Profil Stasiun
Radio Retjo Buntung : Radio yang Melestarikan Budaya
Bangsa
One Double O Point Double Five. Begitulah salah satu jingle
dari Retjo Buntung FM atau yang dikenal sebagai RBFM. Tentunya, punya
maksud untuk menunjukkan bahwa RBFM bekerja pada 100,55 MHz. Radio ini juga
mempunyai slogan yang cukup mentereng "Radio yang Melestarikan Budaya
Bangsa". Begitulah, slogan yang selalu dipegang teguh RBFM, sampai saat
ini. Hal ini bisa Anda buktikan dari acara yang disajikan buat pemirsanya.
Yang pasti, Anda bisa menemukan berbagai macam jenis acara
ada di stasiun radio swasta nasional yang berada di Jln Jagalan 36,
Yogyakarta tersebut. Musik pop, baik dalam maupun manca, ada.
Tradisional, dari uyon-uyon sampai kethoprak, ada. Pokoknya, serba ada.
Untuk melihat lebih jauh, Dirgantara menurunkan tulisan berdasarkan pada
wawancara dengan Th. Esti Priatmo, Kepala Bagian Siaran Radio Retjo
Buntung. Ikutilah wawancara rekan Aries Subagyo dan Ina Rimawati.
DHG : Sejak kapan Radio Retjo Buntung mengudara, dan mengapa
dinamakan Retjo Buntung ?
RBFM : Retjo Buntung mengudara sejak tanggal 9 Maret 1967.
Seperti halnya radio-radio swasta nasional lainnya, kami berangkat dari
hobby elektronika. Kalau dahulu, istilahnya amatir. Terus berkembang sampai
sekarang, menjadi belajar profesional. Mengenai latar belakang nama, di depan
studio ada patung, patung yang buntung tangannya. Nama Retjo, kan, artinya
arca, sedangkan buntung, ya, cacat.
Arca itu sudah ada sejak dulu, bahkan di zaman perang
kemerdekaan sudah ada. Oleh warga sekitarnya, Retjo Buntung itu dijadikan patokan
untuk mencari sebuah lokasi atau tempat. Akhirnya, oleh pendahulu yang
merintis radio ini menamakan radio ini Retjo Buntung.
DHG : Bagaimana aturan main untuk pindah jalur ke FM ?
RBFM : Untuk masalah perizinan, kita berangkat dari
daerah. Dalam hal ini, ada rekomendasi dari PRSSNI daerah. Kemudian ke BPR,
Badan Pembina Radio-radio Swasta Nasional atau non pemerintah. Terus dari
Parpostel, Kanwil Postel Daerah, Kanwil VIII. Kemudian, dari gubernur,
baru diangkat ke Jakarta, ke RTF. Kemudian ke Postel.
DHG : Sebelum secara resmi mengudara di jalur FM,
Retjo Buntung terlebih dulu mengadakan siaran percobaan. Dalam hal ini,
kriteria apa yang digunakan, untuk menentukan, bisa tidak sebuah stasiun
radio mengudara di jalur FM ?
RBFM : Di dalam siaran percobaan, yang dicoba adalah
peralatannya. Dalam hal ini, daya jangkau, dan juga output.
DHG : Bagaimana dengan isi acaranya ?
RBFM : Dalam siaran percobaan tidak boleh beriklan, hanya
percobaan modulasi, dan musik memang sebagai materi utamanya.
DHG : Bagaimana dengan pemilihan frekuensi, apa
Retjo Buntung yang menentukan sendiri, atau ada pihak lain yang menentukan ?
RBFM : Itu memang Postel yang mengatur.
DHG : Bagaimana aturan main di jalur FM ?
RBFM : Perlu Anda ketahui juga. Di Yogyakarta, belum sepadat
kota Jakarta. Kalau saya lihat, di Jakarta memang sudah penuh. Dari 100,2
sampai 107,55 itu sudah penuh, gradasinya 350 kHz. Kalau di sini, ada
repotnya. Kalau pakai frekuensi yang di bawah itu, kena TV tetangga.
