih bisa. Kalau 20%, menurut kami untuk FM sudah nggak ideal lagi. Karena apa ? Pandangan masyarakat mengatakan bahwa FM itu biasanya full music, padahal itu sebenarnya keliru. FM itu kan sistem jaringannya saja. Dan terus terang saja, tarifnya kami naikkan, naik dua kali lipat. Dengan harapan pemasukan tetap, tapi frekuensi menurun.

Berapa tarif iklannya ?
+ Kami sementara masih Rp 12.500 per spot-nya, maksimal 60 detik.

Apakah PTPN punya jaringan kerja untuk menjaring iklan ?
+ Ha ha ha... Ini sudah menjurus ke rumah tangga, tapi nggak papa. Kami memang punya jaringan kerja. Tidak hanya di Solo, tetapi juga meliputi daerah Jawa Tengah. Kami network dengan RCT dan Gajah Mada di Semarang, Polaris di Magelang, serta Retjo Buntung dan Geronimo di Yogyakarta. Untuk pusat, kami network dengan Prambors Rasisonia.

Apa keuntungannya ?
+ Untuk menghindari permainan harga pihak biro iklan.

Acara apa yang dijadikan ujung tombak di PTPN ?
+ Kami tempatkan quiz sebagai acara yang paling banyak pendengarnya, kemudian sandiwara radio. Masih kami pertahankan karena bagaimana pun juga, sandiwara, terutama yang bahasa Jawa, sudah menjadi merk dagang PTPN. Lantas, acara musik, seperti Sepekan Musik Indonesia, dan PTPN Weekly Top 40. Dan perlu Anda ketahui, berdasarkan SRI, hampir semua radio menempatkan quiz radio di ranking pertama.

Kami pun melirik ke sana, dan ternyata betul juga. Menurut pakar radio, kalau bisa menyedot 40 orang penelpon dalam satu jam, itu baru sukses. Ternyata, setelah kami jalan, lebih dari itu. Menurut pengamatan kami, bukan hadiahnya yang mereka kejar, tapi enjoy-nya. Keasyikan berpacu, entah kalau di kota lain.

Bagaimana dengan informasi atau berita ?
+ Kami memang harus merelai warta berita dari RRI, kurang lebih 14 kali, dan kami sudah dapat lampu hijau dari Kepala Pemberitaan Pusat RRI Jakarta, bahwa itu bukan halangan bagi radio swasta untuk berkembang. Dan kami pun membuat acara yang namanya "Fact and Music" setiap pukul 07.00-09.00, di samping acara semacam lintasan. Di sini, kami meluncurkan suatu mini feature, yang kebanyakan terjadi di kota Solo dan sekitarnya.

Untuk berita internasionalnya ?
+ Kami bekerja sama dengan BBC London dan Radio Nederland, juga ABC. Di samping itu, kami pun berlangganan majalah luar negeri.

Bagaimana komentar Anda dengan adanya stasiun yang Jakarta minded ?
+ Kami melihat target audiens kami, jangan langsung diantipati. Kalau ada bahasa prokem merusak, belum tentu. Justru merupakan pengembangan bahasa. Kita harus berkembang, jangan statis.

Adakah stasiun panutan ?
+ Kalau saya boleh jujur, kami jaringan kerjanya dengan Prambors, jadi paling tidak cover acara kami seperti halnya di Prambors.

Bagaimana dengan luar negerinya ?
+ Kami menganut Radio Nederland, kami pertamakali menggunakan sistem DJ Radio Nederland. Kami dibimbing oleh Mas Hendro Sosrosuwarno (mantan penyiar Radio Nederland, red), di mana kami diharuskan untuk mempergunakan intro, ekstro, dan coda lagu. Waktu pertama kali kami muncul, panutan DJ-nya RRI. Kami dilatih oleh Bapak Yan Mintorogo, sedangkan untuk audiens dan warta berita, kami menganut BBC.

