Profil Stasiun
Radio Polaris 105.45 FM Stereo
Radio FM bukan hanya monopoli masyarakat kota besar, kota kecil pun sekarang sudah dirambah teknologi komunikasi audio yang menjanjikan kenyamanan bagi yang menikmatinya. Dengan mutu yang jauh lebih bagus dari pada jalur AM, sistem FM sekarang ini memang sedang menjadi idaman bagi para pengusaha di bidang keradioan ini. Bisnis di bidang ini pun sudah menjadi ladang yang tidak kalah menariknya. Hal ini terbukti dengan sudah masuknya kalangan konglomerat yang ikut menerjunkan diri dalam bidang ini.
Barangkali Anda tak tahu persis siapa pemilik stasiun radio di kota Anda. Di sinilah konglomerat melebarkan sayapnya, tanpa sepengetahuan Anda. Jakarta, kota yang sudah sedemikian padatnya dengan frekuensi radio menimbulkan keinginan pada mereka untuk melebarkan sayapnya ke daerah, tidak peduli itu daerah sekecil apapun. Asal menjanjikan profit yang tinggi, bukan menjadi permasalahan bagi mereka.
Magelang, kota kecil di Jawa Tengah, tidak tanggung tanggung pula, di sana terdapat pula dua buah stasiun radio FM, yang menurut kalangan tertentu hanya untuk konsumsi masyarakat kota besar. Radio Polaris dan Radio Gema Kyai Langgeng (GKL), masing-masing mengudara pada ketinggian frekuensi 105.45 dan 106.15 Mega Hertz (MHz). Mungkin sering Anda temui bahwa keberadaan stasiun FM semula dari jalur AM, baru pindah ke FM.
Demikian pula halnya dengan RADIO POLARIS, yang dulunya juga mengudara di jalur AM. Bagaimana mereka pindah, dan mengapa pula mereka pindah ? Serta motivasinya apa ? Dirgantara untuk edisi kali ini menyorotinya. Bersama Aries Subagyo, ikutilah tulisannya dalam bentuk wawancara dengan Niniek Liestyani, Manajer Siaran P.T. Radio Swara Polaris Surya.
Dirgantara (DHG) : Kapan Polaris mulai mengudara ? Dan apa maksud dari kata Polaris ?
Polaris (POL) : POLARIS, katakanlah lahir begitu, tanggal 28 Desember 1972, dan Polaris adalah nama bintang di kutub utara yang nggak pernah tenggelam. Demikian pula harapan kami, tidak akan pernah tenggelam.
Mengapa Polaris pindah ke jalur FM ? Adakah motivasi khusus dalam hal ini ?
Memang, sekarang ini banyak sekali radio yang pindah ke jalur FM. Ada yang hanya karena pertimbangan latah, tetapi bagi Polaris, kami sudah menyiapkan program yang sudah matang. Artinya, pertimbangan kami bukanlah latah, kami ingin memberikan pelayanan yang lebih bagus lagi kepada masyarakat Magelang dan sekitarnya.
Apakah dengan demikian segmen pendengar juga berubah ?
Tidak. Dengan kepindahan kami ke jalur FM, bukan lantas kami berganti segmen, kami tetap ada di segmen kami, yang menengah ke atas. Kami hanya meningkatkan di audio-nya.
Bagaimana tanggapan pendengar dan masyarakat Magelang sendiri atas kepindahan Polaris ini ?
Dari survei kami menunjukkan bahwa masyarakat Magelang sudah siap atau bisa menerima teknologi FM. Dan ketika kami pindah, kami pun juga mengajak masyarakat Magelang untuk memiliki pesawat penerima FM. Atau bagi mereka yang ingin merakit sendiri, kami menyediakan diri untuk memberikan petunjuknya. Kami pun menyediakan hadiah-hadiah macam itu dalam acara kuis-kuis yang kami selenggarakan. Tapi banyak yang tidak setuju atas kepindahan kami. Banyak kok yang menanyakan, kenapa Polaris pindah ke FM, di AM saja.
Apakah dengan kepindahan Polaris ke jalur FM bisa menaikkan rite iklan, yang merupakan sumber dana satu-satunya bagi stasiun radio ?
Memang, anggapan umum kalau radio FM itu bergengsi. Katakanlah, kelompok orang berduit. Terus dengan demikian, harga iklan di FM itu juga mahal. Sekali lagi, bukan di situ, itu bukan pertimbangan utama kami pindah ke FM supaya rite iklan kami naik. Bagaimanapun juga, kalau program acara kami tidak bagus, rite kami pun tidak akan naik. Jadinya, untuk iklan nggak naik juga. Biasa saja, nggak ada perubahan menyolok. Yang jelas, biayanya tambah. Kami yang di daerah, rupanya kepindahan kami ke FM tidak menjamin 100% iklan akan naik.
Dengan demikian, pendapatan dari Polaris menurun ?