DHG : Yang di bawah 100 MHz ?
RBFM : Bukan. Ya, di antara 100 itu. Makanya, di sini,
paling rendah 104,05 MHz, yaitu GCD FM. Di bawah itu lagi, kena televisi
tetangga. Naik lagi ke 107,55. Padahal RRI di 107,3. Gradasinya bukan lagi
350 kHz, melainkan 250 kHz, dan dapatnya 105,1 MHz.
Pada awalnya, memang frekuensi tersebut yang digunakan
selama siaran percobaan. Tetapi, setelah sekian lama siaran percobaan,
datang laporan dari Surakarta mengatakan co-channel dengan RRI
Surakarta. Tetapi, berdasarkan World Radio Television Handbook 1991, hanya
berbeda 100 kHz. Karena itulah, kemudian pindah ke 100,55 MHz, yang ternyata
tidak mengganggu televisi tetangga seperti yang diduga semula. Dan, resmilah
Retjo Buntung mengudara pada 100,55 MHz.
DHG : Di Jakarta pernah terjadi, salah satu stasiun radio
menggunakan frekuensi yang dimiliki RRI. Bagaimana dengan Yogyakarta, apakah
bisa RRI diminta menggeser frekuensi agar tak terlalu
berdekatan ?
RBFM : Saya pernah ngomong-ngomong dengan orang RRI, bahwa
itu memang sudah peraturan dari Departemen Penerangan. Frekuensi 107,3 MHz
itu milik RRI, jadi seluruh radio di Indonesia yaitu 107,3 MHz itu frekuensinya RRI.
DHG : Apa motivasi Retjo Buntung pindah ke jalur FM ?
Nah ini dia, asyik nih, kita memang menampung, tak hanya
menampung, tapi merealisasi aspirasi dari masyarakat. Betul. Pada awal 1991,
Retjo Buntung mengadakan angket hadiahnya sepeda. Kita sebar beberapa
puluh ribu, dan kembali separuh lebih. Di dalam angket tersebut, kami
menanyakan, apakah Anda setuju Retjo Buntung pindah ke jalur FM ? Apa alasan Anda ?
Dari jawaban yang masuk, kami persentase, yang 73,75% menyatakan
sangat setuju Retjo Buntung pindah ke jalur FM, sisanya tidak setuju.
Jadi, yang setuju lebih dari separuh, dan hampir 100 persen.
Dari situ, kami melihat bahwa masyarakat sudah siap, siap dalam hal receiver-nya,
atau pesawat radio penerima.
Dan dari SRI, kami juga terima data bahwa pemilikan
pesawat radio yang bergelombang FM tidak terlampau jauh jaraknya dengan AM, yang sama
sekali tidak ada FM-nya. Terpautnya berapa, cuman sedikit, dan saya optimis, bahwa
dalam waktu yang relatif pendek, tidak sampai satu tahun, bisa melampaui
pemilikan radio AM. Nah, dari situlah, kami optimis untuk pindah ke jalur FM.
DHG : Mengingat kepemilikan pesawat radio FM masih
sedikit, apa yang dilakukan Retjo Buntung untuk mengatasi hal tersebut ?
RBFM : Memang, kami masih berharap masyarakat bisa makin
banyak memiliki pesawat penerima radio FM, maka kami juga mengadakan pengadaan
pesawat penerima radio FM, dengan cara mengkredit murah. Bahkan, kami juga
menyediakan jasa memodifikasi pesawat penerima, dari yang tidak
bergelombang FM, menjadi ada.
DHG : Bagaimana tanggapan mereka ?
Positif, banyak yang menanyakan, pertama-tama orang kan
ingin tahu, ada sesuatu yang baru. Ah, masa iya, berapa biayanya ? Ah, gimana ?
