Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 2 No 1 Mar-Apr 1992
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Profil Stasiun
Opini Anda
Sosok
Telekomunikasi
Catatan Pinggir
Redaksi

Volume 2
  Laporan dan Berita

Mengolah sampah dan barang usang menjadi uang sudah dianggap mata pencaharian yang lumrah. Namun ada juga bisnis barang bekas, yang hanyalah bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki akses ke situ, dari kalangan elit. Sasarannya, tidak pada obyek kotor di permukaan bumi, namun pada barang bekas berteknologi rumit, satelit, yang posisinya di ketinggian 36.000 km, tak tampak oleh mata telanjang.

Lalu, bagaimana kiat yang dipasang untuk memanfaatkannya ? Satelit yang telah habis masa pakai, biasanya harus dilempar keluar orbitnya ke daerah kuburan satelit, karena satelit tua dengan bahan bakar yang telah menipis tidak dapat bertahan dengan posisi menghadap utara-selatan, tetapi akan berubah geraknya membentuk angka delapan. Satelit yang telah mengalami inklain (incline) orbit ini gerakannya juga tidak dapat diikuti oleh stasiun bumi biasa yang disetel mengikuti jejak stabil.

Muncullah pemikiran jeli, satelit yang telah mengalami inklain orbit ini sebetulnya masih dapat bertahan dua hingga tiga tahun lagi dengan bentuk orbit angka delapan, karena dengan bentuk orbit ini tidak memakan banyak hydrazin, sebagai bahan bakarnya. Sebab itu, sebelum habis masa hidupnya, satelit uzur masih mungkin dikaryakan lagi sebagai sarana telekomunikasi, asalkan disediakan stasiun bumi atau stream yang mampu mengikuti jejak miringnya, lazim disebut station autotracking.

Satelit usang yang bertebaran di angkasa selama ini baru dimanfaatkan Intelsat, sebuah perusahaan konsorsium satelit internasional dari Amerika Serikat. Namun, belakangan ini, sudah tercatat nama Pasifik Satelit Nusantara (PSN) yang kemudian merangkul Elektrindo Nusantara, anak perusahaan Bimantara dan PT Telkom Indonesia, untuk masuk dalam bisnis elit ini. Nama-nama ini disebut sebut pada beberapa media massa asing, Far Eastern Economic Review, dan Hawaii Advertiser.

Di belakang layar, yang mendalangi PSN tak lain Iskandar Alisyahbana. Sebelumnya, ia dikenal sebagai pencetus ide SKSD (Sistem Komunikasi Satelit Domestik), di Indonesia menyusul munculnya Satelit Palapa untuk pertama kalinya di tahun 1976. Bersama Adirahman Adiwoso, Iskandar menjalankan PSN mulai Juli 1991.

Siapa A. Adiwoso ? Nama yang baru terdengar di dunia telekomunikasi di Indonesia ini telah terlibat dalam pembuatan satelit selama 8 tahun di perusahaan raksasa AS, Hughes, di bagian teknik. Kemudian, pernah bekerja sama dengan beberapa mitra terlibat dalam Proyek OrientSat. Sekarang ini, ia Direktur PSN.

Dalam menjalankan bisnis langka ini, modal utama PSN tidak lain adalah Satelit Palapa B1 yang akan habis masa pakainya pertengahan 1992, pada orbitnya di lokasi 118 derajat BT di atas kota Sintang. Dengan catatan, dengan inklain orbit masih dapat digunakan sampai tiga tahun. Untuk itu, PSN akan menggeser Satelit Palapa B1, yang direncanakan dilakukan pada tanggal 4 Maret 1992, dengan kecepatan 0,1 derajat per hari, ke posisi 134 derajat BT di atas kota Sorong.

Posisi awal Palapa B1 sendiri nantinya ditempati Satelit Palapa B4, yang akan diluncurkan pada Mei 1992. Direncanakan, setelah menjalani masa penggeseran selama 120 hari, Satelit B1, yang kemudian berubah nama menjadi Palapa Pacific akan mulai beroperasi sekitar Mei-Juni 1992. Satelit B1 yang akan berada tepat di atas Kepulauan Maluku, dengan antena diarahkan ke kawasan Pasifik, bakal mencakup pulau Hawaii, Marshall, Ponape, Guam, Saipan, Palau, Filipina, Taiwan, Jepang.

