Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 2 No 2 Mei-Jun 1992
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
Antena
Aneka Info
IDXC Ria
Redaksi

Volume 2
  Profil Stasiun
46 Tahun Radio Nederland Siaran Indonesia (1 Mei 1946 - 1992)

Sejarah radio internasional di Belanda dimulai 12 Maret 1927, ketika amatir radio A.C. de Groot, karyawan PTT Bandung yang telah berjam jam menghadapi pemancar dan penerima, menemukan siaran musik dari sebuah pemancar tak dikenal, pada gelombang 30 meter. Tidak lama kemudian, sekitar jam setengah empat pagi, di telinga de Groot terdengar suara memanggil "Halo Hindia Belanda. Inilah PCJJ pemancar gelombang gelombang pendek laboratoria Philips di Eindhoven, Belanda !!"

Mata yang tadinya meredup karena mengantuk, saat itu terbuka lebar, karena inilah hubungan udara yang telah lama dinanti-nantikan. Apalagi ini bukan telegram radio, melainkan siaran radio dengan mutu yang luar biasa. Esok harinya, ia segera ke Kantor Pos Bandung, untuk mengirim telegram kepada Philips di Eindhoven, dengan berita : "Penerimaan siaran gelombang pendek yang istimewa. De Groot, Bandung".

Ini bukti pertama keberhasilan eksperimen penyiaran gelombang pendek ke Hindia Belanda, dari pemancar PCJJ yang berkekuatan 25 kiloWatt. Yang ternyata, mampu menjembatani komunikasi Belanda dan Hindia Belanda, yang terpisahkan lautan, dan berjarak sekitar 12.000 kilometer itu. Keberhasilan Philips ini mendorong untuk mendirikan perizinan resmi, untuk mengelola siaran radio antar benua, yang didukung oleh perusahaan besar yang mempunyai kegiatan di Hindia Belanda.

Antara lain Nederlandsche Handel Maatsschappij, serta Nederlandsch Indischle Handelbankd, yang kemudian mendirikan perusahaan radio bernama N.V. Philips Omroep Holland Indie (PHOHI), yang kemudian ditentang oleh perusahaan radio dalam negeri yang baru berdiri, seperti NCRV dan KRO yang merasa kedudukannya terancam, maka dibentuk komisi yang akhirnya menjadi RUU, dan disampaikan oleh Van Boeven, selaku menteri, selaku Majelis Rendah Belanda.

RUU ini merupakan dasar pendirian Radio Nederland, dengan PHOHI sebagai penyelenggara acara. Ketika pecah Perang Dunia II, pemerintah Belanda dalam pengasingan di London, mendirikan Radio Oranje, yang ditopang BBC, dengan menyediakan waktu dan kemudahan penyiaran. Di bawah Henk van den Broek, mantan wartawan Telegraph di Paris, yang kemudian aktif dalam radio pemberontak Vrij Nederland en de Brandaris Radio Oranje, semakin terkenal.

Henk kemudian terbang ke Eindhoven dan mendirikan radio baru bagi kepentingan militer, dengan nama Herrijzend Nederland. Bulan Agustus 1946, Van den Broek memperoleh tugas baru mendirikan pemancar radio dunia yang lengkap di bawah nama Stichting Radio Nederland in den Overganstijd. Kemudian, 15 April 1947, berdirilah "Stichting Radio Nederland Wereldomroep", bersamaan keluarnya izin dari menteri.

Yang menegaskan tugas lembaga baru tersebut antara lain diharuskan menyusun dan mempersiapkan acara-acara radio untuk disiarkan keluar wilayah Kerajaan Belanda. Van den Broek kemudian diangkat menjadi direktur pertama Radio Nederland.

Lahirnya Ranesi

Indonesia merupakan kawasan siaran paling tua bagi Radio Nederland. Siaran dalam bahasa Indonesia mengudara pertama kali tanggal 1 Mei 1946, dan sekaligus merupakan siaran Radio Nederland pertama dalam bahasa asing, setelah Perang Dunia kedua selesai. Tujuan yang utama siaran bahasa Indonesia adalah "Memperkokoh hubungan dengan rakyat Indonesia, sambil memberi penjelasan mengenai Belanda dan pandangan pandangannya.

