Opini Anda
Peluang, Persaingan, dan Alternatif
Sengaja saya menurunkan tulisan ini dalam rangka ikut memeriahkan ulang tahun
Indonesian DX Club, IDXC, yang pertama, dan saya ingin mengkilas balik
kehadiran IDXC dengan sarana Buletin Dirgantara-nya. Mungkin pembaca akan
bertanya tanya dengan judul tersebut. Tetapi justru dengan judul tersebut
kita akan lebih jelas dan tidak ragu-ragu lagi dengan IDXC. Atau musnahlah
rasa curiga yang selama ini menghantui, baik anggota, simpatisan, penyiar,
bahkan yang di luar gawang.
Dalam era globalisasi ini, persaingan untuk mendapat dan
menyediakan informasi sangat ketat. Sehingga masing masing media terus
berbenah diri agar mampu menyediakan informasi terbaru secepat mungkin,
bahkan cara-cara yang melanggar etika pun diterjang. Lalu, bagaimana dengan
IDXC ? Apakah hadir dengan persaingan ? Terlalu pagi bila sementara orang
menganggap IDXC sebagai pesaing yang harus diperhitungkan.
Karena masing-masing media mempunyai kekhasan tersendiri
sebagai media informasi di bidang keradioan yang sama, yaitu SW (short wave).
Tetapi IDXC tidak hanya menggarap ladang Shortwave saja juga MW (medium wave),
FM (frequency modulation) bahkan juga amatir radio. Inilah nilai lebih yang
dipunyai IDXC dibanding media lain yang sejenis. Demikian juga dalam format
penulisannya pun berbeda.
Bahkan hadir atau terbitnya yang dwi bulanan jelas jelas
membedakan dengan yang lainnya. Maka penulis menganggap bahwa persaingan
jelas jelas tidak ada. Bahkan tidak pernah ada. Justru saling bekerja sama.
Ini dapat dilihat dari buletin yang selalu menyebutkan nara sumbernya.
Jadi tidak asal-asalan dan dapat dipertanggung jawabkan. Dalam hal segmen
pembacanya pun sangat beragam. Sehingga pembaca yang mempunyai kesenangan
SW, MW, atau FM, bisa dipenuhi, tanpa meninggalkan misi yang sebenarnya.
Kalau bicara masalah peluang, orang sekaliber Taipan Liem
Sioe Liong pun akan selalu mengatakan, samar peluang yang menguntungkan
dengan segala perhitungan yang cermat, dan daya penciumannya seperti seorang
Taipan, atau seseorang yang bijaksana dalam memanfaatkan peluang. Sebenarnya,
kalau dikatakan peluang, IDXC kurang relevan. Karena dalam memanfaatkan
peluang lebih banyak spekulasi dan aji mumpung. Apakah IDXC seperti itu ?
Jelas tidak benar. Karena IDXC hadir dengan segala
perhitungan yang cermat, baik isi, misi sasaran yang akan dituju. Dan yang
lebih penting lagi, waktunya yang tepat. Tidak "grusa-grusu". Walaupun, ada
yang mengatakan kehadiran IDXC terlambat. Karena orang-orang yang ingin
mendapatkan informasi tentang keradioan sekomplit IDXC baru hadir saat ini.
Juga ada yang mengatakan kehadiran IDXC terlalu cepat, karena ingin
meng-cover semua pencinta radio itu tidak mungkin tercapai.
Tetapi semua pertanyaan itu sudah terjawab oleh masing
masing penilai yang mempunyai derajat intelektual yang berbeda beda dan
mungkin tak bisa dipengaruhi. Maka teka-teki kehadiran IDXC dikaitkan
dengan peluang, terjawab sudah, walaupun kurang memuaskan bagi penilai.
Tapi bagi penulis pribadi, jelas sudah lebih dari cukup, penjelasan di atas.
Yang terakhir adalah alternatif atau pilihan. Bagaimana dengan IDXC ? Apakah
hadir sebagai media (dalam hal ini buletin) alternatif ?
