Berita Temu Pendengar 1993
TP 1993 Cikal Bakal Asosiasi Klub Pendengar di Indonesia
Seperti yang sudah lama Anda ketahui lewat buletin maupun beberapa siaran luar negeri berbahasa Indonesia, Indonesian DX Club di dalam memasuki usianya yang kedua menggelar acara Temu Pendengar 1993. Suatu langkah awal yang dilakukan Indonesian DX Club dalam meniti langkah langkah selanjutnya. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Indonesian DX Club, Aries Subagyo, dalam sambutannya.
Dikatakannya, bahwa Temu Pendengar tidak sekali ini saja, tetapi akan berlanjut dengan pertemuan-pertemuan lain. Tidak harus di Yogyakarta, tak harus Indonesian DX Club yang menjadi penyelenggara. Kalau ditilik dari usianya yang masih sangat belia, bisa dikatakan sebagai satu langkah yang berani, karena mengumpulkan orang sebanyak 40 lebih bukanlah merupakan pekerjaan yang gampang.
Namun hal ini dibantah keras oleh Ketua Panitia, Dwi Budhi Rahardjo, "Kita harus berani melangkah. Tanpa keberanian, kapan kita bisa maju ?" Pertemuan ini memang lain dari pertemuan yang pernah diselenggarakan oleh beberapa perkumpulan sejenis di Indonesia. Temu Pendengar 1993 menyajikan acara yang lain dari yang lain. Kali ini peserta diajak untuk mengenali dunianya, DXing.
"Di Indonesia, DXing belum memasyarakat. Sebagian besar pendengar radio di Indonesia masih sekedar menjadi pendengar saja, padahal ada hal-hal yang menarik kalau dikaji lebih lanjut," ujar Aries Subagyo dalam sambutannya. Melalui Temu Pendengar 1993 ini, kita berharap, saya, Anda, kita semua bisa mengenal DXing lebih jauh dan memasyarakatkan DXing," lanjutnya.
Herman Hakim Galut juga memperkuat dengan ceritanya, "Ketika saya melaporkan peristiwa ini kepada salah seorang pemimpin redaksi dari dua buah surat kabar di Jakarta, mereka terkejut ketika saya mengatakan bahwa ada kurang lebih 20-an radio internasional yang memiliki siaran dalam bahasa Indonesia." Untuk itulah, panitia mengundang pembicara dari ORARI (Organisasi Amatir Radio Indonesia) Lokal Yogyakarta.
Tampil sebagai pembicaranya adalah dokter Bharoto Winardi Soeprono, YB2WW, seorang ahli ginekolog Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Tokoh dengan segudang pengalaman di amateur radio ini tampil dengan makalah setebal enam halaman, dengan judul "SWL dari Sisi Pandang Seorang Amatir Radio." Dan, tentu saja, tidak ketinggalan bintang tamu kita, Asbari Nurpatria Krisna, pengasuh acara DX Komunikasi Radio Nederland.
Asbari, yang sudah tidak bisa mengencangkan ikat pinggang lagi karena tubuhnya yang "makmur", datang khusus ke Indonesia untuk acara ini. "Jauh-jauh dari Belanda, saya datang khusus untuk Anda, Indonesian DX Club." Sebagai pengasuh acara DX Komunikasi, memang Asbari punya hubungan erat dengan Indonesian DX Club. Melalui satu-satunya acara DX berbahasa Indonesia yang diasuhnya, Anda bisa mengetahui aktivitas Indonesian DX Club.
Beberapa kali ikut berpartisipasi di dalam acara tersebut, tentunya akan disusul dengan kontribusi lain. Asbari yang datang sebagai tamu memang benar benar menjadi bintang tamu. Meski datang sebagai tamu tapi naluri jurnalistiknya tetap jalan terus, ini bisa dilihat dari kesibukannya di tengah tengah acara. Tape recorder tidak pernah lepas dari mantan pemimpin redaksi sebuah majalah ibukota ini. Anda bisa mengikuti sebagian dari jalannya Temu Pendengar 1993 ini dalam acara DX Komunikasi yang diasuh olehnya.
