Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 2 No 1 Mar-Apr 1992
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
Opini Anda
Sosok
Telekomunikasi
Catatan Pinggir
Redaksi

Volume 2
  Opini Anda
Peluang, Persaingan, dan Alternatif

Sengaja saya menurunkan tulisan ini dalam rangka ikut memeriahkan ulang tahun Indonesian DX Club, IDXC, yang pertama, dan saya ingin mengkilas balik kehadiran IDXC dengan sarana Buletin Dirgantara-nya. Mungkin pembaca akan bertanya tanya dengan judul tersebut. Tetapi justru dengan judul tersebut kita akan lebih jelas dan tidak ragu-ragu lagi dengan IDXC. Atau musnahlah rasa curiga yang selama ini menghantui, baik anggota, simpatisan, penyiar, bahkan yang di luar gawang.

Dalam era globalisasi ini, persaingan untuk mendapat dan menyediakan informasi sangat ketat. Sehingga masing masing media terus berbenah diri agar mampu menyediakan informasi terbaru secepat mungkin, bahkan cara-cara yang melanggar etika pun diterjang. Lalu, bagaimana dengan IDXC ? Apakah hadir dengan persaingan ? Terlalu pagi bila sementara orang menganggap IDXC sebagai pesaing yang harus diperhitungkan.

Karena masing-masing media mempunyai kekhasan tersendiri sebagai media informasi di bidang keradioan yang sama, yaitu SW (short wave). Tetapi IDXC tidak hanya menggarap ladang Shortwave saja juga MW (medium wave), FM (frequency modulation) bahkan juga amatir radio. Inilah nilai lebih yang dipunyai IDXC dibanding media lain yang sejenis. Demikian juga dalam format penulisannya pun berbeda.

Bahkan hadir atau terbitnya yang dwi bulanan jelas jelas membedakan dengan yang lainnya. Maka penulis menganggap bahwa persaingan jelas jelas tidak ada. Bahkan tidak pernah ada. Justru saling bekerja sama. Ini dapat dilihat dari buletin yang selalu menyebutkan nara sumbernya. Jadi tidak asal-asalan dan dapat dipertanggung jawabkan. Dalam hal segmen pembacanya pun sangat beragam. Sehingga pembaca yang mempunyai kesenangan SW, MW, atau FM, bisa dipenuhi, tanpa meninggalkan misi yang sebenarnya.

Kalau bicara masalah peluang, orang sekaliber Taipan Liem Sioe Liong pun akan selalu mengatakan, samar peluang yang menguntungkan dengan segala perhitungan yang cermat, dan daya penciumannya seperti seorang Taipan, atau seseorang yang bijaksana dalam memanfaatkan peluang. Sebenarnya, kalau dikatakan peluang, IDXC kurang relevan. Karena dalam memanfaatkan peluang lebih banyak spekulasi dan aji mumpung. Apakah IDXC seperti itu ?

Jelas tidak benar. Karena IDXC hadir dengan segala perhitungan yang cermat, baik isi, misi sasaran yang akan dituju. Dan yang lebih penting lagi, waktunya yang tepat. Tidak "grusa-grusu". Walaupun, ada yang mengatakan kehadiran IDXC terlambat. Karena orang-orang yang ingin mendapatkan informasi tentang keradioan sekomplit IDXC baru hadir saat ini. Juga ada yang mengatakan kehadiran IDXC terlalu cepat, karena ingin meng-cover semua pencinta radio itu tidak mungkin tercapai.

Tetapi semua pertanyaan itu sudah terjawab oleh masing masing penilai yang mempunyai derajat intelektual yang berbeda beda dan mungkin tak bisa dipengaruhi. Maka teka-teki kehadiran IDXC dikaitkan dengan peluang, terjawab sudah, walaupun kurang memuaskan bagi penilai. Tapi bagi penulis pribadi, jelas sudah lebih dari cukup, penjelasan di atas. Yang terakhir adalah alternatif atau pilihan. Bagaimana dengan IDXC ? Apakah hadir sebagai media (dalam hal ini buletin) alternatif ?

