Laporan dan Berita
Laporan Herbert Sunu, Perum X RLC Indonesia di Ciloto
Kepedulian seorang anggota organisasi dapat diukur dari loyalitas pada keberadaan organisasi itu, termasuk mengikuti perkembangan terakhir, baik pemikiran, saran, tindakan, maupun juga mengikuti tiap pertemuan, baik yang sifatnya lokal maupun nasional, yang sifatnya umum. Umum karena dihadiri oleh setiap warga organisasi, sekaligus mendengarkan pertanggung jawaban pengelola organisasi.
Dan jikalau si Clangap dan mitra setianya asal Tuban yang bernama Alim setia menghadiri pertemuan ini lebih dari separuh usia organisasi yang kedua puluh tahun, bolehlah sebagai salah satu prestasi yang bukan main. Karena tak semua anggota mampu melaksanakannya. Clangap memang lain dengan temannya si Alim, meskipun sama sama demen dan mencintai jagad pendengaran radio.
Si Alim memang benar-benar punya rasa kesejatian diri, penghayatannya total dan nyaris mencintai semua organisasi serupa yang dimasuki tanpa banyak menuntut. Tapi dari Ciloto, keduanya mempunyai persamaan, yakni sama sama "ngelus dhadha". Lho, kok begitu ? Kok bisa ya ? Ngelus dhadha bagi masyarakat Jawa mempunyai banyak pengertian, salah satunya adalah pertanda bahwa ada sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan, yang istilah muluknya anomali.
Keduanya mafhum bahwasannya sebagian besar hadirin maupun hadirat memang tidak mengetahui bahwasannya ada faktor X yang menjadi salah satu penyebabnya. Tapi bagi dua sekawan dan sebagian khalayak lain yang mengetahui permasalahan dengan jelas, mau tidak mau, haruslah bereaksi. Reaksi sebagai salah satu pertanda, bahwa masih ada denyut kehidupan. Namun sebelum menguap sudah diinjak, kemudian dikebiri, atas nama sebuah kekuasaan, mungkin dianggap terlampau vokal.
Yah, kalau sudah begitu maunya ... desahnya hampir berbarengan. Ciloto memang tempat yang sejuk, kalau nggak boleh dibilang dingin. Akan tetapi ternyata, justru membawa bara, setidaknya bagi sebagian peserta pertemuan umum. Hingga, kebanggaan terhadap sebuah klub pendengar yang tertua mulai terkikis, karena kemelut dari tahun ke tahun, borok belum tersembuhkan, telah timbul borok lainnya.
Dan kalau nanti terjadi eksodus besar besaran bagi warga lama, hanya sebagian dari perwujudan ketidak tegakan sebuah kesepakatan bersama, yang tertuang dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Keberadaan sebuah organisasi bukan dilihat dari kemonceran sepintas, serta dikenal oleh stasiun radio. Apalah artinya di luaran gegap gempita, kalau di dalamnya sendiri sering terjadi senggol senggolan yang tidak pernah terselesaikan.
Memang, untuk melangkah lebih maju memerlukan dinamika. Dan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan diperlukan kearifan dari seorang pentolan, yang dalam bahasa plesetan ala Yogyakarta, biasa dinamakan sebagai Komandan Klepon. Buat apa memperoleh sesuatu yang tinggi, kalau mesti mengorbankan orang lain. Kita bukan bangsa yang punya jiwa pendendam, dan menghalalkan semua cara untuk mencapai sebuah kedudukan. Rame ing gawe, sepi ing pamrih, bukan rame rame agar memperoleh pamrih.
Si Alim dan Si Clangap, beserta pasukannya memang sekedar kawula alit, rakyat kecil, atawa hamba sahaya. Namun mempunyai komitmen yang jauh ke depan, lantaran kecintaan semata pada organisasi yang pernah membesarkannya, bukannya sekedar mencari popularitas. Dan ketika mereka bertemu, mereka mempunyai kesepakatan bahwasannya hidup itu ada dan bersama orang lain. Jadi dalam hal bertindak, harus senantiasa mencerminkan perilaku yang utama.
Tak mesti menggurui orang lain, tak mesti mengorbankan orang lain untuk memperoleh satu kedudukan. Siapa pun yang jadi komandan bagi Alim, Clangap, dan kaum kerabatnya, bukan masalah. Asal semua dilakukan secara wajar dan menurut jalur dan alur. Perkumpulan ini toh bukan milik sekelompok orang, kini telah menjadi milik umum, milik rakyat yang mencintai dunia pendengaran radio.
Anomali ini memang merupakan salah satu pertanda yang bisa ditangkap dan dicatat sebagai tanda zaman. Bahwasannya kalau mau maju, mesti berani mengambil suatu kebijaksanaan, bukan tergantung dan mengekor "the founding father". Sejarah mencatat bahwa salah satu keruntuhan sebuah dinasti diakibatkan terlampau banyaknya campur tangan. Lha, kalau mau, mengapa tak mengangkat diri lagi menjadi komandan ?
Clangap, Alim, dan sobat sobatnya, memang sekedar warga, tapi pernah ikut menyelamatkan organisasi ini dari kehancuran. Dan pernah dilobi untuk menjadi pimpinannya. Suksesi kali ini baginya paling berkesan, karena mengandung "sense of humor". Rupanya, sejarah organisasi tak mencatat perilaku Clangap dan kerabatnya dengan tinta emas. Justru sebaliknya, mungkin Clangap dan kerabatnya kena cegah tangkal.
