Laporan dan Berita
Mengolah sampah dan barang usang menjadi uang sudah dianggap
mata pencaharian yang lumrah. Namun ada juga bisnis barang bekas, yang
hanyalah bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki akses ke situ, dari kalangan
elit. Sasarannya, tidak pada obyek kotor di permukaan bumi, namun pada
barang bekas berteknologi rumit, satelit, yang posisinya di
ketinggian 36.000 km, tak tampak oleh mata telanjang.
Lalu, bagaimana kiat yang dipasang untuk memanfaatkannya ?
Satelit yang telah habis masa pakai, biasanya harus dilempar keluar orbitnya
ke daerah kuburan satelit, karena satelit tua dengan bahan bakar yang telah
menipis tidak dapat bertahan dengan posisi menghadap utara-selatan, tetapi
akan berubah geraknya membentuk angka delapan. Satelit yang telah mengalami
inklain (incline) orbit ini gerakannya juga tidak dapat diikuti oleh stasiun
bumi biasa yang disetel mengikuti jejak stabil.
Muncullah pemikiran jeli, satelit yang telah mengalami
inklain orbit ini sebetulnya masih dapat bertahan dua hingga tiga tahun lagi
dengan bentuk orbit angka delapan, karena dengan bentuk orbit ini tidak
memakan banyak hydrazin, sebagai bahan bakarnya. Sebab itu, sebelum habis
masa hidupnya, satelit uzur masih mungkin dikaryakan lagi sebagai sarana
telekomunikasi, asalkan disediakan stasiun bumi atau stream yang mampu
mengikuti jejak miringnya, lazim disebut station autotracking.
Satelit usang yang bertebaran di angkasa selama ini
baru dimanfaatkan Intelsat, sebuah perusahaan konsorsium satelit internasional dari
Amerika Serikat. Namun, belakangan ini, sudah tercatat nama Pasifik Satelit
Nusantara (PSN) yang kemudian merangkul Elektrindo Nusantara, anak perusahaan
Bimantara dan PT Telkom Indonesia, untuk masuk dalam bisnis elit ini. Nama-nama
ini disebut sebut pada beberapa media massa asing, Far Eastern
Economic Review, dan Hawaii Advertiser.
Di belakang layar, yang mendalangi PSN tak lain
Iskandar Alisyahbana. Sebelumnya, ia dikenal sebagai pencetus ide SKSD
(Sistem Komunikasi Satelit Domestik), di Indonesia menyusul munculnya Satelit
Palapa untuk pertama kalinya di tahun 1976. Bersama Adirahman Adiwoso, Iskandar
menjalankan PSN mulai Juli 1991.
Siapa A. Adiwoso ? Nama yang baru terdengar di
dunia telekomunikasi di Indonesia ini telah terlibat dalam pembuatan
satelit selama 8 tahun di perusahaan raksasa AS, Hughes, di bagian
teknik. Kemudian, pernah bekerja sama dengan beberapa mitra terlibat dalam
Proyek OrientSat. Sekarang ini, ia Direktur PSN.
Dalam menjalankan bisnis
langka ini, modal utama PSN tidak lain adalah Satelit Palapa B1 yang akan
habis masa pakainya pertengahan 1992, pada orbitnya di lokasi 118 derajat
BT di atas kota Sintang. Dengan catatan, dengan inklain orbit masih dapat
digunakan sampai tiga tahun. Untuk itu, PSN akan menggeser Satelit Palapa B1,
yang direncanakan dilakukan pada tanggal 4 Maret 1992, dengan kecepatan 0,1
derajat per hari, ke posisi 134 derajat BT di atas kota Sorong.
Posisi awal Palapa B1 sendiri nantinya ditempati Satelit
Palapa B4, yang akan diluncurkan pada Mei 1992. Direncanakan, setelah menjalani
masa penggeseran selama 120 hari, Satelit B1, yang kemudian berubah nama
menjadi Palapa Pacific akan mulai beroperasi sekitar Mei-Juni 1992. Satelit
B1 yang akan berada tepat di atas Kepulauan Maluku, dengan antena
diarahkan ke kawasan Pasifik, bakal mencakup pulau Hawaii, Marshall,
Ponape, Guam, Saipan, Palau, Filipina, Taiwan, Jepang.
