Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 2 No 1 Mar-Apr 1992
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
Opini Anda
Sosok
Telekomunikasi
Catatan Pinggir
Redaksi

Volume 2
  Profil Stasiun
Radio Retjo Buntung : Radio yang Melestarikan Budaya Bangsa

One Double O Point Double Five. Begitulah salah satu jingle dari Retjo Buntung FM atau yang dikenal sebagai RBFM. Tentunya, punya maksud untuk menunjukkan bahwa RBFM bekerja pada 100,55 MHz. Radio ini juga mempunyai slogan yang cukup mentereng "Radio yang Melestarikan Budaya Bangsa". Begitulah, slogan yang selalu dipegang teguh RBFM, sampai saat ini. Hal ini bisa Anda buktikan dari acara yang disajikan buat pemirsanya.

Yang pasti, Anda bisa menemukan berbagai macam jenis acara ada di stasiun radio swasta nasional yang berada di Jln Jagalan 36, Yogyakarta tersebut. Musik pop, baik dalam maupun manca, ada. Tradisional, dari uyon-uyon sampai kethoprak, ada. Pokoknya, serba ada. Untuk melihat lebih jauh, Dirgantara menurunkan tulisan berdasarkan pada wawancara dengan Th. Esti Priatmo, Kepala Bagian Siaran Radio Retjo Buntung. Ikutilah wawancara rekan Aries Subagyo dan Ina Rimawati.

DHG : Sejak kapan Radio Retjo Buntung mengudara, dan mengapa dinamakan Retjo Buntung ?

RBFM : Retjo Buntung mengudara sejak tanggal 9 Maret 1967. Seperti halnya radio-radio swasta nasional lainnya, kami berangkat dari hobby elektronika. Kalau dahulu, istilahnya amatir. Terus berkembang sampai sekarang, menjadi belajar profesional. Mengenai latar belakang nama, di depan studio ada patung, patung yang buntung tangannya. Nama Retjo, kan, artinya arca, sedangkan buntung, ya, cacat.

Arca itu sudah ada sejak dulu, bahkan di zaman perang kemerdekaan sudah ada. Oleh warga sekitarnya, Retjo Buntung itu dijadikan patokan untuk mencari sebuah lokasi atau tempat. Akhirnya, oleh pendahulu yang merintis radio ini menamakan radio ini Retjo Buntung.

DHG : Bagaimana aturan main untuk pindah jalur ke FM ?

RBFM : Untuk masalah perizinan, kita berangkat dari daerah. Dalam hal ini, ada rekomendasi dari PRSSNI daerah. Kemudian ke BPR, Badan Pembina Radio-radio Swasta Nasional atau non pemerintah. Terus dari Parpostel, Kanwil Postel Daerah, Kanwil VIII. Kemudian, dari gubernur, baru diangkat ke Jakarta, ke RTF. Kemudian ke Postel.

DHG : Sebelum secara resmi mengudara di jalur FM, Retjo Buntung terlebih dulu mengadakan siaran percobaan. Dalam hal ini, kriteria apa yang digunakan, untuk menentukan, bisa tidak sebuah stasiun radio mengudara di jalur FM ?

RBFM : Di dalam siaran percobaan, yang dicoba adalah peralatannya. Dalam hal ini, daya jangkau, dan juga output.

DHG : Bagaimana dengan isi acaranya ?

RBFM : Dalam siaran percobaan tidak boleh beriklan, hanya percobaan modulasi, dan musik memang sebagai materi utamanya.

DHG : Bagaimana dengan pemilihan frekuensi, apa Retjo Buntung yang menentukan sendiri, atau ada pihak lain yang menentukan ?

RBFM : Itu memang Postel yang mengatur.

DHG : Bagaimana aturan main di jalur FM ?

RBFM : Perlu Anda ketahui juga. Di Yogyakarta, belum sepadat kota Jakarta. Kalau saya lihat, di Jakarta memang sudah penuh. Dari 100,2 sampai 107,55 itu sudah penuh, gradasinya 350 kHz. Kalau di sini, ada repotnya. Kalau pakai frekuensi yang di bawah itu, kena TV tetangga.

DHG : Yang di bawah 100 MHz ?

RBFM : Bukan. Ya, di antara 100 itu. Makanya, di sini, paling rendah 104,05 MHz, yaitu GCD FM. Di bawah itu lagi, kena televisi tetangga. Naik lagi ke 107,55. Padahal RRI di 107,3. Gradasinya bukan lagi 350 kHz, melainkan 250 kHz, dan dapatnya 105,1 MHz.