Bahkan, beberapa pulau atau wilayah di luar liputan tersebut, yaitu Rusia, RRC, Hong Kong, Nauru, Kiribati, dan Line, dapat pula menangkap sinyal Satelit PP, asal menggunakan antena penerima dengan kekuatan lebih besar, yaitu dengan diameter tujuh sampai 14 meter. Perusahaan penyewa yang akan memanfaatkan jasa ini harus menyediakan sendiri stasiun autotrack, yang harganya 10.000 Dolar AS per meter diameter antena. Jadi, untuk garis tengah 8 meter diperlukan 80.000 Dolar.

Ide pertama menggunakan Satelit Palapa yang telah habis masa pakainya sebenarnya bukan muncul dari PSN, namun sudah ada sejak generasi Palapa A, pada akhir tahun 1970-an. Gagasan ini pertama kali diajukan Sekjen ITU (International Telecommunication Union), Richard Butler, yang mengusulkan pada pemerintah Indonesia agar Palapa inklain orbit dapat digunakan di Pasifik.

Namun satelit milik Indonesia yang telah inklain orbit pada saat itu, yaitu Palapa A2, cakupannya tidak optimal, dengan pola dan antena kurang sesuai untuk posisi yang baru, sehingga mau tidak mau harus dilempar ke tempat pembuangan satelit. Pada masa generasi kedua Palapa, yaitu Palapa B, datang tawaran dari perusahaan AS, ComSat, yang berniat membeli B1 yang menjelang uzur, dengan harga 50.000 Dolar AS.

Hanya saja, harga itu dianggap PT Telkom Indonesia, pemilik ini, terlalu rendah, meski secara perhitungan akuntansi, Satelit B1 nilainya telah nol. Satelit B1 dulu dibeli Telkom dengan investasi awal 125 juta Dolar AS. Tahun lalu, muncul tawaran dari PSN yang akan mengikut sertakan PT Telkom dalam bisnis ini, dengan memasukkan nilai B1 sebagai saham senilai 130 juta Dolar AS lebih, atau 40 persen dari investasi modal.

Di dalam kerja sama ini, modal kerjanya juga akan disalurkan oleh PT Elektrindo Nusantara dari Grup Bimantara, sebesar 30 persen, dengan nilai yang sama dipenuhi oleh Adiwoso dan Iskandar Alisyahbana, yang juga guru besar ITB. Persentase pembagian ini kata K. Andreas Perangin angin, Kepala Tim Pelaksana Kerja Telkom-PSN, sudah di atas kertas, namun belum disahkan.

Tanda tangan pengesahan akan dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang harus segera dilaksanakan. Karena, tanpa hal ini, pembelian peralatan maupun penentuan bentuk organisasi belum dapat dilakukan. Total dana investasinya sebesar dua juta Dolar AS, menurut Andreas, akan dipinjam dari salah satu bank pemerintah di Indonesia, dan sudah disanggupi bank tersebut. Dana ini dapat dikeluarkan setelah dilaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham.

Selain itu, di luar dana pinjaman, selama enam bulan, sejak Januari 1992 PSN merencanakan anggaran sebesar 3,3 juta Dolar dengan pengeluaran total 2,4 juta Dolar AS, yang meliputi investasi alat 1,8 juta Dolar AS, dan biaya operasional 0,5 juta Dolar AS. Dari penyewaan transponder B1, PSN mengharapkan akan memperoleh pendapatan 7,2 juta Dolar AS. Yaitu, dengan mengenakan tarif inklain orbit sebesar 275.000 dolar AS per transponder.

Tarif ini tidak seberapa dibandingkan tarif Palapa dalam kondisi normal, seharga 1,1 juta Dolar per transponder. Namun dari pendapatan ini, hanya memakai 22 dari 24 transponder yang ada, dan menyisakan dua transponder sebagai antena pengendali, Andreas berkeyakinan, setelah tiga tahun, PSN sudah mendapat keuntungan paling sedikit 28 persen. Untuk melakukan pergeseran B1, saat ini, masih dilakukan pembicaraan (Februari, Red) antara pihak pihak yang tergabung dalam PSN.