Kami jawab, okey, okey ... kemudian ada yang masuk. Kita tambahi channel.
Hasilnya mulus juga, dia senang, kami juga senang, tapi bukan berarti terus
dimodifikasi hanya untuk Radio Retjo Buntung, yang lain juga bisa di-cover.
DHG : Bagaimana dengan hasil angket, apa alasan mereka
setuju, dan apa pula alasan mereka tidak setuju ?
Memang, ada beragam yang masuk, boleh pindah, asal acaranya
tidak diubah, dangdut misalnya. Kalau dangdutnya, kayaknya, banyak yang setuju
di FM, jadi kami pertahankan juga di FM. Yang jelas, masyarakat mengharap
agar acara-acaranya tidak banyak berubah, ada yang tidak setuju. Justru dia
memiliki pesawat penerima radio FM, ketidaksetujuan dia beralasan, bahwa
nanti saya khawatir acara-acara akan diubah.
Jadi kekhawatiran mereka sudah terciptakan oleh trend, oleh
orang orang radio. Anda pantau aja di daerah, radio FM di daerah cenderung
ke anak muda, itu diciptakan oleh orang-orang radio sendiri. Bahwa FM itu
harus kayak gitu. Tapi Retjo Buntung bilang, tidak harus !! Retjo Buntung
berani tampil beda.
DHG : Ada sementara kalangan yang mengatakan bahwa
teknologi FM masih terlalu canggih, jadi apa yang disiarkan harus sesuai.
Orang bilang bahwa daerah Jakarta minded, sedangkan Jakarta luar negeri
minded. Bagaimana dengan Retjo Buntung sendiri ?
Kita bicara soal perkembangan zaman, perkembangan teknologi,
kita harus selalu mengantisipasinya. Perubahan teknologi mempengaruhi juga perubahan
segala macam perilaku, juga sikap, life style atau gaya hidup masyarakat
juga terpengaruh. Kalau kita tidak mengantisipasi, mengikuti perkembangan,
kita ketinggalan zaman dong. Digilas oleh yang lain. Yang lain, yang butuh,
ingin maju, kita ketinggalan. Jelas-jelas bahwa Anda lihat sendiri, hasilnya
lebih bersih, dan lebih bagus daripada AM.
Kita juga ingin meningkat lebih baik, dan memang, kebanyakan
teknologi datang dari sana (barat, red). Akan tetapi bukan berarti terus kita
telan mentah-mentah begitu. Ada aturan mainnya, yang menjaga agar ada
keseimbangan. Kita tidak telan mentah teknologi, tapi juga kita ikuti. Kalau
tidak, katakanlah misalnya Retjo Buntung terus berpacu di AM, sementara
perkembangan terus maju, kita ketinggalan dong.
DHG : Bagaimana dengan peralatan yang digunakan Retjo
Buntung sendiri, apakah cukup canggih juga ?
Ukuran canggih itu relatif, tapi yang jelas, bisa dipantau
dengan enak aja. Tetapi begini, kalau Anda datang ke restoran, Anda kan
tidak akan masuk ke dapur, pakai apa nggorengnya ? Kok enak. Orang kan nggak
nanya, bumbunya apa sih ? Pasti, wuah, enak. Restoran apa nih, lantas pulang,
ngajak temen, makan di sana aja, enak.
DHG : Jadi, Retjo Buntung masih merakit sendiri ?
RBFM : Memang begitu, tetapi yang jelas, kita dapat dipantau.
Dari surat-surat yang masuk, ternyata ada datang dari Kroya, Madiun, Cepu,
Salatiga, Purworejo, Kebumen, Kutoarjo. Bener, juga ada.
Konon, siaran Retjo Buntung ini bisa dipantau juga di
kawasan bagian timur Sumatera, seperti Lampung, Palembang, juga di Bekasi, Karawang.
