Berita Televisi
UI Siap Operasikan Stasiun Televisi Sendiri
Universitas Indonesia (UI) dalam tahun ini siap memancarkan televisi sendiri. Program yang ditayangkan akan bercorak prososial, edukatif, dan pada dasarnya bertujuan mengembangkan demokratisasi di Indonesia melalui media elektronik. Kepastian akan mengudaranya Televisi Universitas Indonesia (TVUI) di tahun ini, disampaikan Penanggung Jawab TVUI yang juga Ketua Jurusan Komunikasi UI, Victor Manayang PhD. Soal kehadiran stasiun TV UI pernah diumumkan Asman Boedisantoso (mantan rektor) dalam pidatonya pada wisuda sarjana UI belum lama lalu.
Victor Manayang menjelaskan gagasan UI untuk membentuk stasiun TV itu telah lama digagas. Berkat bantuan orang-orang secara individual, cita-cita untuk membangun TVUI itu akhirnya dapat terwujud meski saat ini baru sampai tahap yang sangat awal. Saat ini, kata Victor Manayang, TVUI sudah bisa mengudara di lokasi kampus UI Depok. Acara yang ditampilkan berupa rekaman-rekaman film dari kedutaan asing di Jakarta. "Kadang kala acaranya diisi banner yang diselingi suara radio."
Dia mengatakan TVUI itu kini telah memiliki beberapa peralatan non-digital sendiri. Seperti peralatan produksi dan mesin editing, yang sebagian digunakan sebagai fasilitas pendidikan komunikasi, kecuali alat pemancar. "Semua alat itu dibeli oleh semua pihak yang simpati dengan usaha TVUI, nama-nama mereka tidak bisa saya sebutkan," kata Manayang. Dia merinci alat-alat yang kini dimiliki TVUI, antara lain pemancar sebagai hadiah yang diberikan oleh seseorang, di samping antena dan transmitter seharga Rp 180 juta. "Untuk melengkapi peralatan yang telah ada, kami butuh studio dan alat produksi yang masih terbatas. Dengan dana tambahan Rp 500 juta, TVUI sudah bisa jalan,"
Soal Izin
Di samping itu, kata Manayang, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan berbagai stasiun TV pada tahap awal. Khususnya TransTV dan Indosiar, baik untuk konsultasi maupun kesepakatan kerja sama yang lebih konkret, berupa kerja sama rekaman. "Semua stasiun TV telah kita kirimi proposal kerja sama, namun yang langsung merespon Trans TV dan Indosiar. Kebetulan kita banyak teman di sana."
Kendati demikian, Victor Manayang mengakui saat ini terdapat sejumlah kendala yang dihadapi pihaknya untuk mengudarakan TVUI. Kendala tersebut misalnya finansial. "Jika ada tambahan modal Rp 5 miliar lagi, TVUI sudah jalan." Menyangkut masalah keperluan satelit dan pemancar, pihaknya bersama rektor UI Asman Boedisantoso kala itu telah mendapat lampau hijau dari Menteri Perhubungan Agum Gumelar dan Dirjen Perhubungan.
Di lain pihak, kendala lain yang paling menggangu adalah soal perizinan, karena hal ini terkait dengan RUU Penyiaran yang belum tuntas diundangkan. "Timbul dilema soal status TVUI, apakah publik, swasta, atau komersial. Dalam UI sendiri banyak wacana menyangkut status TVUI." (Media Indonesia - www.mediaindo.co.id / abs)
Star, Televisi Kabel Pendatang Baru
Satu lagi stasiun TV kabel akan hadir di Indonesia. Namanya Star, asalnya dari media corporate bernama News Corporation yang berpusat di New York. Star tak bisa diakses melalui channel biasa, atau free to air, tetapi seperti Kabelvision / Indovision. Dengan mengeluarkan dana Rp 300 ribu per bulan, penonton bisa mengaksses berbagai pelayanan Star. Di Indonesia, seluruh informasi berkenaan dengan Star mengacu pada Star Asia Pasifik yang berpusat di Hong Kong yang lebih lambat satu jam dari Indonesia. Beberapa program yang bisa diakses, di antaranya Star Movies, V-Channel, Star Plus, Star World, Star Sports, Star Chinese, Star Gold, Star News, dan the National Geographic Channel.
Dalam waktu dekat Star World akan menayangkan film seri Boston Public, World's Wildest Police Videos, The King of Queens. Sementara V-Channel mengambil pangsa pasar yang lebih tua dari MTV. "Pelanggan kita di sini sudah 300 ribu orang," jelas Magda Harahap, staf humas Star dari CHQ. "Orang sekarang kan memerlukan banyak hiburan agar tidak stres menjalani rutinitas hidup. Mudah-mudahan saluran ini makin digemari orang dan bertambah pelanggannya," tambahnya. Selamat datang !!! Dan semoga persaingan makin membuat mutu dunia televisi kita bertambah baik. (rm / ekky - www.astaga.com / abs)
Stasiun Televisi Swasta Pertama di Papua
Dunia pertelevisian di kota Jayapura, Papua, akan semakin semarak, setelah P.T. Rhema Bumi Papua mengoperasikan stasiun TV swasta pertama, yang diberi nama Televisi Papua Indonesia Network (TPIN). Siaran percobaan telah dilakukan pada 5-6 Februari 2002, sedangkan siaran penuh dijadwalkan akan mulai awal Agustus tahun ini. Direktur P.T. Rhema Bumi Papua, Santoso, mengatakan di Jayapura, Jumat (15 Feb 2002), program yang akan ditayangkan TPIN mencakup semua bidang, yaitu pendidikan, kesehatan, keagamaan, budaya, dan adat istiadat.
