Laporan dan Berita
Ian Frederick Macintosh Wakili Radio Australia di Indonesia
ABC (Australian Broadcasting Corporation) didirikan pada tahun 1932, suatu badan penyiaran milik pemerintah Australia, yang bersifat bebas dan non komersial. Meskipun dibiayai pemerintah, ABC berada di luar pengawasan pemerintah. Selain pelayanan radio dan televisi, ABC juga mengelola orkes-orkes simfoni di keenam negara bagian. Kini karyawan ABC lebih dari 7.000 orang. Sebagaimana radio milik pemerintah pada umumnya, acara yang diemban ABC cukup banyak.
Musik, berita, hiburan ringan, drama, agama, pendidikan, pedesaan, dan anak-anak. Setiap tahunnya menyebarkan 100.000 buletin radio. ABC memiliki wartawannya sendiri di 12 negara. ABC mengendalikan Radio Australia, layanan gelombang pendek luar negeri. Siaran selama 24 jam setiap hari dalam bahasa Inggris, dalam bahasa Indonesia 8 jam. Selain ABC, ada 174 stasiun radio swasta niaga yang beroperasi di Australia, 133 di AM dan 41 di FM.
Dan ada tiga jaringan radio swasta niaga yang besar, Australian Radio Network, Wesgo, Bond Media, Hoyts Media, Austereo, dan Sonance. Gelombang Radio Australia memang mudah kita temukan, meski kita tak hafal gelombangnya, suaranya terdengar jelas. Memang sudah lama radio ini kita minati, terutama lewat acara pelajaran bahasa Inggrisnya. Kalau kebanyakan di antara kita kenal atau suka radio ini, karena memang ABC sudah cukup lama membangun image di Indonesia.
Sejak Konfrontasi dengan Malaysia, Peristiwa Pemberontakan G 30 S PKI, Demonstrasi Angkatan 66, Peristiwa Malari, juga waktu Peristiwa Tanjung Priok beberapa waktu lalu, Radio Australia mengupas semua itu dengan gamblang. Bahkan sejak lagu Beatles diharamkan di Indonesia, radio ini memanjakan warga Indonesia dengan lagu-lagu itu. Sayangnya, sejak 1980, ABC tak lagi punya perwakilan di Indonesia. Visa wartawan ABC yang saat itu bertugas, Warwick Beutler, tidak diperpanjang.
"Sebabnya apa, saya tak tahu, yang jelas adalah karena ada perbedaan prinsip pers antara kedua bangsa. Di sini, ada pers Pancasila," kata Ebet Kadarusman, yang di saat itu masih menjadi penyiar di Radio Australia. "Sebenarnya Radio Australia bukanlah yang tertajam menganalisis atau membuat laporan tentang keadaan Indonesia, lebih tajam Radio Belanda, juga BBC, atau VOA," kata Ebet.
"Kalau saya pikir, tak diperpanjang itu bukan karena tajamnya laporan tapi Radio Australia adalah yang terbanyak pendengarnya. Maka setiap ada keributan, radio ini yang dituduh sebagai biang keladinya." Itu adalah masa lalu, karena beberapa waktu lalu telah dibuka kembali perwakilan di Indonesia.
"Selama itu, Radio Australia mengandalkan laporan tidak lagi dari sumber pertama. Jadi, kalau ada apa-apa, siapa yang dimintai tanggung jawab, tidak jelas. Dengan adanya perwakilan, kalau ada berita yang tak benar, tinggal mendatangi perwakilannya," komentar Ebet tentang kedatangan Ian Frederick Macintosh menjadi perwakilan di Indonesia.
Sabam Siagian, mantan wartawan yang menjabat Duta Besar Indonesia untuk Australia mengomentari Ian, "Ia wartawan yang cukup pengalaman dan tentu akan membuat berita yang seimbang." "Kalau Radio Australia siarannya membuat warga Indonesia telinganya merah, saya pasti sudah keluar sejak awal dari sana," kata Ebet, yang kini bekerja sebagai staf Radio Trijaya Shakti FM Stereo, Jakarta. (Bintang/gat, idxc/hsb)
Radio Ulan Bator di Mata Orang Jepang
Tetsuko Koji adalah orang Jepang yang bekerja pada Radio Ulan Bator di Mongolia. Radio Jepang NHK lewat acara Jepang dan Asia sempat mewawancarai Tetsuko Koji tentang keadaan siaran radio di Mongolia. Koji bekerja pada stasiun Radio Ulan Bator, jadi patutlah kalau kita ingin mengetahui keadaan dunia siaran radio yang dipengaruhi oleh semua pembaharuan itu. Tentu terjadi perubahan perubahan besar.