DHG : Retjo Buntung punya motto "Melestarikan Budaya
Bangsa". Pernahkah Retjo Buntung memperoleh penghargaan atas acara acara yang
disiarkan ? Terutama yang ada hubungannya dengan pelestarian budaya bangsa ?
RBFM : Ya. Banyak memang penghargaan yang kami terima.
Ada memang yang mengatakan radio kami radio yang "ndeso" (radio daerah, red).
Kami memperoleh penghargaan atas spot, kebersihan yang kami udarakan. Dari
Bapak Walikota waktu itu, Pak Jatmikanto.
Kemudian dari Spanyol, kami juga
mendapat penghargaan dalam hal manajemen, untuk pengelolaan bisnis di bidang
radio, dan pimpinan kami juga datang ke Spanyol sana mengambilnya. Kemudian,
dari SRI, Survei Riset Indonesia, sejak tahun 1984, selalu nomor
satu di Yogyakarta.
DHG : Bagaimana dengan acara produksi Retjo Buntung,
setiap berapa tahun sekali diadakan semacam lomba ?
RBFM : Maksudnya Widya Kencana ?
DHG : Ya !!
RBFM : Kita memang pernah ikut juga, tetapi itu tidak hanya
untuk produksi, tapi juga masalah administrasi, bahkan ukuran bangunan juga
ikut dilombakan.
DHG : Bagaimanakah dengan porsi masing-masing acara di Retjo
Buntung, berapa persen untuk iklan, hiburan, dan informasi ?
RBFM : Kita tetap mengacu pada aturan pemerintah, untuk
penerangan 20%, pendidikan 7%, hiburan 48%, dan lain-lain 20%, kita mengacu
ke sana. Meskipun dalam kenyataannya, penerangan bisa lebih dari 20%, misalnya
pas ada penambahan relai. Kami juga produksi penerangan, tapi bukan warta
berita, tapi informasi dari kami sendiri.
Anda bisa mendengarkan "Yogya Selintas", itu suatu hal yang
bersifat informasi, informatif. Karena radio swasta nasional tidak diperbolehkan
membikin warta berita. Wawancara wawancara, termasuk penerangan juga, dan
sekaligus pendidikan.
DHG : Bagaimana dengan iklannya ? Apakah dengan masuknya
Retjo Buntung ke jalur FM, pihak pemasang iklan secara otomatis menaikkan
tarif ? Hal ini mengingat biaya operasional di jalur FM lebih besar dari
pada di jalur AM, atau menunggu sampai kontrak berakhir terlebih dahulu,
baru dikenakan tarif baru ?
RBFM : Saya kasih contoh aja deh, misalnya Anda menjual
barang di pasar. Apa Anda mau menaikkan tarif ? Nggak gitu kan ? Jadi begini,
naik tidaknya tarif memang kita harus konsekuen dengan program yang ada.
Tapi sebetulnya, banyak orang merasa, seolah kita menjual waktu, menjual
program. Sesungguhnya bukan itu. Secara tidak langsung, biro iklan itu
membeli acara atau memasangkan iklan. Dia akan menanyakan berapa pendengarmu ?
Nah, dari situ, baru dia mau pasang iklan.
Dan dia akan melihat juga di radio lain, pada
acara yang sama atau sejenis. Berapa ribu pendengar yang mendengarkan, dia akan
mengukur efektivitas. Kalau di sini saja sudah ada sepuluh ribu pendengar
pada jam itu, sementara di radio lain hanya seribu, mendingan pasang yang
sepuluh ribu, nggak usah pasang di mana-mana. Nah, di sini tuntutannya pada
seorang programer, dia harus optimal. Saya tidak katakan maksimum, tetapi
harus optimal.
DHG : Tadi dikatakan, bahwa pihak pemasang iklan ingin tahu
mengenai jumlah pendengar. Tentunya, data yang ditunjukkan itu dari mana ?