Bahkan, beberapa pulau atau wilayah di luar liputan tersebut,
yaitu Rusia, RRC, Hong Kong, Nauru, Kiribati, dan Line, dapat pula menangkap
sinyal Satelit PP, asal menggunakan antena penerima dengan kekuatan lebih
besar, yaitu dengan diameter tujuh sampai 14 meter. Perusahaan penyewa yang akan
memanfaatkan jasa ini harus menyediakan sendiri stasiun autotrack, yang
harganya 10.000 Dolar AS per meter diameter antena. Jadi, untuk garis tengah
8 meter diperlukan 80.000 Dolar.
Ide pertama menggunakan Satelit Palapa yang telah habis
masa pakainya sebenarnya bukan muncul dari PSN, namun sudah ada sejak generasi
Palapa A, pada akhir tahun 1970-an. Gagasan ini pertama kali diajukan Sekjen ITU
(International Telecommunication Union), Richard Butler, yang mengusulkan
pada pemerintah Indonesia agar Palapa inklain orbit dapat digunakan di Pasifik.
Namun satelit milik Indonesia yang telah inklain orbit pada saat
itu, yaitu Palapa A2, cakupannya tidak optimal, dengan pola dan antena
kurang sesuai untuk posisi yang baru, sehingga mau tidak mau harus dilempar
ke tempat pembuangan satelit. Pada masa generasi kedua Palapa, yaitu Palapa
B, datang tawaran dari perusahaan AS, ComSat, yang berniat membeli B1 yang
menjelang uzur, dengan harga 50.000 Dolar AS.
Hanya saja, harga itu dianggap PT Telkom Indonesia, pemilik
ini, terlalu rendah, meski secara perhitungan akuntansi, Satelit B1 nilainya
telah nol. Satelit B1 dulu dibeli Telkom dengan investasi awal 125 juta Dolar
AS. Tahun lalu, muncul tawaran dari PSN yang akan mengikut sertakan PT
Telkom dalam bisnis ini, dengan memasukkan nilai B1 sebagai saham senilai
130 juta Dolar AS lebih, atau 40 persen dari investasi modal.
Di dalam kerja sama ini, modal kerjanya juga akan disalurkan oleh
PT Elektrindo Nusantara dari Grup Bimantara, sebesar 30 persen, dengan nilai
yang sama dipenuhi oleh Adiwoso dan Iskandar Alisyahbana, yang juga guru
besar ITB. Persentase pembagian ini kata K. Andreas Perangin angin, Kepala
Tim Pelaksana Kerja Telkom-PSN, sudah di atas kertas, namun belum disahkan.
Tanda tangan pengesahan akan dilakukan dalam Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) yang harus segera dilaksanakan. Karena, tanpa hal ini,
pembelian peralatan maupun penentuan bentuk organisasi belum dapat dilakukan.
Total dana investasinya sebesar dua juta Dolar AS, menurut Andreas, akan dipinjam
dari salah satu bank pemerintah di Indonesia, dan sudah disanggupi bank
tersebut. Dana ini dapat dikeluarkan setelah dilaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham.
Selain itu, di luar dana pinjaman, selama enam bulan, sejak
Januari 1992 PSN merencanakan anggaran sebesar 3,3 juta Dolar dengan
pengeluaran total 2,4 juta Dolar AS, yang meliputi investasi alat 1,8 juta
Dolar AS, dan biaya operasional 0,5 juta Dolar AS. Dari penyewaan transponder
B1, PSN mengharapkan akan memperoleh pendapatan 7,2 juta Dolar AS. Yaitu,
dengan mengenakan tarif inklain orbit sebesar 275.000 dolar AS per transponder.
Tarif ini tidak seberapa dibandingkan tarif Palapa dalam
kondisi normal, seharga 1,1 juta Dolar per transponder. Namun dari pendapatan
ini, hanya memakai 22 dari 24 transponder yang ada, dan menyisakan dua
transponder sebagai antena pengendali, Andreas berkeyakinan, setelah tiga
tahun, PSN sudah mendapat keuntungan paling sedikit 28 persen. Untuk melakukan
pergeseran B1, saat ini, masih dilakukan pembicaraan (Februari, Red) antara
pihak pihak yang tergabung dalam PSN.