Pembicaraan mengenai realisasi penggunaan B1 antara Telkom dan PSN sudah dimulai sejak akhir September, dalam kesepakatan Memorandum of Understanding di Jakarta. Pada 19 Desember, diadakan pembicaraan antara PSN dan PT Telkom, mengenai kemungkinan penyertaan Telkom dan Elektrindo Nusantara dalam organisasi ini. Adiwoso, Alisyahbana, Elektrindo Nusantara pada pemasaran, sedangkan operasi pemindahan dan pengendalian satelit nantinya akan dilakukan Telkom.

Sebelum B1 digelar, terlebih dahulu Telkom akan membangun stasiun buminya yang bernilai sekitar 1,5 juta dolar AS. Dana pembangunannya akan dikeluarkan oleh Elektrindo Nusantara dan Adiwoso Alisyahbana, termasuk untuk pembelian alat dari AS, antara lain berupa antena, High Power Amplifier (HPA), dan perangkat lunak. Adiwoso menargetkan sebelum bulan April, stasiun sudah selesai dibangun. Menurut Andreas, pemindahan B1 direncanakan dapat terlaksana sebelum B4 meluncur bulan Mei mendatang.

Selain pembangunan stasiun pengendali, tahap persiapan lainnya adalah pemesanan lokasi. Nantinya, Palapa B1 akan menggunakan daerah yang telah dipesan perusahaan TongaSat dari negara Tonga di Pasifik. Bila pemesanan tempat ini dilakukan sendiri, maka ini akan memakan waktu lama, sampai empat tahun. Beberapa waktu lalu, sudah ada pembicaraan antara Adiwoso mewakili PSN dan TongaSat, yang telah mendaftarkan tempatnya pada IFRB, International Frequency Regulation Board.

TongaSat sudah mem-booking daerah tersebut, pada masa awal generasi Palapa B tahun 1980-an, meskipun tidak mempunyai satelitnya. Mereka menjadikan daerahnya sebagai arena bisnis yang disewakan bagi satelit pihak lain. "Karena TongaSat belum mempunyai satelit, maka Palapa bisa masuk," kata Andreas. Pemindahan B1 merupakan isu yang strategis bagi Indonesia. Di bawah pengelolaan PSN sebagai Indonesia incorporated, Satelit B1 akan go international, 100 persen ekspor.

Berbeda dengan waktu sebelumnya, Satelit Palapa yang berorientasi pelayanan ini dimanfaatkan hanya oleh Indosat dan negara ASEAN lain. Nantinya, setelah menjadi satelit komersial, Palapa Pasifik, transponder yang ada disediakan hanya untuk para penyewa di Pasifik, sebagai real test market bagi PSN. Masuknya Palapa Pasifik ke wilayah baru tentu tidak sepi dari pesaing. Bahkan, karena banyaknya perusahaan yang beroperasi di kawasan ini, persaingan pada waktu yang mendatang, menurut Adiwoso akan sangat ketat.

Di Pasifik, diperkirakan akan beroperasi 29 buah sistem satelit dalam beberapa tahun, di antaranya milik Intelsat, yang 95% transpondernya telah habis tersewa, untuk AsiaSat 100 persen, demikian pula Palapa dan satelit milik Jepang nyaris penuh. Lalu, di kelas satelit inklain orbit, PP bakal ditantang satelit milik Intelsat, yang ditaksir tiga dari lima satelitnya inklain orbit. Ketatnya persaingan di masa mendatang, menurut Adiwoso, juga punya kaitan erat dengan adanya dua kebijaksanaan AS.

Pertama kebijakan udara terbuka yang diberlakukan awal tahun 1980an yang memberi kebebasan pada siapa pun untuk menyelenggarakan jasa satelit. Sebelumnya, penyelenggaraan itu masih terbatas untuk private network. Yang kedua, executive order yang telah diumumkan pada 27 November 1991, yang menyatakan bahwa sejak bulan Januari 1997, semua kendala inter koneksi untuk satelit internasional akan dihilangkan. Ini berarti akan tumbuh sistem satelit terpisah, dan terjadi persaingan bebas antara Intelsat dengan perusahaan lainnya.