Amatir radio dan short wave sudah, bagaimana dengan FM-nya ? Kali ini pun para penggemar siaran FM (FM hunter atau FM DXer) juga punya bintang tamu, Ariadi Saptomo, Direktur Teknik dan Pemasaran Radio Gema Cecya Dhaksinarga (GCD) FM Stereo 104.05 MHz ini, datang khusus memenuhi undangan panitia. Radio FM di daerah Gunungkidul ini memang punya hubungan dengan Indonesian DX Club.
Meski belum berhasil menghadirkan wakil BBC langsung dari London, panitia berhasil menghadirkan salah seorang stinger-nya, Sidik Jatmika. Suaranya pastilah sudah Anda kenali lewat siaran BBC. Secara berkala, Sidik Jatmika mengirimkan berita-berita untuk BBC Siaran Indonesia. "Saya pun nanti akan memberikan laporan ke London tentang kegiatan Temu Pendengar ini," katanya.
Dalam hal sambut-menyambut, tidak ketinggalan mantan penyiar Radio Veritas Asia, Herman Hakim Galut. Suaranya sekarang sering mengudara lewat acara DX Komunikasi Radio Nederland. Herman tertarik akan Temu Pendengar dari salah seorang peserta, Eddie Setiawan, untuk itulah Bung Herman menyempatkan diri datang ke Yogyakarta. Dikatakannya, bahwa pertemuan-pertemuan semacam ini memang perlu, dan harus ada kelanjutannya.
Secara keseluruhan, acara Temu Pendengar mampu menarik minat para peserta, terutama dalam acara yang sifatnya santai, yaitu selingan. Dalam kesempatan itu dilemparkan kuis, yang ternyata sangat menarik mereka. Ada beberapa hal yang lucu dan menarik di sini. Sebagai contohnya, adalah menebak suara, nama acara, dan lainnya. Ternyata sebagian besar peserta belum kenal akan suara dan nama penyiar radio.
Acara Sains dan Teknologi asuhan Candraningsih Priadi di BBC London ditebak sebagai acara Dunia Olah Raga. Sebagian besar para peserta terkecoh dengan kata "damdaman" yang memang jadi topik pembicaraan dari potongan rekaman kaset yang diputarkan sebagai pertanyaan. Lebih lucu lagi nama para penyiar jadi berantakan, Takatori menjadi Sakatonik, Takadono menjadi Sakadono, Panusunan menjadi Pingsutan, dan masih banyak lagi hal-hal yang mengundang tawa.
Dari semua hal itu, tampak sekali bahwa kebanyakan pendengar masih sekedar mendengar saja. Nama acara, nama penyiar, nampaknya kurang mendapat perhatian mereka. Mungkin dianggapnya kurang penting, atau mungkin secara kebetulan, mereka bukanlah pendengar stasiun tersebut. Boleh jadi, kalau mereka "setia" niscaya hal-hal semacam itu tidak akan terjadi. Tak kalah menariknya adalah acara door prize-nya.
Panitia menaruh kertas di bawah kursi, dan bagi yang bisa menemukan, berhak akan hadiah. Wah, kontan semuanya pada mengangkat kursinya masing-masing, mencari-cari ada nggak kertas yang dimaksudkan. Tidak puas dengan kursinya, kursi orang lain diambilnya, terutama kursi yang kebetulan tidak ada yang mendudukinya. Sungguh, hal ini sangat di luar dugaan panitia, acara semacam ini justru menarik minat mereka.
Ternyata, bukan soal hadiahnya, tetapi enjoy-nya yang menarik untuk mereka. Ini bisa dilihat dari komentar mereka yang menanyakan, kok kuisnya hanya itu. Menanggapi pertanyaan tersebut, Ketua Panitia, Dwi Budhi Raharjo mengatakan bahwa panitia sebenarnya sudah menyiapkan beberapa acara kuis. Hanya sayangnya, karena keterbatasan waktu dan tenaga, hingga semua acara belum bisa terlaksana. Sebagai contohnya acara kuis, kaset sebenarnya sudah disiapkan, ada tune identitas stasiun, tune acara, dan tebak suara penyiar.