Radio Nederland merupakan stasiun radio internasional Belanda, yang berkedudukan di Hilversum. Oleh karena dipancarkan di kota ini, maka sebagian masyarakat Indonesia golongan tua menyebut dengan "Radio Hilversum". Radio Nederland pada tahun 1946 menyiarkan dalam dua bahasa, yakni Belanda dan Indonesia. Setahun kemudian, ditambah dua seksi bahasa, masing-masing Inggris dan Spanyol.

Pada tanggal 4 Februari 1947, mulai dengan siaran harian, kecuali hari Minggu, berupa Gema Warta dan Warta Berita dalam bahasa Inggris. Tanggal 8 September 1947 menyusul siaran dalam bahasa Spanyol. Pada tahun 1949 mulai siaran dalam bahasa Arab dan bahasa Afrika untuk Afrika Selatan. Dua puluh tahun kemudian menyusul lagi siaran bahasa Perancis, sedangkan siaran bahasa Portugis untuk Brazil dimulai tahun 1974. Kemudian siaran bahasa Sranan Tongo untuk kawasan Suriname, serta Papiamento untuk kawasan Antilen Belanda.

Stasiun Pemancar Ulang

Selain mempunyai pemancar di Flevo, Radio Nederland dalam siarannya diperkuat oleh adanya stasiun pemancar ulang di Bonaire, di sebelah utara Kralendijk, di tanah bekas perkebunan Kolumbia dan Karpata, yang diresmikan tanggal 6 Maret 1969. Stasiun Bonaire dimaksudkan untuk memperkuat penyiarannya ke Afrika, Afrika Barat, Australia, dan Selandia Baru. Pada tahun 1972 menyusul stasiun kedua di Madagaskar, untuk memperkuat penyiarannya ke Afrika dan Asia.

Kemudian, dalam rangka memperingati panca windu Radio Nederland tahun 1985, stasiun pemancar yang baru di Flevo mulai dipergunakan. Sayang sekali, rencana Radio Nederland bersama BBC World Service untuk mendirikan pemancar ulang di Thailand belum disetujui pemerintah Belanda. Meski diketahui berdasarkan laporan penerimaan pendengar yang tergabung dalam klub pendengar atau DX, seperti Indonesian DX Club, mutu penerimaan siaran Ranesi sangat mundur dengan radio asing lain, yang mengarahkan siarannya ke Indonesia.

Hal ini disebabkan pemancar di Belanda, maupun pemancar ulang di Madagaskar kurang memadai untuk penangkapan bersih di Indonesia. Padahal pemancar ulang dibutuhkan untuk perbaikan kualitas penerimaan siaran di Asia Timur, terutama di Indonesia. Pendengar berharap agar tidak lama lagi stasiun pemancar ulang di Asia segera terwujud. Dengan demikian, mutu penerimaan tak kalah dengan radio lain.

Beberapa Mata Acara Unggulan di Radio Nederland

Salah satu acara yang termasuk paling disukai pendengar di Indonesia adalah "Gema Warta". Gema Warta merupakan istilah yang khas dari Radio Nederland. Radio lain menyebutnya dengan komentar. Berita atau kasus tertentu dapat diolah menjadi Gema Warta. Asalkan memenuhi persyaratan, yakni harus aktual, masih hangat dalam waktu 24 jam. Bisa berupa preview atau review, informasi mendahului berita atau informasi akibat peristiwa.

Sebuah paket gema warta melibatkan tidak kurang dari empat orang petugas Bagian Pemberitaan Seksi Indonesia, dilakukan secara bergilir sesuai dengan jadwal. Namun mempunyai komposisi yang tetap, yakni seorang Redaktur Biro, juga dua orang penerjemah atau penyunting atau pengolah bahan, dan seorang pembaca tambahan. Topik Gema Warta ditentukan oleh Redaktur Biro, setelah didiskusikan dengan petugas Bagian Pemberitaan.

Bahannya diperoleh dari berita terakhir di televisi Belanda, dan berita di berbagai surat kabar dan kantor berita, seperti Reuter, DPA (Jerman), ANP (Belanda), AFP (Perancis), dan sebagainya. Kemudian, dibawa ke forum rapat harian Redaktur Biro, yang diwakili semua bagian dalam RNWO. Dibicarakan mengenai apa dan bagaimana, serta menentukan koresponden yang harus dihubungi.

Untuk Seksi Indonesia, hal-hal yang ada kaitannya dengan Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara umumnya, akan selalu mendapat prioritas untuk digarap menjadi Gema Warta. Begitu topik sudah ditentukan, saat itu pula berlangsung penggarapan, mulai dari menghubungi koresponden, menyeleksi teleks yang masuk. Petugas senantiasa siap di depan mesin ketiknya, menerjemahkan, menyunting, menggarapnya menjadi naskah yang siap baca, sesuai dengan waktu yang disediakan.