Pada awalnya, memang frekuensi tersebut yang digunakan selama siaran percobaan. Tetapi, setelah sekian lama siaran percobaan, datang laporan dari Surakarta mengatakan co-channel dengan RRI Surakarta. Tetapi, berdasarkan World Radio Television Handbook 1991, hanya berbeda 100 kHz. Karena itulah, kemudian pindah ke 100,55 MHz, yang ternyata tidak mengganggu televisi tetangga seperti yang diduga semula. Dan, resmilah Retjo Buntung mengudara pada 100,55 MHz.

DHG : Di Jakarta pernah terjadi, salah satu stasiun radio menggunakan frekuensi yang dimiliki RRI. Bagaimana dengan Yogyakarta, apakah bisa RRI diminta menggeser frekuensi agar tak terlalu berdekatan ?

RBFM : Saya pernah ngomong-ngomong dengan orang RRI, bahwa itu memang sudah peraturan dari Departemen Penerangan. Frekuensi 107,3 MHz itu milik RRI, jadi seluruh radio di Indonesia yaitu 107,3 MHz itu frekuensinya RRI.

DHG : Apa motivasi Retjo Buntung pindah ke jalur FM ?

Nah ini dia, asyik nih, kita memang menampung, tak hanya menampung, tapi merealisasi aspirasi dari masyarakat. Betul. Pada awal 1991, Retjo Buntung mengadakan angket hadiahnya sepeda. Kita sebar beberapa puluh ribu, dan kembali separuh lebih. Di dalam angket tersebut, kami menanyakan, apakah Anda setuju Retjo Buntung pindah ke jalur FM ? Apa alasan Anda ?

Dari jawaban yang masuk, kami persentase, yang 73,75% menyatakan sangat setuju Retjo Buntung pindah ke jalur FM, sisanya tidak setuju. Jadi, yang setuju lebih dari separuh, dan hampir 100 persen. Dari situ, kami melihat bahwa masyarakat sudah siap, siap dalam hal receiver-nya, atau pesawat radio penerima.

Dan dari SRI, kami juga terima data bahwa pemilikan pesawat radio yang bergelombang FM tidak terlampau jauh jaraknya dengan AM, yang sama sekali tidak ada FM-nya. Terpautnya berapa, cuman sedikit, dan saya optimis, bahwa dalam waktu yang relatif pendek, tidak sampai satu tahun, bisa melampaui pemilikan radio AM. Nah, dari situlah, kami optimis untuk pindah ke jalur FM.

DHG : Mengingat kepemilikan pesawat radio FM masih sedikit, apa yang dilakukan Retjo Buntung untuk mengatasi hal tersebut ?

RBFM : Memang, kami masih berharap masyarakat bisa makin banyak memiliki pesawat penerima radio FM, maka kami juga mengadakan pengadaan pesawat penerima radio FM, dengan cara mengkredit murah. Bahkan, kami juga menyediakan jasa memodifikasi pesawat penerima, dari yang tidak bergelombang FM, menjadi ada.

DHG : Bagaimana tanggapan mereka ?

Positif, banyak yang menanyakan, pertama-tama orang kan ingin tahu, ada sesuatu yang baru. Ah, masa iya, berapa biayanya ? Ah, gimana ? Kami jawab, okey, okey ... kemudian ada yang masuk. Kita tambahi channel. Hasilnya mulus juga, dia senang, kami juga senang, tapi bukan berarti terus dimodifikasi hanya untuk Radio Retjo Buntung, yang lain juga bisa di-cover.

DHG : Bagaimana dengan hasil angket, apa alasan mereka setuju, dan apa pula alasan mereka tidak setuju ?

Memang, ada beragam yang masuk, boleh pindah, asal acaranya tidak diubah, dangdut misalnya. Kalau dangdutnya, kayaknya, banyak yang setuju di FM, jadi kami pertahankan juga di FM. Yang jelas, masyarakat mengharap agar acara-acaranya tidak banyak berubah, ada yang tidak setuju. Justru dia memiliki pesawat penerima radio FM, ketidaksetujuan dia beralasan, bahwa nanti saya khawatir acara-acara akan diubah.

Jadi kekhawatiran mereka sudah terciptakan oleh trend, oleh orang orang radio. Anda pantau aja di daerah, radio FM di daerah cenderung ke anak muda, itu diciptakan oleh orang-orang radio sendiri. Bahwa FM itu harus kayak gitu. Tapi Retjo Buntung bilang, tidak harus !! Retjo Buntung berani tampil beda.