Sayang ada yang tercecer, namun dengan kondisi yang darurat ternyata dapat mengundang respon seperti itu. Lain kali, tidak tercecer lagi deh !! Secara keseluruhan, pada acara hari pertama memang cukup menarik, terutama pada acara pembagian souvenir dan kuis. Namun, yang perlu mendapat perhatian di sini adalah acara diskusi. Di sini, tampak sekali para peserta bingung akan apa yang harus mereka perbuat. Meski sudah diberikan kesempatan untuk bertanya, hanya sebagian kecil saja yang mencoba menghidupkan suasana tersebut.
Sayang memang. Kesempatan yang sangat bagus tersebut tidak dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh peserta. Ini memang menjadi satu tanda tanya, keengganan mereka untuk bertanya itu, apakah karena sudah atau justru tidak tahu sama sekali. Atau mereka masih grogi, atau karena mereka kelelahan setelah menempuh perjalanan ke Yogyakarta. Segudang pertanyaan memang patut dilayangkan pada mereka, mengapa mereka seperti itu ? Justru di tempat lain, mereka yang tidak bisa hadir, ingin mengajukan pertanyaan langsung.
Asbari Nurpatria Krisna pun juga merasakan hal itu. Ketika tampil untuk menanggapi pertanyaan, tapi ternyata tidak banyak menerima pertanyaan. "Silakan Anda mengajukan pertanyaan, kritik, saran, sepedas apa pun saya akan menerimanya. Saya belajar untuk memerahkan telinga saya," pintanya. Ini sangat berlainan dengan surat yang masuk ke redaksinya, karena dalam surat-surat yang masuk, ternyata banyak kritik.
Tetapi, dalam kesempatan tersebut tidak ditemukan. (Orang Indonesia sekarang sudah dimanjakan dengan hadiah, Mas. Mestinya ada hadiah bagi yang bertanya. Ditanggung deh, semua akan bertanya, red). "Temu pendengar 1993 kali ini dihadiri oleh peserta 40 lebih, kalau dilihat dari jumlah yang mendaftar, hanya sekitar 60 persen saja," ujar Dwi Budhi Rahardjo agak kecewa.
Sejak hari pertama sudah muncul satu-persatu dari Lumajang, Surabaya, Tuban, Jember, Pekalongan, Kudus, Jatiwangi, Jakarta, Indramayu, dan tentunya dari Purworejo dan Yogyakarta sendiri, ditambah dari Solo dan Karanganyar di hari kedua. Hendrik Rotinsulu dan Nike Lie bersama si kecil Errel datang terlambat, sehingga harus kehilangan jejak hari kedua. Hari kedua adalah acara tur ke obyek wisata.
Di dalam satu kesempatan malam sebelumnya ditetapkan bahwa tur ke Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dan Candi Borobudur, bukan ke Candi Prambanan, Monumen Yogya Kembali, serta Pantai Parangtritis. Rupanya mereka bertiga menyusul rombongan ke sana. Akhirnya dapat bertemu di lokasi Temu Pendengar di sore harinya, saat mana sebagian peserta sudah bubar. Sayang memang.
Sebagai langkah awal, tentunya Temu Pendengar 1993 ini masih banyak kekurangan. Beberapa acara, seperti presentasi atau diskusi tidak bisa berjalan sesuai rencana, karena keterbatasan waktu. Dan nampaknya, waktu istirahat dan santai memang sangat diperlukan bagi para peserta. Ini menjadi satu masukan untuk masa datang. Membengkaknya anggaran Temu Pendengar 1993 juga dirasakan panitia, seperti yang dijelaskan Ketua Panitia dalam sambutannya.
Tetapi yang pasti, panitia sudah berusaha untuk bekerja sekuat mungkin memberikan pelayanan sebaik-baiknya. Namun demikian, masih banyak kekurangannya. Kalau dikatakan sebagai langkah awal tentu ada langkah kelanjutannya. "Pertemuan ini memang tidak hanya berakhir di sini saja, masih ada pertemuan-pertemuan lain di masa datang. Indonesian DX Club akan menyelenggarakan pertemuan secara berkala tiga tahun sekali, diantaranya adalah Temu Pendengar, DX Camping, dan Musyawarah (Kongres) Nasional IDXC," ujar Aries Subagyo menanggapi.