Jikalau terjadi keterlambatan naskah dari koresponden, bisa disisipkan atau ditunda penyiaran keesokan harinya. Gema Warta di seksi Indonesia melibatkan Ruud Kreutzer, selaku Redaktur Biro, Jo Gunadi, Alfons Lasedu, Aboeprijadi Santoso, Joss Wibisono, L. Pattiradjawane.

F o k u s

Lahirnya "Fokus" timbul karena keinginan untuk menyajikan acara aktual dengan gaya yang lebih rileks, dan diilhami sajian secara aktual yang disiarkan radio dalam negeri, "Met Het Oog Op Morgen". Acara baru ini dipandu oleh seorang sutradara dan dua orang penyiar. Topik yang disajikan bisa menyangkut sosial politik, serta sosial dan budaya. Dalam bentuk laporan koresponden maupun wawancara, menjawab tanggapan para pendengar, diselingi lagu-lagu hiburan.

Dan kini, diselingi acara kuis, dengan beberapa hadiah yang menarik. Acara perdana "Fokus" dimulai 31 Maret 1990, dengan mengetengahkan personelnya Jean van de Kok, dan Alfons Lasedu, serta Joss Wibisono. Beberapa tokoh yang telah berhasil diwawancarai antara lain : Menko Polkan Sudomo, Jenderal Purnawirawan Sumitro, Prof. Dr. Wertheim, dr. Ny. Andi Nafsiah Mboi, H.R. Dharsono, Ali Sadikin, bintang sepak bola Marco van Basten, dan masih banyak lagi.

Acara ini semakin populer saja, sehingga mulai minggu pertama bulan Oktober 1991, acara ini dapat diikuti dua kali dalam satu minggunya. Dengan demikian, peristiwa hangat lebih cepat disoroti, tidak saja pada akhir pekan, melainkan juga pada tengah minggu.

DX Komunikasi

Acara DX Komunikasi ini dimulai 1 April 1990, sebagai perluasan acara yang dulu diasuh Hilman Yatim, Jembatan Angkasa. Memasuki kurun waktu tiga tahun masa siarnya, acara ini menjadi salah satu acara yang sangat digemari. Bukan lantaran radio lain dalam siaran bahasa Indonesia tak menyelenggarakan acara seperti ini, lantas memperoleh tanggapan yang positif dari pendengarnya.

Lebih dari itu, adalah merupakan salah satu acara yang unik, karena mengajak pendengar secara langsung terlibat di dalamnya. Pengasuhnya, Asbari Nurpatria Krisna, yang mantan wartawan di sebuah harian Jakarta ini, mengajak para pendengarnya menyemarakkan acara ini, baik dengan wawancara langsung melalui telepon, mengirimkan laporan penerimaan, mewawancarai sejumlah tokoh yang ada kaitannya dengan dunia DX.

Suatu kehormatan bagi IDXC dan kebanggaan para anggotanya, karena rekor ini tak disamai oleh klub pendengar lainnya. Dan kerjasama yang baik selama ini dapat ditingkatkan keberadaannya. Siapa tahu, kelak IDXC memperoleh waktu khusus dalam acara ini, seperti telah dilakukan oleh klub-klub DX di manca negara. Masalahnya adalah adakah Ranesi berani atau tidak.

Dalam acara ini pula, para pendengar dapat mengikuti perkembangan informasi dan peralatan telekomunikasi yang semakin canggih, banyak, cepat, dikemas dalam Berita Seputar Komunikasi dan Telekomunikasi. Sayang sekali, karena keterbatasan waktu dan biaya, semua tanggapan pendengar yang berisi permintaan naskah DX tidak dapat dipenuhi.

Namun pendengar tetap setia mengikutinya. Siapa tahu, meskipun secara pribadi tidak dapat memiliki naskah DX, namun Ranesi kelak dapat menyalurkannya melalui klub-klub pendengar yang ada di Indonesia. Yang secara nasional, jumlahnya tak lebih dari hitungan lima jari. Ataupun pengasuhnya berbaik hati, menyimpan naskah, kemudian mengeditnya. Sehingga pada suatu ketika nanti, dapat diterbitkan sebagai sebuah buku panduan yang sangat berguna bagi DXer dalam bahasa Indonesia.