Dengan keluarnya peraturan baru tersebut, AS nantinya tidak akan lagi memberi subsidi bagi jalur telekomunikasi yang tidak sibuk. Hal ini dikaitkan dengan defisit anggaran AS sebesar dua milyar dolar AS per tahun untuk menyelenggarakan satelit internasional. Kewalahannya AS ini didasari oleh makin ramainya pemakaian jasa satelit di Amerika Utara, yang meliputi Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, dengan jumlah pemakaian keseluruhan setengah dari pemakaian satelit dunia.

Bersama Eropa dan Jepang, angka itu menjadi sekitar 75 persen. Maka, bila AS harus menyubsidi jalur yang sepi, beban anggaran bagi AS akan semakin berat. Dengan kebijaksanaan baru AS, nantinya telekomunikasi dunia, yang selama ini hanya dipegang Intelsat, harus dibiayai pula oleh sistem satelit lainnya, termasuk satelit regional maupun domestik seperti Palapa. Munculnya kedua peraturan tersebut menyebabkan beberapa negara mulai membeli satelit sendiri, sehingga akan tumbuh satelit sub regional dan domestik.

Bagi Indonesia, dengan adanya ThaiSat dan MalaysiaSat lima tahun lagi, berarti akan ada penyerbuan pada pangsa pasar di ASEAN. Yang berarti akan mengurangi porsi pemakaian Palapa, paling tidak oleh kedua negara tersebut. Karena itu, Indonesia harus mencari pangsa pasar yang lebih luas. "Kita harus merebut pangsa pasar di Pasifik dalam waktu cepat, karena di sana ada peluang," kata Adiwoso. Dengan demikian, PSN melalui PP-nya sebagai satelit regional yang baru di Pasifik akan bersaing dengan Intelsat pada lalu lintas trans Pasifik.

Selain Intelsat, ada AsiaSat yang dikendalikan dari Hong Kong dan Orbx yang dioperasikan oleh perusahaan Alpha Liracom, Amerika Serikat. Beberapa perusahaan lain tercatat, AustraliaSat dan Cartel International. Meskipun banyak pasaing, baik Adiwoso maupun Andreas tetap merasa optimis PSN dapat berhasil mengarungi bisnis di kawasan ini.

Antara lain, dengan berpedoman pada hasil studi yang dikeluarkan oleh satu konsultan independen dari Inggris, Comsy Consultant, pertengahan 1991, yang menyimpulkan bahwa kebutuhan transponder di Pasifik saat ini yang belum terpenuhi berkisar dua puluh hingga seratus transponder. Pertimbangan lain, PSN mengarahkan Satelit B1 ke wilayah Pasifik, karena di kawasan ini ada rencana restorasi kabel laut untuk hubungan SKKL, Sambungan Komunikasi Kabel Laut, dari Guam ke Tokyo, yang kadangkala mengalami kerusakan, seperti putus terseret kapal.

Satelit B1 diharapkan dapat menjadi back up sambungan ini. Selain peluang tersebut, ada beberapa terobosan yang akan ditempuh PSN. Perusahaan satelit yang besar, seperti Intelsat, AsiaSat, maupun Apha Liracom merencanakan peluncuran satelit baru di kawasan Asia Pasifik empat tahun mendatang. Dengan kehadiran PP lebih awal, di pertengahan 1992, berarti Indonesia akan meloncat lebih maju. Apalagi, bagi satelit PP di wilayah selatan Pasifik ini, untuk sementara belum ada saingan.

Andreas yakin, meskipun dengan mempertaruhkan investasi relatif kecil dibandingkan perusahaan lain di kawasan ini, PSN mampu bersaing. Apalagi, untuk itu PSN akan memasang tarif 25 persen lebih rendah dari Intelsat untuk menarik pelanggan. Pada acara Pacific Telecommunication Conference, pada 13-14 Januari 1992, PSN telah menjajaki perusahaan telekomunikasi dan pemancar AS, seperti Esatel, GTE, dan mem-follow up pembicaraan dengan Taft Broadcast. Saat ini, sudah ada lebih dari 5 perusahaan menyatakan kesediaan menyewa transponder B1.