Program-program lama di bawah pemerintahan komunis, keseluruhannya ditujukan dan dipusatkan kepada propaganda dan pendidikan komunis. Sifat ini telah sangat berakar secara mendalam. Nah, sekarang, sejak pembaharuan demokrasi, sebagian besar dampaknya telah jadi bagian masa lalu. Sejak Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, James Baker, mengunjungi Mongolia, program program siaran dari AS pun sudah mulai disiarkan, sebagai salah satu bentuk bantuan.
Masyarakat di Ulan Bator, sekarang tiap hari, bisa menyaksikan siaran televisi Amerika. Setiap orang, dari anak kecil sampai orang lanjut usia, mulai terbiasa dengan segala sesuatunya. Dari film kartun AS sampai dengan film-film ceritanya, kesemuanya sangat populer. Keadaan yang sama juga terjadi di Rusia, setelah adanya Perestroika.
Hubungan antara Mongolia-Rusia sangat erat, banyak acara pertunjukan hiburan bergaya barat juga disiarkan di televisi Rusia. Masyarakat mulai memahami acara-acara hiburan barat yang mereka dengar dari radio, dan lihat dari TV. Saya juga merasakan meningkatnya kemajuan masyarakat sekitar saya untuk membuat program seperti ini oleh mereka sendiri.
Apakah contoh-contoh yang paling baru ?
Saya tidak menyombongkan diri, tetapi baru saja saya membuat produksi saya sendiri. Program ini tentang mengenalkan Jepang di TV, yang dibuat atas kerjasama dengan Kedutaan Jepang. Di samping memperkenalkan Jepang, juga tercakup acara kuis, Cerdas Cermat. Sebenarnya acara ini merupakan acara kuis pertama yang bisa diikuti secara terbuka oleh para pemirsa televisi di Mongolia. Kami menunjukkan rekaman video yang sangat sederhana tentang pengenalan Jepang. Bersamaan pertanyaan, seperti berapa meter ketinggian Gunung Fuji.
Atau berapa lama perjalanan dengan kereta super cepat Shinkarsen, dari Tokyo ke Osaka. Para penonton yang berada di studio harus menjawab. Sejak disiarkan untuk pertama kalinya, acara yang dibuat sendiri oleh orang-orang Mongolia seperti ini, tanggapan sangat luar biasa. Saya kira sekarang akan dibuat lebih banyak lagi acara-acara seperti itu, dan menikmatinya dengan lebih baik. Saya kira stasiun pemancar radio akan bisa mengembangkan pelayanan seperti itu.
Tampaknya, siaran itu membawa orang Mongolia berhubungan dengan negara negara lain. Jadi kami ingin mengetahui, apakah juga ada acara acara pelajaran bahasa ?
Di Ulan Bator, kami mempunyai Acara Pelajaran Bahasa Inggris dan Kesusastraan Mongolia Kuno di TV. Acara-acara itu lebih menyerupai acara pendidikan di NHK. Kami juga harus mengatakan bahwa kami ingin memulai pula Pelajaran Bahasa Jepang. Satu upaya yang cukup banyak, juga akan ditujukan di bidang pendidikan.
Koji sendiri bekerja pada Radio Ulan Bator gelombang pendek, siaran luar negeri. Apakah ada migratif baru di stasiun pemancar Anda sendiri ?
Radio Ulan Bator saat ini disiarkan dalam enam bahasa. Tetapi saya satu satunya orang asing. Sebagai akibatnya, meskipun isi siaran telah banyak berubah sejak demokratisasi, kami masih saja belum bisa mengatur untuk membuat acara baru, apapun juga. Namun bagaimanapun juga, di Seksi Jepang, kami memang telah coba sekuat tenaga membuat acara acara kami. Seperti acara hiburan untuk pendengar siaran radio gelombang pendek di Jepang.
Kami mempunyai acara kami sendiri, acara khusus akhir pekan, yang meniru model Radio Jepang Pekan Ini. Acara khusus ini didasarkan pada sekitar topik mingguan, surat surat dari pendengar, dan musik. Acara ini benar benar merupakan acara yang sangat ringan, sangat berbeda dari siaran siaran yang kaku selama ini. Dengan mengganti penekanan pada topik-topik ringan, acara ini telah memperoleh prestasi yang tinggi.
Apa sekarang ini surat-surat yang datang juga makin banyak ?
Benar. Dewasa ini, kami menerima sekitar 30 surat dalam satu minggu, yang terbanyak di setiap seksi bahasa Radio Ulan Bator, tak pelak lagi, kami benar-benar sangat senang. (Radio Jepang / IDXC, ASB / IR)