Perusahaan Jawatan (Perjan) RRI akan mendapat bantuan luar negeri dalam bentuk pinjaman lunak (soft loan) dan kredit ekspor dari pemerintah Jerman senilai 15 juta Deutsche Mark, atau sekitar 57,4 milyar Rupiah untuk perluasan jangkauan pemancar. Suryanta Saleh, Dirut Perjan RRI, menyatakan rencana bantuan dana itu sekarang ini masih dalam proses, dan akan dimanfaatkan untuk perluasan pemancar RRI dalam rangka perbaikan pelayanan kepada masyarakat di seluruh Indonesia.
Bantuan luar negeri dari pemerintah Jerman itu diharapkan bisa direalisasikan tahun ini juga agar daerah jangkauan RRI semakin luas, sehingga program siaran yang makin beragam bisa dinikmati seluruh masyarakat, katanya usai dengar pendapat dengan Komisi I DPR. Menurut perhitungan dengan kurs Euro 1.00 adalah Rp 8.200, maka dengan bantuan sekitar DM 15 juta atau senilai 7 juta Euro, setidaknya RRI akan mendapatkan bantuan lunak dari Jerman sekitar Rp 57,4 milyar. Selain akan memperoleh pendanaan dari bantuan luar negeri, Perjan RRI dalam tahun ini juga merencanakan penerimaan dari jasa siaran serta nonsiaran.
Pemerintah dalam tahun 2002 hanya menyediakan Rp 180,14 milyar untuk belanja pegawai dan belanja non-pegawai. Padahal, yang diajukan sebesar 394,74 milyar rupiah. Sejak RRI berubah statusnya menjadi BUMN berbentuk perusahaan jawatan -- dari sebelumnya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Instansi Pemerintah sesuai PP No.37 tahun 2000 tanggal 7 Juni 2000 -- maka pihak manajemen RRI berupaya melakukan berbagai penyesuaian. Perubahan status menjadi perusahaan jawatan akan membawa perubahan mendasar bagi RRI, dari segi fungsi dan peran, organisasi, operasional siaran, status kepegawaian, maupun sistem pembiayaan.
Pada saat RRI berstatus UPT Instansi Pemerintah, fungsi dan peran RRI sebagai media pemerintah. Tetapi dalam status perjan, RRI melaksanakan dua fungsi dan peran sekaligus. Fungsi dan peran pertama sebagai pelayanan publik dan juga sejalan dengan reformasi. Sedangkan yang kedua, RRI sebagai perusahaan, yang berarti RRI dapat menggali dana melalui jasa siaran dan non siaran. Sesuai dengan ketentuan pasal 8 PP No.37/2000, RRI dapat menerima bantuan atau subsidi yang berasal dari APBN, berupa uang atau barang, hasil jasa penyiaran iklan, hasil kerjasama dengan lembaga-lembaga lain yang mempunyai keterkaitan fungsi serta hasil usaha lain yang sah. (Bisnis Indonesia / dbr)
Musik dan Lagu Daerah, Kenapa Tidak ?
Industri musik dan lagu daerah saat ini mengalami pertumbuhan dan perkembangan amat pesat. Perasaan cinta dan bangga dengan lagu bernuansa kedaerahan sangat terasa apabila kita berkeliling ke daerah-daerah di seluruh Indonesia. Ada campursari, pop Sunda, Bali, Manado, Batak, dan lain-lain. Apakah ini jawaban dari kejenuhan musik dan lagu produksi ibukota ? ternyata bukan. Ini karena kreativitas dari seniman daerah yang tumbuh dengan pesat karena didukung iklim yang cukup baik, seperti tersedianya peralatan musik, peralatan rekaman, dan pembuatan videoklip, sebagai bagian yang tak terpisah dari mata rantai proses produksi.
Dan yang paling penting, pasar yang ada cukup prospektif, serta belum pada titik jenuh. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh berbagai kalangan yang terlibat, sehingga musik dan lagu daerah bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari memberi andil cukup besar dalam suksesnya musik dan lagu daerah di pasaran, sesuai segmentasi pemakai bahasa daerah tersebut. Namun demikian, bagi orang yang bukan pemakai bahasa daerah tersebut tidak tertutup kemungkinan juga ikut menikmati dan ikut pula menggemarinya.
