Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 2 No 5 Nov-Des 1992
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
Sejarah Radio
Opini Anda
Sosok
Antena
Profil Receiver
Aneka Info
Dunia DX
Catatan Pinggir
Review Top 50
Redaksi

Volume 2
  Profil Stasiun
Radio Imelda 104.4 FM Stereo

Sudah bukan menjadi barang yang aneh, kalau teknologi penyiaran di jalur FM dapat kita temui di kota kecil sekalipun. Apalagi, kota seperti Semarang. Namun bagaimana dan mengapa mereka memilih jalur FM ? Itulah yang mungkin tidak sama, antara satu dan yang lainnya, mungkin juga termasuk Radio Imelda FM Stereo 104.4 MHz.

Stasiun yang bermula dari kegiatan amatir oleh kalangan anak-anak muda di daerah Erlangga dan Pandanaran ini, sekarang mengudara dari daerah perbukitan, di Kompleks Bukit Sari Gombel. Rekan Ajie Soekardy dan Aries Subagyo sempat menemui SUHARYANTO, Penanggung Jawab P.T. Radio Imelda, yang menuangkan dalam tulisan berbentuk wawancara.

Sebagaimana layaknya radio-radio swasta lain, mereka berangkat dari hobi mengudara secara amatiran. Namun, semenjak adanya peraturan dari pemerintah yang mengatur mengenai siaran radio, beberapa stasiun berbenah diri, termasuk Radio Imelda. "Radio Imelda lahir atas gagasan dari anak-anak muda Semarang, khususnya yang saat itu duduk sebagai mahasiswa Universitas Diponegoro.

Tepatnya mereka yang tinggal di daerah Erlangga dan Pandanaran, maka kami namakan Imelda, yang merupakan kependekan dari Ikatan Muda Mudi Erlangga Pandanaran," ujar Suharyanto. Pertama kali mengudara dari daerah sekitar RRI, lantas pindah lagi ke Labuan Raya, pindah lagi ke dr. Cipto. Di akhir tahun 1979, pindah ke Indragiri Raya, dan mulai Februari 1992 kemarin pindah ke Bukitsari, tepatnya di Bukit Putri 3.

Motivasi apa yang mendasari Imelda pindah-pindah tempat ?

Perlu kita ketahui, bahwa keberadaan radio swasta sekarang ini sudah bukan bersifat amatir lagi. Sudah benar-benar merupakan ladang bisnis, dalam artian, mampu menampung tenaga kerja. Kita sudah berhubungan langsung dengan masyarakat. Sehingga kami pun punya prinsip, bahwa lokasi yang lama itu sudah tidak memungkinkan lagi untuk berkembang. Lantas kami mencari lokasi yang lebih memungkinkan untuk berkembang, dalam arti, segala kreativitas kami bisa tertampung dan tersalurkan.

Mengapa pula pindah jalur ke FM ?

Memang, sejak akhir tahun 1988, kami berpindah ke jalur FM. Kami memandang bahwa letak geografis kota Semarang ini ada dua daerah, yaitu dataran rendah dan tinggi. Untuk daerah rendah itulah, kami tidak bisa men-cover-nya.

Tahun 1988, teknologi FM belum begitu dikenal. Bagaimana Imelda mengantisipasinya saat itu ?

Kami bukan yang pertama di FM, jadi kami pun punya gambaran atau pandangan, bagaimana kalau FM itu juga kami terapkan. Dan memang, saat itu, masih kecil prosentasenya (pendengarnya, red.), tapi prospeknya bagus.

Alasan lain ? Barangkali bisnisnya ?

Yah, katakanlah itu merupakan strategi kami. Memang, kami pun tidak memungkiri, bahwasannya klien itu akan melihat-lihat dahulu, bagaimana media yang akan mereka pergunakan untuk mempromosikan produknya. Sedangkan, kita sendiri melihat bahwa kota Semarang yang untuk kodya saja sudah ada 16 stasiun. Secara otomatis pula, klien akan memasang iklan di stasiun-stasiun, yang kalau bisa, akan didengarkan oleh sebanyak mungkin pendengar.