Maka penulis akan mengatakan, iya !! Sebab kita ketahui
dari beberapa macam buletin yang terbit, yang memuat naskah masalah
keradioan, dapat dikatakan itu-itu saja. Bahkan ada yang sudah almarhum,
karena tidak didukung oleh manajemen yang baik. Oleh karena itu, kehadiran
IDXC, sebagai media altenatif sangatlah tepat. Meski tidak mengurangi
rasa terima kasih kepada media lain. Di sini, yaitu IDXCer (anggota),
sangatlah merasakan bahwa IDXC adalah pilihan yang tepat. Walaupun tadinya
hanya sebagai media alternatif saja.
Tetapi sekarang justru sebagai pegangan setiap pecinta
radio. Dan yang pasti, IDXC hadir tidak menebarkan rasa permusuhan. Karena
hanya sebagai media altenatif saja. Jadi memberi wadah bagi orang yang
belum mempunyai tempat atau tetapi ingin memperkaya wawasan. Jadi IDXC
terbuka bagi siapa saja pecinta radio. Tidak akan memilah milah para
anggotanya. Justru sebagai media alternatif ini, IDXC harus bekerja keras,
agar orang tak memandang sebelah mata terhadap IDXC.
Karena IDXC lahir dalam suasana yang kompetitif, yang
mengharuskan IDXC mempunyai "competitive advantage" atau keunggulan komparatif,
dibandingkan dengan media lain yang sejenis. Yang menjadi pekerjaan rumah bagi IDXC,
dalam usianya yang pertama ini, adalah bagaimana mempertahankan keunggulan
komparatif yang sudah dimiliki saat ini, sehingga mampu bersaing, bisa
memanfaatkan peluang yang ada. Apakah akan mengubah format penerbitan
dari dwi bulanan menjadi bulanan ?
Ataukah akan memuat hasil kreasi anggota atau yang lainnya,
seperti selera anggota ? Mari, kita jalani bersama. Ini sekadar penilaian
penulis selama mengikuti perjalanan IDXC sampai pada saat ini. Dan yang jelas,
penilaian penulis berbeda dengan pembaca yang lainnya. Itu semua tidak
tertutup kemungkinannya. Jadi tulisan ini tak bermaksud mendiskreditkan
seseorang atau buletin sejenis, karena jelas beda persepsi.
Semoga tulisan ini berguna untuk membuka mata kita, di dalam
alam keterbukaan dan era informasi. Karena ada ungkapan bahwa bangsa yang
mampu memanfaatkan dan menguasai informasi adalah bangsa yang akan menguasai
dunia. Bagaimana dengan kita ? (Yogyakarta, Januari 1992 / DBR)
Motivasi, Misi, dan Hobi
Pembaca. Barangkali di benak Anda sampai kini masih bertanya
tanya tentang Indonesian DX Club. Apa dan mengapa ia muncul ? Suatu keharusan,
persaingan atau sekedar untuk menyemarakkan semata-mata dari klub yang sudah
ada. Kalau pertanyaan ini mesti dijawab oleh Anda ataupun anggota lain,
bahkan orang lain yang kebetulan ikut membaca Dirgantara, tentu jawabannya
akan beraneka ragam.
Suatu keharusan. Alasannya, banyak pendengar baru yang punya
potensi hobi mendengarkan radio, akan tetapi belum tertampung di dalam klub
pendengar radio yang sudah ada. Ada juga yang menjawab, buat apa muncul
klub baru, toh klub yang ada juga sudah lebih dari cukup untuk menampung
pendengar baru. Ah, itu persaingan namanya ... Di sisi lain ada yang
menjawab, untuk menyemarakkan saja agar klub-klub yang lain saling berpacu
meningkatkan mutu dan menu buletin bagi anggota.
Pembaca. Jawaban di atas adalah gambaran penulis dalam menjawab
pertanyaan apa dan mengapa. Tentu hal tersebut akan berbeda dengan jawaban Anda.