RBFM : Ya, Survei Riset Indonesia memang satu satunya yang
banyak dipercaya untuk sementara ini di Indonesia. Dari dulu, data semacam
itu kami selalu mendapatkan. Secara rinci, dari situ, dari pada audiens, dan
bahkan juga digambarkan secara jelas sekali, dari jam ke jam, berapa pendengar
radio saya dan juga radio lainnya.
Sehingga kita tahu persis, kok radio lain bisa setinggi
ini, kenapa sih ? Kita lihat, radio lain modelnya begini, sistem siarannya
begini. Materinya begini. Jadi kita memang harus berebutan pendengar. Kemudian
juga berdasarkan angket. Kita tidak menutup kemungkinan juga dari respon
pendengar sendiri, misalnya lewat surat, telepon. Kita perhatikan.
DHG : Sebagai sebuah badan usaha, dalam hal ini, Retjo
Buntung menjual jam siarnya. Apakah Retjo Buntung sendiri memproduksi siaran
yang dijual ke stasiun lain, atau mungkin badan lain ?
RBFM : Dahulu pernah, dan sekarang masih ada, sifatnya kerja
sama. Kalau Anda di Jakarta mendengar Radio Kayu Manis, acara ketoprak
itu adalah paket dari Retjo Buntung. Sekarang masih berlangsung. Dan sebagian
besar produksi acaranya hanya untuk Retjo Buntung sendiri.
DHG : Di Yogyakarta, terdapat lima belas radio swasta
nasional. Bagaimana dengan masalah persaingan di antara mereka, ataupun bahkan
mungkin ada semacam ikatan kerja sama memproduksi paket acara bersama sama ?
RBFM : Persaingan kami, persaingan yang sehat, karena kami
masih dalam satu wadah, PRSSNI. Di darat, kita baik baik, tapi di udara,
bagaimana pun juga, kita bersaing. Bersaing dalam artian yang sehat, produksi
acaranya yang bersaing. Dan kita, ada semacam kerja sama, seperti YTH
(acara Yogyakarta Top Hits, red.), yang sudah berjalan berapa tahun ...
sejak tahun 1981/1982.
Itu memang keberangkatannya dari Retjo Buntung sendiri.
Retjo Buntung membuat tangga lagu, yang menghimpun tangga lagu dari berbagai
stasiun radio di sini. Ini terangkum dalam acara di Retjo Buntung, kemudian
oleh PRSSNI dipakai, diproduksi bersama saja. Akhirnya, jadi YTH, tiap
Jum'at siang. Itu idenya, waktu itu, berangkat dari Retjo Buntung.
DHG : Pionir, ya ... ?
RBFM : Yaah ... kalau dibilang sih, ide-ide semacam itu
kami yang cuatkan, dan akhirnya bisa diakui atau disajikan bersama. Kalau
Anda mengatakan sebagai pionir, ya terserah. Yang jelas, kadang ide itu
mahal harganya, tapi kalau sudah ada, ow ... gene mung ngono (ow ...
ternyata cuma seperti itu, red). Tapi sebelumnya, prosesnya panjang. Orang
perlu mikir, dengan eksperimen eksperimen kan ?
DHG : Kalau tadi, Bung Prit mengatakan bahwa Retjo
Buntung bekerja sama dengan Radio Kayu Manis, Jakarta. Barangkali masih ada
stasiun lainnya ?
RBFM : Sementara memang belum. Memang, banyak yang berminat,
radio radio di Jawa Timur, kadang juga datang ke sini, di pengin ikut
menyiarkan acara pembacaan buku. Ada dua radio dari Jawa Timur, saya nggak
usah nyebutin radio mana. Penanggung jawabnya datang ke sini, menemui saya.
Dan okeylah, ini saya tampung, bahwa di sana juga ingin
menyajikan paket pembacaan buku, Anda tahu, nilai plusnya banyak. Satu orang
yang kaya dalang, bisa mendramatisir satu cerita secara monolog. Ada dua
radio dari Surabaya yang berminat menyiarkan.