Pembicaraan mengenai realisasi penggunaan B1 antara Telkom
dan PSN sudah dimulai sejak akhir September, dalam kesepakatan Memorandum
of Understanding di Jakarta. Pada 19 Desember, diadakan pembicaraan
antara PSN dan PT Telkom, mengenai kemungkinan penyertaan Telkom dan Elektrindo
Nusantara dalam organisasi ini. Adiwoso, Alisyahbana, Elektrindo
Nusantara pada pemasaran, sedangkan operasi pemindahan dan pengendalian
satelit nantinya akan dilakukan Telkom.
Sebelum B1 digelar, terlebih dahulu Telkom akan membangun
stasiun buminya yang bernilai sekitar 1,5 juta dolar AS. Dana pembangunannya
akan dikeluarkan oleh Elektrindo Nusantara dan Adiwoso Alisyahbana, termasuk
untuk pembelian alat dari AS, antara lain berupa antena, High Power Amplifier
(HPA), dan perangkat lunak. Adiwoso menargetkan sebelum bulan April, stasiun
sudah selesai dibangun. Menurut Andreas, pemindahan B1 direncanakan dapat
terlaksana sebelum B4 meluncur bulan Mei mendatang.
Selain pembangunan stasiun pengendali, tahap persiapan
lainnya adalah pemesanan lokasi. Nantinya, Palapa B1 akan menggunakan daerah
yang telah dipesan perusahaan TongaSat dari negara Tonga di Pasifik. Bila
pemesanan tempat ini dilakukan sendiri, maka ini akan memakan waktu lama,
sampai empat tahun. Beberapa waktu lalu, sudah ada pembicaraan antara
Adiwoso mewakili PSN dan TongaSat, yang telah mendaftarkan tempatnya
pada IFRB, International Frequency Regulation Board.
TongaSat sudah mem-booking daerah tersebut, pada masa awal
generasi Palapa B tahun 1980-an, meskipun tidak mempunyai satelitnya. Mereka
menjadikan daerahnya sebagai arena bisnis yang disewakan bagi satelit pihak
lain. "Karena TongaSat belum mempunyai satelit, maka Palapa bisa masuk," kata
Andreas. Pemindahan B1 merupakan isu yang strategis bagi Indonesia. Di bawah
pengelolaan PSN sebagai Indonesia incorporated, Satelit B1 akan go international,
100 persen ekspor.
Berbeda dengan waktu sebelumnya, Satelit Palapa yang
berorientasi pelayanan ini dimanfaatkan hanya oleh Indosat dan negara ASEAN
lain. Nantinya, setelah menjadi satelit komersial, Palapa Pasifik,
transponder yang ada disediakan hanya untuk para penyewa di Pasifik, sebagai
real test market bagi PSN. Masuknya Palapa Pasifik ke wilayah baru tentu
tidak sepi dari pesaing. Bahkan, karena banyaknya perusahaan yang beroperasi
di kawasan ini, persaingan pada waktu yang mendatang, menurut Adiwoso akan
sangat ketat.
Di Pasifik, diperkirakan akan beroperasi 29 buah sistem
satelit dalam beberapa tahun, di antaranya milik Intelsat, yang 95%
transpondernya telah habis tersewa, untuk AsiaSat 100 persen, demikian pula
Palapa dan satelit milik Jepang nyaris penuh. Lalu, di kelas satelit inklain
orbit, PP bakal ditantang satelit milik Intelsat, yang ditaksir tiga dari
lima satelitnya inklain orbit. Ketatnya persaingan di masa mendatang,
menurut Adiwoso, juga punya kaitan erat dengan adanya dua kebijaksanaan AS.
Pertama kebijakan udara terbuka yang diberlakukan awal
tahun 1980an yang memberi kebebasan pada siapa pun untuk menyelenggarakan
jasa satelit. Sebelumnya, penyelenggaraan itu masih terbatas untuk private
network. Yang kedua, executive order yang telah diumumkan pada 27 November 1991,
yang menyatakan bahwa sejak bulan Januari 1997, semua kendala inter koneksi
untuk satelit internasional akan dihilangkan. Ini berarti akan tumbuh sistem
satelit terpisah, dan terjadi persaingan bebas antara Intelsat dengan
perusahaan lainnya.