DHG : Ada sementara kalangan yang mengatakan bahwa teknologi FM masih terlalu canggih, jadi apa yang disiarkan harus sesuai. Orang bilang bahwa daerah Jakarta minded, sedangkan Jakarta luar negeri minded. Bagaimana dengan Retjo Buntung sendiri ?

Kita bicara soal perkembangan zaman, perkembangan teknologi, kita harus selalu mengantisipasinya. Perubahan teknologi mempengaruhi juga perubahan segala macam perilaku, juga sikap, life style atau gaya hidup masyarakat juga terpengaruh. Kalau kita tidak mengantisipasi, mengikuti perkembangan, kita ketinggalan zaman dong. Digilas oleh yang lain. Yang lain, yang butuh, ingin maju, kita ketinggalan. Jelas-jelas bahwa Anda lihat sendiri, hasilnya lebih bersih, dan lebih bagus daripada AM.

Kita juga ingin meningkat lebih baik, dan memang, kebanyakan teknologi datang dari sana (barat, red). Akan tetapi bukan berarti terus kita telan mentah-mentah begitu. Ada aturan mainnya, yang menjaga agar ada keseimbangan. Kita tidak telan mentah teknologi, tapi juga kita ikuti. Kalau tidak, katakanlah misalnya Retjo Buntung terus berpacu di AM, sementara perkembangan terus maju, kita ketinggalan dong.

DHG : Bagaimana dengan peralatan yang digunakan Retjo Buntung sendiri, apakah cukup canggih juga ?

Ukuran canggih itu relatif, tapi yang jelas, bisa dipantau dengan enak aja. Tetapi begini, kalau Anda datang ke restoran, Anda kan tidak akan masuk ke dapur, pakai apa nggorengnya ? Kok enak. Orang kan nggak nanya, bumbunya apa sih ? Pasti, wuah, enak. Restoran apa nih, lantas pulang, ngajak temen, makan di sana aja, enak.

DHG : Jadi, Retjo Buntung masih merakit sendiri ?

RBFM : Memang begitu, tetapi yang jelas, kita dapat dipantau. Dari surat-surat yang masuk, ternyata ada datang dari Kroya, Madiun, Cepu, Salatiga, Purworejo, Kebumen, Kutoarjo. Bener, juga ada.

Konon, siaran Retjo Buntung ini bisa dipantau juga di kawasan bagian timur Sumatera, seperti Lampung, Palembang, juga di Bekasi, Karawang.

DHG : Retjo Buntung punya motto "Melestarikan Budaya Bangsa". Pernahkah Retjo Buntung memperoleh penghargaan atas acara acara yang disiarkan ? Terutama yang ada hubungannya dengan pelestarian budaya bangsa ?

RBFM : Ya. Banyak memang penghargaan yang kami terima. Ada memang yang mengatakan radio kami radio yang "ndeso" (radio daerah, red). Kami memperoleh penghargaan atas spot, kebersihan yang kami udarakan. Dari Bapak Walikota waktu itu, Pak Jatmikanto.

Kemudian dari Spanyol, kami juga mendapat penghargaan dalam hal manajemen, untuk pengelolaan bisnis di bidang radio, dan pimpinan kami juga datang ke Spanyol sana mengambilnya. Kemudian, dari SRI, Survei Riset Indonesia, sejak tahun 1984, selalu nomor satu di Yogyakarta.

DHG : Bagaimana dengan acara produksi Retjo Buntung, setiap berapa tahun sekali diadakan semacam lomba ?

RBFM : Maksudnya Widya Kencana ?

DHG : Ya !!

RBFM : Kita memang pernah ikut juga, tetapi itu tidak hanya untuk produksi, tapi juga masalah administrasi, bahkan ukuran bangunan juga ikut dilombakan.

DHG : Bagaimanakah dengan porsi masing-masing acara di Retjo Buntung, berapa persen untuk iklan, hiburan, dan informasi ?

RBFM : Kita tetap mengacu pada aturan pemerintah, untuk penerangan 20%, pendidikan 7%, hiburan 48%, dan lain-lain 20%, kita mengacu ke sana. Meskipun dalam kenyataannya, penerangan bisa lebih dari 20%, misalnya pas ada penambahan relai. Kami juga produksi penerangan, tapi bukan warta berita, tapi informasi dari kami sendiri.

