Sosok
Th. Esti Priatmo : Saya Ditolong Pepatah Cina Kuno
Kalau Anda penggemar siaran dari Retjo Buntung pasti tak
asing dengan suaranya. Terutama bagi mereka yang suka acara goyang dangdut.
Ya, siapa lagi kalau bukan Esti Priatmo, yang dikenal sebagai Bung Prit.
Rekan Ina Rimawati dalam kesempatan wawancara dengan Radio Retjo Buntung sempat
mengorek tentang diri Bung Prit ini. Ikutilah tulisannya, dalam bentuk wawancara.
DHG : Sejak kapan Bung Prit bergabung dengan Retjo Buntung ?
TEP : Saya gabung sejak awal 1984. Selama satu tahun saya
sebagai penyiar. Kemudian, tahun 1985 bulan April, saya ditunjuk atau
diserahi tanggung jawab sebagai Kepala Bagian Siaran. Sampai sekarang.
Tetapi sebetulnya saya sudah berkecimpung di dunia radio sejak tahun 1975,
sejak SMA kelas II. Sebagai penyiar selama tiga tahun dari 1975 sampai 1978.
Pada waktu itu di Radio Bikima, saya langsung diangkat sebagai Kepala Bagian
Siaran tahun 1978-1983.
Tahun 1983, karena kesibukan kuliah, saya harus membikin
skripsi dan sebagainya, karena waktu itu saya di Akademi, saya terpaksa
harus konsentrasi pada studi. Saya terus putus, tidak siaran selama satu
tahun. Saya kerja di hotel tahun 1983-1984. Betapa gatelnya lidah ini kalau
dengar radio. Waduh, koq ngomongnya kaya gitu. Harusnya begini. Saya pengin
balik lagi ke radio. Dan saya memilih ke sini (Retjo Buntung, Red.) masuk ke sini.
Dan ternyata, dunia radio sudah mengikat, dan saya optimis
sekali bahwa sejak tahun itu, tahun berapa, ya ? 1978. Padahal waktu itu
masih belum profesional. Saya sudah optimis bahwa radio masa depannya akan
baik, karena saya banyak membaca referensi dari luar negeri. Meskipun sudah
ada peralatan canggih. Ada video, ada macam-macam tetek bengek. Tetapi radio
masih punya tempat.
Saya pun ingin bangsa Indonesia akan mengalami hal yang serupa
di luar negeri. Cuman waktunya kapan, kita belum tahu. Tetapi, saya optimis.
Akhirnya, saya memilih radio sebagai lahan kehidupan saya. Sampai sekarang.
Dan ternyata betul, Anda lihat sendiri, ada peternak radio, dari kota ke
kota dia punya radio. Berarti, radio punya masa depan yang cerah sekali.
DHG : Mas Prit tadi mengatakan bahwa pernah juga gabung
di Bikima. Lantas, kepindahan ke Retjo Buntung, apakah Anda yang melamar ?
Ataukah Anda ditarik ? Ada orang yang mengatakan sebagai dibajak ?
TEP : Ow ... nggak, nggak dibajak. Status saya waktu itu
tahun 1983 saya resmi keluar, keluar dengan baik-baik, karena saya mau
skripsi tadi. Terus, saya ditawari kerja di hotel. Skripsi saya mesti
selesai, saya ingin kerja sesuai dengan bidang saya. Nah, dalam waktu satu
tahun, saya sudah bisa mempraktekkan apa yang saya dapat dari pendidikan di
bangku kuliah. Dan tampaknya memang mengasyikkan juga. Tiap tempat
mengasyikkan, kalau kita suka. Nah, radio itu sudah mengakar sih.
Rasa ada yang hilang dalam kehidupan saya. Akhirnya,
menjelang ujian negara waktu itu, saya iseng-iseng saja. Di hotel angkat
telepon. He, gimana kabarnya ? Terus kongkow-kongkow. Saya kenal banyak
teman teman radio di Yogya. Ada yang kosong enggak nih ? Saya ingin siaran
nih. Ala, nggak kuat kuat bayar nih sama kamu, kau sudah kerja di hotel.
