Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 2 No 1 Mar-Apr 1992
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
Opini Anda
Sosok
Telekomunikasi
Catatan Pinggir
Redaksi

Volume 2
  Sosok
Th. Esti Priatmo : Saya Ditolong Pepatah Cina Kuno

Kalau Anda penggemar siaran dari Retjo Buntung pasti tak asing dengan suaranya. Terutama bagi mereka yang suka acara goyang dangdut. Ya, siapa lagi kalau bukan Esti Priatmo, yang dikenal sebagai Bung Prit. Rekan Ina Rimawati dalam kesempatan wawancara dengan Radio Retjo Buntung sempat mengorek tentang diri Bung Prit ini. Ikutilah tulisannya, dalam bentuk wawancara.

DHG : Sejak kapan Bung Prit bergabung dengan Retjo Buntung ?

TEP : Saya gabung sejak awal 1984. Selama satu tahun saya sebagai penyiar. Kemudian, tahun 1985 bulan April, saya ditunjuk atau diserahi tanggung jawab sebagai Kepala Bagian Siaran. Sampai sekarang. Tetapi sebetulnya saya sudah berkecimpung di dunia radio sejak tahun 1975, sejak SMA kelas II. Sebagai penyiar selama tiga tahun dari 1975 sampai 1978. Pada waktu itu di Radio Bikima, saya langsung diangkat sebagai Kepala Bagian Siaran tahun 1978-1983.

Tahun 1983, karena kesibukan kuliah, saya harus membikin skripsi dan sebagainya, karena waktu itu saya di Akademi, saya terpaksa harus konsentrasi pada studi. Saya terus putus, tidak siaran selama satu tahun. Saya kerja di hotel tahun 1983-1984. Betapa gatelnya lidah ini kalau dengar radio. Waduh, koq ngomongnya kaya gitu. Harusnya begini. Saya pengin balik lagi ke radio. Dan saya memilih ke sini (Retjo Buntung, Red.) masuk ke sini.

Dan ternyata, dunia radio sudah mengikat, dan saya optimis sekali bahwa sejak tahun itu, tahun berapa, ya ? 1978. Padahal waktu itu masih belum profesional. Saya sudah optimis bahwa radio masa depannya akan baik, karena saya banyak membaca referensi dari luar negeri. Meskipun sudah ada peralatan canggih. Ada video, ada macam-macam tetek bengek. Tetapi radio masih punya tempat.

Saya pun ingin bangsa Indonesia akan mengalami hal yang serupa di luar negeri. Cuman waktunya kapan, kita belum tahu. Tetapi, saya optimis. Akhirnya, saya memilih radio sebagai lahan kehidupan saya. Sampai sekarang. Dan ternyata betul, Anda lihat sendiri, ada peternak radio, dari kota ke kota dia punya radio. Berarti, radio punya masa depan yang cerah sekali.

DHG : Mas Prit tadi mengatakan bahwa pernah juga gabung di Bikima. Lantas, kepindahan ke Retjo Buntung, apakah Anda yang melamar ? Ataukah Anda ditarik ? Ada orang yang mengatakan sebagai dibajak ?

TEP : Ow ... nggak, nggak dibajak. Status saya waktu itu tahun 1983 saya resmi keluar, keluar dengan baik-baik, karena saya mau skripsi tadi. Terus, saya ditawari kerja di hotel. Skripsi saya mesti selesai, saya ingin kerja sesuai dengan bidang saya. Nah, dalam waktu satu tahun, saya sudah bisa mempraktekkan apa yang saya dapat dari pendidikan di bangku kuliah. Dan tampaknya memang mengasyikkan juga. Tiap tempat mengasyikkan, kalau kita suka. Nah, radio itu sudah mengakar sih.

Rasa ada yang hilang dalam kehidupan saya. Akhirnya, menjelang ujian negara waktu itu, saya iseng-iseng saja. Di hotel angkat telepon. He, gimana kabarnya ? Terus kongkow-kongkow. Saya kenal banyak teman teman radio di Yogya. Ada yang kosong enggak nih ? Saya ingin siaran nih. Ala, nggak kuat kuat bayar nih sama kamu, kau sudah kerja di hotel. Mereka sudah tahu kalau saya kerja di hotel. Saya vakum setahun.

