Catatan Pinggir
Hanya Karena Iseng
Di dalam acara DX Komunikasi Pencinta Gelombang Pendek Radio
Nederland beberapa waktu lalu, diangkat suatu topik tentang pemakaian stasiun
pemancar radio di bekas Uni Soviet oleh Suara Jerman Deutsche Welle. Awalnya,
hanya iseng belaka, hanyalah sekedar guyonan. Dieter Weirich, Direktur Deutsche
Welle, secara iseng ngomong pada rekannya dari Radio Moscow, "Bagaimana
kalau stasiun pemancar Radio Moscow yang dulu sebagai pengganggu (jammer) kami sewa ?"
Dari keisengan inilah sekarang Anda bisa memantau siaran
Suara Jerman Deutsche Welle, yang dipancarkan lewat stasiun yang dimaksud
melalui frekuensi 12.045 kHz, Siaran dalam Bahasa Indonesia. Apakah yang
tadinya hanya sekedar iseng bisa dan pasti menjadi kenyataan ? Perlu Anda
ketahui, Indonesian DX Club (IDXC) terlahir juga dari keisengan. Angan-angan
saya menerawang kembali ke masa lalu. Tepatnya sekitar dua tahun yang lalu.
Saya punya sahabat pena dari Bandung, Sen Kwang Sing namanya,
ketika itu, rekan saya tersebut, yang juga hobi mendengarkan siaran radio
luar negeri, punya klub juga. Namanya "International Club", kalau tidak salah
beranggotakan empat orang saja, dia sendiri, Syah Iran Harahap, Lie Ber Niem,
Herbert Sunu Budihardjo. Dua nama terakhir sekarang tergabung di Indonesian
DX Club. Nama International Club berkali-kali menggema lewat Radio Jepang NHK
siaran bahasa Indonesia.
Rasa ingin tahu saya bergejolak, memang saya ketika sedang
merintis. Saya ingin memperoleh pengalaman atau wawasan tentang keradioan.
Sehingga hampir setiap klub saya masuki. Bahkan, teman saya bilang, saya
ini "doyan kawin" karena hampir tiap klub dimasuki. International Club
pun tidak saya lewatkan. Akhirnya, saya melakukan kontak dengan rekan saya
dari Bandung tersebut. Akan tetapi, tenyata International Club tersebut
hanyalah klub saja.
Tak seperti halnya klub-klub pendengar radio yang
mengeluarkan buletin sebagai sarana komunikasi. Dari sekian banyaknya surat
saya, suatu saat, secara iseng, saya lontarkan ide, bagaimana kalau di
Indonesia didirikan suatu klub DX ? Ternyata, reaksi sangat bagus.
Dia sangat mendukung, dan langsung menyatakan sanggup untuk bergabung.
Maka, secara iseng pula, saya merekayasa logo, dan akhirnya ketemu juga,
seperti halnya yang kita gunakan sekarang ini.
Namanya ketemu, "Indonesian DX Club". Akan tetapi, apakah dengan sudah
tersedianya nama dan logo lantas saya dirikan atau proklamirkan nama
Indonesian DX Club ? Tidak. Kami terbentur pada masalah jarak, karena
domisili kami yang berjauhan, dan juga dana. Untuk itu, kami menunda sampai
saat yang tepat. Dan setelah itu, memang ide tersebut semakin tenggelam,
sejalan dengan makin jarangnya komunikasi antara saya dan rekan saya tersebut.
Bahkan saya kehilangan jejaknya.
Setelah sekian lama tenggelam, rekan saya, Herbert Sunu
Budihardjo, yang sedang ngebetnya ber-DX membangunkan saya dari
"ketertiduran". Secara kebetulan, juga mempunyai ide yang sama. Maka dengan
segala keterbatasannya, kami proklamirkan tanggal 14 Februari 1991 sebagai
hari lahirnya Indonesian DX Club. Kalau Anda bertanya, kok tanggalnya persis
dengan Hari Valentine, itu hanya kebetulan.
Tanggal 14 Februari adalah hari
di mana rekan Herbert Sunu Budihardjo bersama saya menemukan kesepakatan
lewat tatap muka langsung. Jadi, tidak ada kesengajaan untuk menyamakan,
tapi tidak ada salahnya kan ? Tanggapan muncul dari sana-sini, dan yang
sangat menggembirakan kami adalah tanggapan yang positif. Mereka sangat
mendukung kami. Dari sinilah, kami tahu bahwa kehadiran Indonesian DX Club
sangat tepat, dan diperlukan. Maka, secara setahap demi setahap, kami
melangkah ke arah yang diinginkan.
Dari awal mulanya, memang kami mengarah ke radio, khusus
untuk hal keradioan. Dan tidak hanya untuk gelombang pendek, tapi juga yang
di luar itu. Karena memang di Indonesia belum ada klub yang menampung mereka.
Dengan motto "Menggalang Persatuan dan Kesatuan Penggemar Siaran Radio",
kami ingin mereka yang tergabung dapat meningkatkan pengetahuannya lewat
Indonesian DX Club.
Ada yang mengusulkan agar buletin Dirgantara hadir seperti
halnya buletin dari klub-klub yang lainnya di Indonesia. Dengan sangat
terpaksa, kami harus mengecewakan mereka, karena kami memang hadir dengan
sajian yang khas kami. Seperti halnya namanya, kami hadir dengan menu DX
yang menjadi porsi utamanya, namun tidak tertutup kemungkinan adanya pelebaran
sayap. Artinya, mereka yang tidak berminat pada DX bisa mendapatkan porsinya.
Namun, sesuai dengan mottonya Dirgantara, "Yang Awam Kian
Paham, Yang Hobi Semakin Ngerti", kami ingin mengajak mereka tahu atau paham
akan dunianya. Hingga pada suatu saat nanti mengerti bagaimana sebenarnya dunia
DX itu. Yang tadinya hanya sekedar mendengarkan, bisa tergerak untuk melakukan
komunikasi dengan stasiun. Yang tadinya hanya sekedar kirim-kiriman lagu,
tergerak untuk mengirim laporan dan menemukan satu keasyikan tersendiri.
Dari sekedar iseng menjadi kenyataan, dari sekedar iseng
menjadi satu tanggung jawab kita bersama. Kami berharap Anda tidak bersifat
iseng lagi, atau mencoba untuk iseng-iseng. Marilah kita jalankan bersama sama
menuju ke arah yang kita harapkan. Akhirnya, "Selamat Ulang Tahun Indonesian
DX Club..." (Yogyakarta, ASB)
Pengurus
Pemimpin Redaksi / Penanggung Jawab
Aries Subagyo
Wakil Pemimpin Redaksi
Drs. Herbert Sunu Budihardjo
Redaktur Pelaksana
- Ajie Soekardy
- Florentina Ina Rimawati
- Dwi Budhi Rahardjo
- Gunarto
Redaktur Khusus
- Soekirno
- Kustiyono
- Supriyadi A.G.
- Julian Anderson