Dalam kenyataannya, apakah pertimbangan Imelda tepat ?

Kalau bicara tepat tidaknya, ada beberapa masalah yang menentukan di situ. Mengingat banyaknya stasiun di sini, maka tidak mungkin toh kalau semua klien memasang di kami. Sebagian besar masih produk nasional. Di samping itu, klien sendiri sudah bisa menentukan klasifikasi produk. Mereka juga melihat, untuk masyarakat kelas yang manakah produk mereka. Sehingga kami dituntut untuk memiliki suatu format tertentu.

Segmen pendengarnya sendiri, Imelda mengambil yang mana ?

Dulu, waktu kami di AM, kami mengkhususkan diri di segmen pendengar wanita, dengan golongan menengah ke bawah, dengan usia sekitar 12-25 tahun. Setelah kami coba untuk beberapa tahun, ternyata hasilnya kurang memuaskan. Lantas kami mengevaluasi, ha, setelah kami pindah ke FM, timbul suatu gagasan. Kami mengadakan studi banding ke beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung. Ternyata, pendengar FM itu sebagian besar adalah anak muda.

Berangkat dari situlah, ada suatu kesepakatan, bahwasannya kami akan meninggalkan segmen yang lama, atau kami mencoba menggarap segmen baru. Dan kami merombak total, baik segmen yang kami tuju maupun acara yang kami sampaikan. Segmen wanita meski sebenarnya menggigit terpaksa kami tinggalkan. Sekarang ini, kami menggarap segmen 19-29 tahun dengan tingkat sosial menengah ke atas.

Hasil SRI untuk Imelda bagaimana ?

Menggembirakan, kita bisa merebut 5% pendengar kota Semarang. Itu merupakan persentase terbesar untuk Semarang di antara stasiun FM.

Terbanyak untuk FM atau secara keseluruhan ?

Saat itu ada empat stasiun radio FM, hanya kami masih mempertanyakan Radio Gajah Mada FM, karena saat itu masih dalam masa transisi. Kami masih di bawah mereka, jadi apakah hasil itu murni untuk FM ataukah campuran.

Bagaimana dengan format acara yang dipakai Imelda ?

Untuk format, dengan ada banyak stasiun di sini, ini sangat menyulitkan kami. Makanya, kami pun coba menggunakan suatu format yang lain dari mereka. Kita orientasinya ke musik hiburan, tapi tak ada klasifikasi. Kita ambil semuanya, tapi tetap ada kriteria. Kami sesuaikan dengan sasaran kami juga. Nggak bisa dong, kita sembarangan ambil. Kita mengambil menengah ke atas. Nah, jadi kita main di pop, pop kreatif dalam hal ini, terus jazz, dan kemudian rock, dan disko rap. Itu yang kami pakai.

Bagaimana persentase acaranya ?

Tidak jauh berbeda dengan aturan dari pemerintah, meski sebenarnya itu tergantung pada radio masing-masing. Setiap tahunnya, kami diwajibkan membuat pola siaran yang kami ajukan kepada pemerintah. Dalam hal ini, Badan Pembina Siaran Radio Non Pemerintah, Kanwil Departemen Penerangan. Dan itu sudah ada plot-plotnya, dan kami mau nggak mau harus konsisten dengan yang telah kami sampaikan pada pemerintah.

Mengingat stasiun radio swasta hanya memperoleh pendapatan satu satunya dari iklan, bagaimana menurut Anda, apakah Imelda sudah memenuhi standar ?

Kalau aturan atau ketentuan dari pemerintah, memang 25 persen, tapi dalam kenyataannya, kami akui Imelda hanya bisa mencapai 20 persen. Itu pun dalam keadaan normal yah. Nah, karena adanya kebijaksanaan dari pemerintah, yaitu pengetatan uang, terus terang saja, itu berpengaruh dalam bisnis ini. Penyediaan dana untuk promosi juga terpengaruh.