Hilang dari peredaran dari dunia radio, waktu itu tahun 1983, teman teman ada yang mencari saya juga. Terus akhirnya, di sini ada yang lowong. Dan masuk, masuk dunia yang baru. Dalam arti lebih meningkat. Bukannya, berarti saya menjelekkan yang lama. Nggak. Akhirnya, saya masuk sini dan menjadi penyiar. Tetapi saya masih kuliah. Saya masih kerja di hotel. Wah, jadi habis-habisan waktu itu saya.

Kuliah kebetulan sore, jam dua sampai jam enam. Sekitar jam tujuh sampai jam sembilan malam saya siaran di sini. Jam sebelas saya cabut ke hotel, hingga pagi jam tujuh. Untuk jam tujuh hingga jam dua belas saya tidur di rumah. Saya balik nih, harinya saya balik. Pun, itu berjalan kurang lebih setengah tahun. Mendekati ujian negara, skripsi sudah clear. Wah, nggak kuat deh, saya harus belajar sungguh-sungguh. Saya mundur dari hotel.

Saya mau studi dulu deh. Besok kalau bisa dilanjut lagi. Keluar dari hotel baik-baik, keluar dari hotel langsung ujian. Keterusan di sini. Begitu lulus, ada kekosongan Kepala Bagian Siaran. Ditawari, mau nggak ? Cita-cita saya "Round The World". Saya studi di Pariwisata, punya obsesi ingin keliling dunia, naik kapal pesiar. Akan tetapi, waktu memang mengubah segalanya.

DHG : Round the world by radio ... ?

TEP : Iya, round the world by radio, kenapa mesti harus jauh-jauh merantau ke negeri seberang ? Tetapi ada yang kurang setuju. Dan ketika ditawari, saya mikir, kasih waktu satu minggu. Habis lulus waktu itu, saya konsultasi pada orang. Orang tua saya nggak setuju. Apa artinya kamu studi selama tiga tahun lebih, degradasi kan ? Teman-teman kuliah juga tidak setuju. Saya pernah duduk di Senat, sebagai Ketua Senat.

Apa artinya kau bisa memimpin orang-orang di sini. Jenjang kamu lebih bagus di hotel, nggak ada yang setuju. Cita-cita kamu gimana ? Katanya kamu ingin round the world. Naik Holl, Holland American Lines. Wuah, semua nggak setuju. Saya orang realistis, saya tidak tahu idealis, saya ditolong oleh pepatah kuno waktu itu, pepatah Cina. Dalam waktu satu minggu, saya gelisah. Ada pepatah Cina, bunyinya kira-kira begini.

Tangkaplah kesempatan yang ada di depanmu kalau kamu ingin jadi orang besar. Karena kesempatan tak akan datang dua kali. Kesempatan yang sama. Nah, saya petik hikmahnya di situ. Ini sudah ada obsesi, ada kesempatan. Kans ya. Hingga saya ambil. Sementara kalau misalnya saya di perkapalan, saya masih harus melalui tes. Melalui proses kompetisi yang belum tentu hasinya. Ada juga pepatah yang bilang.

Sekarang kamu saya kasih 500 perak, sudah ada di mata. Apa 1000 perak, tapi besok. Pilih yang mana ? Saya pilih yang 500 perak sudah di mata. 1000, ya kalau besok. Kalau enggak ? Ini yang mengilhami saya. Terus akhirnya, oke saya ambil. Apapun kata orang-orang sekitar. Orang orang yang dahulu menentang saya temui. Ternyata mereka juga belum dapat kerja.

Bukan berarti terus saya menepuk dada, nggak. Tetapi ini fakta. Saya realistis. Pokoknya hati saya senang. Ibu saya yang sederhana, lugu, dia bilang, Prit, carilah kerja yang hatimu senang. Jangan cari kerja yang hatimu nggak senang. Itu saja, pesan orang tua saya. Saya petik.

