Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 2 No 4 Sep-Okt 1992
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
Opini Anda
Antena
Sosok
Dunia DX
Aneka Info
Catatan Pinggir
Redaksi

Volume 2
  Profil Stasiun
Voice of Indonesia : Suara yang Masih Asing bagi Kita

Mungkin Anda agak asing dengan suara yang satu ini, karena memang siaran yang satu ini ditujukan ke luar negeri. Namun pendengar domestik bisa juga menerima sinyalnya, meskipun dengan mutu yang kurang bagus. Suara Indonesia, siaran luar negeri Radio Republik Indonesia, belumlah begitu dikenal masyarakat luas. Jangankan masyarakat luas, di kalangan pencinta gelombang pendek saja belum. Ini memang suatu dilema yang menjadi PR buat Suara Indonesia. Di tengah-tengah persaingan dengan media asing, Suara Indonesia nampak makin terseok-seok saja.

Apa dan bagaimana Suara Indonesia menyelenggarakan siaran siarannya, rekan Aries Subagyo berhasil mewawancarai Hasan Ashari Oramahi, Kepala Bagian Produksi dan Siaran Suara Indonesia, dan juga Anastasia Yasmin, penyiar Suara Indonesia. Nano SA melengkapi dengan bahan bahan yang tersedia. Ikuti tulisannya dalam bentuk wawancara berikut.

Bagaimanakah sejarah atau riwayat berdirinya Suara Indonesia ? Barangkali Bapak mengetahui sejarahnya ?

Sewaktu Proklamasi Kemerdekaan diumumkan di Pegangsaan Timur, bulan Agustus 1945, di malam itu juga ada seorang senior kami, Bapak Yusuf Ronodipuro, membawa naskah Proklamasi untuk disiarkan di sini (Gedung Studio RRI, red). Jadi hanya beberapa jam setelah proklamasi dikumandangkan, disiarkan juga melalui RRI. Beliau sekarang masih ada, beliau yang membaca naskah Proklamasi di lantai dasar gedung ini.

Setelah beliau membacakan naskah Proklamasi tersebut, dia keluar dari sini, dan kepergok keimpetai, beliau digebuk hingga babak belur. Lantas beliau lari dan lari ... dan buntu di jalan pojok, yang sekarang Gedung Telkom. Di situ, beliau ditolong oleh R. Basuki Abdullah (pelukis, red), beliau diberi kain sarung dan baju. Kemudian beliau pulang, dan mampir ke rumahnya Pak Karbol (Dr. Abdurrahman Saleh, red) di Jalan Kimia, di belakang Universitas Indonesia.

Dan mulai hari itulah, mereka merencanakan serta menyelenggarakan siaran RRI. Waktu itu, belum ditujukan ke dalam negeri. Jadi siaran luar negeri itu duluan lahirnya. Waktu itu, call sign-nya "The Voice of Free Indonesia", atau terjemahannya "Suara Indonesia Merdeka". Sejak itulah, mulai muncul tokoh-tokoh lain, seperti Pak Maladi, Sam Amir, Badrun, merekalah tokoh-tokoh pendiri RRI.

Secara pastinya, tanggal lahir Suara Indonesia itu kapan, Pak ?

Kalau tanggal lahir Suara Indonesia, yang pasti pada 17 Agustus 1945, sedangkan hari lahir RRI tanggal 11 September 1945. Itu adalah hari pertama dikeluarkannya maklumat, penunjukan dari jawatan penerangan pada beberapa tokoh waktu itu, antara lain Pak Maladi, yang ditugaskan untuk membentuk semacam badan siaran radio, dengan Pak Karbol, Pak Maladi, merintis siaran radio pada hari itu. Dan sekarang, setiap tanggal 11 September diperingati sebagai Hari Lahir RRI, Hari Radio. Mulai 11 September 1961, istilah Hari Radio diganti menjadi Hari Bakti RRI.

Kalau dulu menggunakan nama Voice of Free Indonesia. Lantas, sejak kapan berubah menjadi Voice of Indonesia ?

Saya tidak tahu kapan persisnya berubah. Mungkin karena pertimbangan pertimbangan tertentu pada saat itu, karena saat itu masa transisi, kata Free Indonesia punya maksud karena Indonesia saat itu belum diketahui oleh masyarakat dunia. Tahunya adalah Hindia Belanda, bekas jajahan Belanda, kemudian jajahan Nippon (Jepang, red).