Maka penulis akan mengatakan, iya !! Sebab kita ketahui dari beberapa macam buletin yang terbit, yang memuat naskah masalah keradioan, dapat dikatakan itu-itu saja. Bahkan ada yang sudah almarhum, karena tidak didukung oleh manajemen yang baik. Oleh karena itu, kehadiran IDXC, sebagai media altenatif sangatlah tepat. Meski tidak mengurangi rasa terima kasih kepada media lain. Di sini, yaitu IDXCer (anggota), sangatlah merasakan bahwa IDXC adalah pilihan yang tepat. Walaupun tadinya hanya sebagai media alternatif saja.

Tetapi sekarang justru sebagai pegangan setiap pecinta radio. Dan yang pasti, IDXC hadir tidak menebarkan rasa permusuhan. Karena hanya sebagai media altenatif saja. Jadi memberi wadah bagi orang yang belum mempunyai tempat atau tetapi ingin memperkaya wawasan. Jadi IDXC terbuka bagi siapa saja pecinta radio. Tidak akan memilah milah para anggotanya. Justru sebagai media alternatif ini, IDXC harus bekerja keras, agar orang tak memandang sebelah mata terhadap IDXC.

Karena IDXC lahir dalam suasana yang kompetitif, yang mengharuskan IDXC mempunyai "competitive advantage" atau keunggulan komparatif, dibandingkan dengan media lain yang sejenis. Yang menjadi pekerjaan rumah bagi IDXC, dalam usianya yang pertama ini, adalah bagaimana mempertahankan keunggulan komparatif yang sudah dimiliki saat ini, sehingga mampu bersaing, bisa memanfaatkan peluang yang ada. Apakah akan mengubah format penerbitan dari dwi bulanan menjadi bulanan ?

Ataukah akan memuat hasil kreasi anggota atau yang lainnya, seperti selera anggota ? Mari, kita jalani bersama. Ini sekadar penilaian penulis selama mengikuti perjalanan IDXC sampai pada saat ini. Dan yang jelas, penilaian penulis berbeda dengan pembaca yang lainnya. Itu semua tidak tertutup kemungkinannya. Jadi tulisan ini tak bermaksud mendiskreditkan seseorang atau buletin sejenis, karena jelas beda persepsi.

Semoga tulisan ini berguna untuk membuka mata kita, di dalam alam keterbukaan dan era informasi. Karena ada ungkapan bahwa bangsa yang mampu memanfaatkan dan menguasai informasi adalah bangsa yang akan menguasai dunia. Bagaimana dengan kita ? (Yogyakarta, Januari 1992 / DBR)

Motivasi, Misi, dan Hobi

Pembaca. Barangkali di benak Anda sampai kini masih bertanya tanya tentang Indonesian DX Club. Apa dan mengapa ia muncul ? Suatu keharusan, persaingan atau sekedar untuk menyemarakkan semata-mata dari klub yang sudah ada. Kalau pertanyaan ini mesti dijawab oleh Anda ataupun anggota lain, bahkan orang lain yang kebetulan ikut membaca Dirgantara, tentu jawabannya akan beraneka ragam.

Suatu keharusan. Alasannya, banyak pendengar baru yang punya potensi hobi mendengarkan radio, akan tetapi belum tertampung di dalam klub pendengar radio yang sudah ada. Ada juga yang menjawab, buat apa muncul klub baru, toh klub yang ada juga sudah lebih dari cukup untuk menampung pendengar baru. Ah, itu persaingan namanya ... Di sisi lain ada yang menjawab, untuk menyemarakkan saja agar klub-klub yang lain saling berpacu meningkatkan mutu dan menu buletin bagi anggota.

