Telekomunikasi
Pemancar Asing Belum Boleh Bangun Transmisi di Indonesia
Pemerintah Indonesia tetap melarang pemancar visual asing membangun perangkat transmisinya di Indonesia demi kepentingan program siarnya. Sebab, itu melanggar ketentuan dan peraturan yang berlaku dan dapat mengganggu stabilitas nasional. Meski demikian, pemerintah tak melarang pancaran program siaran CNN yang dapat ditangkap dengan parabola. Sebab, sebelumnya masyarakat pun sudah dapat menerima program siaran pemancar asing.
Selama ini, program siaran yang dipancarkan pemancar asing dianggap tidak mengganggu stabilitas nasional. Alasannya, program siaran asing itu hanya dapat ditangkap oleh masyarakat yang memiliki antena parabola. Karena itu tidak akan mengganggu kepentingan umum. Apalagi di era globalisasi sekarang ini, masyarakat sudah dapat memilah-milah, mana yang baik dan benar.
CNN telah terikat kontrak dengan pihak Perumtel selama tiga tahun, dengan biaya Rp 6,5 milyar. Pemerintah Indonesia menolak pengajuan izin dari Emerald Network yang ingin membantu menyiarkan program pendidikan di Indonesia, lantaran pemancar asing itu ingin membangun jaringan transmisinya. (Jawa Pos, IDXC / asb)
Televisi ABC Serbu Asia
Televisi pemerintah Australia, ABC, akan serbu Asia Pasifik akhir tahun ini. Siaran tersebut akan dipancarkan lewat satelit. Isinya meliputi berita peristiwa hangat, olahraga, hiburan dan drama. Asisten Direktur ABC, Malcolm Long, mengatakan, siaran dengan satelit melintasi perbatasan antar negara adalah masa depan televisi. Ia mengatakan para pengelola siaran di Asia Pasifik, seperti ABC, harus mengambil bagian di dalam perkembangan ini.
Siaran satelit kelak akan dibanjiri oleh program bikinan di luar kawasan, tambahnya. Ia juga menunjuk bahan siaran yang berjumlah sangat besar asal Eropa dan Amerika Serikat. Sudah saatnya bagi televisi Australia, baik pemerintah maupun swasta, untuk mengembangkan siaran lewat satelit yang ditujukan ke kawasan Asia Pasifik.
ABC perlu memantapkan posisinya sebagai badan siaran regional yang tangguh, baik lewat siaran radio maupun televisi. Sementara kemampuan tiga satelit Australia, tidak mampu mencapai lebih jauh dari Selandia Baru dan Papua Nem Guinea. Karena itu badan siaran ini harus menyewa dari satelit internasional. (Kompas / efix, IDXC / ir)
CNN dan ESPN Masuk Jakarta
Cable News Network (CNN) dan ESPN, dua jaringan televisi swasta kenamaan Amerika, siap dilihat oleh penonton Jakarta. CNN merupakan salah satu TV swasta Amerika milik Ted Turner yang menjadi primadona karena penanyangan Perang Teluk beberapa waktu lalu. CNN memang dikenal sebagai televisi swasta yang memiliki penciuman tajam memburu berita.
Selain berita, CNN sering menampilkan acara-acara pertunjukan, seperti tayangan acara puncak penghargaan Academy Award, Miss Universe, serta Grammy Award. Tayangan tayangan ini sering dihadirkan kembali untuk pemirsa umum melalui dua televisi swasta RCTI maupun SCTV. Sedangkan televisi kabel ESPN dikenal sebagai televisi swasta yang mempunyai keunggulan untuk berita olahraga.
