Laporan dan Berita
Radio Republik Indonesia Pro 2 FM
Bosan ? Terobosan !! Sejak 1 April 1992, Radio Republik Indonesia melebarkan sayapnya dengan lebih mengomersialkan saluran Programa 2. R. Baskara, Kepala Stasiun RRI, sebelumnya sudah sering mendengar adanya pelecehan terhadap mutu siaran RRI dari sesama rekan pemancar yang menganggap mutu siarannya paling begitu-begitu saja. "Saya bilang pada mereka, kalau diberi kelonggaran, saya bisa lebih baik daripada Anda," katanya ketika itu.
Kemunculan RRI Pro 2 FM merupakan pengejawantahan dari jawaban Baskara. Radio yang berada pada gelombang 105.1 MHz ini memberi porsi hiburan yang lebih besar ketimbang informasi. Selama ini, memang ada kesan bahwa RRI terlalu banyak memberikan penerangan dan penyuluhan kepada masyarakat, tapi kurang sekali memberi hiburan yang bermutu. Demikian pula yang terjadi pada Programa Ibukota 1, yang memberi porsi besar pada penerangannya.
RRI Pro 2 FM merupakan pilihan alternatif yang menyerap aspirasi pendengarnya. Berdasarkan riset yang kami lakukan, para pendengar di Jakarta sudah tersedot 38 stasiun yang ada, yang masing-masing sudah memiliki segmen-segmen tertentu. Mereka menginginkan hiburan bermutu dan sajian informasi yang tak membosankan," jelas Baskara lebih lanjut. Ditambahkan olehnya, Menteri Penerangan Harmoko pernah menganjurkan untuk mencari terobosan baru, agar RRI didengar oleh masyarakat.
Salah satu cara yang ditempuh adalah menjalin kerja sama dengan PT Hasmuda Internusa Perdana. Tugas pihak Hasmuda adalah mencari iklan dan melakukan penelitian secara berkala. Setelah tiga bulan berjalan, RRI Pro 2 FM telah menyiarkan iklan sebanyak 10 sampai 15 persen, dari 25 persen siaran niaga yang ditargetkan. Dari segi siarannya, RRI Pro 2 FM berusaha melayani para pendengarnya, yakni mereka yang berpendidikan SLA ke atas, menginginkan hiburan, lagu, berkualitas.
Empat dari tujuh penyiarnya didatangkan dari luar RRI. Mereka ini dinilai memiliki ketrampilan penyiar, mampu menyesuaikan dengan pendengar. Selain itu, dengan peralatan yang didatangkan langsung dari Inggris, dan sistem link station yang dipakai, di mana antena pemancarnya berada di daerah Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, telah menambah kualitas siaran dari segi teknisnya.
"Kami mendatangkan penyiar dari luar, karena penyiar yang berada di RRI sangat terbatas, sebab banyak penyiar kami yang ditarik ke TVRI dan TPI. Kami juga melihat bahwa penelitian masih lemah di sini. Untuk itu, kami bekerja sama dengan pihak kedua untuk melakukan penelitian secara berkala. Antara RRI dan PT Hasmuda sudah membentuk komisi siaran, yang mengeluarkan keputusan untuk dijadikan pijakan di dalam siarannya. Misalnya, kami tidak memberitakan masalah masalah politik, tapi hanya memberitakan yang umum umum," kata Baskara.
Mungkin yang dapat dikatakan, terobosan baru RRI Pro 2 FM adalah adanya jurnalisme gaya baru, di mana para penyiarnya langsung turun ke jalan, untuk memberitakan secara langsung masalah masalah aktual, seperti masalah Undang Undang Lalu Lintas yang masih meresahkan masyarakat pemilik kendaraan. "Informasi yang kami berikan berupa wawancara pendek pendek, lima menit, sebab zaman sekarang, orang sudah tak suka dengan pembicaraan yang terlalu lama. Tapi seluruh acara yang disiarkan RRI Pro 2 FM tetap mengacu pada kebijakan RRI," ujar Baskara. (Bintang / sep / idxc)
Radio di Wilayah Cirebon
Di wilayah Cirebon, media elektronik yang hadir dengan nama RRI Regional II Cirebon, akhir tahun 1945, lebih dikenal dengan nama Radio Perjuangan. Perkembangannya lebih mengarah pada menggerakkan dan menggelorakan semangat nasionalisme. Walau dalam pelaksanaannya, siarannya harus berpindah pindah lokasi. Menurut salah seorang perintis, adanya siaran radio di Cirebon, yaitu Bapak Tarba, untuk mengudara pada zaman dahulu, banyak menemui kesulitan, di mana siarannya hanya dapat didengar oleh masyarakat Cirebon.
