Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 12 Edisi Khusus 2002
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DirgaNet
Berita Televisi
Berita DX
Profil Radio
Profil Televisi
Penyiar CRI
Penyiar RSI
Review Top 50
Redaksi

Volume 12
  Profil Stasiun Televisi
Stasiun TV SKP dari Sukopuro

NurcholisTidak main-main, pesaing televisi swasta macam Indosiar, SCTV, atau RCTI, telah datang. Bukan dari Jakarta, tetapi dari Dusun Sukopuro, Desa Sukonatar, Kecamatan Srono, Banyuwangi. Setiap hari mengudara selama 5 jam, mulai pukul 19.00 sampai 00.00. Televisi Escape, alias SKP kepanjangan dari Sukopuro. Mengudara sejak Juli 2000 lewat saluran 8 VHF, dengan radius pancar 10-15 km dan hanya bermodalkan sekitar Rp 15 juta, SKP telah menjadi televisi alternatif bagi masyarakat Srono.

Uang itu utamanya untuk membeli kamera VHS Panasonic M3000 Rp 6 juta dengan komputer Pentium III senilai Rp 7 juta, dan sisanya untuk membeli antena dan sebuah VCD player merek Shoba. Siapakah pemiliknya ??? Ia adalah Nurcholis (27), lulusan STM Negeri Banyuwangi, yang kini melanjutkan di sekolah tinggi agama di kota itu. Anak bungsu lima bersaudara dari pasangan suami istri Gusairi dan Dewi Sarah itu kini mengelola TV swastanya bersama dengan delapan orang rekannya.

Logo Eskape TVKeterkenalan Televisi Eskape sudah terbukti, setidaknya pada saat penulis mencari alamatnya, kira-kira 5 km dari Sukopuro, orang desa sudah langsung paham. "Nurcholis ? Oh pemilik SKP itu tho. Rumahnya di Sukopuro, nanti Mas akan melihat rumah yang mempunyai antena paling tinggi, kira-kira setengah kilometer dari jalan raya," kata seorang pemilik warung. Ketika sampai di rumahnya sekitar pukul 16.00, ternyata sepi. Ruang tamu penuh dengan peralatan elektronik yang didominasi pesawat televisi, yang sebagian badannya terbuka, kabel berwarna-warni mencuat ke luar. "Anak saya sejak dahulu menerima reparasi barang elektronik, SKP itu hanya sambilan," kata Dewi Sarah.

Saat itu, Nurcholis sedang diminta mengambil gambar adu doro (lomba burung merpati) di Kebaman, sebelah timur Sukopuro. Ketika sampai di Kebaman, ratusan orang sedang asyik mengadu kecepatan terbang sprint burung merpati. Nurcholis dengan kru yang lain sedang asyik mengambil gambar lomba merpati dalam rangka Laskar Citra Buana Cup I. "Kita diminta mengambil gambar adu merpati ini, supaya tidak terjadi adu mulut dalam menentukan siapa pemenang lomba sprint 500 meter ini. Dengan diambil gambarnya, ketika ditayangkan dalam gerakan lambat akan dapat diketahui dengan jelas siapa sebenarnya yang menang, selain itu sekalian untuk mengisi acara di SKP," kata Nurcholis.

Pemuda yang "jenius"-begitu kata salah seorang tetangga menyebutnya-mengawali petualangan televisi swasta itu dari hobi ORARI (Organisasi Radio Amatir, Red). "Setelah lulus dari STM, saya nganggur. Ada teman tawarkan peralatan Orari. Mulai dari situlah saya bermain dengan frekuensi, paling tidak ada modal pengetahuan dari STM. Kemudian coba-coba merakit radio FM, lama-kelamaan bosan. Lalu kami mencoba dengan visual, muncul ide dan otak-atik, dan baru sekitar dua-tiga bulan terealisir. Setelah itu kita ingin berhenti menikmati sukses itu," kata Nurcholis.

Akan tetapi tetangga dan teman-teman memberi dukungan, bagaimana kalau dibikin acara seperti di radio, katanya. Pertama memancar hanya radius 5 km, satu desa saja, karena antenanya masih pendek dengan ketinggian 15 meter dan power-nya masih kecil, hanya 2,5 watt pertama. Akhirnya terus ditambah mencapai 10 watt, tetapi juga masih belum steady, walaupun demikian lalu akhirnya memberanikan diri untuk siaran.