DHG : Anda sendiri di Retjo Buntung menduduki jabatan sebagai Kepala Bagian Siaran. Apa sebenarnya tugas Anda ?

TEP : Ya, Jelas kita orientasinya, ke program. Jadi kami yang mengatur jadwal kegiatan siaran. Dibantu staf pendamping saya. Memprogram, merencanakan program dalam bentuk tahunan, bulanan, mingguan agar tersaji secara kontinyu. Tidak mandeg. Kontinuitas ini perlu dijaga. Berat itu. Dibanding event insidentil ya. Menjaga keberlangsungan itu berat. Apalagi programnya sekarang menyeluruh. Sasarannya macam-macam ragamya. Tidak hanya pada satu sasaran thok.

Tetapi juga untuk yang tua-tua, untuk yang muda, untuk anak-anak. Ini harus kontinyu, terprogram secara kontinyu. Beratnya di situ, di samping menjadwal juga. Kemudian mengevaluasi program, mengawasi program, sesuai dengan manajemen yang berlaku. Ada planning, ada directing atau suiting, ada juga spacing, controlling. Nah, disini terpadu. Jadi, keseharian saya di sini program memprogram. Macam rekaman, kita lihat lagi.

Polite controlnya, bagus nggak ? Dari naskahnya kita cek lagi. Okey, naskah laik siar. Bagaimana dengan produksi ? Untuk produksi, saya mengatur jadwal. Siapa yang mau siaran. Siapa yang mau wawancara. Kita target. Program ini harus maju ke depan. Dalam arti tidak sekarang rekaman terus nanti sore disiarkan, tidak. Mungkin satu minggu lagi atau dua minggu lagi. Sudah siap pakai, kita lihat. Layak program nggak, layak siar nggak ?

Drama misalnya. Jauh-jauh hari kita kerja sama dengan penulis naskah, misalnya. Dia masukkan naskah. Saya serahkan pada bagian koordinator atau sutradara. Coba cek naskah. Layak siar nggak ? Okey, layak siar. Bagaimana produksi. Di bagian produksi harus mengundang pemain. Sudah jadi paket kaset kami cek lagi. Kalau memang dari paket kaset mutunya tidak memenuhi kualitas, balik lagi siaran, produksi lagi. Diulang, begitu. Ini salah satu kewajiban kami.

Jadwal penyiar-penyiar juga harus konsekwen. Ada aturan main. Kalau tidak masuk siaran harus ada pemberitahuan kepada petugas. Ini lalu lintasnya menuju ke saya. Di dalam hal ini, saya sebagai Kepala Bagian Siaran, bersama tim saya. Untuk yang eksternnya, kami juga menjaga hubungan baik dengan pihak-pihak yang bekerja sama dengan kami. Istilahnya sinergi. Sinkronisasi energi. Di sana ada energi, di sini ada energi. Kita padukan.

Menjadi paket yang lebih baik. Taruhlah misal, kita kerja sama dengan penulis. Kita nggak punya penulis, di luar ada penulis. Kita padukan. Menjadi paket yang lebih baik. Nah, ini saya harus menjaga hubungan yang baik, jangan sampai putus. Misalnya dengan Anda juga. Hubungan kita baik kan ? Jadi, secara intern dan ekstern, kami selalu menjaga hubungan baik. Dasar utama dalam satu usaha bersama, dalam satu organisasi, saya pegang satu kunci itu.

Komunikasi dan kerjasama yang baik. Tetapi kalau sudah tidak ada komunikasi dengan baik, apalagi tidak ada kerja sama hasilnya nggak baik. Pasti itu. Coba saja di Indonesian DX Club tidak ada kerja sama yang baik, juga komunikasi, mana mungkin bisa muncul buletin sebagus itu secara periodik.

DHG : Terus, selama ini, menurut Mas Prit, apa suka dukanya menjadi penyiar. Banyak sukanya atau dukanya ?

