Sosok
Hobi mendengarkan radio ternyata banyak manfaatnya, banyak yang bisa diperoleh dari suatu sarana yang murah dan (mungkin) meriah juga. Salah seorang rekan kita, IDXC-018/INS, ARSAN HASAN, yang tinggal di pulau yang sudah kita kenal sejak SD dulu, pulau Buton, yang terkenal dengan aspalnya, mengalami juga. Berangkat dari situlah, bapak dari seorang anak ini mengembangkan dirinya dengan dasar-dasar atau pedoman dari apa yang dia peroleh dari siaran-siaran yang dia ikuti.
Bagaimana kisah, kesan, ataupun pengalaman dia, melalui ruangan Sosok ini dia menuturkan kepada Anda. Mendengarkan radio adalah suatu hobi atau kegemaran tersendiri bagi setiap orang, apalagi radio yang bertaraf internasional baik seksi bahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. Kita tahu bahwa mendengarkan radio, selain menambah pengetahuan, dan juga memperoleh banyak informasi-informasi baru, yang kita terima dari berbagai belahan bumi kita, yang belum sempat dimuat di media massa, atau surat kabar.
Dengan adanya klub-klub pendengar dari berbagai kota di Indonesia, secara langsung membina kita untuk hidup lebih kreatif, serta berusaha untuk membangun diri kita, sesuai dengan profesi kita masing-masing. Kemudian, dengan kita mendengar radio, bisa menambah persahabatan di antara penyiar dari berbagai stasiun radio luar negeri, juga bisa kita jalin persahabatan di antara pendengar.
Orang yang hobi mendengarkan radio, tentunya juga hobi korespondensi, demi untuk mendapatkan sahabat, barang-barang cetakan dari berbagai negara. Apalagi kita sebagai penggemar yang tergabung di antara klub klub pendengar radio, yang utamanya Indonesian DX Club, yang bisa berfungsi sebagai sarana informasi di antara sesama pendengar, juga bisa saling kontak lewat buletin, sebagai sahabat angkasa.
Saya bernama Arsan Hasan, seorang pendengar radio dari kota Bau-bau Buton, di sebelah selatan Sulawesi Tenggara. Saya ingin menceritakan pengalaman saya selama mendengarkan radio khususnya radio luar negeri seksi bahasa Indonesia. Ketika itu, saya masih duduk di kelas I MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Bau-bau, Buton. Radio Luar Negeri Seksi Bahasa Indonesia yang pertama kali saya dengarkan adalah RASI (Radio Australia Siaran Indonesia).
Dengan pedoman acara nomor 48-A berwarna kuning, yang merupakan balasan dari RASI waktu itu, saya mulai mengawali hobi memantau radio luar negeri. Menurut saya, pada waktu itu, walaupun saya belum aktif mendengarkan radio, saya sudah merasa senang, dan akhirnya di tahun 1988, mulai aktif mendengarkan. Sambil menulis surat yang ditujukan kepada staf RASI maupun pendengar lainnya.
Ada kesan yang menyebalkan, yakni ketika kita sedang asyik mendengar radio, tiba tiba lampu padam, apalagi saat nama kita dipanggil. Begitu sebal sekali rasanya bila tak dapat mendengarkan. Tetapi bukan hanya yang menyebalkan, namun ada juga yang menyenangkan, yakni saat kita mengikuti sayembara dari berbagai stasiun yang diselenggarakan melalui udara oleh radio yang bersangkutan.
Apabila pemenangnya kita, waduh bukan main, satu rumah pun bisa tahu, secepat kilat. Saya pernah mendapat hadiah dari RASI, sejak sayembara yang pertamakalinya seingat saya sudah 50 kali saya mendapat hadiah. Berbicara tentang hadiah sayembara, ada juga hadiah sayembara Radio Korea yaitu T-shirt Radio Korea warna putih, kemudian menyusul hadiah lainnya dari radio yang sama, yaitu gantungan kunci, taplak meja, album perangko Korea, radio mini, kalender, gandengan jam internasional.
Kemudian, di tahun 1991 yang lalu, juga mendapatkan penghargaan dari Radio Korea, yaitu monitor Radio Korea, dengan nomor RKL-102327, dan sudah 2 tahun saya terpilih menjadi monitor tetap Radio Korea. Juga mendapatkan sertifikat dari Suara Tiongkok Merdeka. Selain itu, saya juga menjadi anggota klub pendengar Radio Australia, dengan nomor anggota Nra-89092759, Pegari Club SW-890015, Radio Listeners Club R-1649, dan tentu Indonesian DX Club IDXC-0018/INS.
Di samping itu terpilih menjadi monitor Radio Veritas Asia dengan nomor 2040, Suara Jerman nomor 194234. Di samping itu, bukan hanya hobi mendengar radio luar negeri, tetapi juga hobi mengumpulkan perangko dari berbagai negara, dan koleksi kartu pos bergambar. Dengan adanya klub-klub yang ada di Indonesia sebagai sarana pertemuan-pertemuan anggota, dan pertemuan dari perwakilan radio luar negeri untuk menjalin tali persahabatan sesama bangsa yang ada.
Saya juga hobi korespondensi, bukan saja lewat radio tetapi juga lewat kedutaan negara yang bersangkutan. Dengan pengalaman mendengarkan radio luar negeri, saya sendiri telah mempunyai kartu C-7 untuk urusan pos, yaitu kartu pengenal yang dikeluarkan pihak kantor pos. (po / bo)