Di Indonesia, radio swasta tergabung dalam PRSSNI. Bagaimana peran PRSSNI itu sendiri di sini ?
+ Kebetulan, saya sendiri Ketua II PRSSNI Cabang Solo. Banyak sekali, dengan programnya, PRSSNI melemparkan semacam program dengan kriteria-kriteria tertentu, yang harus dicapai radio swasta. Maka, radio swasta terpacu untuk berkembang. Dan PRSSNI juga menyelenggarakan pendidikan manajemen siaran. Pokoknya banyak.

Apa semua radio swasta otomatis tergabung dalam PRSSNI ?
+ Sebaiknya begitu, meskipun ada kekecualian. Kalau Anda mau jujur, di daerah Anda (Yogyakarta, red.) sendiri ada itu. Pemerintah sendiri sudah menggariskan bahwa kalau mau mendirikan radio persyaratannya ini, ini, ini. Per tahun harus ada rekomendasi awal, katakanlah saran, pendapat dari PRSSNI setempat. Paling tidak begitu. Walaupun bisa saja memakai jalur langsung, tapi saya anggap itu menyalahi aturan.

Apakah pendirian stasiun radio harus seizin PRSSNI ?
+ Jangan katakan seizin, hanya saran, pendapat. Kami nggak memberikan izin, yang memberikan izin pemerintah. Anda jangan keliru. Kami hanya menyarankan. Boleh digugu, boleh nggak. Silakan. Tetapi kebanyakan manut saja. Kalau operation-nya, kami nggak setuju, Anda jangan salah interpretasi, salah penafsiran. Maka sebaiknya bagi para pendiri radio, lalui jalan yang benar. Toh mereka yang lalu juga lulus, jangan melanggar aturan yang mereka buat sendiri.

Berapa sebenarnya idealnya satu kota memiliki stasiun radio ?
+ Kita lihat kondisi setempat, sosial, ekonominya bagaimana.

Bagaimana dengan penduduknya ?
+ Ya, itu juga, tapi yang penting adalah sosial, ekonominya. Kalau sosial, ekonominya belum memungkinkan, sebaiknya jangan mendirikan di situ. Coba cari tempat yang lain. Ngopo ngumpul kalau gak iso urip, karena bagaimana pun juga, nanti dari jumlah penduduk ini kita bagi-bagi lagi.

Memang, bisnis radio ini pun tak lepas dari hukum ekonomi. Harus tahu akan supply dan demand masyarakat. Namun, sumber daya (baca iklan) yang terbatas, kalau dibagi bagi lagi tentu saja akan makin mengecil. Di satu sisi memang begitu. Akan tetapi di sisi lain, justru akan menambah persaingan yang memacu untuk lebih bagus lagi.

Dan tentu saja, mampu menyerap pendengar sebanyak mungkin. Dan kekhawatiran seperti itulah yang menghantui beberapa pengusaha radio akan pendirian stasiun radio baru di satu tempat. Bagaimana menurut Anda ? Baca juga profil Rakosa FM 106,5 MHz. (*)

Rakosa 106.5 FM, Suara dari Yogyakarta yang Di-Anak Tiri-kan ?

Seperti halnya manusia, untuk bisa bertahan hidup, suatu stasiun radio harus bisa melakukan kiat-kiat tertentu yang sekiranya bisa mendukung kelangsungan hidupnya. Sekarang ini, persaingan antara stasiun radio sudah sangat ketat. Sudah saatnya masing masing stasiun mempunyai satu keistimewaan tersendiri, agar tak ditinggalkan pendengarnya. Segmentasi pendengar harus diperhatikan, tidak boleh sembarangan.

Untuk itulah, Rakosa FM 106,5 MHz yang mangkal di Jln Gajah Mada 23, Yogyakarta 55112, melakukan terobosan terobosan baru. "Acara acara kami sedikit berbeda dengan radio lain. Kami melakukan satu terobosan baru, yaitu sajian dalam bentuk humor. Karena kita lihat belum satu pun radio yang menyajikan program ini di Yogyakarta," ujar Heru TH, Manajer Siaran Rakosa FM, ketika ditanya Dirgantara. "Hanya saja, kami masih menggunakan sistem blok, belum total," lanjutnya.

