Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 12 Edisi Khusus 2002
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DirgaNet
Berita Televisi
Berita DX
Profil Radio
Profil Televisi
Penyiar CRI
Penyiar RSI
Review Top 50
Redaksi

Volume 12
  Profil Stasiun Radio
Martidin dan Radio Informasi Pertanian

Martidin"PENDENGAR sekalian, selamat bertemu kembali dengan radio kesayangan Anda, Primavera, yang mengudara di gelombang 4,3 MHz. Kami sampaikan informasi perkembangan harga komoditas pertanian di pasar Samarinda, Tenggarong, Melak sebagai berikut..." Dereten harga-harga cabai, bawang, wortel, sampai beras itu terus mengudara. Tak peduli apakah ada yang mendengar atau tidak, Martidin (40) terus bercuap-cuap di depan corong di "studio"-nya yang sederhana. Selesai membacakan informasi harga, Martidin memutar lagu dari kaset yang dibawa dari rumah.

Martidin bukanlah penyiar ternama macam Kang Ebet Kadarusman yang dulu selalu ditunggu pendengarnya. Kehidupan keseharian Martidin adalah petani di pedalaman Kalimantan Timur, tepatnya di Desa Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat. Radio Primavera yang dikelolanya adalah radio kelas kampung dalam arti yang sebenarnya, karena hanya bisa ditangkap oleh warga desa yang berjumlah sekitar 400 keluarga itu. Iklan ? Tentu tidak ada perusahaan yang mau memasang hingga praktis semua biaya operasi Martidin-lah yang membiayai. Ketertarikan Martidin yang mantan kepala desa itu membuat radio siaran berawal dari kenyataan bahwa warga desanya sangat haus hiburan dan informasi.

Pesawat televisi waktu itu belum banyak dimiliki masyarakat. Kalaupun ada, televisi hanya bisa dilihat dan didengarkan di rumah. Padahal, warga desanya banyak yang bekerja di ladang. Malah ada yang menginap di ladang. Maka satu-satunya sumber informasi dan hiburan hanya radio. Tetapi, siaran radio di Samarinda, Tenggarong, dan Melak tak jernih diterima di desanya. Maka, ia pun memutuskan mendirikan radio siaran sendiri. Inilah yang membuat Martidin berbeda dari kebanyakan orang lain, ia tak ingin tenggelam dalam keterbatasan sarana dan prasarana, dan cuma mengeluh. Ia mendobrak semua mitos ketidakberdayaan petani sekaligus membuktikan bahwa ia berpikiran merdeka.

DALAM daftar acara yang ditulis tangan di atas kertas putih yang sudah buram dan ditempel di dinding "studio" yang juga merangkap gedung pertemuan kelompok tani itu, tercantum jadwal acara yang mengudara 7 jam sehari. Ada Musik Pengantar ke Tempat Tugas (pukul 07.00-08.00), Musik & Request (pukul 08.00-09.00). Siang hari pukul 12.00-14.00 ada Musik Pengantar Lelah dan Musik Simponi, sedangkan petang hingga malam hari (pukul 19.00-22.00) ada acara Siaran Pedesaan, Intro Musik dan Request, serta musik malam.

Acara bisa saja setiap saat berubah, tergantung kebutuhan. "Informasi pertanian kami prioritaskan," kata Martidin. Jadwal penyiar yang bertugas memang dibuat, akan tetapi seringkali orangnya tidak ada dan terpaksa Martidin yang jabatan kerennya pembantu umum / reporter / perencana siaran itu harus siaran sendiri. Sebelas wartawan yang dibawa aktivis Yayasan Rio Tinto Foundation (RTF) awalnya tak yakin perangkat siar yang hanya menyerupai tape deck di atas meja tulis yang sangat sederhana itu bisa mengudara. Waktu itu, kebetulan memang belum waktu jam siaran, Martidin bersama anggota kelompok taninya mempersiapkan diri untuk menerima tamu dari Jakarta.

Perangkat siar berikut antena yang menjulang di luar studio itu tak menarik perhatian. Tulisan tangan "Primavera 4,3 MHz" yang agak besar di dinding pun tidak menarik perhatian, sampai Martidin menyebut radio siaran sebagai salah satu bentuk kegiatan kelompoknya. Seakan tak percaya, para wartawan pun minta supaya Martidin mencoba siaran. Awalnya, bapak tiga anak itu memang malu-malu, tetapi pada akhirnya ia mau juga unjuk kebolehan. Ia mengambil radio monitor dari rumahnya. "Monitor yang ada rusak," katanya. Mulailah Martidin bersiaran.