Awal siaran tak ada format, siapa yang kepengin siaran ya siaran. "Kita tidak batasi, pokoknya tidak memalukan. Kalau ada teman yang ingin nyoba siaran ya wis monggo siaran. Teman di desa kan senang, bisa dilihat di TV, daripada harus datang jauh-jauh ke Jakarta, di desa saja sudah bisa nongol," ujarnya.

Kemudian ada usul dari pemirsa untuk lebih ditata, penyiarnya misalnya punya jam yang pasti, juga di-training lagi agar lebih pantas dalam bicara. "Dari situ saya kumpulkan teman-teman yang berminat jadi penyiar, ya waktu pertama jangan harap mendapat honor dulu, asalkan jadwalnya sudah tetap, dinikmati sudah enak. Itu yang penting. Sampai tiga bulan pertama kita tidak pernah mengambil gambar dari luar karena kameranya cuma satu dan tidak bisa dibawa ke mana-mana," kenangnya.

Padahal, ada permintaan masyarakat untuk mengambil gambar pernikahan, akhirnya beberapa teman Nurcholis urunan membeli kamera dan komputer. Lalu karena semakin banyak permintaan dari masyarakat untuk menikmati SKP, antena ditinggikan menjadi 33 meter, dengan radius 10-15 kilometer. Gambar bisa diterima dengan bersih, apalagi dari dataran tinggi.

Ketika masuk frekuensi 8, apa tak ada teguran? "Oh ada. Jangan bilang tak ada teguran, kita diteror. Kita ditanya aparat, apa sih misinya dan mereka juga kasih saran, mereka khawatir, waktu itu suasananya masih trauma frekuensi televisi Surabaya kemasukan gambar porno. Mereka agaknya ingin mengantisipasi. Saya kan niatnya bagus, saya tidak ingin merusak citra saya sendiri. Saya kemudian disuruh membuat surat pemberitahuan ke Koramil, Kecamatan, dan Kabupaten, nanti kalau ada teguran biar ada bekal," jelas Nurcholis.

Frekuensi televisi biasanya dijatah dari pusat, ada aturan tersendiri mengenai lalu lintas frekuensi. Tetapi Nurcholis menemukannya karena sudah terbiasa kerja di reparasi, ia tahu betul frekuensi mana yang kosong, mana yang terisi. Riwayat nama SKP sebenarnya lucu. Karena sering diejek paling-paling SKP itu Sukopuro, lama-kelamaan biar keren Nurcholis memberi kepanjangan Sinar Kencana Persada. Biar asyik dan masyarakat percaya, penting untuk mencari iklan, katanya. Nurcholis punya keinginan agar TV-nya bisa semakin berkembang, karena itu ia sedang mengurus perizinan, dan kalau ada investor. Ia sekarang sedang mengurus perizinan ke kabupaten, karena sedang banyak sweeping radio.

Beberapa hari ini pihaknya tidak siaran karena memenuhi permintaan shooting acara pernikahan dan berbagai acara keluarga, karena kameranya cuma satu, tentu saja tidak bisa siaran. "Kami siaran seperti radio, dengan memakai kupon atensi diisi dikasih ucapan minta lagu ini, dan 1 kupon Rp500, satu malam bisa 60 kupon," ujarnya. Sang penyiar memutar lagu yang berasal dari VCD sesuai dengan permintaan. Lagu-lagu SKP selalu aktual, karena mereka mendapat suplai dari persewaan VCD yang tentu saja ingin agar koleksi terbaru mereka segera laku.

"Jadi kita tak pernah ketinggalan zaman. Karena rental itu berkepentingan dengan promosi. Dulu awalnya beli, tetapi setelah ada format yang jelas, mereka lalu datang sendiri," jelas sang pemilik SKP. Untuk shooting pengantin, Nurcholis mematok harga Rp 1 juta - 1,5 juta, hasilnya akan ditayangkan dengan durasi selama dua jam, setelah diedit dan diberi animasi.

"Bahkan, kalau permintaan on air, kita bisa juga siaran langsung. Biasanya seluruh peralatan dari rumah kita bawa dengan motor, dan semua tetangga dapat menyaksikan perhelatan dari rumah mereka sendiri," katanya. Nurcholis mempunyai harapan agar pemerintah dalam membuat UU mengakomodasi kreativitas rakyat kecil, jangan hanya memberi tempat kepada pemodal besar. Itu saja harapannya. (Bambang Sigap S / Kompas / abs)

 
Dirgantara Online - Vol 12 Edisi Khusus 2002
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space