Mengingat persaingan antar radio di Yogyakarta sudah demikian ketatnya, motivasi apa yang mendorong Anda mendirikan radio FM baru, Rakosa 106.5 FM Stereo ?
+ Sebetulnya, ada beberapa hal yang merupakan tujuan pokok pendirian radio secara umum. Yang pertama, kita membantu program pemerintah dalam menyebarkan informasi pembangunan. Yang kedua, memberikan lapangan kerja. Yang ketiga, memberikan alternatif lain bagi pendengar untuk mendapatkan satu bentuk hiburan, yang sedikit berbeda dengan yang sudah-sudah.

Kalau diperhatikan, acara acara yang disiarkan sifatnya umum, tak meng-cover khusus pada segmen tertentu. Mengapa demikian ?
+ Pada intinya, kami ambil segmen pokok di anak muda, usia 15-30 tahun. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk pendengar di bawah atau di atas itu. Dan itu kami anggap sebagai bonus, bukan satu tujuan pokok kami.

Bagaimana Rakosa mewujudkannya, misalnya dalam bentuk sajian musiknya ?
+ Sama seperti yang lain, ingin menyajikan yang terbaik. Sesuai dengan kebutuhan para pendengar. Hanya dalam penyajian, kami buat berbeda. Orientasi kami merangkum pendengar di Yogyakarta yang beragam.

Kriterianya bagaimana ?
+ Kami tidak secara khusus memutarkan lagu dangdut. Kalau toh kami memutarnya, sifatnya hanya untuk sajian acara humor. Misalnya, dalam acara kuis, begitu pula untuk keroncong.

Acara apa yang diunggulkan untuk bisa meraih para pendengar sebanyak mungkin ?
+ Tidak hanya satu. Banyak. Untuk harian adalah kuis, jam 16.00-17.00 setiap hari, kecuali Minggu. Untuk acara mingguan, mulai dari hari Senin hingga Sabtu, kami menempatkan beberapa acara unggulan juga. Senin ada konsultasi yang saya beri nama "Termin Kamu", Terminal Konsultasi Anak Muda.

Selasa ada Canda Rakosa, Rabu ada Humor Rakosa, Fly by Night Rock. Kamis ada Gardu Jaga, semacam sandiwara, tapi dengan gaya penyajian yang celelekan. Jum'at ada Letter Man, tanggapan surat surat, dengan gaya humor. Sabtu ada Echa-echo, juga acara humor.

Berdasarkan SRI (Survei Riset Indonesia) hasilnya bagaimana ?
+ Walaupun kami masih balita (bawah lima tahun), kami bisa mengungguli radio radio yang sudah berusia di atas 20 tahun. Kami di ranking teratas untuk radio FM di Yogyakarta.

Per segmen atau secara keseluruhan ?
+ Total, dari segmen segmen yang terangkum itu ditotal, kami nomor satu.

Tahun berapa ?
+ Tahun 1990-1991 dan tahun 1991-1992. Jadi selama dua tahun, kami ada di atas.

Bagaimana persaingannya dengan radio lainnya, sepertinya kurang sehat ?
+ Kurang sehatnya, Anda melihat di mana ?

Sudah menjadi rahasia umum, kalau Rakosa dikucilkan oleh radio radio lain di Yogyakarta.
+ Kalau kami menganggap itu gaya yang ingin menampilkan diri. Ada yang sportif, bertanggung jawab. Dia membuka diri, siapa dan bagaimana dia. Bagi kami, persaingan itu wajar dan harus. Tanpa persaingan, nggak akan maju. Cuma permasalahannya, kadang kadang memang ada persaingan yang kurang fair. Bentuknya misalnya, sebagai radio baru yang kebetulan mendapat dukungan pendengar banyak, ada radio lain yang menganggap kami radio gelap, kami ini radio yang seenaknya.

Bagaimana sikap Rakosa sendiri terhadap mereka ?
+ Bagi kami, kami nggak akan men-counter sikap mereka dengan cara-cara yang tidak fair. Justru itu sebagai pemicu bagi kami. Semakin kami dipojokkan, semakin kami bersemangat dalam bersaing, kami low profile sajalah.

Apakah selama ini kehadiran Rakosa belum diakui oleh mereka ?
+ Radio swasta nasional mempunyai organisasi yang namanya PRSSNI. Pada dasarnya, semua radio swasta di mana saja, khusus di Yogyakarta, diharapkan menjadi anggota PRSSNI. Begitu pula keinginan Rakosa. Cuma permasalahannya, mereka belum welcome terhadap kami.