Mereka sudah tahu kalau saya kerja di hotel. Saya vakum setahun.
Hilang dari peredaran dari dunia radio, waktu itu tahun
1983, teman teman ada yang mencari saya juga. Terus akhirnya, di sini ada
yang lowong. Dan masuk, masuk dunia yang baru. Dalam arti lebih meningkat.
Bukannya, berarti saya menjelekkan yang lama. Nggak. Akhirnya, saya masuk sini
dan menjadi penyiar. Tetapi saya masih kuliah. Saya masih kerja di hotel.
Wah, jadi habis-habisan waktu itu saya.
Kuliah kebetulan sore, jam dua sampai jam enam. Sekitar jam
tujuh sampai jam sembilan malam saya siaran di sini. Jam sebelas saya cabut
ke hotel, hingga pagi jam tujuh. Untuk jam tujuh hingga jam dua belas saya
tidur di rumah. Saya balik nih, harinya saya balik. Pun, itu berjalan kurang
lebih setengah tahun. Mendekati ujian negara, skripsi sudah clear. Wah,
nggak kuat deh, saya harus belajar sungguh-sungguh. Saya mundur dari hotel.
Saya mau studi dulu deh. Besok kalau bisa dilanjut lagi.
Keluar dari hotel baik-baik, keluar dari hotel langsung ujian. Keterusan di
sini. Begitu lulus, ada kekosongan Kepala Bagian Siaran. Ditawari, mau nggak ?
Cita-cita saya "Round The World". Saya studi di Pariwisata, punya obsesi
ingin keliling dunia, naik kapal pesiar. Akan tetapi, waktu memang mengubah segalanya.
DHG : Round the world by radio ... ?
TEP : Iya, round the world by radio, kenapa mesti harus
jauh-jauh merantau ke negeri seberang ? Tetapi ada yang kurang setuju.
Dan ketika ditawari, saya mikir, kasih waktu satu minggu. Habis lulus waktu
itu, saya konsultasi pada orang. Orang tua saya nggak setuju. Apa artinya
kamu studi selama tiga tahun lebih, degradasi kan ? Teman-teman kuliah juga
tidak setuju. Saya pernah duduk di Senat, sebagai Ketua Senat.
Apa artinya kau bisa memimpin orang-orang di sini. Jenjang
kamu lebih bagus di hotel, nggak ada yang setuju. Cita-cita kamu gimana ?
Katanya kamu ingin round the world. Naik Holl, Holland American Lines. Wuah,
semua nggak setuju. Saya orang realistis, saya tidak tahu idealis, saya
ditolong oleh pepatah kuno waktu itu, pepatah Cina. Dalam waktu satu minggu,
saya gelisah. Ada pepatah Cina, bunyinya kira-kira begini.
Tangkaplah kesempatan yang ada di depanmu kalau kamu ingin
jadi orang besar. Karena kesempatan tak akan datang dua kali. Kesempatan
yang sama. Nah, saya petik hikmahnya di situ. Ini sudah ada obsesi, ada
kesempatan. Kans ya. Hingga saya ambil. Sementara kalau misalnya saya di
perkapalan, saya masih harus melalui tes. Melalui proses kompetisi yang
belum tentu hasinya. Ada juga pepatah yang bilang.
Sekarang kamu saya kasih 500 perak, sudah ada di mata.
Apa 1000 perak, tapi besok. Pilih yang mana ? Saya pilih yang 500 perak
sudah di mata. 1000, ya kalau besok. Kalau enggak ? Ini yang mengilhami
saya. Terus akhirnya, oke saya ambil. Apapun kata orang-orang sekitar.
Orang orang yang dahulu menentang saya temui. Ternyata mereka juga belum
dapat kerja.
Bukan berarti terus saya menepuk dada, nggak. Tetapi ini
fakta. Saya realistis. Pokoknya hati saya senang. Ibu saya yang sederhana,
lugu, dia bilang, Prit, carilah kerja yang hatimu senang. Jangan cari kerja
yang hatimu nggak senang. Itu saja, pesan orang tua saya. Saya petik.
