Catatan Pinggir
Kualitas atau Kuantitas ?
Acara DX Komunikasi Radio Nederland beberapa waktu lalu sempat mengetengahkan topik tentang pemancar pemancar Radio Nederland. Pengasuhnya, Asbari Nurpatria Krisna, mengatakan bahwa, "Penyiaran radio dengan frekuensi tunggal sudah bukan zamannya lagi. Maka Radio Nederland pun tidak ketinggalan memancar lewat dua frekuensi dari Flevo, dan dua lainnya dari Madagaskar, untuk siaran ke Indonesia. Kata kata ini membuat saya jadi merenung, saya layangkan renungan saya pada kenyataan yang ada akhir akhir ini.
Benarkah hanya dengan satu frekuensi sudah bukan zamannya lagi ? Karena saat ini pun bisa kita temui banyak stasiun radio yang masih menggunakan frekuensi tunggal. Memang, tidaklah sebanyak yang lebih dari satu frekuensi. Tentu saja, karena alasan biaya, hingga mereka hanya menggunakan satu frekuensi. Bagi stasiun yang besar, semacam BBC, VOA, Radio Nederland, Suara Jerman mungkin tak jadi masalah.
Mereka siaran dalam sebanyak mungkin frekuensi, agar bisa diterima sebaik mungkin oleh pendengarnya, karena kondisi penerimaan siaran antara daerah satu dengan daerah yang lain tidaklah sama untuk frekuensi yang sama pula. Banyak dipengaruhi oleh faktor faktor alam, keadaan geografi misalnya. Dengan frekuensi yang lebih dari satu, diharapkan banyak alternatif. Namun, dengan banyaknya frekuensi, tanpa ditunjang dengan kekuatan pemancar yang cukup, rasanya percuma saja.
Bahkan hanya buang buang uang, dan rasanya dengan satu frekuensi tunggal pun, kalau kekuatan pemancar cukup, tidak menjadi masalah. Saya yakin, Anda mengenal siaran KFBS Saipan, KTWR Siaran Fajar Pengharapan, dan Adventist World Radio, Siaran Bentara KHBI Saipan, yang mengudara dengan frekuensi tunggal, tapi bisa diterima dengan baik. Kebetulan, stasiun stasiun tersebut di atas siaran keagamaan. Namun saya kira non siaran keagamaan pun mampu.
Lantas, saya pun balik bertanya. Apakah dengan jam siaran, dengan frekuensi banyak, tanpa didukung kekuatan pemancar yang memadai itu efisien ? Efisien dalam hal finansial di sini. Anda bisa mengambil contoh Radio Korea KBS. Siaran bahasa Indonesianya mengudara lebih dari satu kali per harinya, frekuensinya juga lebih dari satu. Namun sayangnya, tidak didukung dengan kekuatan pemancar yang memadai, hingga kondisi penerimaan pun sangat buruk. Itu kan mubazir.
Akan lebih efisien, kalau dana yang diperlukan untuk siaran ulangnya difokuskan dengan satu kali jam siaran, tetapi dengan kekuatan yang memadai. Dengan siaran ulangnya yang lebih dari sekali, tapi tidak bisa diterima adalah sia-sia. Kita kembali ke tujuan penyiaran. Memberikan informasi, kira kira demikian. Namun dengan mutu yang sangat jauh dari standar, jelas tidak akan berhasil.
Ini perlu diperhatikan oleh stasiun stasiun radio semacam Radio Korea KBS, Radio Kairo, Radio Veritas Asia, Radio Pakistan, yang kondisi penerimaannya sangat buruk. Di tengah tengah persaingan yang sangat ketat, dengan mutu seperti selama ini, rasanya akan sulit untuk bersaing. Apalagi mengungguli rival rivalnya. Memang, bagi kalangan para DXer, dengan kondisi seperti itu lebih menyenangkan, karena ada rasa bangga, puas, bila berhasil tune di frekuensi yang berkekuatan kurang.
Banyak sekali stasiun di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, yang kekuatan pemancarnya hanya beberapa puluh kilowatt. Tentunya hal ini berkaitan dengan masalah dana yang memang sangat terbatas. Seperti Anda temui akhir akhir ini, banyak stasiun radio yang mengurangi jam siaran maupun frekuensinya. Namun saya yakin, dengan kondisi penerimaan yang sangat jauh dari baik, apa yang diinformasikan tidak menemui sasarannya, bukan begitu IDXCer ? (Aries Subagyo)
Redaksi
Pemimpin Redaksi / Penanggung Jawab
Aries Subagyo
Wakil Pemimpin Redaksi
Drs. Herbert Sunu Budihardjo
Redaktur Pelaksana
- Ajie Soekardy
- Florentina Ina Rimawati
- Dwi Budhi Rahardjo
- Gunarto
Redaktur Khusus
- Soekirno
- Kustiyono
- Supriyadi A.G.
- Julian Anderson