Anda bisa mendengarkan "Yogya Selintas", itu suatu hal yang bersifat informasi, informatif. Karena radio swasta nasional tidak diperbolehkan membikin warta berita. Wawancara wawancara, termasuk penerangan juga, dan sekaligus pendidikan.

DHG : Bagaimana dengan iklannya ? Apakah dengan masuknya Retjo Buntung ke jalur FM, pihak pemasang iklan secara otomatis menaikkan tarif ? Hal ini mengingat biaya operasional di jalur FM lebih besar dari pada di jalur AM, atau menunggu sampai kontrak berakhir terlebih dahulu, baru dikenakan tarif baru ?

RBFM : Saya kasih contoh aja deh, misalnya Anda menjual barang di pasar. Apa Anda mau menaikkan tarif ? Nggak gitu kan ? Jadi begini, naik tidaknya tarif memang kita harus konsekuen dengan program yang ada. Tapi sebetulnya, banyak orang merasa, seolah kita menjual waktu, menjual program. Sesungguhnya bukan itu. Secara tidak langsung, biro iklan itu membeli acara atau memasangkan iklan. Dia akan menanyakan berapa pendengarmu ? Nah, dari situ, baru dia mau pasang iklan.

Dan dia akan melihat juga di radio lain, pada acara yang sama atau sejenis. Berapa ribu pendengar yang mendengarkan, dia akan mengukur efektivitas. Kalau di sini saja sudah ada sepuluh ribu pendengar pada jam itu, sementara di radio lain hanya seribu, mendingan pasang yang sepuluh ribu, nggak usah pasang di mana-mana. Nah, di sini tuntutannya pada seorang programer, dia harus optimal. Saya tidak katakan maksimum, tetapi harus optimal.

DHG : Tadi dikatakan, bahwa pihak pemasang iklan ingin tahu mengenai jumlah pendengar. Tentunya, data yang ditunjukkan itu dari mana ?

RBFM : Ya, Survei Riset Indonesia memang satu satunya yang banyak dipercaya untuk sementara ini di Indonesia. Dari dulu, data semacam itu kami selalu mendapatkan. Secara rinci, dari situ, dari pada audiens, dan bahkan juga digambarkan secara jelas sekali, dari jam ke jam, berapa pendengar radio saya dan juga radio lainnya.

Sehingga kita tahu persis, kok radio lain bisa setinggi ini, kenapa sih ? Kita lihat, radio lain modelnya begini, sistem siarannya begini. Materinya begini. Jadi kita memang harus berebutan pendengar. Kemudian juga berdasarkan angket. Kita tidak menutup kemungkinan juga dari respon pendengar sendiri, misalnya lewat surat, telepon. Kita perhatikan.

DHG : Sebagai sebuah badan usaha, dalam hal ini, Retjo Buntung menjual jam siarnya. Apakah Retjo Buntung sendiri memproduksi siaran yang dijual ke stasiun lain, atau mungkin badan lain ?

RBFM : Dahulu pernah, dan sekarang masih ada, sifatnya kerja sama. Kalau Anda di Jakarta mendengar Radio Kayu Manis, acara ketoprak itu adalah paket dari Retjo Buntung. Sekarang masih berlangsung. Dan sebagian besar produksi acaranya hanya untuk Retjo Buntung sendiri.

DHG : Di Yogyakarta, terdapat lima belas radio swasta nasional. Bagaimana dengan masalah persaingan di antara mereka, ataupun bahkan mungkin ada semacam ikatan kerja sama memproduksi paket acara bersama sama ?

RBFM : Persaingan kami, persaingan yang sehat, karena kami masih dalam satu wadah, PRSSNI. Di darat, kita baik baik, tapi di udara, bagaimana pun juga, kita bersaing. Bersaing dalam artian yang sehat, produksi acaranya yang bersaing. Dan kita, ada semacam kerja sama, seperti YTH (acara Yogyakarta Top Hits, red.), yang sudah berjalan berapa tahun ... sejak tahun 1981/1982.

Itu memang keberangkatannya dari Retjo Buntung sendiri. Retjo Buntung membuat tangga lagu, yang menghimpun tangga lagu dari berbagai stasiun radio di sini. Ini terangkum dalam acara di Retjo Buntung, kemudian oleh PRSSNI dipakai, diproduksi bersama saja. Akhirnya, jadi YTH, tiap Jum'at siang. Itu idenya, waktu itu, berangkat dari Retjo Buntung.

DHG : Pionir, ya ... ?