Siaran utama itu akan ditambah dengan siaran promosi mengenai potensi kekayaan alam Papua, seperti hutan tropis, cagar alam, tambang, perikanan dan sumber daya hayati lain yang belum dikembangkan. Direncanakan siaran TPIN akan bisa ditonton oleh seluruh penduduk Papua, walaupun untuk itu dibutuhkan investasi yang besar. Motto Televisi Papua Indonesia Network "kitorang pung teve" diharapkan bisa dicintai oleh seluruh penduduk Papua, hingga TPIN bisa eksis dalam persaingan media elektronik, kata Santoso. (rm / ekky / www.astaga.com / abs)
Daarut Tauhiid Akan Bangun Stasiun Televisi
Tahun 2005 Pondok Pesantren Daarut Tauhiid (DT) berencana membangun sebuah stasiun TV Islami. Berbicara di dalam kesempatan Silaturahmi Ulama Kota Bandung yang diselenggarakan Radio Ummat MQ 1026 AM dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bandung, Rabu (16 Januari 2002) malam lalu, pimpinan DT K.H. Abdullah Gymnastiar menyatakan usaha ke arah itu tengah dirintis. K.H. Abdullah Gymnastiar - yang akrab disapa Aa Gym - mengemukakan stasiun televisi itu nantinya operasional siarannya disesuaikan dengan syariah Islam. Ide itu, kata Aa Gym, terinspirasi dari penayangan program siaran Manajemen Qolbu di stasiun TV swasta selama bulan Ramadhan tahun lalu.
Dikatakannya, berdasarkan informasi dari pihak televisi swasta tersebut, acara yang diisinya itu menempati rating yang tinggi. Upaya mewujudkan stasiun itu lanjut Aa Gym saat ini tengah dirintis meski perlahan-lahan. Saat ini, kata Aa Gym, DT baru mempunyai production house. "Insya Allah, tahun 2005 nanti rencana ini sudah terlaksana," ujar Aa Gym. Namun, Aa Gym buru-buru menyatakan, meskipun gagasan itu datang dari pihaknya, semua ulama dapat mendukung rencana tersebut. Ia berkali-kali menegaskan bahwa rencana itu bukan semata-mata untuk kebesaran nama Darut Tauhiid saja, melainkan untuk kemaslahatan umat Islam.
Selain terinspirasi tayangan acara dakwahnya di televisi, Aa Gym juga mengungkapkan bahwa inspirasi itu utamanya berangkat dari kesuksesan siaran Radio Ummat MQ 1026 dan Amdan MQ 102.65 FM. Melihat perkembangan Radio Ummat tersebut, Aa Gym menilai peluang untuk menghidupkan media Islam masih sangat terbuka luas. Hal itu terlihat dari antusiasme khalayak dan pemasang iklan yang makin meningkat.
Menanggapi usul yang diajukan seorang peserta tentang penggabungan radio FM dan AM milik Daarut Tauhiid, menurutnya, itu tidak perlu dilakukan. Pasalnya, kata Aa Gym, segmentasi sangat penting bagi suatu media. Aa Gym menjelaskan, kedua radio yang berbeda gelombang itu memiliki segmentasi yang berbeda untuk menembak sasaran khalayak masing-masing. Menurut Aa Gym, segmentasi itu sangat penting karena dapat memperkuat posisi suatu media. Kalau perlu, kita harus mendirikan radio khusus untuk anak-anak," tambah Aa Gym berseloroh.
Kuatnya posisi media secara langsung akan dapat digunakan sebagai sarana dakwah. Karena itulah, sambung Aa Gym, ulama Bandung hendaknya tidak antipati terhadap perkembangan teknologi, khususnya yang berbasis teknologi informasi. Sebaliknya, media massa yang tidak terlepas dari kemajuan teknologi informasi itu harus dapat dimanfaatkan sebagai perangkat dakwah. Dengan menguasai media, maka umat Islam dapat melawan "ghawzul fikri" (perang pemikiran) - yang pada saat ini sedang berkembang di dunia mediamassa Indonesia dan digencarkan media barat.
Kepada Republika, Aa Gym mengaku optimistis dengan perkembangan media yang membawa misi ke-islam-an. Namun ia juga mengingatkan, supaya hasilnya efektif media tersebut harus dikelola secara profesional. "Selain itu, kredibilitas harus tetap diutamakan," tambahnya, karena ia yakin media massa merupakan strategi potensial yang yang dapat digunakan untuk berdakwah. Senada dengan Aa Gym, Ketua MUI Bandung, K.H. Miftah Faridl, menyerukan agar para ulama menggunakan media untuk berdakwah. Ia menilai, pada saat ini umat Islam belum optimal dalam menggunakan media, termasuk media berbasis keislaman. (Republika / abs)