Catatan Pinggir
Anda suka nonton film Mandarin ? Mungkin Film "Son on the Run" tidak terlewatkan. Film yang dibintangi oleh Mo Shao Chung, Lo Mei Wei, dan Shao Po Lin ini sangat menarik untuk ditonton. Film ini masuk kelas tearjerker, atau penguras air mata, dengan akhir bahagia. Namun bukan seperti halnya, maaf, film-film kita sendiri, yang mudah ditebak. Bukannya saya ingin atau bermaksud untuk mengajak Anda untuk tidak mencintai produksi dalam negeri.
Bukan itu. Dan harap Anda jangan keburu menilai saya ke sana. Lantas, apa hubungannya dengan hobi kita ? Saya yakin, di antara Anda masih ada yang belum tahu akan istilah DX. Ini juga bisa kok. Namun saya tidak mengajak Anda untuk menelusuri jalur ke sana, atau mengikuti jalan ceritanya. Silakan Anda tonton sendiri. Malah lebih puas, mengasyikkan. Bukan begitu ?
Proses pembuatan. Ya, proses pembuatan itulah yang kali ini saya soroti. Namun dari sisi lain. Seperti yang pernah saya baca di salah satu tabloid yang terbit di Indonesia, ternyata pembuatan film ini tidaklah semudah seperti yang, mungkin, Anda bayangkan. Satu adegan yang merupakan puncak dari film ini, sangat menegangkan. Mo Shao Chung, alias Benny Mok, memerankan, dalam cerita film tersebut, seorang stuntman, yang terjun dari gedung berlantai 10.
Ternyata, untuk syuting semacam itu tidaklah mudah. Kesulitan pertama adalah mencari lokasi yang tepat. Maklum sajalah, kebanyakan gedung gedung setinggi itu biasanya terletak di pusat keramaian, sedangkan untuk syuting semacam itu, tentunya, mengundang perhatian masyarakat sekitar. Hal ini tentu mengkhawatirkan kepolisian setempat. Dengan terlebih dahulu mengosongkan gedung, adegan "terjun" baru bisa dilakukan.
Maka, tidaklah mengherankan kalau film ini konon memerlukan biaya yang tidak sedikit jumlahnya, kira-kira Rp 2 milyar. Dengan hasil atau mutu yang boleh dibilang bagus, rasanya biaya sebesar itu, tentunya bisa tertutupi. Bahkan kemungkinan malah akan mendatangkan keuntungan. Penonton yang keluar dari gedung bioskop pun akan puas. Namun, apakah penonton tahu bagaimana sulitnya membuat film tersebut ?
Saya yakin, sebagian besar penonton tak ambil peduli soal itu. Datang, duduk, nonton, puas (tidak). Kira-kira begitu. Tidak (jarang sekali) yang berpikir ke sana. Apalagi sampai ke hal-hal mendetail, seperti masalah perencanaan sampai biaya. Saya yakin Anda tidak berpikir demikian. Benar kan... ? Hal ini tidak hanya terjadi pada tontonan semacam film. Sandiwara radio misal, beberapa waktu lalu Indonesia dilanda demam sandiwara radio.
Setelah munculnya Sandiwara Radio "Saur Sepuh", muncullah serial lain, mengekor kesuksesan pendahulunya. Mungkin Anda sempat mengikuti Acara "Seni dan Budaya" Radio Nederland asuhan Leo Murbandono Hs. Ataupun acara tertentu. Pendengar tidak tahu bagaimana proses pembuatannya. Dari ide yang timbul tidak setiap waktu, hingga tertuang dalam bentuk rekaman, sampai ke telinga pendengarnya.
Pendengar tidak tahu itu. Maka tidak mengherankan kalau ada penyiar atau pengasuh acara yang, mungkin, kurang bisa menerima kritik kritik pendengar, yang seolah-olah kurang menghargai karya tersebut. Satu usaha atau kerja keras untuk memberikan yang terbaik kurang dihargai pendengarnya. Hanya karena ketidak tahuan pendengar akan proses pembuatannya. Harap Anda jangan mengira ngira atau menebak siapa yang saya maksudkan.
Toh, saya tidak bermaksud jelek kan ? Sebaiknya kita instropeksi diri sendiri saja. Ha... ha... ha... Anda mungkin sudah tahu ke mana kira-kira arah pembicaraan saya. Ya, saya memang mengarah ke kita sendiri. Silakan saja Anda tebak ke mana kira-kiranya. Ha ha, macem ending film saja, ya... ?! (Aries Subagyo)