RBFM : Yaah ... kalau dibilang sih, ide-ide semacam itu kami yang cuatkan, dan akhirnya bisa diakui atau disajikan bersama. Kalau Anda mengatakan sebagai pionir, ya terserah. Yang jelas, kadang ide itu mahal harganya, tapi kalau sudah ada, ow ... gene mung ngono (ow ... ternyata cuma seperti itu, red). Tapi sebelumnya, prosesnya panjang. Orang perlu mikir, dengan eksperimen eksperimen kan ?

DHG : Kalau tadi, Bung Prit mengatakan bahwa Retjo Buntung bekerja sama dengan Radio Kayu Manis, Jakarta. Barangkali masih ada stasiun lainnya ?

RBFM : Sementara memang belum. Memang, banyak yang berminat, radio radio di Jawa Timur, kadang juga datang ke sini, di pengin ikut menyiarkan acara pembacaan buku. Ada dua radio dari Jawa Timur, saya nggak usah nyebutin radio mana. Penanggung jawabnya datang ke sini, menemui saya.

Dan okeylah, ini saya tampung, bahwa di sana juga ingin menyajikan paket pembacaan buku, Anda tahu, nilai plusnya banyak. Satu orang yang kaya dalang, bisa mendramatisir satu cerita secara monolog. Ada dua radio dari Surabaya yang berminat menyiarkan.

DHG : FM ?

RBFM : Satu FM, satu AM, kita masih menggodok keinginan mereka. Makanya, saya nggak matur (mengatakan, red.) siapa mereka itu. Nanti dimasukin di televisi ...

DHG : Bagaimana dengan radio luar negeri ?

RBFM : Ada ... BBC, yang kemarin datang ke Retjo Buntung (saat mengadakan safari di Jawa, red). Kita memang menyiarkan paket paket dari BBC, misalnya Sains dan Teknologi. Bagus. Kami, orang radio, menilai paket itu mahal. Mahal dalam hal pemrosesannya, dalam hal pencariannya, dalam arti upaya dan biayanya. Hanya 15 menit, terus ada juga Art Science Culture, pelajaran bahasa Inggris, Catch the Words, ada Count Down, Step by Step, dan kemarin saya berlobi dengan dia. Dia menjanjikan akan mengirimkan paket paket yang menarik lainnya.

DHG : Bagaimana dengan bentuk kerja samanya itu sendiri. Apa ada ikatan bisnis ataukah secara gratis ?

RBFM : Betul, dan memang, dia mengirim untuk radio radio di Indonesia yang dipilih. Di Indonesia, dia bilang hanya 40 stasiun radio saja yang menyiarkan paket mereka, 40 radio swasta, bahkan juga RRI. Kami tidak tahu mengapa mereka memilih kami, kami tidak tahu dari mana data yang mereka peroleh.

DHG : Bagaimana dengan Radio Nederland ? Dari sana, kan ada paket musik "Europarade", terus Suara Jerman Deutsche Welle ada "Paket Musik dari Jerman", begitu juga dengan Suara Amerika ?

RBFM : Europarade, itu memang kita terima kirimannya, tapi saat ini belum ada kavling waktunya. Anda tahu bahwa sasaran waktu di AM itu menengah ke bawah, kita fokusnya ke sana. Dan untuk urusan musik, waktu itu di AM, musik baratnya hanya tujuh persen, jadi sementara, memang hanya sebagai acuan, sebagai referensi. Kemudian, dari Jerman, kita juga peroleh dari Deutsche Welle, dia tahu juga kalau Retjo Buntung punya program yang memasyarakat. Sementara dari VOA (Voice of America atau Suara Amerika, red), mereka kirimkan naskah saja.

Terus dari ABC (Australian Broadcasting Corporation, Radio Australia, red), juga sering kirim naskah lewat Kedutaan Besar Australia. Tetapi sekarang sudah stop kelihatannya, USIS juga sudah stop, bagus tuh materinya. Jadi ada beberapa memang yang mengirimkan naskah untuk kami, dan banyak juga diekspos tentang kita, tentang Indonesia. Seperti KIAS juga di-cover. Ditunjukkan bahwa Indonesia juga sudah mampu menembus ke sana. Informasi semacam ini kan jarang kita peroleh, kaya Mas Anom Suroto, dalang dari Surakarta, kita tahu juga dari situ.

DHG : Di Indonesia terdapat organisasi antar radio siaran swasta nasional, yang disingkat PRSSNI. Apakah maksud dan tujuan dari organisasi ini ?