Hal ini dikarenakan peralatan yang dipergunakan masih buatan sendiri, dan hanya berkekuatan 300 watt, namun pada kurun waktu 1952-1959, siaran di Cirebon resmi masuk jawatan radio. Walaupun demikian, RRI tetap berupaya hadir tiap hari mengunjungi pendengarnya. Baru pada tahun 1961-1967, RRI Regional II Cirebon makin menancapkan cakar, dengan kekuatan daya pancarnya mencapai 11 kilowatt. Keberadaan RRI Regional II Cirebon banyak sekali manfaatnya yang dirasakan oleh masyarakat Cirebon itu sendiri.
Pada tahun 1984, RRI Regional II Cirebon baru memulai babak baru, di mana lokasinya dulu bertempat di Jalan Siliwangi, pada tahun tersebut berpindah ke Jl Brigjen Dharsono. Jalan ini adalah jalan penghubung yang vital antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pada tahun 1991 lalu, RRI Regional II Cirebon mulai merambah jalur FM, dengan frekuensi 107.3 MHz, di samping menggunakan gelombang 347,22 dan 125,52 meter.
Seperti apa yang dikatakan oleh Kepala RRI Cirebon, Bapak Bagus Giarto, kiat RRI merambah ke jalur FM dengan maksud untuk dapat merangkul pendengar lebih banyak lagi. Di samping ditunjang dengan penataan program secara apik, jadi selain disiarkan program prioritas, juga ditampilkan acara menarik lainnya, seperti Siaran Pedesaan, Acara Remaja, Lagu-lagu Klasik Cirebonan, Siaran Kebudayaan, Sarasehan, dan mengadakan pertunjukan langsung pada akhir bulan, berupa Wayang Golek, maupun Wayang Kulit.
RRI Cirebon tidak merasa khawatir akan ditinggalkan pendengarnya, meskipun di wilayah III Cirebon terdapat 16 stasiun radio, antara lain di Kotamadya dan Kabupaten Cirebon : Studio Radio Daerah (Sturada) Tingkat II Cirebon, El Thema, Wahana, Sindangkasih, Prima Sonata, Maritim Rasisonia FM, Leo; Kuningan : Sturada Tingkat II Kuningan, Linggar Jati Utama; Majalengka : Sturada Tingkat II Majalengka, Indra Swara, Angkasa Media, dan Fantasi 70; Indramayu : Sturada Tingkat II Indramayu, Ria Cindelaras.
Perluasan jangkauan RRI Regional II Cirebon ternyata banyak manfaat yang diraih, dan ternyata untuk tiap harinya, tidak kurang dari 2500 surat datang ke RRI Cirebon. Dalam soal pendanaan, RRI Cirebon tidak hanya memanfaatkan dana pemerintah, tapi mengelola juga pemasukan dari iklan. Dana tersebut didaya gunakan seefektif mungkin sesuai dengan fungsinya dan tugas RRI.
Untuk meningkatkan siaran, RRI Cirebon baru baru ini mengirimkan tiga orang teknisinya ke Australia, dengan maksud agar ketrampilannya makin luas, yang pada akhirnya bisa dimanfaatkan oleh RRI Cirebon. Selama tiga tahun terakhir ini, RRI Cirebon juga mengirim 30 orang karyawannya untuk dibina dalam pendidikan diploma dan dasar keradioan. Kini, RRI Regional II Cirebon memiliki 130 orang karyawan, dan yang paling besar adalah pada bagian pemberitaan. (skn / ir)