Mengingat, selama ini, belum ada buku pintar bagi DXer dalam bahasa Indonesia, yang layak dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan etika. Di sela acara DX ini pula, pendengar dapat mengikuti acara "Pilihan Pendengar" dengan lagu-lagu pop, atau pun dapat mengikuti "Irama Jazz" yang dikemas dalam sajian yang menarik, diselingi informasi tentang latar belakang dan sejarah tokoh-tokohnya.

Sastra Humaniora dan Seni Budaya

Acara serial "Hidup Sukses". Mata acara ini memperoleh tanggapan yang luar biasa juga dari para pendengarnya. Terbukti dari setiap surat yang menanggapi acara tersebut senantiasa meminta salinan naskahnya. Salah satu keberhasilan acara ini adalah mampu memotivasi pendengar dengan sikap sugesti, bahwa setiap orang pada dasarnya dilahirkan untuk sukses. Inilah yang mendorong pengasuhnya untuk menerbitkan naskah tersebut menjadi sebuah buku, pada saatnya nanti.

Acara lainnya yang banyak membuat orang terheran adalah dokumenter mengenai drama radio di Indonesia yang disiarkan secara serial beberapa saat yang lalu. Sayang sekali, acara ini tidak didokumentasikan secara tertulis. Padahal jelas, sangat bermanfaat bagi dunia keradioan. Paling tidak dapat dipergunakan sebagai bahan rujukan bagi orang-orang yang hendak mendalami dunia drama radio.

Pokok yang disajikan dalam beberapa bagian ini merupakan serangkaian wawancara dengan sekitar 150 orang terlibat dalam produksi drama dan para penggemarnya tersebar di kota : Yogyakarta, Semarang, Salatiga, Surabaya, Jakarta, Bogor, dan Palembang, serta desa-desa sekitarnya. L. Murbandono Hs. memang bukan orang baru dalam lingkungan dunia drama di Indonesia. Sebelum hijrah ke Belanda, menjadi produser di RNWO tahun 1983, pernah bekerja sebagai pengarang dan sutradara di Sanggar Prativi, Jakarta, hingga tahun 1983.

Lebih Dekat dengan Kepala Regio Asia Joe Comman

Mulai bergabung dengan Ranesi sejak 1 Maret 1990 lalu menggantikan Gerard J. Boon sebagai Kepala Seksi Asia. Ia bukan orang baru di dunia radio. Bagi pendengar yang akrab dengan Radio Australia, pasti pernah mendengar suaranya, karena bertahun-tahun ia menjadi pengasuh acara Kotak Pos, acara Musik Jazz, dan Rock 'n Roll. Bekerja di radio mulai tahun 1970 hingga tahun 1989, pernah menjadi Wakil Kepala Radio Australia tahun 1972 hingga tahun 1974.

Kemudian mulai tahun 1980, ia menjadi Kepala Seksi Indonesia Radio Australia. Beberapa waktu yang lalu sempat berkunjung ke Indonesia, dan menemui para pendengarnya. Mungkin sekali, ia lupa dengan janjinya untuk bertemu dengan penulis, seperti yang diungkapkan dalam suratnya ketika awal mula menjabat sebagai Kepala Regio Asia. Segi keuntungan Radio Nederland, menurut Joe Comman, adalah kedudukannya yang independen dan mandiri, lepas dari pemerintah Belanda.

Sehingga memiliki kemungkinan menyiarkan informasi yang lebih bebas, karena bukan merupakan corong dari pemerintah, seperti halnya Suara Amerika, yang merupakan bagian dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Salah satu alasan mengapa ia tertarik bergabung dengan Radio Nederland adalah karena menginginkan pembaharuan dan peremajaan, seperti halnya Radio Nederland.

Radio Nederland memiliki reputasi yang baik, bahkan di tahun terakhir berhasil mengungguli Radio Australia, terutama bidang pemberitaannya. Radio Nederland memiliki sumber-sumber jurnalistik yang sangat baik di Indonesia, sedangkan Radio Australia tidak ada. Diharapkan di bawah kepemimpinan Joe Comman mampu berkembang sesuai obsesinya.

Harapan kita, meskipun ada sedikit ganjalan antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda, tidak akan mempengaruhi hubungan dan kerja sama dengan klub pendengar seperti IDXC, tapi justru sebaliknya, dapat terus ditingkatkan. Bukankah begitu, Pak Joe ? (HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 2 No 2 Mei-Jun 1992
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space