Pandangan Imelda terhadap materi berita, sejauh mana keperluan tersebut dalam menunjang siaran ? Terutama, dalam hal menarik minat pendengar untuk tetap memantau Imelda ?

Kita harus bisa membedakan antara berita dan informasi. Radio swasta tidak diperkenankan untuk membuat berita, jadi kita hanya merelai dari RRI, kemudian yang sifatnya informasi, kami menyisipkan di antara siaran siaran kami.

Untuk informasi dunia misalnya, adakah itu ?

Kita mengambil dari luar negeri, kita punya hubungan dengan radio luar negeri, dalam hal ini BBC. Bahannya mereka yang kirim, tapi dari semua bahan itu, tidak semuanya kami gunakan. Bahkan mungkin sangat sedikit. Untuk informasi, kita lebih memfokuskan ke dalam negeri sendiri. Kita sinkronkan dengan keadaan masyarakat yah, karena kita di Semarang, kita tunjukkan yang ada di Semarang, bukan di London.

Ada stasiun panutan ?

Bagi kami, untuk melakukan hal itu adalah salah. Kami bisa melakukan studi banding, tapi kami tidak harus mengopi mereka secara persis. Kami pelajari dulu. Lantas, bagaimana dengan daerah kita ? Cocok nggak ? Jangan terlalu sentris, apalagi minded.

Mengingat kondisi topografi kota Semarang, untuk bisa meng-cover wilayahnya, apa tidak ada usaha untuk menggunakan stasiun link ?

Tidak, tidak ada, pemerintah belum izinkan radio swasta menggunakan stasiun link. Kalau kita boleh menggunakan, kita tak akan pindah ke sini (Kompleks Bukit Sari, red.), cukup aja dari bawah sana. Ngapain kami harus investasi lagi di sini. Biayanya besar lho...

Mungkin ada semacam jaringan kerja dengan stasiun lain ?

Nggak ada. Terserah, monggo. Saya nggak bisa mengomentari hal itu. Karena itu bisnis ya, gimana, kita nggak bisa mengomentari masalah ini. (Baca juga Dirgantara edisi 2 (2) Mei-Juni 1992, red.)

Berapa radius jangkau Imelda ?

Tujuh puluh lima kilometer, tapi tidak menutup kemungkinan bisa diterima lebih dari itu, bahkan kurang dari itu. Kami sulit mendeteksinya.

Kekuatan pemancarnya ?

Untuk radio swasta, aturannya 100 watt, namun mungkin ada yang lebih, tapi kami pakai 100 watt.

Tadi dikatakan, kalau masalah pola acara agak merepotkan, dan itu aturan dari pemerintah. Adakah ganjalan lain ?

Rasanya tidak ada.

Masalah perizinan mungkin ?

Ya, masa berlaku terlalu pendek, seharusnya agak diperpanjang sedikit, agar kami bisa merencanakan secara matang untuk jangka waktu yang panjang.

Media elektronik sudah merebak ke mana-mana. Karena itulah, Imelda dituntut mengembangkan dirinya. Termasuk dengan menspesialisasikan dirinya. Meski saingan-saingan baru banyak bermunculan, apalagi dengan adanya rencana pendirian televisi swasta, mereka tetap yakin mampu eksis. Imelda yakin kalau radio masih diperlukan.

"Mungkin nggak, orang ngerjain komputer sambil nonton televisi ? Atau mandi sambil nonton televisi ? Kemungkinan kemungkinan macam inilah yang menjadi keyakinan kami," ujarnya di akhir bincang-bincangnya di studio dengan Dirgantara. OK, maju terus, pantang mundur !!! (ASB)

 
Dirgantara Online - Vol 2 No 5 Nov-Des 1992
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space