Selain memberikan hiburan, radio yang dikelolanya akan memfokuskan pada siaran pedesaan maupun informasi pertanian, dan lagu-lagu sebagai hiburan. Sedangkan permintaan lagu yang dikemas dalam pilihan pendengar dimaksudkan untuk menjalin silaturahmi antarwarga. Ia sendiri mengaku buta soal teknis keradioan. Kenapa memilih bergerak di gelombang SW yang sudah tidak populer, Martidin menjawab sederhana. "Soalnya yang ada hanya itu, dan yang penting harganya murah," kata lulusan salah satu SLTA di Tenggarong yang pernah bekerja di perusahaan HPH (hak pengusahaan hutan) itu. Bahkan urusan perizinan pun semula ia tidak tahu.

Soal struktur organisasi dan pembagian tugas di dalam pengelolaan radio, Martidin yang ekonominya termasuk mapan untuk ukuran desa itu juga tidak begitu paham. Di dinding "studio"-nya terpampang struktur organisasi, tetapi itu pun hanya asal tempel nama saja. "Begitulah yang saya dapat dalam pelatihan di Rio Tinto dulu," katanya. Seorang reporter, misalnya, mestinya melaporkan peristiwa atau hasil wawancara dengan sumber berita. "Tetapi, apa yang mau dilaporkan di desa ini. Semua orang sudah tahu," katanya sambil tertawa.

Dalam pelatihan yang diselenggarakan RTF beberapa bulan lalu, Martidin diundang sebagai peserta bersama sejumlah peserta dari radio lain. Pembicaranya, menurut dia, dari BBC. "Pakai bahasa Inggris. Mana saya ngerti," katanya. Satu hal yang dia peroleh dari pelatihan itu, radionya kini terdaftar sebagai anggota Himpunan Yayasan Radio Siaran Masyarakat Kutai Barat. Soal-soal yang berkaitan dengan perizinan siaran sedang diurus organisasi tersebut.

MARTIDIN memang bukan orang terkenal, tapi ia secara sukarela mencoba menjawab kebutuhan warga desanya akan informasi dan hiburan. Untuk itu, ia harus merelakan waktu, tenaga, pikiran, dan uangnya. Semua kaset yang diputar di radio itu miliknya pribadi yang dibeli di Melak, Tenggarong bahkan Samarinda. Padahal untuk mencapai Tenggarong dan Samarinda dari Barongtongkok harus naik kapal semalaman. Karena kebutuhan masyarakat desanya adalah informasi pertanian, maka ia mencoba mengumpulkan semua informasi tentang itu. Jika ia menerima informasi harga dan segala hal yang berhubungan dengan pertanian, ia segera mengudarakan berulang-ulang. Sejumlah buku dan majalah pertanian terpampang di dinding studio.

Akan tetapi ia tak pernah mau membacakan begitu saja untuk para petani. "Terlalu panjang dan sulit diterima," katanya. Biasanya, artikel atau buku itu dibaca anggota kelompok yang berminat, untuk kemudian mencoba membudidayakannya. "Kalau sudah berhasil, barulah diinformasikan lewat radio karena yang tertulis dalam artikel belum tentu cocok dengan keadaan di lapangan," tambah Martidin. Problem mereka sekarang rendahnya harga karet mentah. Tahun-tahun ini, karet yang dipanen pada umumnya masih tanaman tradisional yang umurnya puluhan tahun. Tetapi, tahun depan dan berikutnya, produksi getah karet dipastikan meningkat, karena 90.000 hektar tanaman karet eks TCSSP (Tree Crops Small Scheme Project) yang dibiayai Asian Development Bank mulai panen.

"Kalau getah berlebih, kami khawatir tengkulak semakin menjatuhkan harga," kata sejumlah petani yang bersama-sama Martidin menerima wartawan dan RTF. Karena itulah, mereka minta pemerintah kabupaten Kutai Barat untuk mencarikan investor, guna mendirikan pabrik pengolahan karet, supaya mereka tidak selalu dibodohi oleh tengkulak. (M Suprihadi / Kompas / abs)

 
Dirgantara Online - Vol 12 Edisi Khusus 2002
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space