Media suara yang berperan terhadap suksesnya musik dan lagu daerah adalah stasiun radio, karena stasiun radio menjadikan musik dan lagu daerah menjadi andalan, dan menduduki rating tertinggi di setiap daerahnya, yang secara otomatis menjadi lahan untuk meraup kue iklan yang cukup besar nilai rupiahnya. Maka, yang menjadikan nama seorang seniman menjadi besar sampai ke kantongnya yaitu media massa, tak terkecuali stasiun radio, dan yang terpenting budaya daerah tetap terpelihara, makin bertumbuh, bahkan bisa diterima sebagai salah satu kekayaan bangsa Indonesia. Jadi sekali lagi lagu dan musik daerah kenapa tidak ?
Radio di 52 Kota Siarkan Musik Etnis Proyek Produksi Siaran Musik Etnik (PPSME) telah memproduksi 72 paket musik yang didistribusikan ke radio jaringan penyiaran musik etnis yang tersebar di 52 kota di seluruh Indonesia guna memasyarakatkan musik itu. "Target kita adalah musik etnik masuk radio Top 40 - 40 tangga lagu yang digemari masyarakat," kata Sapto Raharjo, dari Komite Pengarah PPSME yang berpusat di Yogyakarta. Pada tahap awal, paket musik disiarkan di daerah asal musik etnik itu. Setelah itu, katanya, target untuk jangka panjang adalah agar setiap stasiun radio itu bisa memproduksi program musik etnik sendiri dan saling tukar dengan daerah lain, sehingga tidak hanya didengar masyarakat setempat. (dbr)
Monitor Tetap Radio Korea Internasional KBS Tahun 2002
1. Agus Sutikno, Sleman
2. Akbar Wahab, Makasar
3. Aries Subagyo, Kutoarjo
4. Arsan Hasan, Bau-bau Buton
5. Audah Manan, Luwu
6. Eddy Setiawan, Jakarta
7. Herbert Sunu Budihardjo, Jakarta
8. M. Ashari Astani, Barito Kuala
9. M. Jayadi D., Lombok Timur
10. M. Sulaiman R., Lampung
11. M. Ilham, Palembang
12. Nico Korompis, Tomohon
13. Ngadiyono, Lamongan
14. Puspadewi Putri, Lombok Timur
15. Sugiono E.N., Jakarta
16. Summase A. Sanjaya, Makasar
17. Syaifun Najib, Jombang
18. Soewito, Bandung
19. Susanto, Belitung
20. Syawir Abdullah, Bogor
IDXC Ria
Lambat Akses
Bila Anda membuka Situs Web Indonesian DX Club, silahkan masuk ke Foto Anggota. Di situ tidak terdapat foto sang Ketua Aries Subagyo.
Ketika bertemu di DX Camp 2001, dia protes pada Sang Pemred, Herbert Sunu Budihardjo, "Kenapa fotoku nggak nongol ? Padahal aku dach kirim lama !!"
"Mendingan nggak usah ditampilkan aja Mas, malah bikin lambat akses saja," sanggah Agus Sutikno.
"Sialan !!"
Pancuran Delapan
Salah satu obyek wisata yang menjadi tujuan wisata peserta DX Camp 2001 adalah Pancuran Tujuh.
Tetapi Errel Chris Rotinsulu (junior dari Hendrik Rotinsulu) protes, "Pah, ada pancuran lagi, pah ?" seru Errel, sembari memencet botol air mineral, hingga mengeluarkan air seperti pancuran.
"Iya, satunya pancuran kamu !!" balas papanya.
Ayam Kampung
Jemmy Liwang memang paling doyan rokok. Tak heranlah, meski malam sudah menjelang pagi, kalau ketagihan tak peduli.
"Pak, masih ada yang jual rokok nggak ?" tanya Jemmy di parkiran Batu Raden.
"Ow... di bawah sana masih banyak. Mau beli apa komplit. Ayam kampung juga banyak."