Dengan keluarnya peraturan baru tersebut, AS nantinya tidak
akan lagi memberi subsidi bagi jalur telekomunikasi yang tidak sibuk. Hal ini
dikaitkan dengan defisit anggaran AS sebesar dua milyar dolar AS per tahun
untuk menyelenggarakan satelit internasional. Kewalahannya AS ini didasari
oleh makin ramainya pemakaian jasa satelit di Amerika Utara, yang meliputi
Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, dengan jumlah pemakaian keseluruhan
setengah dari pemakaian satelit dunia.
Bersama Eropa dan Jepang, angka itu menjadi sekitar 75 persen.
Maka, bila AS harus menyubsidi jalur yang sepi, beban anggaran bagi AS akan
semakin berat. Dengan kebijaksanaan baru AS, nantinya telekomunikasi dunia,
yang selama ini hanya dipegang Intelsat, harus dibiayai pula oleh sistem
satelit lainnya, termasuk satelit regional maupun domestik seperti Palapa.
Munculnya kedua peraturan tersebut menyebabkan beberapa negara mulai membeli
satelit sendiri, sehingga akan tumbuh satelit sub regional dan domestik.
Bagi Indonesia, dengan adanya ThaiSat dan MalaysiaSat
lima tahun lagi, berarti akan ada penyerbuan pada pangsa pasar di ASEAN.
Yang berarti akan mengurangi porsi pemakaian Palapa, paling tidak oleh kedua
negara tersebut. Karena itu, Indonesia harus mencari pangsa pasar yang lebih
luas. "Kita harus merebut pangsa pasar di Pasifik dalam waktu cepat, karena
di sana ada peluang," kata Adiwoso. Dengan demikian, PSN melalui PP-nya
sebagai satelit regional yang baru di Pasifik akan bersaing dengan Intelsat
pada lalu lintas trans Pasifik.
Selain Intelsat, ada AsiaSat yang dikendalikan dari Hong
Kong dan Orbx yang dioperasikan oleh perusahaan Alpha Liracom, Amerika Serikat.
Beberapa perusahaan lain tercatat, AustraliaSat dan Cartel International.
Meskipun banyak pasaing, baik Adiwoso maupun Andreas tetap merasa optimis
PSN dapat berhasil mengarungi bisnis di kawasan ini.
Antara lain, dengan berpedoman pada hasil studi yang
dikeluarkan oleh satu konsultan independen dari Inggris, Comsy Consultant,
pertengahan 1991, yang menyimpulkan bahwa kebutuhan transponder di Pasifik
saat ini yang belum terpenuhi berkisar dua puluh hingga seratus transponder.
Pertimbangan lain, PSN mengarahkan Satelit B1 ke wilayah Pasifik, karena di
kawasan ini ada rencana restorasi kabel laut untuk hubungan SKKL, Sambungan
Komunikasi Kabel Laut, dari Guam ke Tokyo, yang kadangkala mengalami
kerusakan, seperti putus terseret kapal.
Satelit B1 diharapkan dapat menjadi back up sambungan ini.
Selain peluang tersebut, ada beberapa terobosan yang akan ditempuh PSN.
Perusahaan satelit yang besar, seperti Intelsat, AsiaSat, maupun Apha
Liracom merencanakan peluncuran satelit baru di kawasan Asia Pasifik empat
tahun mendatang. Dengan kehadiran PP lebih awal, di pertengahan 1992,
berarti Indonesia akan meloncat lebih maju. Apalagi, bagi satelit PP di
wilayah selatan Pasifik ini, untuk sementara belum ada saingan.
Andreas yakin, meskipun dengan mempertaruhkan investasi
relatif kecil dibandingkan perusahaan lain di kawasan ini, PSN mampu bersaing.
Apalagi, untuk itu PSN akan memasang tarif 25 persen lebih rendah dari
Intelsat untuk menarik pelanggan. Pada acara Pacific Telecommunication
Conference, pada 13-14 Januari 1992, PSN telah menjajaki perusahaan
telekomunikasi dan pemancar AS, seperti Esatel, GTE, dan mem-follow up
pembicaraan dengan Taft Broadcast. Saat ini, sudah ada lebih dari 5
perusahaan menyatakan kesediaan menyewa transponder B1.
