Antena
Kalau dalam Antena ini selalu menampilkan antena FM, bukan berarti tak tersedianya bahan untuk antena gelombang pendek (SW)-nya, bukannya pula kami bermaksud memanjakan mereka yang gemar akan FM hunting. Yang pasti, antena gelombang pendek pernah kami tampilkan di sini. Di samping itu, menurut pengalaman kami sendiri, antena gelombang pendek pengaruhnya terhadap kondisi penerimaan siaran tidaklah sebanyak pada antena FM.
Karena penerimaan gelombang pendek biasanya dapat dilakukan dengan antena teleskopik, lain halnya dengan gelombang FM yang dari luar kota. Harapan kami, Anda bisa memperoleh manfaatnya. Apabila Anda sudah melakukan eksperimen, dari yang pernah kami muat di sini, bagaimana hasilnya ? Kiranya dapat Anda lemparkan ke Laboratorium. Kalau Anda berhasil, tentu rekan yang lain pun ingin mengikuti jejak Anda.
Kami tunggu hasil eksperimen Anda pada ruang Laboratorium ini. Rekan Purwanto, IDXC-0043/INS di Purworejo telah mengirimkan dua buah skema antena FM model yagi. Satu buah dari Radio PTPN Rasitania FM 100.2 MHz di Solo, sedangkan satunya lagi dari Radio Suara Sakti FM 105.1 MHz di Semarang. Karena sangat menarik dan juga banyak yang menginginkannya, untuk itu kami muat di Antena.
Begitu banyaknya permintaan skema antena FM ini sangat merepotkan kami di redaksi. Untuk memperlancar tugas kami, mohon pengertian dari rekan-rekan yang menginginkan skema tersebut, sampai saat ini belum terwujud. Namun dengan cara seperti ini, memuat di Antena, akan lebih banyak yang tahu.
Kalau Anda perhatikan, kedua antena tersebut di bawah ini adalah sama dalam hal jumlah elemennya. Dengan 5 buah director (pengarah), sebuah driver (penangkap), serta sebuah reflector (penangkap dan pemancar). Jarak antar director dua cm, director dan reflector 75 cm, selisih panjang antar director dua cm, juga sama. Hanya saja, panjang director 1 PTPN 127 cm, sedangkan Suara Sakti 112 cm.
Perbedaan panjang relector, PTPN 165 cm sedangkan Suara Sakti 150 cm, panjang drive juga berbeda, 150 cm untuk PTPN dan 135 cm untuk Suara Sakti. Sayang, PTPN tidak menyebutkan diameter elemen yang dipakai seperti halnya Suara Sakti, 1/4 inchi, untuk boom-nya digunakan 3/4 inchi.
Dengan kabel koaksial 300 ohm, serta diarahkan ke stasiun pemancar, mungkin Anda bisa menangkap sinyal stasiun tersebut. Meskipun kedua antena tersebut dirancang khusus untuk menangkap sinyal dari kedua stasiun itu, tak menutup kemungkinan bisa menangkap sinyal pada frekuensi-frekuensi lainnya. (GUN)
Bagaimana Radio Nederland Pancarkan Siarannya ke Indonesia ?
Bila kita membicarakan masalah pemancar Radio Nederland, kita tidak bisa melepaskan diri dari Flevo, karena letak antena dan pemancar Radio Nederland di Flevo. Kawasan Flevo terletak 4 km di bawah permukaan air laut, sama dengan letak Schipol. Tanahnya tidak sepadat di Indonesia. Untuk memasang menara menara antena yang tinggi diperlukan teknik yang memadai. Di Indonesia telah digunakan teknik cakar ayam, tetapi mungkin juga teknik sarang laba laba atau akar kelapa. Dari segi tanah saja telah menimbulkan masalah. Namun hal itu harus diatasi.
Untuk mencapai jarak yang jauh, Flevo dilengkapi antena beam atau terarah. Dengan beam atau antena terarah ini, energi dipancarkan dengan baik. Dengan pengarahan antena ini, kekuatan pemancaran energi ke kawasan tujuan menjadi lebih kuat, juga dapat memperkecil gangguan dari pemancar pemancar lain. Tentu ini diperhitungkan secara matematis dan teknologis, namun bila masih terdapat gangguan dari stasiun lain, maka masalah ini merupakan masalah lain.
Maka masalah ini merupakan masalah lain yang erat kaitannya dengan pengaturan alokasi frekuensi, atau pembagian frekuensi dan jam siaran. Memancarkan siaran hanya satu frekuensi sudah bukan zamannya lagi, karena itu Radio Nederland membuat beberapa antena di Flevo. Ke Afrika dengan arah 127 derajat, ke Asia dengan arah 123 derajat, dan ke Amerika arah 260 derajat. Dengan jaringan antena demikian, maka dimungkinkan siaran 4 bahasa bersamaan ke seluruh dunia.
Dengan dipole empat jajaran, maka pancaran energi tolak belakangnya dikurangi, berkat sistem cermin yang diterapkan dalam pembuatan antena terarah ini. Dengan mengurangi pancaran energi ke belakang, maka lebih banyak pancaran ke kawasan tujuan. Antena pemancar Flevo tersebut digunakan langsung juga ke Indonesia. Kalau dulu di Heisen atau Notick harus dikirimkan ke Madagaskar, maka antena Flevo dapat langsung mengarah ke Asia, termasuk ke Indonesia.
Mengapa pula dipergunakan stasiun pancar ulang Madagaskar ? Siaran hanya dengan satu frekuensi bukan zamannya lagi, maka siaran Radio Nederland melalui Flevo dengan tiga frekuensi, dan dari Madagaskar dengan dua frekuensi yang berbeda. Bagaimana cara mengirim sinyal dari Hilversum ke Madagaskar ?
Melalui jaringan telepon, yaitu radio frekuensi (RF) dikirim ke satelit dan diterima di Madagaskar. Dari Madagaskar, barulah dipancar ulang ke Indonesia. Penggunaan telepon tersebut tak sama dengan telepon biasa, walaupun terbuka 24 jam. Namun Anda dapat membayangkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk pemancar berkekuatan 500 kW. (DX Komunikasi Radio Nederland, IDXC / asb / ir)