Telekomunikasi
SPU Daan Mogot Sedang Dibangun
Selain mempersiapkan penggeseran Palapa B1, pada 4 Maret 1992,
dan peluncuran Palapa B4, April 1992, PT Telkom Indonesia juga tengah
melaksanakan pembangunan Stasiun Pengendali Utama (SPU) yang baru di Daan
Mogot, Jakarta Barat. Pembangunan ini dimaksudkan untuk menunjang kelancaran
operasional satelit generasi Palapa B, yang masih tersisa, yaitu B2P dan B2R,
juga generasi Satelit Palapa mendatang, di antaranya Satelit Palapa C, yang
akan diluncurkan tahun 1995.
Alasan utama pembangunan stasiun ini karena stasiun yang ada
saat ini akan habis masa pakainya sekitar lima hingga sepuluh tahun lagi.
Di samping itu, adanya gangguan debu semen dari pabrik semen, yang hanya berjarak
sekitar satu kilometer dari SPU. "Namun gangguan debu semen tergolong kecil,"
kata Ir. Sahala Silalahi, Ketua Wilayah Operasi SKSD. Salah seorang staf di
SPU Cibinong mengungkapkan, SPU ini juga tergolong sering mendapat serangan
petir pada antenanya.
Karena wilayah ini tercatat sebagai daerah dengan hari
guruh tinggi per tahunnya. Pembangunan SPU Daan Mogot dilakukan sejak
November 1991, dan kini, dalam tahap pembangunan pondasinya. Direncanakan,
proyek yang menelan biaya Rp 39 milyar ini akan selesai pertengahan tahun
1993. Stasiun ini nantinya akan menggantikan stasiun pengendali Cibinong,
Bogor, yang akan berakhir masa pakainya lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Stasiun tua ini yang mulai beroperasi tahun 1976 mempunyai
masa pakai 25 tahun. Dengan beroperasinya SPU Daan Mogot tahun 1993, fungsi
SPU Cibinong yang mengendalikan Palapa B2P, B2R, dan B4, akan diambil alih,
sedang SPU Cibinong sendiri nanti masih dapat digunakan sebagai back
up, membantu peluncuran satelit, dan dimanfaatkan untuk pengendalian satelit
uzur, temasuk pula untuk pelatihan tenaga di bidang persatelitan. "Bila
telah habis masa pakainya paling tidak dapat dijadikan museum," kata Silalahi.
Dibandingkan dengan stasiun lama, SPU Daan Mogot akan
mempunyai beberapa kelebihan, di antaranya memiliki 5 antena berdiameter
rata-rata 10 meter, lebih banyak dari SPU Cibinong yang hanya tiga antena. Stasiun
yang pembangunannya melibatkan perusahaan dari Amerika Serikat, Hughes Aircraft
Company, dari segi teknologinya juga lebih canggih. Sedangkan SPU Cibinong
menggunakan teknologi tahun 1970-an.
Fasilitas fisiknya terdiri dari empat unit gedung sebagai
Wilayah Operasi SKSD yang baru, dan 5 antena penerima sinyal satelit, akan
menempati areal berbentuk lingkaran berdiameter 200 meter, atau seluas dua
hektar. Di sekeliling kompleks, sampai diameter 600 meter akan ditanami
pohon pohonan berbatang pendek, merupakan daerah pengaman dari polusi udara,
gangguan frekuensi. Pada radius ini sampai ketinggian lima derajat, daerah
ini harus bebas dari rintangan pohon atau bangunan.
Melalui studi kelayakan, stasiun yang berjarak 5,5 km dari
Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, ini juga terbilang aman gangguan
frekuensi. Pada lokasi ini, total areal yang dimiliki PT Telkom luasnya
sekitar 53 hektar. Jauh lebih aman dibandingkan dengan SPU Cibinong, yang
hanya delapan hektar. (Kompas / yun, IDXC / DBR)
Orbit Satelit Palapa B1 Digeser
Menjelang diluncurkannya Satelit Palapa B4 bulan Mei 1992
nanti, orbit Palapa B1 sejak Januari 1992 lalu digeser lebih ke sebelah
utara. Orbit asal Palapa B1 nantinya digunakan Palapa B4, sedangkan Palapa
B1 sendiri akan digunakan oleh P.T. Pasifik Satelit Nusantara, PSN, sebuah
perusahaan patungan antara PT Telkom, PT PSN dan PT Elektroindo Nusantara,
untuk digunakan di sekitar wilayah Pasifik. Kontraknya sudah ditanda tangani
1 Desember 1991 lalu.
Menurut General Manager Hubungan Masyarakat P.T. Telkom,
Dody Amirudin, Satelit Palapa B1 diperkirakan masih memiliki umur optimis
3,9 tahun dan umur pesimis 2,9 tahun. Satelit itu memiliki 24 transponder,
dan saat ini tanpa penyewa, idle. Nilai investasi yang ditanam perusahaan
patungan tersebut seluruhnya 2.400.000 dolar AS. P.T. Telkom memiliki saham
40%, sisanya dibagi rata PT PSN dan PT Elektrindo Nusantara.
"Penggeseran Palapa B1 ke orbitnya yang baru di atas Pasifik
akan dilaksanakan dalam waktu empat bulan. Oleh karena itu, sejak Januari
sudah dilaksanakan, karena tempatnya akan diisi Palapa B4," jelas Dody
Amirudin. Tarif sewa transponder Palapa B1 di bawah P.T. PSN sendiri, hingga
saat ini masih dalam perhitungan, namun beberapa calon penyewa satelit
itu di kawasan Pasifik sudah mengungkapkan keinginan menyewa.
Bisnis Palapa B1 merupakan pembuka jalan bagi P.T. Telkom
dan mitra kerjanya untuk mengambil peluang usaha bisnis satelit di kawasan
Pasifik. Apabila prospeknya baik dan menguntungkan, maka akan diluncurkan
satelit baru lain, atau menggeser Palapa B2P untuk kelangsungan layanan
dan pemasaran di kawasan tersebut. (Kompas / r / aba / mul, IDXC / DBR)