ESPN merupakan jaringan televisi kabel terbesar di Amerika Serikat yang memiliki 59,1 juta pelanggan (64 persen) dari seluruh rumah tangga di Amerika Serikat. Saat ini ESPN telah dapat diterima di enam puluh lima negara. (Jawa Pos / in / ide, IDXC / asb)
Kantor Berita UPI Bangkrut
Kantor berita AS, UPI, mengalami kesulitan keuangan untuk melanjutkan hidupnya. Karena itu diperlukan tambahan modal. Seorang evangelis TV, Pat Robertson, akan membelinya. Tetapi ternyata ia tidak jadi membeli kantor berita itu. Tidaklah mudah menjalankan kator berita pada masa sekarang ini, ketika persaingan semakin tajam, terutama dengan media elektronik. Ditambah lagi, banyak koran dan majalah, serta radio dan televisi tidak menggantungkan berita atau feature dari kantor berita.
Perusahaan-perusahaan media cetak, elektronik sudah dapat membiayai wartawannya sendiri ke berbagai pelosok dunia. Sejak Agustus 1991, UPI memang sulit untuk membayar berbagai macam keperluan, bahkan para wartawan UPI yang ideal masih menawarkan diri ke manajemen untuk hanya menerima gaji 50%. Usaha demikian baik nampaknya tidak menolong, UPI harus dicarikan pembeli.
UPI telah menemukan calon pemodal baru, yaitu seorang produsen TV, penulis dan juga pengacara bernama Leon Charney, yang dikenal sebagai penasehat Jimmy Carter, sewaktu menjadi presiden AS. Pendeta TV, Pat Robertson, ternyata hanya mau beli nama UPI ditambah kekayaan UPI. Ia tidak mau membeli semua milik UPI untuk menyelamatkan dari kebangkrutan. Yang pasti, kalau tidak ada pembeli, UPI harus ditutup dan dinyatakan bangkrut.
Pendeta Pat Robertson yang hanya menginginkan sebagian kekayaan UPI, kepada pengadilan di New York mengatakan akan memberikan tawaran baru. Ada beberapa kegiatan UPI yang ia sangat tertarik, antara lain pada kegiatan radio UPI. Medio Mei lalu, UPI sudah dilelangkan. Penawaran menarik dari Pendeta Pat Robertson yang ingin mengambil alih kegiatan UPI. Melalui jaringan perusahaan medianya, yaitu Christian Broadcasting Network atau CBN.
Pat Robertson membayar uang muka sebanyak 900 ribu dolar kepada pengadilan, dan sampai dengan 26 Mei, Ia harus dua kali membayar 150 ribu dolar lagi. Kenyataan UPI tidak menarik bagi Pendeta Evangelis ini karena hutang hutangnya yang harus ditanggung. Kantor berita AS yang sudah berusia 84 tahun ini, selama 20 tahun terakhir ini selalu merugi. Karena itu, UPI dinyatakan bangkrut untuk melindungi dari hutang yang mencekiknya. (DX Komunikasi Radio Nederland, IDXC / asb / ir)
Teknologi Komunikasi di Indonesia
Bila tahun 1992 muncul, artinya akan terjadi perubahan perubahan lagi dalam dunia siaran, karena perkembangan prinsip teknologi yang makin cepat. Pada sebuah negara seperti Indonesia, jawaban yang paling tepat bukan jawaban yang diberikan oleh Peter Wilkinson, Manajer Pengarah Siaran Regional Marconi Communication System Ltd. Ia menyarankan untuk siaran radio di Indonesia sebaiknya menggunakan SW. Jawaban ini perlu dikaji lebih mendalam lagi, karena barangkali lebih baik melihat perkembangan yang terbaru.
Kalau mungkin, siaran radio bukan lagi menggunakan gelombang pendek, tetapi satelit. Dan Indonesia, yang sudah mempunyai satelit komunikasi, dapat melompat dalam memenuhi kebutuhan informasi bagi rakyatnya. Amerika Serikat dan Jepang besar kemungkinan mendahului penggunaan satelit untuk siaran pengganti gelombang pendek. Sebuah siaran radio menggunakan satelit yang bisa diterima langsung oleh perangkat penerima di manapun berada. (DX Komunikasi Radio Nederland, IDXC / asb / ir)
Radio Australia Diharapkan Berperan Aktif Juga Menunjang ABC TV
Pemerintah Australia telah memberikan lampu hijau kepada ABC untuk memulai siaran televisi melalui satelit bagi kawasan Asia Pasifik. Karena Siaran Internasional Radio Australia sebagai bagian dari ABC, maka diharapkan akan berperan aktif dalam siaran televisi melalui satelit ini. ABC telah mengajukan usulan resmi kepada pemerintahnya. Beberapa kemungkinan dijajaki untuk melihat yang paling mudah dan murah.