DHG : FM ?
RBFM : Satu FM, satu AM, kita masih menggodok keinginan
mereka. Makanya, saya nggak matur (mengatakan, red.) siapa mereka itu. Nanti
dimasukin di televisi ...
DHG : Bagaimana dengan radio luar negeri ?
RBFM : Ada ... BBC, yang kemarin datang ke Retjo Buntung
(saat mengadakan safari di Jawa, red). Kita memang menyiarkan paket paket
dari BBC, misalnya Sains dan Teknologi. Bagus. Kami, orang radio, menilai
paket itu mahal. Mahal dalam hal pemrosesannya, dalam hal pencariannya,
dalam arti upaya dan biayanya. Hanya 15 menit, terus ada juga Art Science
Culture, pelajaran bahasa Inggris, Catch the Words, ada Count Down,
Step by Step, dan kemarin saya berlobi dengan dia. Dia menjanjikan akan
mengirimkan paket paket yang menarik lainnya.
DHG : Bagaimana dengan bentuk kerja samanya itu sendiri.
Apa ada ikatan bisnis ataukah secara gratis ?
RBFM : Betul, dan memang, dia mengirim untuk radio radio di
Indonesia yang dipilih. Di Indonesia, dia bilang hanya 40 stasiun radio saja
yang menyiarkan paket mereka, 40 radio swasta, bahkan juga RRI. Kami tidak
tahu mengapa mereka memilih kami, kami tidak tahu dari mana data yang mereka
peroleh.
DHG : Bagaimana dengan Radio Nederland ? Dari sana, kan
ada paket musik "Europarade", terus Suara Jerman Deutsche Welle ada "Paket
Musik dari Jerman", begitu juga dengan Suara Amerika ?
RBFM : Europarade, itu memang kita terima kirimannya, tapi
saat ini belum ada kavling waktunya. Anda tahu bahwa sasaran waktu di AM itu
menengah ke bawah, kita fokusnya ke sana. Dan untuk urusan musik, waktu itu
di AM, musik baratnya hanya tujuh persen, jadi sementara, memang hanya sebagai
acuan, sebagai referensi. Kemudian, dari Jerman, kita juga peroleh dari
Deutsche Welle, dia tahu juga kalau Retjo Buntung punya program yang
memasyarakat. Sementara dari VOA (Voice of America atau Suara Amerika, red),
mereka kirimkan naskah saja.
Terus dari ABC (Australian Broadcasting Corporation,
Radio Australia, red), juga sering kirim naskah lewat Kedutaan Besar Australia.
Tetapi sekarang sudah stop kelihatannya, USIS juga sudah stop, bagus tuh
materinya. Jadi ada beberapa memang yang mengirimkan naskah untuk kami, dan
banyak juga diekspos tentang kita, tentang Indonesia. Seperti KIAS juga
di-cover. Ditunjukkan bahwa Indonesia juga sudah mampu menembus ke sana.
Informasi semacam ini kan jarang kita peroleh, kaya Mas Anom Suroto,
dalang dari Surakarta, kita tahu juga dari situ.
DHG : Di Indonesia terdapat organisasi antar radio
siaran swasta nasional, yang disingkat PRSSNI. Apakah maksud dan tujuan dari
organisasi ini ?
RBFM : Jelas, ini sebagai wadah mereka, hingga kita bisa
benar benar satu padu, dalam warna siaran yang sesuai dengan yang dipolakan.
Jadi dalam siarannya tidak ngacau, tidak suka suka saja, tapi diatur agar
baik. Dalam hal ini, radio radio swasta adalah mitra RRI, bukan saingan RRI.
Saya katakan mitra, dia sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah untuk
menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Dalam hal penerangan, pendidikan, bahkan hiburan, dan lain
lain. Jadi ada kepaduan. Kalau tidak, ah relai warta berita cuma
satu kali, nah itulah tujuannya. Dan ini juga demi kepentingan pemerintah.