Acara Temu Pendengar memang direncanakan sebagai langkah awal dari pertemuan-pertemuan lainnya. Diharapkan kelak Temu Pendengar bisa diselenggarakan di kota lain ataupun oleh perkumpulan lainnya. Dengan demikian, pertemuan semacam ini bisa melibatkan peserta lebih banyak lagi, tidak hanya dari kalangan anggota Indonesian DX Club sendiri.
"Pertemuan ini bisa diikuti oleh siapa saja, tak ada batasan harus anggota IDXC. Pertemuan ini harus berlanjut dan tidak harus IDXC yang menjadi penyelenggara," ujar Aries Subagyo. Sebagai langkah awal, tentunya bisa dikatakan sukses. Kesuksesan tersebut mustahil bisa diraih tanpa peran serta rekan-rekan lain. Untuk itu, panitia banyak mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah memberikan bantuan, baik material dan moral untuk suksesnya pertemuan ini. Sampai jumpa di pertemuan lainnya. Salam 73's. (Tim Dirgantara)
Dokter Bharoto Winardi Soeprono : SWL Hanya Meninggikan QSLing
Dokter Bharoto Winardi Soeprono, YB 2 WW, nama yang sudah tidak asing lagi di jagat amatir radio, dalam Temu Pendengar 1993 tanggal 13 Februari 1993, menyajikan makalah setebal enam halaman dalam acara diskusi. Acara diskusi ini merupakan salah satu rangkaian acara Temu Pendengar yang dihadiri 40 orang lebih. Tampil sebagai pembicara, ahli ginekolog RS Panti Rapih Yogyakarta ini tampil cukup memikat dengan makalah "SWL dari Sisi Pandang Seorang Amatir Radio."
Mas Wien, sapaan akrabnya di kalangan amatir radio mengatakan Short Wave Listeners (SWLers) hanya meninggikan beban QSLing. Kenapa ? "Karena terus terang saja QSL card Anda itu tidak banyak berguna bagi kita. Kami tidak bisa mengklaim award, sedangkan jumlah QSL card yang dari amatir sendiri sudah ratusan ribu jumlahnya. Masih ditambah SWLers," katanya.
"Sedangkan, data teknik," lanjutnya, "Bisa kami peroleh dari amatir radio lewat komunikasi 2 arah, jadi kami mohon maaf beribu maaf, kami ngga bisa mengirim ke Anda. Mungkin Anda punya anggapan bahwa respon dari seorang amatir radio kok jelek banget. Sekarang ini "ngeplongke" surat mahal, apalagi ke luar negeri. Tapi yang "njelehi" bukan ngirimnya, tapi nulisnya itu. Kalau hanya satu nggak apa-apa, kalau seribu ?" ujar Mas Wien membela diri.
"Tak boleh salah," katanya, "Kalau salah ngga laku, tidak boleh ditip-ex, dan maklum, saya belum mampu menggaji sekretaris," lanjutnya. Selama kurang lebih dua jam, penerima Nugraha Menteri Parpostel dan Medali Kelas I ORARI untuk aktivitas dan pembinaan komunikasi amatir radio ini, berhasil memikat peserta Temu Pendengar. Hanya sayangnya, topik pembicaraan yang memang agak asing membuat peserta bingung.
Kurangnya respon saat sesi diskusi dibuka memang menjadi tanda tanya. Ini menjadi satu catatan, di era globalisasi informasi, ternyata kita masih acuh tidak acuh. Padahal kita tahu, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menguasai informasi. Bagaimana dengan Anda ? Di awal pembicaraannya, Mas Wien mengatakan, ada berbagai cara untuk menjadi amateur radio. Di antaranya adalah tahu atau melihat kegiatan amatir radio, kepingin, kemudian ikut ujian dan jadi amatir radio.
Menanggapi pertanyaan tentang amatir radio, Mas Wien mengakui kalau masih banyak anggapan bahwa amateur radio itu adalah mereka yang punya perangkat dan transmit (mengudara, red). "Seorang amatir radio itu punya aturan main tersendiri, harus tahu elektronika, lulus ujian amatir radio, bayar iuran, dan sebagainya," katanya. "Tanpa melalui tahap itu, bukan amatir radio, tapi pemancar gelap," lanjutnya.