Pembaca. Jawaban di atas adalah gambaran penulis dalam menjawab pertanyaan apa dan mengapa. Tentu hal tersebut akan berbeda dengan jawaban Anda. Atau bahkan sama persis. Yah ... itu terserah persepsi masing-masing. Pemunculan klub baru, penulis rasa sah adanya. Apakah itu keharusan, persaingan, kesemarakkan unsur-unsur ini semua ada dalam pemunculan klub baru.

Tidak hanya di klub radio, tetapi secara luas, setiap ada yang baru, tentu ada yang pro dan kontra. Hal ini wajar, tanpa harus merasa mana yang duluan dan lebih dulu muncul. Tidak harus berkonotasi, setiap ada klub baru muncul adalah untuk persaingan klub yang sudah ada. Justru hal ini suatu kompetisi, agar kita saling intropeksi diri. Kalau perlu, saling diskusi untuk saling mengisi.

Pembaca. Setidaknya, Indonesian DX Club menjawab pertanyaan di atas. Tidak mempermasalahkan mana pendengar baru, mana pendengar lama. Mana senior, mana pula yunior. Yang mana pendengar maniak radio, atau hanya pendengar radio secara kebetulan. Klasifikasi seperti ini, Indonesian DX Club meniadakannya.

Bahkan, Indonesian DX Club menawarkan untuk bergabung. Baik itu pendengar radio AM-FM, pemirsa televisi, ataupun pecinta radio amatir. Inilah sisi lain dari pemunculan Indonesian DX Club. Bahkan, tidak menutup kemungkinan Indonesian DX Club menawarkan bagi yang hobi korespondensi dan filateli untuk bergabung.

Pembaca. Jadi, tepat kiranya kalau kita tidak mempermasalahkan dulu mana antara ayam dengan telur. Pertanyaan ini gampang gampang susah untuk menjawabnya, karena masing-masing jawaban mempunyai alasan tersendiri. Yang penting Anda sebagai anggota Indonesian DX Club atau bahkan Anda juga menjadi anggota klub lainnya, atau hanya sekedar simpatisan silahkan menjawab pertanyaan ini secara kritis.

Baik kritis secara intelektual atau kritis orang awam. Hemat penulis, kalau diharuskan menjawab dulu mana ayam dengan telur, duluan yang mempermasalahkan. Itu saja !! Lantas, bagaimana dengan Indonsian DX Club ? Tentu lahir dan muncul tidak begitu saja, tanpa makna. Tetapi muncul karena hobi dan motivasi. Hobi karena pengasuh dan pengelola di redaksi Dirgantara adalah insan-insan yang hobi akan keradioan.

Berangkat dari sinilah, Indonesian DX Club punya motivasi untuk saling berbagi pengalaman, berdiskusi antar pengelola ataupun sesama anggota lewat sarana buletin Dirgantara. Dalam usianya yang masih muda, satu tahun, Indonesian DX Club berkiprah dengan menerbitkan buletin yang diberi nama Dhirgantara. Setidaknya punya makna buat Anda. Punya arti bagi redaksi. Kalau masih terdapat kekurangan di sana-sini, penulis yakin itu kekurangan dan keterbatasan yang ada pada redaksi.

Tetapi, apabila ada nilai lebih, itu terserah penilaian Anda sepenuhnya. Pembaca. Hemat penulis, sah adanya klub baru muncul. Sah pula kalau produk yang dihasilkan sama. Lantas, kalau cara penyajian menu yang berbeda, inilah yang membuatnya lain. Sekaligus, berbeda dengan yang sudah ada. Bukan begitu pembaca ? Selamat Ulang Tahun IDXC !! (ASK)

Kelebihan dan Kelemahan Medium Radio

Dibandingkan dengan media komunikasi massa lainnya, radio dapatlah dikatakan sebagai medium yang paling mendekati kesempurnaan sebagai alat pengganti kunjungan dari rumah ke rumah, di tempat tidur. Atau bahkan dapat dipakai sebagai teman dalam perjalanan. Di dalam hal tertentu, seorang pendengar radio tak dituntut memiliki suatu ketrampilan yang khusus atau pengetahuan yang memadai.