Mereka terdiri dari perusahaan negara dan swasta yang akan menyewa untuk keperluan telekomunikasi domestik, jalur khusus (private line), dan untuk siaran, restorasi kabel, dan back up. PSN mengharapkan dapat mengisi hubungan telepon dari Asia ke New York, yang selama ini dijalankan melalui darat ke Hawaii, kemudian sinyal balik dipancarkan ke satelit Intelsat yang mengirimkannya ke AS. "PSN mengharapkan dapat menarik sebagian dari bisnis ini," harap Adiwoso.

"Apalagi sinyal jaringan komunikasi dari Hawaii ke bagian Asia dan Pasifik Selatan, selain ke Jepang, tidak berlangsung baik," kata James Savage, Wakil Ketua Pacific Telecommunication Council, pada Hawaii Advertiser. Satelit PP akan memiliki sinyal kuat, hingga memungkinkan transmisi data dengan jelas ke Hawaii dan bagian barat Pasifik. Kualitas satelit ini lebih baik dibandingkan satelit lainnya di Pasifik, seperti Satelit Global Beam milik Intelsat.

Palapa memiliki daya besar dan harga antenanya lebih murah dibanding Intelsat. Dibanding dengan Palapa generasi sebelumnya, satelit generasi kedua Palapa B ini juga mempunyai penampilan karakteristik yang lebih maju. Kemampuannya meningkat 3 hingga 4 desibel pada lokasi yang lebih buruk, mempunyai kapasitas narrow band lebih besar, dan mengirim sinyal video dengan kualitas lebih baik. Satelit Palapa B mempunyai 24 transponder, kanal penguat, 2 kali lebih tinggi dari pada Palapa A.

Kelebihan lainnya, pesawat penerimanya yang lebih peka. Karakteristik ini memungkinkan ST (terminal kecil berdiameter lima meter ke bawah) menjalankan sekitar 50 kanal, dengan HPA 100 watt, demikian pula pada kemampuan untuk berhubungan dengan carrier televisi. Kombinasi EIRP dan kepekaan tersebut memungkinkan ST memberikan jasa video dengan kualitas yang baik dan kapasitas hubungan telepon lebih tinggi.

Satelit Palapa B1 yang mulai digunakan tahun 1983, pernah mengalami kerusakan pada bagian sensornya pada tahun 1990, sehingga B1 harus dipindahkan setelah beroperasi selama tujuh tahun. Padahal, satelit ini direncanakan beroperasi sampai tahun 1993. Satelit Palapa B1 yang masih ada di atas Nusantara ini juga ditemani Satelit Palapa B2P di 113 derajat BT sejak tahun 1987, dan Palapa B2R berada pada 108 derajat BT sejak tahun 1990.

Pengendalian satelit pada umumnya dilakukan seperti layaknya pesawat model. Perintah berbentuk program komputer, dipancarkan dari stasiun pengendali dalam bentuk sinyal. Sebelum pemancaran sinyal, perintah dimasukkan dulu dalam spektrum analisis untuk simulasi. Pada proses pemindahan, pembukaan katup atau pulsa untuk menyuplai bahan bakar ke dalam 4 mesin jet pada posisi saling silang diatur sinyal perintah.

Jumlah pulsa dan lamanya katup terbuka, juga banyaknya bahan bakar yang dibakar dapat ditentukan berdasarkan arah maupun panjang jarak pemindahannya. Apabila kecepatan pemindahan akan ditingkatkan, maka jumlah pulsa juga harus dinaikkan. Ketepatan dapat dicapai tergantung pada jarak satelit, azimut, dan elevasi. Satelit Palapa B1 akan bermukim di atas Pasifik selama tiga tahun.

Setelah itu, dengan sisa bahan bakar hidrazin seberat tujuh pound, satelit ini harus dilempar ke tempat pembuangan. Dalam dua tiga tahun ini, PSN akan dapat menyediakan 36 transponder. Setelah Satelit PP habis masa hidupnya pada tahun 1995, akan diganti Satelit Palapa usang lainnya, atau PP2 untuk tetap melanjutkan jasa ini. (Kompas / yun, IDXC / DBR)

 
Dirgantara Online - Vol 2 No 1 Mar-Apr 1992
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space