Mengapa begitu ?
+ Mereka mengatakan bahwa dengan 15 radio yang ada itu sudah cukup jenuh. Tetapi dasar pemikiran kami, penambahan satu usaha itu tidak identik dengan kematian usaha lain. Paling utama, dari suatu kemajuan usaha adalah bagaimana manajemennya. Baik itu menyangkut manajemen siaran maupun perusahaan. Kami menciptakan program siaran mengacu pada kepentingan pendengar.

Apa yang menjadi kebutuhan mereka. Sehingga kalau kami bisa sajikan sesuatu yang kebetulan disukai oleh pendengar, itu karena perbuatan kami. Kalau orang lain mengatakan jumlah yang sudah jenuh, kemudian yang 15 saja ada yang Hidup Segan Mati tak Mau, itu bukan karena kejenuhan, tapi karena manajemennya kurang pas. Kurang bisa mengerti selera pendengar.

Dari ketersendirian itu, adakah usaha Rakosa untuk menjalin kerja sama dengan radio lain di luar kota ?
+ Mau dikucilkan atau tidak, kami tetap menjalin kerjasama. Kebetulan yang mau kerja sama dengan kami adalah radio dari luar kota. Dalam kota tidak. Kalau toh ada dan mau, ya kami kerjasama. Wong kami terbuka kok.

Bisa memberikan contoh ?
+ Macam-macam, bisa dalam artian kerjasama saling memberi informasi, memacu kemajuan. Ada juga kerjasama dalam program siaran. Program kami bisa disiarkan di sana, yang sana bisa kami siarkan juga. Sekarang ini, kami sedang merintis kerjasama siaran dengan radio radio luar kota. Khususnya yang ada hubungan baik dengan kami.

Stasiun mana saja itu ?
+ Di Pekalongan ada Suara Pekalongan, Magelang ada GKL (Gema Kyai Langgeng 106,15 MHz, red), dan masih ada lagi radio lain di luar kota.

Adakah jaringan kerja untuk menjaring iklan ?
+ Sifat kerja sama kita lepas. Sebab kerja sama semacam itu biasanya menyangkut masalah bentuk kontrak manajemen. Misal, radio A punya jaringan di kota B, terus mempunyai jaringan di kota C, dan seterusnya. Baik itu sifatnya kontrak manajemen, namun dibeli perusahaan itu. Macam macam bentuknya, tapi kami belum sampai ke situ.

Bagaimana dengan iklan itu sendiri di Rakosa ?
+ Kami belum secara total menyerap iklan nasional. Problem pokok adalah pengucilan tadi, iklan kami masih lokal, sebagian besarnya.

Adakah perbedaan dalam hal tarif untuk nasional dan lokal itu ?
+ Saya kira sama saja, nggak ada perbedaan.

Sudah mencapai jumlah ideal ?
+ Kami belum.

Berapa persen idealnya ?
+ Kurang lebih 15 persenlah.

Sekarang berapa ?
+ Kami nggak bisa memberikan angka secara pasti, tetapi masih di bawah 15 persen. Tapi secara operasional, kami bisa berjalan dengan baik.

Ya begitulah, persaingan dalam bisnis itu memang kadang menimbulkan rasa yang tidak pada tempatnya. Anda tentunya sudah membaca Profil Stasiun PTPN Rasitania. Sengaja kami munculkan secara bersamaan, untuk memperoleh perimbangan. Bagaimana sikap pihak yang satu, dan bagaimana pula pihak lainnya.

Tak ada maksud Dirgantara untuk memihak ke satu pihak. Kami ingin mendudukkan permasalahan pada porsinya. Bukan secara sepihak. Anda setuju ? Bisnis di bidang radio memang sangat unik dan penuh resiko. Hal semacam itulah yang ingin diekspos Dirgantara di dalam Profil Stasiun. Jumpa lagi di edisi mendatang, dengan stasiun lainnya. (bo)

 
Dirgantara Online - Vol 2 No 6 Jan-Feb 1993
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space