Oleh karena itu, kata Free Indonesia, menurut saya, mempunyai artikulasi sendiri. Karena itu menunjukkan bahwa Indonesia sudah merdeka, dan akhirnya mungkin pertimbangan tokoh-tokoh saat itu, Indonesia sudah banyak diketahui, sehingga kata Free Indonesia tidak perlu dipakai lagi, dan berganti nama menjadi Suara Indonesia.

Ada berapa bahasa yang disiarkan oleh Suara Indonesia ?

Sekarang ini siaran luar negeri RRI berbicara dalam sepuluh bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Jerman, Mandarin, Jepang, Thai, Spanyol, Arab, dan Melayu.

Bagaimana proses suatu bahasa itu dipakai dalam siaran tersebut ?

Kita lihat kembali tujuan atau gagasan menyelenggarakan siaran radio, sebagai media komunikasi, dia kan ingin berkomunikasi dengan sejauh dan seluas mungkin wilayah sasarannya. Kita tahu dunia ini sekarang kan begitu kecilnya, Anda tinggal begini (Pak Hasan mengetok kursi yang diduduki memeragakan memencet tombol), Anda bisa melihat Amerika. Beda dengan zaman dulu kan.

Saya rasa, media radio ini digunakan secara filosofis, sebagai alat untuk menjalin persahabatan dengan bangsa-bangsa lain yang ada di dunia ini. Dalam abad komunikasi sekarang ini, yang istilah kerennya globalisasi, tidak satu bangsa pun mampu hidup sendiri, ada saling ketergantungan. Negara raksasa sekalipun tidak bisa hidup sendirian, interdependensi itu mesti ada. Misalnya, RRI menyiarkan siaran dalam bahasa Mandarin, bukan berarti mau mencampuri urusan dalam negeri rakyat Cina.

Justru sebaliknya kita membina hubungan kerjasama, kita menjelaskan. Nah, ini bedanya siaran RRI dengan radio-radio asing luar negeri seperti BBC, Suara Amerika, Radio Australia. Berbeda karakteristiknya, beda sekali. Kami itu menyelenggarakan siaran semua tentang Indonesia. We are talking about us to the world. Kami jelaskan segala sesuatu tentang Indonesia, kami tidak jelaskan tentang demonstrasi di Tiananmen. We never do it.

Akan tetapi kami jelaskan bagaimana proses pembangunan di Indonesia, bagaimana pemerintah mengatasi permasalahan pangan, masalah ledakan penduduk, masalah transmigrasi, masalah keluarga berencana, dan segala sesuatunya tentang Indonesia. Berbeda sekali dengan Radio Australia, misalnya. Dia lebih tahu apa yang terjadi di Indonesia dari pada yang terjadi di Australia sendiri. Tapi kita tidak pernah melakukan itu, kita cari aman saja. Kita tak cari musuh, lebih baik kita cerita tentang kita.

Lha, Indonesia begini lho, tentu juga begini. Untuk mengatasi pangannya sekian ratus juta, pemerintah melakukan ini. Indonesia juga merupakan paru-paru dunia. Bagaimana tuduhan dari negara-negara barat, bahwa kita merusak hutan tropis, kita jelaskan alasan kita. Kita jelaskan yang sesungguhnya terjadi. Bahwa pemerintah itu juga punya kebijakan.

Kita mempunyai program bahwa penebangan hutan itu untuk kepentingan pembangunan nasional, ada penanaman kembali. Oleh media barat, kita dituduh tak pernah melaksanakan reservasi, tidak melakukan pelestarian. Kita bahkan sekarang melakukan pelestarian satwa-satwa langka.

Jadi pertimbangan masalah jumlah penduduk tidak ada dalam hal ini ?

Tidak, kita kembali ke tujuan penyiaran tadi.

Apakah tidak ada keinginan untuk menambah bahasa lagi ?

Wow ... keinginan itu selalu ada, kalau dari sudut pandang kami, sebagai broadcaster, kami ingin sama dengan BBC, yang bisa menyelenggarakan siaran dalam 40 bahasa. Tapi, kita harus sesuaikan dengan kemampuan yang ada pada kami, karena menyelenggarakan satu siaran membutuhkan dana yang besar sekali. Kami tidak bisa hanya buka, misalnya, bahasa Rusia. Kita juga harus mempertimbangkan masalah keuangan.

Soal melangkah gampang, tapi bagaimana konsekuensinya sesudah itu. Untuk satu siaran radio, biaya satu jam siaran itu tidak kurang dari satu juta rupiah. Dan dalam dunia penyiaran, ada hukumnya, hukum penyiaran namanya. Tidak ada siaran yang terselenggara tanpa adanya dana yang memadai, itu sudah rumus. Karena tidak ada dananya, lebih baik kita terima apa adanya dulu.

