Catatan Pinggir
Usia 47 tahun bukanlah usia yang muda lagi. Radio Republik Indonesia tahun 1992 ini berusia 47 tahun. Tentunya, sudah banyak yang diperbuat oleh RRI. Sejak zaman revolusi dulu, radio yang satu ini memang banyak berperan. Barangkali, Anda pernah membaca atau mendengar ceritanya sendiri, bagaimana para pejuang yang berusaha untuk mengudara dan juga menghindari serangan "cocor bebek" Belanda yang ingin membumi hanguskan pemancarnya.
Saat itu, memang mengudara secara gelap gelapan, atau istilah dalam dunia radio, "clandestine" atau bawah tanah. Anda juga bisa mengikuti Profil Stasiun edisi ini, yang menyoroti Suara Indonesia. Di situ diungkap bagaimana kiprah pejuang kita dalam mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan. Dengan resiko nyawanya melayang, mereka mengudara. Bapak Yoesoef Ronodipuro yang membaca Proklamasi Kemerdekaan tersebut harus menanggung "digebuk" tentara Jepang ketika itu.
Di samping di Jakarta, di daerah pun juga berlangsung siaran siaran yang punya motivasi perjuangan, misalnya saja di Desa Balong, Karanganyar, Surakarta, di bawah pimpinan Bapak Maladi. Kalau kita melihat ke belakang, memang RRI sangat berperan di dalam perjuangan saat itu. Bagaimana dengan sekarang ini ? Di tengah era globalisasi informasi saat ini, tentunya situasi dan kondisinya sudah berlainan.
Kalau zaman dulu, siarannya semata-mata demi perjuangan, yang identik dengan materi atau isi siarannya. Sekarang ini, informasilah yang menjadi titik bidiknya. Bagaimana menyampaikan informasi, terutama akan hasil hasil pembangunan masyarakat Indonesia saat ini. Kira-kira begitulah peranan RRI saat ini. Apakah RRI sudah menunaikan tugasnya dengan baik ? Ini tentunya bisa mengundang jawaban yang bervariasi. Tergantung dari kaca mata siapa.
Sebagai media informasi pemerintah, barangkali memang kita harus akui kalau RRI sudah pada tempatnya. Akan tetapi bagaimana dengan media hiburannya ? Kita masih mempertanyakannya, mengingat persaingannya dengan radio radio swasta semakin ketat. Bahkan ada kesan kalau RRI tertinggal untuk masalah yang satu ini. Masih banyak yang perlu dibenahi, misalnya saja gaya penyiarnya yang masih terasa kaku dan formal, tidak sesuai dengan dunia pendengarnya. Yang untuk masalah yang satu ini adalah kalangan anak muda.
Herman Helmy, Kepala Bidang Penyelenggaraan Siaran RRI Nusantara II Yogyakarta kepada Dirgantara mengakui akan hal tersebut. Bahkan dirasakan juga kalau ada penurunan dedikasi dan loyalitas karyawannya, di samping masalah manajemennya sendiri. Sebagai media komunikasi siaran, seharusnya RRI di-"manage" secara manajemen siaran, bukan manajemen perusahaan, seperti yang dialami RRI saat ini.
Terlepas dari kesemua itu, yang pasti sudah banyak yang dilakukan RRI. Tentu saja kita berharap agar RRI bisa berkembang dan sejajar dengan media media sejenis semacam BBC, Suara Amerika, Radio Nederland, Deutsche Welle, dan ABC. Paling tidak, yaa mendekatilah. Indonesia yang merupakan negara kepulauan, peranan RRI jelas sangat diperlukan, untuk menyatukan wilayahnya yang sangat luas.
Bangsa yang mampu menguasai informasi adalah bangsa yang menguasai dunia. Bagaimana dengan Indonesia ? Ah, silakan Anda jawab sendiri. Dirgahayu Radio Republik Indonesia. Sekali di Udara, Tetap di Udara. (Aries Subagyo)
Redaksi
Pemimpin Redaksi / Penanggung Jawab
Aries Subagyo
Wakil Pemimpin Redaksi
Drs. Herbert Sunu Budihardjo
Redaktur Pelaksana
- Ajie Soekardy
- Florentina Ina Rimawati
- Dwi Budhi Rahardjo
- Gunarto
Redaktur Khusus
- Soekirno
- Kustiyono
- Supriyadi A.G.
- Julian Anderson