DHG : Anda sendiri di Retjo Buntung menduduki jabatan
sebagai Kepala Bagian Siaran. Apa sebenarnya tugas Anda ?
TEP : Ya, Jelas kita orientasinya, ke program. Jadi kami
yang mengatur jadwal kegiatan siaran. Dibantu staf pendamping saya.
Memprogram, merencanakan program dalam bentuk tahunan, bulanan, mingguan
agar tersaji secara kontinyu. Tidak mandeg. Kontinuitas ini perlu dijaga.
Berat itu. Dibanding event insidentil ya. Menjaga keberlangsungan itu
berat. Apalagi programnya sekarang menyeluruh. Sasarannya macam-macam ragamya.
Tidak hanya pada satu sasaran thok.
Tetapi juga untuk yang tua-tua, untuk yang muda, untuk
anak-anak. Ini harus kontinyu, terprogram secara kontinyu. Beratnya di situ,
di samping menjadwal juga. Kemudian mengevaluasi program, mengawasi program,
sesuai dengan manajemen yang berlaku. Ada planning, ada directing atau
suiting, ada juga spacing, controlling. Nah, disini terpadu. Jadi,
keseharian saya di sini program memprogram. Macam rekaman, kita lihat lagi.
Polite controlnya, bagus nggak ? Dari naskahnya kita cek
lagi. Okey, naskah laik siar. Bagaimana dengan produksi ? Untuk produksi,
saya mengatur jadwal. Siapa yang mau siaran. Siapa yang mau wawancara. Kita
target. Program ini harus maju ke depan. Dalam arti tidak sekarang rekaman
terus nanti sore disiarkan, tidak. Mungkin satu minggu lagi atau dua minggu
lagi. Sudah siap pakai, kita lihat. Layak program nggak, layak siar nggak ?
Drama misalnya. Jauh-jauh hari kita kerja sama dengan penulis
naskah, misalnya. Dia masukkan naskah. Saya serahkan pada bagian koordinator
atau sutradara. Coba cek naskah. Layak siar nggak ? Okey, layak siar.
Bagaimana produksi. Di bagian produksi harus mengundang pemain. Sudah jadi
paket kaset kami cek lagi. Kalau memang dari paket kaset mutunya tidak
memenuhi kualitas, balik lagi siaran, produksi lagi. Diulang, begitu. Ini
salah satu kewajiban kami.
Jadwal penyiar-penyiar juga harus konsekwen. Ada aturan
main. Kalau tidak masuk siaran harus ada pemberitahuan kepada petugas. Ini
lalu lintasnya menuju ke saya. Di dalam hal ini, saya sebagai Kepala Bagian
Siaran, bersama tim saya. Untuk yang eksternnya, kami juga menjaga hubungan baik
dengan pihak-pihak yang bekerja sama dengan kami. Istilahnya sinergi.
Sinkronisasi energi. Di sana ada energi, di sini ada energi. Kita padukan.
Menjadi paket yang lebih baik. Taruhlah misal, kita kerja
sama dengan penulis. Kita nggak punya penulis, di luar ada penulis. Kita
padukan. Menjadi paket yang lebih baik. Nah, ini saya harus menjaga hubungan
yang baik, jangan sampai putus. Misalnya dengan Anda juga. Hubungan kita
baik kan ? Jadi, secara intern dan ekstern, kami selalu menjaga hubungan
baik. Dasar utama dalam satu usaha bersama, dalam satu organisasi, saya
pegang satu kunci itu.
Komunikasi dan kerjasama yang baik. Tetapi kalau sudah
tidak ada komunikasi dengan baik, apalagi tidak ada kerja sama hasilnya
nggak baik. Pasti itu. Coba saja di Indonesian DX Club tidak ada kerja sama
yang baik, juga komunikasi, mana mungkin bisa muncul buletin sebagus itu
secara periodik.
DHG : Terus, selama ini, menurut Mas Prit, apa suka dukanya
menjadi penyiar. Banyak sukanya atau dukanya ?