Di dalam itu sendiri juga ada komitmen komitmen yang juga harus kita jaga.
DHG : Lantas, siapa saja yang berhak untuk menjadi
anggotanya, anggota PRSSNI ?
RBFM : Semua radio swasta memang harus atau diminta gabung dengan PRSSNI.
DHG : Bagaimana dengan Radio Siaran Pemerintah
Daerah ?
RBFM : Aaa ... itu radio pemerintah, lain. Yang swasta
memang harus masuk ke wadah itu, PRSSNI. RSPD memang radionya pemerintah,
kalau yang swasta murni memang harus masuk ke PRSSNI.
DHG : Berdasarkan hasil dari Survei Riset Indonesia, SRI,
tahun ini, pendengar di Yogyakarta menduduki tempat teratas dengan jumlah
68 persen. Bagaimana dengan Retjo Buntung sendiri, apakah tahun ini masih
menduduki tempat teratas seperti tahun tahun lalu ?
RBFM : Eee ... gini, untuk tahun 1991 - 1992, kami memang
nggak ngambil SRI. Pertimbangan kami begini, karena mau pindah ke jalur FM,
sehingga kami pikir kurang bermanfaat, karena mau pindah ke FM, sedangkan
saat pengambilan, kami masih di AM. Mungkin tahun depan (1992, red.) kami
ambil lagi. Sehingga untuk tahun ini, kami tidak tahu persis posisi Retjo
Buntung bagaimana.
DHG : Sebenarnya itu bagaimana, proses dari penelitian
oleh SRI itu. Apakah pihak Retjo Buntung yang minta ataukah SRI sendiri yang
melakukan, lantas dijual ke Retjo Buntung ?
RBFM : Mereka menilai secara acak, dia menilai secara rinci
sekali. Sampelnya ngga tahu ada berapa, tahu tahu dia hanya memberi
tahukan bahwa SRI untuk tahun ini sudah ada. Silakan kalau mau diambil,
dengan harga X rupiah, X dolar maksud saya. Terus dia menilainya jelas dari
program itu, dari dengerin radio, dari tanya tanya. Berapa sampelnya, saya
juga nggak tahu. Dan SRI biasanya untuk kodya saja, untuk wilayah kodya,
bukan DIY yang di-cover.
DHG : Sejauh mana manfaat dari hasil penelitian oleh
SRI bagi Retjo Buntung ?
RBFM : Ow ... banyak sekali manfaatnya. Untuk intern kami
sendiri sebagai programer, kami akan melihat radio radio lain. Pada jam-jam
yang kami rasa lemah, kekurangannya apa, kita isi. Untuk bagian iklan, dia
akan sampaikan ke biro biro iklan. Ini lho, riset kami kaya gini, jadi
mereka bisa mengambil kesimpulan. Bahwa dia memasang iklan, cari yang
efektif, sekali tembak banyak pendengarnya gitu. Nah, dari pada pasang di
banyak stasiun radio, tetapi pendengarnya kecil. Satu bisa mewakili, kenapa
tidak satu saja ... lebih murah kan ... ?
DHG : Bagaimana sebenarnya pemilikan Retjo Buntung.
Apakah milik perorangan, ataukah oleh semacam yayasan atau gimana ?
RBFM : Sebagai pimpinannya di sini Pak Aries. Pak Aries
Widanto, S.H. Jadi untuk pemilikan di sini memang Pak Aries sendiri.
Memang, bisnis radio kini bukanlah bidang yang harus
dianggap sepele. Nyatanya, Anda bisa lihat sendiri (lihat edisi 02 Dirgantara).
Begitulah, petikan wawancara Dirgantara dengan Th. Esti Priatmo, Kepala
Bagian Siaran Radio Retjo Buntung FM, Yogyakarta. Semoga berkenan di hati
pembaca semua. (ASB / INA)