Salah satu dari beberapa pilihan yang akan diambil ABC bernilai 2 juta dolar. Dalam dunia telekomunikasi kini terdapat persaingan yang lebih ketat. Sesudah keberhasilan CNN (Cable News Network) dengan TV dunianya, banyak perusahaan lain menyusul di belakangnya. BBC dan DW sudah melangkah maju. Kini ABC pun tidak mau ketinggalan.
Zaman antena parabola yang besar-besar di Indonesia mungkin akan berlalu bila pemerintah mengambil langkah teknis, seperti misalnya siaran melalui kabel walaupun ada sejumlah saluran TV regional. ABC sendiri masih meraba-raba akan mempergunakan satelit milik siapa. BBC telah menggunakan AsiaSat dan CNN telah menyewa Palapa. Masih adakah transponder tersisa untuk ABC ? Masih, dan tidak usah khawatir, karena dalam waktu dekat akan bermunculan satelit baru, misalnya Thai Satelit yang akan diluncurkan tahun depan.
Malaysia pun tidak akan ketinggalan mempunyai satelit sendiri. Banyak pengusaha televisi Amerika akan meluncurkan satelit baru. Sama halnya IntelSat akan tetap meluncurkan satelit untuk mengganti yang sudah akan kadaluwarsa. Stasiun radio atau TV merupakan media yang menyiarkan produk budaya. Ada juga mungkin yang bersifat propaganda.
Tapi bagi ABC, bagian ini dikesampingkan, karena menginginkan produk siaran bermutu agar disenangi pemirsa. CNN misal, terlalu berorientasi kepada Amerika Serikat, seperti Deutsche Welle, berusaha menyajikan rona Jerman. BBC TV pun masih tetap menonjolkan ke-Inggris-annya. Padahal dalam jalan komunikasi yang demikian cepatnya, batas negara dan budaya suatu bangsa mungkin akan bertentangan.
Namun orang masih tetap akan menyukai hal-hal yang bersifat asing atau luar negeri. Tetapi, manakala hal-hal yang bersifat asing atau luar negeri sudah terlalu jenuh, lalu apa yang mereka cari ? Akhirnya kembali pada masalah-masalah umum, universal, yang disenangi oleh banyak orang dari semua golongan, ras, dan bangsa. Produk televisi Australia, seperti diungkap Marten Espring, Direktur Pelaksanaan ABC, sangat banyak dan bervariasi, dihasilkan oleh banyak produsen.
Karena itu, ABC tidak terlalu berat memusatkan perhatian pada hal-hal yang bersifat Australia. Sama seperti BBC WS-TV yang mengaitkan siaran Radio BBC, maka ABC pun tidak akan meninggalkan siaran radionya. Ke Asia Tenggara melalui satelit memang lebih mudah, karena walaupun dekat, ternyata sinyal gelombang pendek Radio Australia pun buruk diterima. Direncanakan, ABC sudah mengudara melalui satelit pada akhir tahun ini.
Tentu timbul masalah, bagaimana perangkat keras yang sudah tersedia di antariksa itu mendapat mitra di daratan atau di bumi. Bagi ABC tidak sulit, karena sebenarnya banyak pabrik pembuat antena parabola, yang di kemudian hari, harga 1 unit akan lebih rendah dibandingkan sekarang ini. Namun ada beberapa negara yang membatasi penggunaan antena parabola, karena khawatir budaya asing masuk ke sanubari rakyat.
Akan hal ini, ABC mengambil jalan tengah, menyatakan satelit sebagai alat yang dapat melayani hal-hal umum. Walaupun produk dan siaran itu berasal dari Australia, tetapi tidak terlalu terpusat pada Australia. (DX Komunikasi, Radio Nederland, IDXC / asb / ir)