Saya merasa begitu, karena investasi yang melonjak besar sekali. Hampir 75% peralatan kami ganti dengan yang baru. Jadi bisa Anda bayangkan sendiri, he... he... he...
Lantas, untuk menutup kemungkinan kerugian, apa jumlah iklan ditambah ?
Iklan bagi pendengar selalu menimbulkan masalah, tentunya kami tidak bisa menambah. Banyak sekali surat yang masuk menanyakan Polaris FM kok banyak iklannya ? FM kan hanya medianya, tapi bukan berarti identik dengan tanpa iklan sama sekali. Bisa Anda bayangkan, bagaimana nantinya.
Masyarakat sendiri menghendaki agar iklan dikurangi. Dengan setengah mati, kami melakukannya juga. Kami lakukan supaya ada perimbangan yang ideal bagi pendengar kami. Dan saat ini, kami menyiarkan satu lagu, satu iklan. Dengan demikian, pemasang iklan pun juga terpuaskan di situ. Kami layani dengan lebih baik.
Ada sementara orang beranggapan, bahwa radio di daerah, Jakarta minded. Sedangkan Jakarta, luar negeri minded, bagaimana dengan Polaris ?
Kita, radio memang harus saling melirik. Radio X punya acara demikian, radio saya ini acaranya apa ? Misalnya, pas menghadapi Hari Valentine, misalnya Radio A membikin lomba ini, terus Radio B bikin Lomba Surat Cinta. Ini memang banyak terjadi di Indonesia, Jakarta memang menjadi trend setter untuk segala perkembangan.
Jadi, wajarlah kalau kami melirik ke sana. Dan memang, mungkin juga Jakarta luar negeri minded. Sebagai contoh, Radio Romance atau KISS FM di Amerika yang sering diambil. Untuk kami, Polaris mencoba hadir dengan keberadaan kami di Magelang. Jadi kami tidak mengambil dari Jakarta atau kota-kota sekitar.
Di Magelang, ada 2 stasiun radio FM, bagaimana dengan masalah persaingan itu sendiri ? Karena, menurut pengamatan kami, ada persaingan yang kurang sehat. Sebagai contohnya, ada pendengar yang melaporkan dan membandingkan dengan stasiun lain. Tapi, untuk menyebutkan namanya, stasiunnya saja tidak mau.
Anda melihat yang kurang dari kami atau dari yang lain ?
Ha... ha... ha...
Saya rasa masing-masing radio punya house rule sendiri-sendiri. Tetapi yang jelas dari kedewasaan Polaris, kami tak pernah menjelek-jelekkan radio manapun, karena ini sudah menjadi kode etik dunia radio.
Apakah karena persatuan antar stasiun radio di Magelang sendiri tidak ada ?
Ada, bahkan bukan cuma di Magelang, tapi di seluruh Indonesia, sebagai badannya, PRSSNI namanya.
Tapi di Yogyakarta misalnya, mereka begitu kuat.
Ini Magelang, Mas, bukan Yogyakarta. He... he... he...
Adakah kerja sama antar stasiun di daerah, untuk memproduksi acara tertentu, misalnya paket musik tangga lagu ?
Ada, Pop Hits, namanya. Ada 20 stasiun radio di Jawa Tengah, yang bekerjasama membuat paket acara tersebut, dan kebetulan sekali Polaris kebagian tugas untuk pembawa acara (penyiar, red). Acara ini menjadi tolok ukur bagi lagu-lagu pop Indonesia di Jawa Tengah pada khususnya. Coba Anda lihat harian Suara Merdeka setiap edisi Minggu. Memang, belum meliput seluruh stasiun di Jawa Tengah, tapi cukup mewakili.
Produksi Polaris sendiri, yang dijual ke stasiun lain, ada ?
Ada, tapi hanya untuk lokal saja.
Ada sponsor yang masuk ?
Ada juga, meskipun sifatnya hanya kecil-kecilan. Dan kami memproduksi bukan hanya pertunjukan musik, tetapi juga untuk sandiwara. Misalnya opera-opera. Dan kami pun sedang merintis mengenai feature.
Barangkali Polaris juga menjalin dengan beberapa stasiun radio di luar negeri, misalnya Radio Nederland, Voice of America, Deutsche Welle ?
Hanya karena fasilitas PRSSNI, kebetulan saya sendiri jadi salah satu instruktur nasional. Secara berkala, kami diberi program pendidikan. Ini bukan hanya untuk stasiun kami sendiri.
Apakah ada kiriman paket-paket acara dari mereka ?
Ada. Misalnya Europarade. Bagus sekali itu. Kami hadirkan sebulan sekali, sesuai dengan kehadiran Europarade itu sendiri, yang sebulan sekali. Dan tanggapan masyarakat juga sangat bagus. Kami sih, inginnya acara demikian menjadi acara yang eksklusif, karena memang itu buatan eksklusif. Sehingga kami tempatkan pada jam-jam yang cukup bagus, di mana di situ terfokus pendengarnya.