Apakah Suara Indonesia bisa diterima di seluruh bagian dunia ?

Kalau keinginan kami memang demikian. Tapi semua banyak dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kekuatan pemancar. Suara Indonesia, pada saat ini ditopang oleh tiga pemancar, yang kondisinya sudah tidak 100%. Di Cimanggis, kami punya dua pemancar, dengan kekuatan 100 kiloWatt, sedangkan di Padang Cermin, kami punya satu pemancar berkekuatan 250 kiloWatt, tapi keluarannya tidak 100%, kadang-kadang hanya 60%. Itu pun harus ditopang dengan suku cadang yang baik, yang memadai. Nah, semua itu membutuhkan dana yang besar sekali.

Ada rencana dari pemerintah untuk meningkatkan daya pancar ini. Yang penting bagi kami ialah melaksanakan tugas-tugas pokok kami. Tentang bagaimana suplai serta transfusi dana yang diberikan oleh pemerintah, kalau memang memadai, tentu saja pemerintah akan meningkatkan daya pancar. Tapi dalam keadaan demikian pun kami masih menerima surat dari luar negeri. Tentu saja, tidaklah sebanyak radio asing lain, karena mereka disokong oleh dana yang cukup memadai. Terus ada rangsangan rangsangan lain. Untuk sementara, kita hanya sebanyak itu.

Dari sekian banyaknya surat yang masuk, apakah dari ke semua ada terwakili ?

Yang jelas, ada dari negara-negara yang penduduknya berbahasa sesuai dengan bahasa yang disiarkan, seperti bahasa Spanyol. Bahasa ini kan tidak hanya digunakan di negara Spanyol, tetapi juga di negara-negara Amerika Latin. Bisa Anda lihat di situ (Pak Hasan menunjuk papan yang bertempelkan surat dari luar negeri), ada beberapa surat dari Venezuela dan Meksiko. Negara-negara tersebut memang dulunya berada di bawah kekuasaan Spanyol.

Lantas bahasa Jerman, itu tidak hanya dari Jerman, tapi juga dari Belgia, Swiss, Austria. Apalagi bahasa Inggris yang sudah luas penggunaannya. Surat-surat, kami pergunakan sebagai barometer, apakah siaran kami itu didengar atau tidak ? Tetapi ada juga pendengar yang pasif. Dia mau mendengar, tapi malas menulis. Itu juga kami perhitungkan, tapi yang riil, yang langsung masuk ke kita juga ada. Kita ada rekapitulasi setiap bulan, desk ini masuk surat sekian.

Bagaimana dengan seksi bahasa Inggris sendiri, mengingat bahasa ini banyak negara yang menggunakannya sebagai bahasa nasional. Kalau dibandingkan dari dalam dan luar negeri, itu bagaimana ?

Jumlah surat yang masuk lumayan, tetapi kami lebih banyak menerima surat-surat dari luar negeri. Terima dari lima benua, dari Eropa, Afrika. Tapi kebanyakan berupa laporan.

Bagaimana dengan siaran bahasa Indonesia, barangkali ada surat yang masuk dari orang-orang yang ada di luar negeri ?

Ada, contohnya seperti Jafar Sidek, dia orang Malaysia, Singapura, juga orang Indonesia yang menikah dengan orang luar negeri, karena merasa kangen atau rindu, dia mendengar siaran berbahasa Indonesia.

Dari sekian banyak seksi, seksi mana yang paling banyak menerima surat ?

Bukan seksi, tapi desk. Tentu saja, yang lebih sering menyiarkan, lebih banyak menerima surat. Dalam hal ini, desk bahasa Inggris.

Bagaimana komentar mereka atas siaran-siaran Suara Indonesia selama ini ?

Banyak yang mengatakan bahwasanya mereka dapat menangkap siaran kami dengan baik, mereka sangat tertarik dengan musik dari Indonesia. Dan juga tentang berita yang kami siarkan. Tapi, ada juga yang kurang bisa menangkap siaran kami karena terganggu siaran radio lain.

Pada umumnya, mereka mengirimkan dengan jelas sekali SINPO-nya. Dari SINPO itu, kami bisa mengetahui bahwa mereka bisa menangkap siaran kami dengan baik. Ada juga yang mengirimkan rekaman rekaman. Biasanya disertai dengan kupon (kupon IRC, red). Maksudnya supaya dapat langsung dibalas.

Berdasarkan pengamatan saya, baik itu dari buletin luar negeri maupun dari surat surat yang saya terima, kebanyakan mengeluh bahwa surat surat balasan dari Suara Indonesia itu seret sekali. Padahal sudah disertai perangko juga. Setelah dicoba berkali kali, baru dibalas. Bagaimana, kok sampai demikian ?