Pendengar yang buta aksara asalkan mempunyai pendidikan tinggi dapat mempergunakannya sesuai dengan keinginannya. Seseorang yang tidak nenyukai sajian musik klasik ataupun jazz dapat dengan mudah memutar tombol off untuk mematikannya atau memijit digit untuk memperoleh acara yang sesuai dengan seleranya. Radio, meski zaman keemasannya telah digantikan medium lain, seperti televisi, tapi dalam setiap pendataan senantiasa mendekati puncak pilihan.

Apalagi bagi daerah-daerah yang belum sama sekali terjangkau televisi, radio merupakan media yang paling disukai. Suatu ketika nanti apabila satelit telah dipergunakan untuk sebagian besar stasiun radio, bukan tidak mungkin persaingan dengan televisi akan menjadi semakin ketat. Bagi negara yang sebagian besar jumlah penduduknya masih buta aksara, seperti Maroko dengan sendirinya medium yang paling disukai sebgai alat komunikasi, jelaslah radio.

Sebaliknya pada negara seperti Guatemala, yang mayoritas penduduknya memiliki radio lebih dari 90% tentunya lebih suka mendengarkan radio. Bahkan negara seperti Amerika Serikat yang banyak memiliki stasiun televisi dengan acara yang sangat beragam, sebagian penduduknya masih menyukai radio karena acara musik dan talk show, yang dalam memberi informasi lebih cepat dibandingkan dengan televisi.

Namun di samping hal-hal di atas, radio memiliki kelebihan, dan juga keterbatasan, seperti diungkapkan oleh Harry L. Levin dan Robert W. Gillespie, di dalam bukunya yang berjudul The Use of Radio in Family Planning.

Kelebihan Medium Radio

1. Dapat menjangkau pendengar tanpa memandang tingkat pendidikan. Literatur bagi para pendengar pada dasarnya hanya mempercepat proses keefektifannya
2. Dalam saat yang sama dapat menjangkau pendengar dengan cepat
3. Dapat menjangkau pendengar yang mempunyai tempat tinggal sangat jauh, terisolasi dan sukar dicapai dengan komunikasi fisik
4. Jangkauan pesan langsung pada pendengar, menyeberangi rintangan dan usaha yang dilakukan pendengar sangat sedikit
5. Dapat menjangkau pendengar dengan tingkat pendapatan rendah
6. Dapat menyajikan hiburan
7. Merupakan medium yang mudah dibawa kemana-mana
8. Dapat membawakan suatu informasi yang berisikan suatu pendirian
9. Menciptakan rasa keikutsertaan, keterlibatan penyiar dan pendengar
10. Dapat menciptakan suasana pembentukan opini antara penyiar dan pendengar sehingga mendorong diterimanya sesuatu yang semula ditolak (legitimasi)
11. Mempertebal pengetahuan baru, dan sikap perubahan tingkah laku

Keterbatasan Medium Radio

1. Karena daya tangkap pendengar lebih pelan dibanding dengan daya pandang, menyebabkan medium radio sangat sukar untuk dipergunakan sebagai alat transfer pesan-pesan yang rumit
2. Karena pesan yang disampaikan tak dapat diulang kembali, pendengar tidak dapat mengontrol semua pesan yang diudarakan melalui telinga dan pikiran
3. Asumsi penyiar yang keliru tanpa didasari studi pengetahuan tentang komposisi pendengar yang menyebabkan proses tidak sampai kepada sasaran
4. Sifat radio sebagai medium yang tidak efektif di dalam membawakan suatu perubahan sikap atau perubahan kepercayaan
5. Karena latar belakang kebudayaan yang beragam, pesan yang datang dari jarak jauh kadang-kadang mempunyai kredibilitas yang kurang dapat dipercaya. (HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 2 No 1 Mar-Apr 1992
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space