Polaris banyak memakai penyiar wanita dari pada pria. Apakah ini disengaja dan merupakan kiat untuk merekrut pendengar sebanyak mungkin ?
Itu hanya kebetulan. Kami selalu membuka lowongan untuk elit muda yang ingin gabung bersama kami untuk menjadi penyiar. Dan kebetulan, yang masuk wanitanya.
Bagaimana dengan sistem rekrutnya ?
Prosedur tetap, yaa tetap ada tes dan lain sebagainya. Biasanya kami mengambil dari awam, yang nol. Meskipun tidak menutup kemungkinan kami menerima dari stasiun lain.
Kalau boleh tahu, berapa gaji mereka ?
Magelang ini kota kecil, jadi mungkin nggak gede juga. Tapi mereka cukup bahagia dan bisa menutup semua kebutuhan mereka.
Jumlah pastinya ?
Angkanya relatif, ha... ha... ha...
Apa mereka sudah bisa menggantungkan pada profesinya, artinya tidak bekerja rangkap ?
Sebagian besar penyiar tetap memang profesinya jadi penyiar di Polaris. Sedangkan yang masih muda muda, masih sekolah, kami atur secara tersendiri. Kapan mereka sekolah, dan kapan pula mereka harus siaran. Kebetulan, mereka yang kuliah dan sekolah di Magelang semuanya, jadi tidaklah begitu merepotkan.
Menurut pengamatan kami, Polaris sering menyiarkan berita berita sendiri, yang dikemas sedemikian hingga menarik. Adakah maksud maksud tertentu ?
Kami adalah media komunikasi, pendidikan, hiburan, dan kami tidak bisa memfokuskan diri hanya pada hiburannya. Maka kami mencoba untuk menyajikan juga berbagai informasi, supaya masyarakat tahu peristiwa yang terjadi di bagian dunia lainnya. Di sini kami sebagai media ingin memposisikan apa yang seharusnya dilakukan stasiun radio. Pendengar tahu berbagai peristiwa di belahan dunia lain, tidak hanya Indonesia.
Apakah tidak pernah mendapat teguran, mengingat radio siaran non pemerintah tidak diperkenankan membuat berita ?
Selama ini belum pernah, karena kami memang tidak pernah cantumkan berita. Kami memuat informasi yang selayaknya masyarakat tahu. Sekali lagi, ini bukan berita. Bedanya hanya dalam hal birokrasi. Kalau RRI harus lewat sana-sini, kami tidak. Tapi sumber yang kami gunakan juga bisa dipercaya. Kami meliput dari televisi luar negeri, dan juga kantor berita. Di sini kami gabungkan.
Bagaimana tanggapan dari para pendengarnya sendiri ?
Bagus sekali, Mas...
Untuk itu, bagaimana pula cara kerja tim ?
Ha... ha... ha..., itu yaa pinter-pinternya kami saja, Mas. Kami memang punya satu tim yang menangani masalah informasi. Di situ mereka masing masing punya pos. Mana yang olah raga, mana pula yang lainnya. Sehingga menimbulkan kesan bagi pendengar, bahwa siaran kami tidak kosong.
Itu untuk berita atau informasi, bagaimana dengan musiknya ?
Kami berlangganan majalah musik Billboard dari Amerika Serikat. Untuk dalam negeri sendiri, malah saat ini, belum ada. Saya rasa memang perlu ada penerbitan khusus, baik untuk perkembangan lagu, maupun artisnya sendiri, katakan semacam Billboard misalnya. Jadi kami mengandalkan pada koran koran atau majalah. Kami comot sana, comot sini.
Di samping on air, adakah kegiatan off air yang menunjang on air-nya ?
Ada. Secara rutin kami punya Polaris Free Time, yang kami adakan di diskotek.
Bagaimana dengan hasil SRI (Survei Riset Indonesia, red.) untuk Radio Polaris ?
Untuk kota kecil semacam Magelang, tidak diadakan setiap tahun. Cuma yang mengejutkan kami, ternyata Polaris bisa diterima di luar Magelang.
Kendala apa yang dihadapi oleh Polaris selama ini ?
Untuk kendala, rasanya belum ada.
Harapan Polaris ?
Laris terus... ha... ha... ha...
Memang, di tengah persaingan yang sangat ketat saat ini, dituntut manajemen acara yang baik. Seperti halnya dengan Polaris lewat tangan Ninik Liestyorini. Memulai karir sebagai penyiar remaja di radio yang sama pula. Secara pesat, kariernya menanjak hingga menduduki kursi Manajer Siaran PT Radio Swara Polaris Surya. Tentunya, itu semua tidak datang dengan begitu saja. Kerja keras. "Bahkan kalau boleh saya minta sehari itu 30 jam, he he he...," ujarnya mengakhiri wawancaranya dengan Dirgantara di studio (IR)