RBFM : Jelas, ini sebagai wadah mereka, hingga kita bisa benar benar satu padu, dalam warna siaran yang sesuai dengan yang dipolakan. Jadi dalam siarannya tidak ngacau, tidak suka suka saja, tapi diatur agar baik. Dalam hal ini, radio radio swasta adalah mitra RRI, bukan saingan RRI. Saya katakan mitra, dia sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Dalam hal penerangan, pendidikan, bahkan hiburan, dan lain lain. Jadi ada kepaduan. Kalau tidak, ah relai warta berita cuma satu kali, nah itulah tujuannya. Dan ini juga demi kepentingan pemerintah. Di dalam itu sendiri juga ada komitmen komitmen yang juga harus kita jaga.

DHG : Lantas, siapa saja yang berhak untuk menjadi anggotanya, anggota PRSSNI ?

RBFM : Semua radio swasta memang harus atau diminta gabung dengan PRSSNI.

DHG : Bagaimana dengan Radio Siaran Pemerintah Daerah ?

RBFM : Aaa ... itu radio pemerintah, lain. Yang swasta memang harus masuk ke wadah itu, PRSSNI. RSPD memang radionya pemerintah, kalau yang swasta murni memang harus masuk ke PRSSNI.

DHG : Berdasarkan hasil dari Survei Riset Indonesia, SRI, tahun ini, pendengar di Yogyakarta menduduki tempat teratas dengan jumlah 68 persen. Bagaimana dengan Retjo Buntung sendiri, apakah tahun ini masih menduduki tempat teratas seperti tahun tahun lalu ?

RBFM : Eee ... gini, untuk tahun 1991 - 1992, kami memang nggak ngambil SRI. Pertimbangan kami begini, karena mau pindah ke jalur FM, sehingga kami pikir kurang bermanfaat, karena mau pindah ke FM, sedangkan saat pengambilan, kami masih di AM. Mungkin tahun depan (1992, red.) kami ambil lagi. Sehingga untuk tahun ini, kami tidak tahu persis posisi Retjo Buntung bagaimana.

DHG : Sebenarnya itu bagaimana, proses dari penelitian oleh SRI itu. Apakah pihak Retjo Buntung yang minta ataukah SRI sendiri yang melakukan, lantas dijual ke Retjo Buntung ?

RBFM : Mereka menilai secara acak, dia menilai secara rinci sekali. Sampelnya ngga tahu ada berapa, tahu tahu dia hanya memberi tahukan bahwa SRI untuk tahun ini sudah ada. Silakan kalau mau diambil, dengan harga X rupiah, X dolar maksud saya. Terus dia menilainya jelas dari program itu, dari dengerin radio, dari tanya tanya. Berapa sampelnya, saya juga nggak tahu. Dan SRI biasanya untuk kodya saja, untuk wilayah kodya, bukan DIY yang di-cover.

DHG : Sejauh mana manfaat dari hasil penelitian oleh SRI bagi Retjo Buntung ?

RBFM : Ow ... banyak sekali manfaatnya. Untuk intern kami sendiri sebagai programer, kami akan melihat radio radio lain. Pada jam-jam yang kami rasa lemah, kekurangannya apa, kita isi. Untuk bagian iklan, dia akan sampaikan ke biro biro iklan. Ini lho, riset kami kaya gini, jadi mereka bisa mengambil kesimpulan. Bahwa dia memasang iklan, cari yang efektif, sekali tembak banyak pendengarnya gitu. Nah, dari pada pasang di banyak stasiun radio, tetapi pendengarnya kecil. Satu bisa mewakili, kenapa tidak satu saja ... lebih murah kan ... ?

DHG : Bagaimana sebenarnya pemilikan Retjo Buntung. Apakah milik perorangan, ataukah oleh semacam yayasan atau gimana ?

RBFM : Sebagai pimpinannya di sini Pak Aries. Pak Aries Widanto, S.H. Jadi untuk pemilikan di sini memang Pak Aries sendiri.

Memang, bisnis radio kini bukanlah bidang yang harus dianggap sepele. Nyatanya, Anda bisa lihat sendiri (lihat edisi 02 Dirgantara). Begitulah, petikan wawancara Dirgantara dengan Th. Esti Priatmo, Kepala Bagian Siaran Radio Retjo Buntung FM, Yogyakarta. Semoga berkenan di hati pembaca semua. (ASB / INA)

 
Dirgantara Online - Vol 2 No 1 Mar-Apr 1992
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space