Laporan dan Berita
Sisi Lain dari Ulang Tahun RASI
Siapapun juga mengakui bahwa Radio Australia Seksi Indonesia pada masa jayanya mempunyai jumlah pendengar paling banyak dibandingkan dengan radio luar negeri siaran bahasa Indonesia lainnya. Hal tersebut dibuktikan dengan berdirinya CP Rasbi (Club Pendengar Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia), maupun Rafans Club, yang pada saat itu jumlah anggotanya mencapai ribuan.
Hingga kini, klub pendengar Radio Australia tinggal Rafans Club, yang bermarkas di Jalan Matraman, Jakarta, dengan pengelolanya Saudara Eddy Setiawan. Sedangkan klub-klub lainnya bersifat umum dan tidak berafiliasi pada salah satu stasiun radio, seperti Radio Listeners Club Indonesia (RLCI), yang sedang dilanda kemelut, maupun dan tentunya Indonesian DX Club. Herman Hakim Gallut, mantan penyiar Radio Veritas Asia, yang kini aktif menjadi wartawan, mengatakan bahwa dirinya dibentuk oleh RASI.
Namun kini pantas dipertanyakan kembali, apakah saat ini RASI masih menduduki ranking pertama, mengingat semakin banyaknya stasiun radio luar negeri yang mempunyai siaran dalam bahasa Indonesia, dan begitu ketatnya persaingan dalam menyuguhkan acara yang menarik, baik dalam penyajian berita, ulasan, musik, maupun informasi lainnya. Terlepas dari kesan yang kurang meriah dari beberapa peserta, Ulang Tahun ke-50 RASI dihadiri sekitar 30 pendengar setianya dari berbagai kota.
Bahkan ada pendengar dari Padang dan Ujung Pandang, yang sedang bertugas di Jakarta, menyempatkan diri untuk hadir, selain pendengar dari Yogyakarta, Tuban, Indramayu, dan Jakarta sebagai penyelenggara. RASI memang mempunyai ciri khas yang tersendiri, terutama penyiarnya dalam membawakan acara Pagi Gembira maupun Di Jenjang Malam, begitu dikatakan Nano S.A., karyawan RRI Nusantara II Yogyakarta. Kecintaan pada RASI diabadikan pada nama anaknya, Rasbi Putra.
Sedangkan Eddi Tando, penyiar yang menghadiri Ulang Tahun tersebut, mengatakan bahwa sering terjadi dilema manakala terjadi pemberitaan yang kurang mengenakkan bagi negara Indonesia, sehingga bagi mereka yang tidak mengetahui permasalahannya timbul suatu anggapan bahwa sang penyiar adalah seorang pengkhianat, padahal kedudukan sebagai penyiar mengharuskan untuk memberitakan, dan mereka bekerja bukan untuk pemerintah Indonesia, melainkan untuk pemerintah Australia.
Sedangkan kebijaksanaan redaksionalnya bukan merupakan tanggung jawab seksi yang bersangkutan. Sebelum diakhiri tanda tangan ucapan selamat pada kain kanvas dan foto bersama, dilakukan undian dan lelang souvenir. Uang yang terkumpul dari hasil lelang akan dipergunakan untuk membantu Surip, asal Wonogiri, yang mempunyai kelainan darah, jenis Bombay, yang jumlahnya di Indonesia bisa dihitung dengan jari. (HSB)