Mereka terdiri dari perusahaan negara dan swasta yang akan
menyewa untuk keperluan telekomunikasi domestik, jalur khusus (private line),
dan untuk siaran, restorasi kabel, dan back up. PSN mengharapkan dapat
mengisi hubungan telepon dari Asia ke New York, yang selama ini dijalankan
melalui darat ke Hawaii, kemudian sinyal balik dipancarkan ke satelit
Intelsat yang mengirimkannya ke AS. "PSN mengharapkan dapat menarik sebagian
dari bisnis ini," harap Adiwoso.
"Apalagi sinyal jaringan komunikasi dari Hawaii ke bagian
Asia dan Pasifik Selatan, selain ke Jepang, tidak berlangsung baik," kata
James Savage, Wakil Ketua Pacific Telecommunication Council, pada Hawaii
Advertiser. Satelit PP akan memiliki sinyal kuat, hingga memungkinkan
transmisi data dengan jelas ke Hawaii dan bagian barat Pasifik. Kualitas
satelit ini lebih baik dibandingkan satelit lainnya di Pasifik, seperti
Satelit Global Beam milik Intelsat.
Palapa memiliki daya besar dan harga antenanya lebih murah
dibanding Intelsat. Dibanding dengan Palapa generasi sebelumnya,
satelit generasi kedua Palapa B ini juga mempunyai penampilan karakteristik
yang lebih maju. Kemampuannya meningkat 3 hingga 4 desibel pada lokasi yang
lebih buruk, mempunyai kapasitas narrow band lebih besar, dan mengirim
sinyal video dengan kualitas lebih baik. Satelit Palapa B mempunyai 24
transponder, kanal penguat, 2 kali lebih tinggi dari pada Palapa A.
Kelebihan lainnya, pesawat penerimanya yang lebih peka.
Karakteristik ini memungkinkan ST (terminal kecil berdiameter lima meter ke
bawah) menjalankan sekitar 50 kanal, dengan HPA 100 watt, demikian pula
pada kemampuan untuk berhubungan dengan carrier televisi. Kombinasi EIRP dan
kepekaan tersebut memungkinkan ST memberikan jasa video dengan kualitas yang
baik dan kapasitas hubungan telepon lebih tinggi.
Satelit Palapa B1 yang mulai digunakan tahun 1983, pernah
mengalami kerusakan pada bagian sensornya pada tahun 1990, sehingga B1 harus
dipindahkan setelah beroperasi selama tujuh tahun. Padahal, satelit ini
direncanakan beroperasi sampai tahun 1993. Satelit Palapa B1 yang masih ada
di atas Nusantara ini juga ditemani Satelit Palapa B2P di 113 derajat BT
sejak tahun 1987, dan Palapa B2R berada pada 108 derajat BT sejak tahun 1990.
Pengendalian satelit pada umumnya dilakukan seperti layaknya
pesawat model. Perintah berbentuk program komputer, dipancarkan dari stasiun
pengendali dalam bentuk sinyal. Sebelum pemancaran sinyal, perintah
dimasukkan dulu dalam spektrum analisis untuk simulasi. Pada proses
pemindahan, pembukaan katup atau pulsa untuk menyuplai bahan bakar ke dalam
4 mesin jet pada posisi saling silang diatur sinyal perintah.
Jumlah pulsa dan lamanya katup terbuka, juga banyaknya bahan
bakar yang dibakar dapat ditentukan berdasarkan arah maupun panjang jarak
pemindahannya. Apabila kecepatan pemindahan akan ditingkatkan, maka jumlah
pulsa juga harus dinaikkan. Ketepatan dapat dicapai tergantung pada jarak
satelit, azimut, dan elevasi. Satelit Palapa B1 akan bermukim di atas
Pasifik selama tiga tahun.
Setelah itu, dengan sisa bahan bakar hidrazin seberat
tujuh pound, satelit ini harus dilempar ke tempat pembuangan. Dalam dua tiga
tahun ini, PSN akan dapat menyediakan 36 transponder. Setelah Satelit PP
habis masa hidupnya pada tahun 1995, akan diganti Satelit Palapa usang
lainnya, atau PP2 untuk tetap melanjutkan jasa ini. (Kompas / yun, IDXC / DBR)