Kami punya bagian yang menangani surat surat, jadi bukan dari tiap tiap desk. Masing masing desk memberikan laporan tentang surat surat yang harus dibalas. Karena kini pemerintah Indonesia sedang "mengencangkan ikat pinggang", terpaksa kami harus memprioritaskan pada surat surat yang masuk sudah dua tiga kali, tetapi pasti dibalas, hanya waktunya lamban. Jadi itu tergantung pada kepala tiap tiap desk, seringkali masing masing desk mengecek, sudah dibalas belum ... ow sudah.

(Memang, ketika Dirgantara berkunjung ke studio, sempat mendapati surat surat pendengar yang dipak dalam karton. Ketika ditanyakan surat apa, dijawab surat pendengar yang belum dibalas. Kaget juga melihat tumpukan surat yang begitu banyak dan harus dibalas.)

Bagaimana desk bahasa Inggrisnya, apakah ada juga surat masuk dari pendengar dalam negeri ?

Hanya sedikit, persentasenya sedikit sekali, katakanlah kalau kita terima sepuluh surat, dari dalam negeri paling cuma satu.

Suara Indonesia saat ini mempergunakan stasiun pemancarnya di Padang Cermin dan Cimanggis. Apakah tidak ada keinginan untuk mendirikan stasiun relai di luar negeri ?

Itu semua tergantung pada kondisi keuangan, juga butuh negosiasi yang rumit. Kami mendirikan pemancar di wilayah teritorial negara lain, harus ada pembicaraan dengan Departemen Luar Negeri. Suara Indonesia ada rencana mendirikan pemancar besar di Jayapura dan Ujungpandang.

Dengan maksud mem-beam ke Pasifik dan Asia Timur, seperti Rusia, Jepang, Australia, sampai Amerika Latin, pesisir barat pantai Amerika. Semua sudah masuk dalam rencana, tinggal bagaimana pelaksanaannya, menunggu tersedianya dana yang cukup dari pemerintah.

Saat ini banyak stasiun yang mengadakan kerja sama untuk stasiun relai, hingga biaya yang terlalu mahal bisa ditekan. Apakah Suara Indonesia tidak berkeinginan untuk ke sana ?

Departemen Penerangan punya kerja sama dengan beberapa organisasi sejenis, tapi untuk stasiun relai masih kami pikirkan nanti.

Lantas, kerja samanya dalam hal apa ?

ABU, Asian Broadcasting Union, menghimpun badan badan siaran radio di Asia Pasifik, ada juga di tingkat ASEAN, namanya COCI, Committee On Culture and Information. Di ABU sendiri sering juga diadakan semacam kompetisi, dan kami ikut juga, untuk COCI, ketuanya sekarang Indonesia (tahun 1991, red.) dan dijabat oleh Dirjen RTF, Bapak Alex Leo Zulkarnain.

Apakah ada semacam kerja sama membuat paket acara ?

Ada. Di COCI ada pertukaran paket paket kebudayaan, kita kan kaya akan kebudayaan, kami angkat dalam bahasa Inggris. Kemudian kami kirimkan ke lima negara lain, sebaliknya, naskah dari luar juga dalam bahasa Inggris, lantas kami terjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Kendala apa yang dihadapi oleh Suara Indonesia selama ini ?

Kendalanya hanya satu, kami tidak ditopang dengan dana yang memadai.

Memang, banyak sekali keluhan yang datang dari rekan rekan DXer, baik di dalam maupun luar negeri, yang mengeluhkan bahwa balasan surat surat dari Suara Indonesia sangat lambat dan seret. Jangankan tanpa perangko balasan, dengan disertai perangko balasan saja tidak dibalas. Setelah mengirimkan surat beberapa kali, barulah dibalas. Dan yang mengagetkan lagi adalah ketika Rekan Aries Subagyo berkunjung ke studio menemui tumpukan surat pendengar yang begitu banyaknya.

Ketika ditanyakan, "Ya ... inilah kendala kami, selain dana, juga tenaga bagian surat menyurat sangat terbatas." Jelaslah ini merupakan suatu titik kelemahan bagi Suara Indonesia. Meskipun siarannya ditujukan ke luar negeri, tak ada salahnya kalau pendengar dalam negeri diperhatikan. Dan nyatanya, memang dari dalam negerilah sebagian besar surat tersebut berasal. Bagaimana dengan Anda ??? (*)

 
Dirgantara Online - Vol 2 No 4 Sep-Okt 1992
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space