Satu hal yang pasti dalam catatan buku harian Clangap, tercatat bahwa meskipun telah terpilih pemimpin baru, tapi jalan menuju ke sana itulah ... masalahnya. Clangap menguap tanda mengantuk, tapi segera mengambil buku sucinya, menerawang ajaran moral gurunya, bahwa : Hidup Itu Mulur dan Mungkret, sembari berdoa tulus amit amit jabang bayi, jangan sampai ditiru oleh momongan barunya, Indonesian DX Club. (HSB)
Temu Wisata Bromo 1993 Mungkinkah Berlanjut
Kalau Anda mendengar nama Bromo, saya yakin angan Anda adalah kawah Gunung Bromo. Begitu pula gambaran saya beberapa waktu yang lalu. Rasa ingin tahu yang tinggi pada diri saya, begitu menerima undangan Temu Wisata itu, langsung saya okey. Di samping, saya sendiri belum pernah lihat secara langsung, saya juga jarang menjumpai rekan rekan pendengar di kawasan Jawa Timur. Akhirnya, saya melepas tahun 1992 dan menyongsong jemput Tahun Baru 1993 ini di sana.
Banyak yang bisa saya temui, dan tentunya tak lupa, sebagai seorang DXer, saya sempatkan memantau siaran radio dari puncak Gunung Tengger. Saya bisa memantau siaran FM dari beberapa kota sekitar, misalnya Jember, Malang, Surabaya, dan bahkan Bali. Kalau radio luar negeri, jangan tanya lagi deh. Meski Temu Wisata ini hanya dihadiri oleh beberapa orang pendengar radio, tapi ada hal-hal yang bisa saya peroleh dari sana. Saya bisa tahu akan jagad pendengar radio mereka.
Bagaimana mereka melakukan kegiatan itu, bagaimana sikap mereka terhadap kelompok pendengar, atau yang lebih dikenal sebagai klub pendengar. Bagaimana pula sikap dan pandangan kalangan simpatisan terhadap kegiatan memantau siaran radio luar negeri. Di sana, saya bisa menemuinya. Di sana pula, saya bisa tahu, kalau mereka sebenarnya haus akan informasi. Hanya saja, sarana atau caranya, mereka tidak tahu. Kita ambil contoh klub. Saya berikan contoh Indonesian DX Club.
Jangan kaget, kalau mereka tanya, apa itu IDXC, apa kegiatannya, dan siapa saja pelakunya. Dan harap Anda jangan ketawa, kalau mendengar pertanyaan, "jam berapa dan pada frekuensi berapa IDXC mengudara ?" Inilah salah satu tantangan bagi kita, bagaimana agar IDXC bisa dikenal masyarakat. Tentu saja, Andalah ujung tombaknya. Seperti kita ketahui, di Indonesia ada beberapa klub pendengar radio. Saya membayangkan, bagaimana kalau beberapa klub tersebut bisa duduk berdampingan.
Kita bisa lihat di luar negeri, misalnya di Australia. Di sana ada beberapa klub yang tergabung dalam satu asosiasi. Kapan Indonesia bisa seperti mereka ? Mungkin ini hanya angan angan belaka. Namun yang pasti, IDXC selalu terbuka dan mau untuk menjalin kerja sama tersebut.
Tinggal bagaimana respon dari rekan rekan kita, terserah mereka. Kapan saja kita bersedia memulainya. Mungkin tahun depan, atau bahkan tahun ini juga, kita bisa menyelenggarakan satu pertemuan bersama. Kita lihat saja perkembangannya. Semoga saja, apa yang menjadi impian saya bisa terwujud dengan segera. (ASB)
Temu Lokal IDXC
Menyusul sukses Temu Pendengar 1993, pengurus merencanakan Temu Lokal di beberapa daerah, ini untuk lebih mengakrabkan antar anggota Indonesia DX Club di daerah, karena selama ini hanya mengenal nama lewat surat atau buletin atau siaran radio. Kami harap Perwakilan Indonesian DX Club di daerah bisa menyelenggarakan Temu Lokal. Syukur syukur kalau bisa serentak. Ada beberapa lokal yang sebenarnya sudah banyak anggotanya. Misalnya, Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Ujung Pandang, Samarinda, Banjarmasin, dan tentu, Yogyakarta.
Kalau melihat hari-hari libur, nampaknya yang paling cocok adalah bulan Juni 1993, tanggal 20-21, dan Agustus 1993, tanggal 29-30. Namun tak menutup kemungkinan akan hari hari lainnya. Dengan hari libur dua hari akan memberikan waktu yang sedikit leluasa bagi mereka yang kerja atau sekolah. Silakan, kalau Anda ingin menyelenggarakan Temu Lokal. Beritahukan kami, agar kami pun bisa mengirimkan souvenir, dan syukur bisa menghadirinya, atau kami bisa mengusahakan souvenir ke stasiun radio.
Untuk mereka yang ada di Jakarta, bisa menghubungi Drs. Herbert Sunu Budihardjo; Bali, Saudara Iwan Syahwanto; Samarinda, Saudara Ali Parjiyanto. Bagi lokal lokal yang belum ada perwakilannya, bisa pula membentuk diri. Silakan siapa yang mau mempelopori. Nama dan alamat IDXCer bisa Anda peroleh dari kami di markas besar. Bagaimana kalau Bali atau Jawa Timur ? Ingin sekali kami berkunjung ke Bali dan Jawa Timur untuk bertemu rekan rekan IDXCer di sana. (*)