Atau bahkan sama persis. Yah ... itu terserah persepsi masing-masing.
Pemunculan klub baru, penulis rasa sah adanya. Apakah itu keharusan,
persaingan, kesemarakkan unsur-unsur ini semua ada dalam pemunculan klub baru.
Tidak hanya di klub radio, tetapi secara luas, setiap ada
yang baru, tentu ada yang pro dan kontra. Hal ini wajar, tanpa harus merasa
mana yang duluan dan lebih dulu muncul. Tidak harus berkonotasi, setiap ada
klub baru muncul adalah untuk persaingan klub yang sudah ada. Justru hal ini
suatu kompetisi, agar kita saling intropeksi diri. Kalau perlu, saling
diskusi untuk saling mengisi.
Pembaca. Setidaknya, Indonesian DX Club menjawab pertanyaan
di atas. Tidak mempermasalahkan mana pendengar baru, mana pendengar lama.
Mana senior, mana pula yunior. Yang mana pendengar maniak radio, atau hanya
pendengar radio secara kebetulan. Klasifikasi seperti ini, Indonesian DX
Club meniadakannya.
Bahkan, Indonesian DX Club menawarkan untuk bergabung.
Baik itu pendengar radio AM-FM, pemirsa televisi, ataupun pecinta radio
amatir. Inilah sisi lain dari pemunculan Indonesian DX Club. Bahkan, tidak
menutup kemungkinan Indonesian DX Club menawarkan bagi yang hobi
korespondensi dan filateli untuk bergabung.
Pembaca. Jadi, tepat kiranya kalau kita tidak mempermasalahkan
dulu mana antara ayam dengan telur. Pertanyaan ini gampang gampang susah
untuk menjawabnya, karena masing-masing jawaban mempunyai alasan tersendiri.
Yang penting Anda sebagai anggota Indonesian DX Club atau bahkan Anda juga
menjadi anggota klub lainnya, atau hanya sekedar simpatisan silahkan menjawab
pertanyaan ini secara kritis.
Baik kritis secara intelektual atau kritis orang awam.
Hemat penulis, kalau diharuskan menjawab dulu mana ayam dengan telur, duluan yang
mempermasalahkan. Itu saja !! Lantas, bagaimana dengan Indonsian DX Club ?
Tentu lahir dan muncul tidak begitu saja, tanpa makna. Tetapi muncul karena
hobi dan motivasi. Hobi karena pengasuh dan pengelola di redaksi Dirgantara
adalah insan-insan yang hobi akan keradioan.
Berangkat dari sinilah, Indonesian DX Club punya motivasi
untuk saling berbagi pengalaman, berdiskusi antar pengelola ataupun sesama
anggota lewat sarana buletin Dirgantara. Dalam usianya yang masih muda,
satu tahun, Indonesian DX Club berkiprah dengan menerbitkan buletin yang
diberi nama Dhirgantara. Setidaknya punya makna buat Anda. Punya arti bagi
redaksi. Kalau masih terdapat kekurangan di sana-sini, penulis yakin itu
kekurangan dan keterbatasan yang ada pada redaksi.
Tetapi, apabila ada nilai lebih, itu terserah penilaian Anda
sepenuhnya. Pembaca. Hemat penulis, sah adanya klub baru muncul. Sah
pula kalau produk yang dihasilkan sama. Lantas, kalau cara penyajian menu
yang berbeda, inilah yang membuatnya lain. Sekaligus, berbeda dengan yang
sudah ada. Bukan begitu pembaca ? Selamat Ulang Tahun IDXC !! (ASK)
Kelebihan dan Kelemahan Medium Radio
Dibandingkan dengan media komunikasi massa lainnya, radio
dapatlah dikatakan sebagai medium yang paling mendekati kesempurnaan sebagai
alat pengganti kunjungan dari rumah ke rumah, di tempat tidur. Atau bahkan
dapat dipakai sebagai teman dalam perjalanan. Di dalam hal tertentu, seorang
pendengar radio tak dituntut memiliki suatu ketrampilan yang khusus atau
pengetahuan yang memadai.