TEP : Kalau banyak dukanya saya sudah lari cari profesi lain. Seperti yang di depan tadi, bahwa ibu saya bilang, kalau cari kerja, carilah yang kamu suka. Kalau saya tidak suka, saya sudah kerja yang lainnya. Yang jelas banyak sukanya. Saya bisa kenal Ina. Mungkin kalau saya tidak di profesi ini saya mungkin susah kenal sama cewek yang satu ini.

Ada Mas Aries, yang tadinya belum kenal. Juga Mbak Helen (simpatisan IDXC yang menerima interview, red.) Pada dasarnya, dahulu sebelum saya jadi penyiar, karena saya masih sekolah, saya itu clingus. Tahu clingus ? eh ... malu-malu gitu.

DHG : Malu kucing-kucing ... ?

TEP : Malu-maluin. Minder dan sebangsanya deh. Kok, orang bisa kaya gitu, kok saya nggak bisa. Saya menyadari bahwa saya masih mempunyai kekurangan macam gitu. Jalan satu-satunya sih bukan cuma radio yang bisa ngilangin clingus tadi. Pokoknya saya tidak merasa kecil begitu. Itu berkat teater. Saya waktu itu ikut teater juga. Sewaktu di SMA, di Kolese de Britto. Saya ikut di theater Sidabaga.

Di situ saya digembleng untuk berani tampil di depan massa. Berani mengungkap pendapat secara bebas asal benar. Berani bicara di depan massa. Berani mengekspresikan diri. Mengaktualisasikan diri. Saya tahu bahwa teater larinya akan ke sana. Saya masuk untuk menghilangkan rasa ini. Akhirnya, saya berani ngocol di depan orang banyak, tanpa ada rasa rikuh, meskipun salah. Meskipun diketawain, cuek saja. Orang bisa baik karena melalui proses banyak kesalahan, kekurangan.

Nah, di situ sukanya. Di situ ada komunikasi timbal balik. Membagi ide, membagi pengetahuan, membagi wawasan dan sebagainya. Jadi banyak sukanya. Banyak teman. Tidak hanya yang sebaya saja. Tetapi juga yang lebih tua, bahkan anak-anak.

DHG : Kami ingin tahu pendapat Mas Prit tentang Indonesian DX Club ?

TEP : Begitu mendapat buletin, saya bisa membayangkan. Hebat nih. Dalam arti, dia bisa menyerap nara sumber sesuai dengan sasaran yang dituju. Saya lihat sampai pada detailnya, muter lagu ini misalnya. Saya nggak habis pikir. Itu kan, bukan kegiatan utama. Kok bisa-bisanya ? Ada waktu. Tetapi itu suatu latihan yang bagus sekali. Dalam arti begini, bahwa nantinya toh kita akan mengabdi pada masyarakat.

Sekarang Anda menunjukkan prestasi kesungguhan dalam menyusun buletin, itu saya lihat suatu kerja sungguhan. Anda mengcover radio radio, meski dalam prakteknya dibagi-bagi. Saya nggak tahu bagaimana dana yang ada di situ. Sehingga secara rutin bisa berlangsung. Terus, yang mencetak siapa. Di situ redakturnya sudah dituangkan juga ya. Cuma masalah lay out-nya, tulisannya kecil-kecil, rengket banget, tetapi isinya bagus. Isinya macam-macam, radio di-cover. Wah, ini mengasyikkan. Saya juga bisa mencontoh itu.

DHG : Bagaimana kalau kita mengadakan kerjasama ?

TEP : Coba deh, nanti kami pelajari. Karena saya tidak memutuskan sendiri untuk hal ini, karena saya juga bersama tim. Dan sekaligus saya menjadi pimpinannya.

Begitulah bincang-bincang Dhirgantara dengan Bung Prit. Semoga apa yang yang dipaparkan bisa Anda petik hikmahnya. (INA / ASB)

 
Dirgantara Online - Vol 2 No 1 Mar-Apr 1992
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space