Sukses menjalin kemitraan dengan 4 stasiun radio swasta di Indonesia tahun 2000 menambah keyakinan Radio Nederland Seksi Indonesia (Ranesi) mengembangkan sayapnya di Indonesia. Tentunya ini akan sangat menyenangkan bagi para pendengar Ranesi yang kesulitan memantau di gelombang pendek (Short Wave atau yang lebih dikenal SW). Meski tidak semua acara dipancar ulang, hanya Warta Berita dan Gema Warta, kualitas sinyal yang ditangkap melalui gelombang FM jelas sangat berbeda jauh. Kita tak perlu merapatkan telinga kita ke pesawat radio.
Dengan santai, sembari mengerjakan pekerjaan lain bisa dengan enaknya mengikuti perkembangan dunia lewat acara Warta Berita dan Gema Warta Radio Nederland. Bagi Anda yang berdomisili di kota Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Makasar, Denpasar, Mataram, Tarakan, Manado, Banda Aceh, tentunya merasa beruntung sekali. Jadwal siaran bisa Anda baca pada Bursa DX edisi ini.
"Jadi, Anda yang berminat bisa memilih salah satu radio lokal yang ada di tempat tinggal Anda untuk mengikuti siaran Ranesi," ujar Indrajanti Titus, Kepala Seksi Bahasa Indonesia Radio Nederland Wereldomroep, tulisnya di Ranesi Oktober 2001. "Tentunya jumlah stasiun mitra di Indonesia yang bakal bergabung dengan Ranesi di masa datang akan bertambah lagi," harap dia. (Ranesi Oktober 2001 / asb)
Europarade Hadir Lagi
Europarade. Bagi pendengar lama Radio Nederland Wereldomroep, tentunya tak asing dengan acara Europarade. Acara ini pernah membawa ketenaran sang pembawa acara, Frank van Oort. Setelah menghilang sekian tahun, mulai tahun 2001 lalu bisa Anda dengarkan kembali di berbagai stasiun radio lokal di Indonesia. Eka Tanjung, penyiar yang relatif baru di Ranesi, kini mendapat tugas untuk membesut paket acara musik yang dulu banyak digemari di seluruh tanah air.
Europarade memiliki tradisi yang cukup lama di Belanda. Pertama didengarkan pada tahun 1960-an lewat Radio 15, satu stasiun radio khusus untuk kawula muda. Radio Nederland Wereldomroep mulai menayangkan musik-musik populer ini ke negara-negara berbahasa Spanyol yaitu ke Spanyol dan Amerika Latin tahun 1985. Tak heran, apabila acara ini mendapat anugerah Medali Emas dalam Festival Radio di New York, Amerika Serikat tahun 1998.
Atas keberhasilan dan antusiasme pendengar di Amerika Latin, Radio Nederland Wereldomroep juga menayangkan dalam bahasa-bahasa lain seperti Inggris, Portugis, Perancis, dan Indonesia. Susunan dan pilihan lagu-lagu terkini dalam "Europarade" merupakan hasil kerjasama antara Radio Nederland Wereldomroep dengan Ad Roland Media Service. Direkam pada CD, berbeda dengan pendahulunya pada kaset, lagu-lagu pilihan tersebut siap mengudara di berbagai stasiun radio.
Isi sajian acara Europarade meliputi dua nomor Eurobuster, yaitu nomor-nomor yang sesungguhnya belum masuk tangga Europarade, tetapi diperkirakan akan masuk bulan-bulan mendatang. Nomor Eurobuster pertama adalah dari artis atau grup Belanda. Sementara Eurobuster kedua adalah nomor dari artis atau grup salah satu negara Eropa, selain Belanda. Hanya sayangnya, jumlah stasiun radio mitra Ranesi di Indonesia jumlahnya terbatas. Dan belum mencakup seluruh kawasan Indonesia. Oleh karena itulah menurut rencana juga akan ditayangkan melalui gelombang pendek (shortwave / SW).
Khusus bagi stasiun radio lokal di Indonesia yang saat ini belum menerima acara Europarade, dapat mengajukan permohonannya lewat surat atau lewat surat elektronik (e-mail). Alamatnya adalah sebagai berikut : Radio Nederland Wereldomroep Seksi Indonesia, Kotak Pos 2301, Jakarta 10001. Atau Radio Nederland Seksi Indonesia, P.O. Box 222, 1200 JG Hilversum, Nederland. Email : ranesi@rnw.nl. Situs Web di : http://www.rnw.nl/ (Ranesi Oktober 2001 / asb)
Selera Pendengar ?
Sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi, selera pendengar juga berubah. Surat elektronik bukan lagi barang yang asing. Bahkan sampai ke pelosok desa sekalipun sudah banyak dikenal. Jangan heran kalau ada anak sekolah di pelosok mengirimkan email ke luar negeri. "Kami juga menerima surat elektronik (e-mail) dari pendengar," ujar Nina Nanlohy, dalam tulisannya di Ranesi Oktober 2001.
Mbak Nina, begitu dia akrab disapa, menambahkan, "Kami mulai memiliki fasilitas surat elektronik (e-mail) pada awal tahun 1996. Termasuk dalam surat elektronik yang pertama yang kami terima, dikirimkan oleh Monda Gunawan, salah seorang pendengar di Australia yang memberi tanggapan untuk acara DX Komunikasi asuhan Asbari Nurpatria Krisna." Mana yang lebih disenangi ? Surat via pos atau via e-mail ? Semua itu terserah pada pengirimnya. Ada fenomena baru di kalangan DXer.
"Mengirimkan laporan penerimaan siaran melalui fasilitas e-mail lebih cepat dapat balasannya," ujar Bakhrul Effendi, seorang DXer dari Ngawi. Dia punya pengalaman lebih menarik dengan surat elektronik (e-mail). Agus Sutikno, IDXCer dari Sleman punya alasan lain lagi. "Lebih hemat dengan surat elektronik. Dengan sewa sekitar Rp 2000 - 5000 per jamnya kita bisa kirim 3-4 buah laporan." "Bandingkan, dengan surat melalui pos dengan biaya Rp. 6000 per surat," ujar Agus. "Belum dengan naiknya tarif pos sekarang ini," tambahnya.
Terlepas semua itu, penulis pernah menemui orang Pos Indonesia yang mengatakan bahwa ada kecenderungan menurunnya surat pos ke luar negeri dengan adanya fasilitas e-mail via Internet. Nah bila Anda tidak mau ketinggalan zaman, tidak ada salahnya Anda belajar mengenal Internet. Jangan malu dengan anak kampung yang kirim e-mail ke luar negeri lewat e-mail. Anda berani ? (Ranesi Oktober 2001 / asb)