Pemrakarsa dan sekaligus anggota All Indonesian Contest Committee ini mengatakan bahwa SWLers pada hakekatnya bukanlah orang yang asing bagi amateur radio. Hanya saja, ada pembatasannya di sini. Di Indonesia, para SWLer belum memperoleh tempat di ORARI, sebagai satu-satunya organisasi sosial yang dibentuk pemerintah melalui PP No.21 tahun 1967, ORARI memang belum mewadahi SWLers.
"Itu sangat berbeda dengan di luar negeri, misalnya Perancis, Belanda, Swedia, Norwegia, bekas Uni Soviet, Yugoslavia, Ceko, Slowakia. Di sana, SWLers ditampung dalam organisasi amatir radio," jelasnya. "Kami sendiri belum bisa meraba seberapa jauh aktivitas Anda, tetapi melalui Temu Pendengar saya bisa menerima gambaran.
Tahu-tahu di sini banyak juga yang kumpul. Sebagai amatir radio, saya juga seperti amatir radio lainnya. Disadari atau tidak, saya sering melakukan SWLing (Short Wave Listening), walau tidak mendengar siaran broadcast. Jadi bukan BCLing (Broadcast Listening). Saya sendiri ingin juga bergabung dengan Anda (Pintu terbuka lebar Mas !! red)."
"Saya," lanjutnya, "Sering dengerin kapal-kapal komunikasi di CW. Saya sering dengerin berita interpol melalui teletype, yang kalau di Amerika dilarang. Saya suka dengerin komunikasi antara kedutaan besar, KBRI Manila kirim berita ke Jakarta. Jadi, sedikit banyak, saya juga melakukan SWL," akunya. "Saya mempunyai dua buah receiver yaitu Yaesu FRG-7 communication receiver, kemudian "Sanjin".
"Kita orang bilang Sangean," ujarnya dengan nada setengah mengejek, "Saya memakai Sangean AT-830, yang bisa HF sampai UHF. Saya tahu bacanya "Sanjin" setelah saya berkunjung ke pabriknya." Dari SWLing, Mas Wien pernah pula menolong kapal yang tenggelam di lepas pantai Besuki. Suatu saat, mungkin Anda juga menemukan hal serupa. (bo)
Ucapan Terima Kasih
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak pihak yang telah membantu kami dalam Temu Pendengar 1993 :
1. Bapak Joe Comman, Kepala Regio Asia Radio Nederland
2. Bapak Asbari Nurpatria Krisna, Pengasuh DX Komunikasi RN
3. Bapak dr. Bharoto Winardi Soeprono, YB2WW
4. Bapak Ahriadi Saptomo, Dir. Pemasaran & Teknik Radio Gema Cecya Dhaksinarga (GCD) FM 104,05 MHz, Yogyakarta
5. Saudara Sidik Jatmika, Stringer BBC Siaran Indonesia
6. Bapak Herman Hakim Galut, Jakarta
7. Saudara Eddie Setiawan, Jakarta
8. Grup Induna, Jakarta
9. Radio Nederland, Hilversum
10. Suara Jerman Deutsche Welle, Koln
11. BBC Siaran Indonesia, London
12. Perwakilan Radio Australia, Jakarta
13. Siaran Fajar Pengharapan, Bandung
14. Suara Amerika, Washington, D.C.
15. United Arab Emirates Radio, Dubai
16. All India Radio, New Delhi
17. Radio Sweden International, Stockholm
18. Radio Osterreich International, Vienna
19. KNLS The New Life Station, Anchor Point
20. KSDA Adventist World Radio (AWR) Asia, Guam
21. The World Service of the Christian Science Monitor, Boston
22. Radio Veritas Asia, Manila
23. Suara Tiongkok Merdeka, Taipei
24. FEBC Station KFBS, Saipan
25. Bapak Tetsuyu Hirahara, Jepang
26. Radio Jepang NHK, Tokyo
27. Radio Korea KBS, Seoul
28. Kedubes Republik Federal Jerman, Jakarta
29. Dan lain-lain yang tak bisa kami sebut satu persatu atas bantuannya, baik moral maupun material. (Panitia)