Sosok
Hobi mendengarkan siaran radio luar negeri ini mulai saya tekuni pada tahun 1982. Pada awalnya saya tidak begitu mengetahui manfaat dari DXing ini, namun saya banyak belajar dari buku-buku impor tentang kegiatan DXing ini, demikian tulis Ruzy Kosasih, IDXC-016/INS, dalam suratnya untuk ruangan ini. Ada pengalaman yang menarik untuk Anda ketahui, dengan Kenwood R-2000 dia melanglang buana setiap malam. Yang berminat mengetahui apa dan bagaimana pengalamannya, ikuti ceritanya berikut ini.
Saya mulai mencoba mendengarkan siaran Radio Luar Negeri, ketika itu saya menemukan siaran dari Radio Beijing. Waah ... rasanya senang sekali, setelah saya coba mengirimkan laporan penerimaan dan mendapat surat verifikasi. Ini merupakan verifikasi yang pertama bagi saya, tapi bukan kartu verifikasi atau QSL card. Ketika itu saya menggunakan pesawat penerima Sharp Stereo, tentu saja kurang komplet. Atau kalau boleh meminjam istilah sekarang, kurang canggih peralatannya, dari situ berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi elektronika. Khususnya pesawat penerima.
Saya berkeinginan untuk memiliki pesawat penerima jenis komunikasi yang komplet peralatannya, di mana tersedia untuk penerima Single Side Band atau SSB baik untuk LSB maupun USB, lantas saya beli pesawat Yaesu FRG-7700. Kemampuan pesawat ini menurut saya sangat baik, baik untuk sensitifitas dan selektivitasnya. Untuk memperoleh informasi lebih banyak lagi, saya bergabung dengan HAP CLUB di Australia (sekarang klub ini sudah tidak ada lagi). Dan secara kebetulan, nama saya dimasukkan dalam anggota baru klub Radio Belgia (BRT ILC, red).
Nah, dari buletin BRT ILC inilah, saya mendapatkan teman seorang DXer senior dari negeri Belanda, saya banyak belajar dari dia. Kami saling tukar informasi, hingga pengetahuan saya tentang kegiatan DXing ini bertambah. Pada awalnya, saya hanya mendengarkan siaran dari seksi bahasa Indonesia dan Inggris. Namun saya merasa tidak puas, sebab saya ingin mengoleksi seluruh QSL dari seluruh penjuru dunia.
Saya punya obsesi ingin mendapatkan kartu QSL disamping memperoleh informasi dari seluruh dunia. Untuk itu setiap malam saya selalu mencari frekuensi-frekuensi stasiun baru, kadang tengah malam hingga subuh, saya "melanglang buana" melalui receiver Yaesu saya (sekarang sudah ditemani Dirgantara kan ? Mitra Anda Melanglang Buana, red). Hingga saat ini, saya telah mengumpulkan sekitar 86 negara dan ratusan stasiun.
Namun hal yang paling menggembirakan adalah saya merupakan orang pertama dari Indonesia yang mengirimkan dan mendapatkan kartu QSL dari Trans World Radio Sri Lanka, yang mana stasiun ini beroperasi pada band MW, dan termasuk salah satu stasiun yang paling sulit untuk dimonitor. Sampai saat ini pun saya tidak berhasil lagi walaupun telah mencoba memonitor stasiun itu. Dengan demikian, hanya sekali saja dalam kurun waktu enam tahun belakangan ini saya memantau siarannya. Yang kedua, saya menerima kartu QSL dari Radio Vilnius, Lithuania. Radio Vilnius ini mengudara pada SW.
Saya tidak hanya memantau siaran dari stasiun broadcast saja, tapi juga memantau siaran VOLMET (pengatur lalu-lintas udara untuk pesawat terbang), dan saya juga telah berhasil mendapatkan kartu verifikasinya. Benar-benar menyenangkan memang hobi DXing ini, kita bisa melanglang buana hanya dengan telunjuk jari. Asal kuat bergadang, Anda akan merasakan bahwa Anda rasanya bisa terbang ke negara-negara tempat pemancar yang Anda pantau. Melalui hobi DXing ini, banyak sekali yang dapat kita dapatkan.
Tidak hanya informasi keadaan dunia sekarang, namun kita juga dapat memonitor kegiatan radio amatir, stasiun Volmet, dan stasiun pengecek waktu (time signal station, red), dan semua stasiun itu memberikan kartu QSL yang menarik. Saya ingin membagi pengalaman DXing ini. Silakan kirim surat ke Pinangsia Raya 27, Jakarta 11110. Nah, selamat buat rekan Ruzy Kosasih, IDXC-0096/INS, souvenir dari kami akan segera melayang ke alamat Anda. Siapa menyusul ? (IR)