Pendengar yang buta aksara asalkan mempunyai pendidikan
tinggi dapat mempergunakannya sesuai dengan keinginannya. Seseorang yang
tidak nenyukai sajian musik klasik ataupun jazz dapat dengan mudah memutar
tombol off untuk mematikannya atau memijit digit untuk memperoleh acara
yang sesuai dengan seleranya. Radio, meski zaman keemasannya telah
digantikan medium lain, seperti televisi, tapi dalam setiap pendataan
senantiasa mendekati puncak pilihan.
Apalagi bagi daerah-daerah yang belum sama sekali
terjangkau televisi, radio merupakan media yang paling disukai. Suatu ketika
nanti apabila satelit telah dipergunakan untuk sebagian besar stasiun radio,
bukan tidak mungkin persaingan dengan televisi akan menjadi semakin ketat.
Bagi negara yang sebagian besar jumlah penduduknya masih buta aksara, seperti
Maroko dengan sendirinya medium yang paling disukai sebgai alat komunikasi,
jelaslah radio.
Sebaliknya pada negara seperti Guatemala, yang mayoritas
penduduknya memiliki radio lebih dari 90% tentunya lebih suka mendengarkan
radio. Bahkan negara seperti Amerika Serikat yang banyak memiliki stasiun
televisi dengan acara yang sangat beragam, sebagian penduduknya masih
menyukai radio karena acara musik dan talk show, yang dalam memberi
informasi lebih cepat dibandingkan dengan televisi.
Namun di samping hal-hal di atas, radio memiliki kelebihan,
dan juga keterbatasan, seperti diungkapkan oleh Harry L. Levin dan Robert W.
Gillespie, di dalam bukunya yang berjudul The Use of Radio in Family Planning.
Kelebihan Medium Radio
1. Dapat menjangkau pendengar tanpa memandang tingkat pendidikan.
Literatur bagi para pendengar pada dasarnya hanya mempercepat proses keefektifannya
2. Dalam saat yang sama dapat menjangkau pendengar dengan cepat
3. Dapat menjangkau pendengar yang mempunyai tempat tinggal sangat jauh,
terisolasi dan sukar dicapai dengan komunikasi fisik
4. Jangkauan pesan langsung pada pendengar, menyeberangi rintangan
dan usaha yang dilakukan pendengar sangat sedikit
5. Dapat menjangkau pendengar dengan tingkat pendapatan rendah
6. Dapat menyajikan hiburan
7. Merupakan medium yang mudah dibawa kemana-mana
8. Dapat membawakan suatu informasi yang berisikan suatu pendirian
9. Menciptakan rasa keikutsertaan, keterlibatan penyiar dan pendengar
10. Dapat menciptakan suasana pembentukan opini antara penyiar dan
pendengar sehingga mendorong diterimanya sesuatu yang semula ditolak (legitimasi)
11. Mempertebal pengetahuan baru, dan sikap perubahan tingkah laku
Keterbatasan Medium Radio
1. Karena daya tangkap pendengar lebih pelan dibanding dengan daya
pandang, menyebabkan medium radio sangat sukar untuk dipergunakan sebagai
alat transfer pesan-pesan yang rumit
2. Karena pesan yang disampaikan tak dapat diulang kembali, pendengar
tidak dapat mengontrol semua pesan yang diudarakan melalui telinga dan pikiran
3. Asumsi penyiar yang keliru tanpa didasari studi pengetahuan tentang
komposisi pendengar yang menyebabkan proses tidak sampai kepada sasaran
4. Sifat radio sebagai medium yang tidak efektif di dalam membawakan
suatu perubahan sikap atau perubahan kepercayaan
5. Karena latar belakang kebudayaan yang beragam, pesan yang datang dari
jarak jauh kadang-kadang mempunyai kredibilitas yang kurang dapat dipercaya.
(HSB)