TEP : Kalau banyak dukanya saya sudah lari cari profesi
lain. Seperti yang di depan tadi, bahwa ibu saya bilang, kalau cari kerja,
carilah yang kamu suka. Kalau saya tidak suka, saya sudah kerja yang lainnya.
Yang jelas banyak sukanya. Saya bisa kenal Ina. Mungkin kalau saya tidak di
profesi ini saya mungkin susah kenal sama cewek yang satu ini.
Ada Mas Aries, yang tadinya belum kenal. Juga Mbak Helen
(simpatisan IDXC yang menerima interview, red.) Pada dasarnya, dahulu
sebelum saya jadi penyiar, karena saya masih sekolah, saya itu clingus.
Tahu clingus ? eh ... malu-malu gitu.
DHG : Malu kucing-kucing ... ?
TEP : Malu-maluin. Minder dan sebangsanya deh. Kok, orang
bisa kaya gitu, kok saya nggak bisa. Saya menyadari bahwa saya masih
mempunyai kekurangan macam gitu. Jalan satu-satunya sih bukan cuma radio
yang bisa ngilangin clingus tadi. Pokoknya saya tidak merasa kecil begitu.
Itu berkat teater. Saya waktu itu ikut teater juga. Sewaktu di SMA, di Kolese
de Britto. Saya ikut di theater Sidabaga.
Di situ saya digembleng untuk berani tampil di depan massa.
Berani mengungkap pendapat secara bebas asal benar. Berani bicara di
depan massa. Berani mengekspresikan diri. Mengaktualisasikan diri. Saya tahu
bahwa teater larinya akan ke sana. Saya masuk untuk menghilangkan rasa ini.
Akhirnya, saya berani ngocol di depan orang banyak, tanpa ada rasa rikuh,
meskipun salah. Meskipun diketawain, cuek saja. Orang bisa baik karena
melalui proses banyak kesalahan, kekurangan.
Nah, di situ sukanya. Di situ ada komunikasi timbal balik.
Membagi ide, membagi pengetahuan, membagi wawasan dan sebagainya. Jadi banyak
sukanya. Banyak teman. Tidak hanya yang sebaya saja. Tetapi juga yang lebih
tua, bahkan anak-anak.
DHG : Kami ingin tahu pendapat Mas Prit tentang
Indonesian DX Club ?
TEP : Begitu mendapat buletin, saya bisa membayangkan.
Hebat nih. Dalam arti, dia bisa menyerap nara sumber sesuai dengan sasaran
yang dituju. Saya lihat sampai pada detailnya, muter lagu ini misalnya. Saya
nggak habis pikir. Itu kan, bukan kegiatan utama. Kok bisa-bisanya ? Ada
waktu. Tetapi itu suatu latihan yang bagus sekali. Dalam arti begini, bahwa
nantinya toh kita akan mengabdi pada masyarakat.
Sekarang Anda menunjukkan prestasi kesungguhan dalam
menyusun buletin, itu saya lihat suatu kerja sungguhan. Anda mengcover
radio radio, meski dalam prakteknya dibagi-bagi. Saya nggak tahu bagaimana
dana yang ada di situ. Sehingga secara rutin bisa berlangsung. Terus, yang
mencetak siapa. Di situ redakturnya sudah dituangkan juga ya. Cuma masalah
lay out-nya, tulisannya kecil-kecil, rengket banget, tetapi isinya bagus.
Isinya macam-macam, radio di-cover. Wah, ini mengasyikkan. Saya juga bisa
mencontoh itu.
DHG : Bagaimana kalau kita mengadakan kerjasama ?
TEP : Coba deh, nanti kami pelajari. Karena saya tidak
memutuskan sendiri untuk hal ini, karena saya juga bersama tim. Dan
sekaligus saya menjadi pimpinannya.
Begitulah bincang-bincang Dhirgantara dengan Bung Prit.
Semoga apa yang yang dipaparkan bisa Anda petik hikmahnya. (INA / ASB)