Radio TV Afghanistan
Televisi Kabul Bangkit
Televisi Kabul, semalam mengudara kembali setelah 5 tahun dibungkam pemerintah Talib, tulis Suara Merdeka (19/11). Seperti diberitakan Suara Merdeka, minggu pagi (18/11), para teknisi bekerja keras memperbaiki sistem dan peralatan stasiun televisi tersebut, yang separuhnya hancur akibat perang pada 1996. "Kami mempunyai berbagai program berbeda, yang akan diudarakan malam ini," kata Direktur TV Kabul, Humayon Rawi, kepada Reuters. "Acara yang malam nanti akan kami tayangkan adalah wawancara, diskusi meja bundar, musik dan berita, yang menggunakan bahasa Pashtun dan Dari," tambahnya.
Para presenter televisi itu termasuk seorang wanita pembawa berita utama, Lida Azimi, kembali bertugas setelah lima tahun menganggur. "Saya merasa sangat senang," katanya. Dengan memakai kerudung warna putih dan berkaca mata, Lida Azimi lalu menambahkan, "Hidup sekarang menyenangkan bagi saya. Ketika Talib masih di Kabul, saya tinggal di rumah sepanjang hari. Saya sama sekali tidak punya pekerjaan apa-apa."
Televisi dilarang selama rezim Taliban berkuasa, dan kaum wanita dilarang bekerja. Beberapa warga yang cukup kaya mengambil resiko dengan menyetel siaran televisi asing memakai antena parabola, tetapi kebanyakan orang menyembunyikan pesawat mereka di lemari. Siaran radio yang dikendalikan penguasa Talib, sehari-hari hanya mengudarakan lagu-lagu Islami dan ajaran Islam, juga dipakai untuk propaganda rezim garis keras Taliban.
Antena parabola besar milik Televisi Kabul hancur ketika faksi-faksi Mujahidin yang bermusuhan bertempur pada 1990-an. Sejak pasukan Talib kabur dari Kabul dan ibukota Afghanistan kemudian dikuasai pasukan Aliansi Utara, para teknisi berlomba dengan waktu untuk menyiapkan pemancar baru. Para teknisi Afghan tersebut harus bekerja keras untuk mewujudkan impian "mengudara kembali", dengan peralatan sederhana yang sebenarnya sudah ketinggalan zaman.
Bayangkan, tidak jauh dari stasiun Televisi Kabul, bercokol televisi-televisi asinng yang melakukan siaran langsung tentang apa saja yang terjadi di Afghanistan. Mereka juga menggunakan peralatan canggih, sehingga bisa melakukan penyiaran langsung ke seluruh dunia dari atap Hotel Interkontinental, Kabul. Tidak jauh dari stasiun TV Kabul, sebuah antena parabola kecil berwarna putih, yang penuh dengan lubang peluru, sudah dipakai untuk menyiarkan program radio.
"Kami menghadapi banyak sekali masalah teknis," kata Ir. Mir Mohammed. "Beberapa peralatan kami sudah berusia 30 tahun. Kami hanya punya pemancar berdaya 10 Watt." "Pemancar seperti itu hanya cukup untuk penyiaran di kota Kabul, padahal orang-orang ditempat lain di negeri ini perlu kami jangkau pula. Atas perkenan Allah, mudah-mudahan kami berhasil." (Suara Merdeka / asb)
Radio Afghanistan Mengudara Lagi
"Selamat Pagi Afghanistan", acara radio pagi pertama negara itu, memulai debutnya Senin (25/03) dengan menggunakan peralatan dari Denmark dan gaya siaran meniru stasiun radio Skotlandia. Seperti diberitakan Suara Merdeka (26/03), program berita informal selama satu jam itu, yang berisi wawancara dan berbagai kisah, mendobrak gaya siaran konvensional Radio Afghanistan, yang biasanya berisi propaganda pemerintah dan pelajaran agama Islam.
Disiarkan dalam bahasa Dari dan Pashto, dua bahasa utama di Afghanistan, acara tersebut sampai ke pendengar potensial yang jumlahnya sekitar 22 juta orang atau 80 persen lebih dari jumlah total penduduk negara itu. "Kami tidak tahu apakah mereka semua mendengarkan acara ini. Namun prestasi terbesar kami asalah kami dapat mengudara," kata Charles Fletcher dari Baltic Media Center, sebuah LSM dari Denmark yang membantu mempersiapkan acara tersebut.
"Tim persiapan bekerja dengan sangat antusias. Mereka bekerja sepanjang malam untuk mempersiapkan program ini dan baru pulang jika jam malam tiba." Acara "Selamat Pagi Afghanistan" dimulai pukul 06.30 dengan lagu pembukaan milik Radio Tay, sebuah stasiun radio di kota Dundee, Skotlandia. Keempat pembawa acaranya, dua pria dan dua wanita, baru mulai bekerja sama sejak sepekan lalu.
"Acara radio terakhir yang saya pandu adalah acara untuk pemerintah. Pemerintah mengontrol semuanya," kata Farida Hillah (25), yang kehilangan pekerjaan sebagai pembawa acara pada 1996 saat kelompok Talib berkuasa dan melarang para wanita bekerja. "Kini kami dapat mengundang orang ke sini untuk mebicarakan apapun yang mereka inginkan. Kami memberi mereka kebebasan." (Suara Merdeka / asb)